Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 227. Kau tak tahu rasa sakitnya!


"Kalau tak mau menggunakannya juga tak apa-apa. Itu akan lebih mudah!" Suara Barito pria tiba-tiba terdengar sesaat pintu itu terbuka. Laura langsung membuang pandang padanya dan membuat matanya membesar.


Sosok tampan berbaju jas abu-abu kehitaman yang sangat serasi dengan kulitnya terlihat. Laura langsung menahan napasnya. Kenapa pria ini ada di sini? Sudah jauh dia melarikan diri, tapi kenapa bertemu dengannya lagi.


Antony memberikan pandangan yang langsung ditanggapi oleh para pelayannya. Mereka segera keluar. Sementara Antony berjalan lebih dekat ke arah Laura yang bengong. Dari mana dia menemukannya.


"Kau? Kau sedang apa di sini? Dari mana kau menemukanku?" Tanya Laura lagi dengan tak percaya.


"Ini rumahku. Ini kamarku," jawab Antony enteng. Dia memandang wajah cantik polos tanpa sedikit pun riasan. Masih secantik yang dia ingat. Tapi juga menimbulkan kenangan yang tak nyaman.


"Ha? Bagaimana kau bisa membeli rumah di Eropa?" Tanya Laura lagi polos.


Antony hanya mengerutkan dahinya. Masih sepolos atau sebodoh dulu juga. Tapi dari semua wanita, wanita inilah yang tak pernah luluh akan dirinya.


Antony bukan sosok yang biasa saja. Wajahnya tampan dan kharismatik. Tumbuh dikalangan atas dan berpendidikan baik. Semakin besar dia semakin menjadi pria idaman wanita. Tapi sialnya, hatinya tertambat dengan wanita yang bahkan tak pernah menghargai perasaannya yang sekarang sudah membatu. Antony memandang Laura remeh.


"Siapa bilang ini Eropa?" Ujar Antony lagi dengan senyuman liciknya.


Mata Laura membesar. "Jadi kau menculikku dan membawaku pulang!" Tanya Laura yang otaknya baru menganalisa semuanya.


Antony tak menjawab, hanya senyuman licik sebagai responnya.


"Kau ini! Pokoknya kau harus melepaskan aku! Kau ini, apa-apaan sih!" Ketus Laura dengan emosi. Sedang enak berjalan-jalan malah diculik begini dan sialnya malah dengan pria ini. Kalau tadi pria lain mungkin Laura akan sedikit senang. Dia menunjuk ke arah wajah Antony, sudah biasa dia lakukan jika marah pada pria ini dulu.


Antony segera mengenggam pergelangan tangan Laura dengan sangat erat. Laura saja sampai meringis kaget karenanya. Dulu Antony jika mendapatkan sikap seperti ini dari Laura. Dia hanya diam saja.


Tapi kenapa sekarang berbeda. Pria itu menatap Laura dengan sangat tajam dan bengis. Dia mengenggam pergelangan tangan Laura bagaikan ingin mematahkannya.


"Kau bilang aku apa-apaan? Apa yang kau pikirkan meninggalkan seorang pria tepat semalam sebelum pernikahannya?" Desis Antony dengan mata tajam yang belum pernah dilihat oleh Laura sebelumnya. Dia bahkan tak tahu Antony bisa semengerikan sekarang.


"Kau masih marah tentang hal itu? Ayolah semua sudah berlalu dan kau juga sudah punya penggantiku. Lebih baik tak membesarkan masalah. Sekarang lepaskanlah tanganku!" ujar Laura seolah apa yang dia buat bukanlah hal besar. Dia memerintahkan Antony seperti itu karena dulu Antony selalu mengikuti kata-katanya.


Antony menatap Laura dengan tatapan penuh kebencian. Laura melihat itu sedikit ciut. Kenapa sekarang tatapan Antony begitu berubah. Tapi, Antony segera melepaskan tangan Laura. Laura menggenggam pergelangan tangannya itu, melirik Antony yang menurutnya sedikit berubah tapi tetap saja seperti yang dulu. Terlalu penurut.


Antony diam sejenak dan berjalan ke arah pintu besar itu. Sebelum keluar dia berhenti sejenak dan seperti menarik napasnya.


Laura hanya mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Ayahmu punya penyakit jantung bukan? Dan ibunya, beberapa tahun lalu terkena stroke ringan. Bayangkan bagaimana keadaan mereka saat mengetahui kabar itu?" Seringai jahat terlihat di bibir Antony. Laura kaget bukan main, tak pernah dia lihat Antony seperti itu biasanya dia selalu tersenyum ramah.


"Antony! Jangan main-main, ini antara aku dan kau! Jangan libatkan orang tua!" Kata Laura dengan wajah panik dan cemas seraya mendekati Antony. Jika ayahnya dan ibunya mendengar itu. Mereka akan sedih dan bisa-bisa kesehatan mereka akan terganggu.


Antony hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Menerkam langsung pipi Laura dengan erat. Meremasnya hingga rasanya tulang rahang Laura yang kecil ingin remuk. Laura tentu berontak. Antony tak pernah main kasar sebelumnya.


"Apakah kau memikirkan keadaan orang tuaku saat kabur dulu? Apakah kau juga memikirkan malu yang kau torehkan pada kami? Apa kau memikirkan bagaimana perasaanku! Tidak! Laura kau tidak memikirkan bagaimana rasanya saat kau sudah memberikan segalanya tapi orang yang kau perjuangkan malah tak pernah menganggap kau pantas untuk dia! Kau tak tahu rasanya! Kau tak tahu rasanya harus menikahi orang yang tidak kau cinta lalu harus berpura-pura tersenyum selama hal itu. Laura kau hanya wanita egois! kau rasakan sekarang akibatnya;" teriak Antony dengan penuh luapan emosi. Dia benar-benar hancur dengan kepergian Laura. Merasa entah apalagi yang harus dia perbuat agar wanita ini merasa Antony pantas untuk dirinya.


Remasan tangan Antony semakin kuat yang langsung membuat air mata Laura keluar. Napasnya pun susah untuk dihirup karena Antony menekan tenggorokannya.


"An-tony, An-tony," ujar Laura terbata mencoba melepaskan remasan itu, tapi tenaga Antony begitu besar. Remasan itu tak main-main. Dia benar-benar tercekik karenanya. Laura bisa melihat kebencian yang dalam dari tatapan Antony. Dia benar-benar sudah merubah pria ini.


Melihat wajah Laura yang mulai membiru, Antony akhirnya melepaskan tangannya. Tapi dia tak melepaskannya begitu saja melainkan menghempaskan tubuh Laura langsung ke lantai. Laura langsung terbatuk karena napasnya yang segera masuk memenuhi paru-parunya yang tadi terasa kering.


"Antony- le-lepaskan aku dari sini," pinta Laura dengan lirih dan terbatuk. Mencoba melihat Antony dengan wajah memelasnya. Dulu ini selalu berhasil meluluhkan hati Antony.


Tapi Antony yang berdiri di depannya sangat berbeda. Dia bergeming melihat Laura yang masih terduduk di lantai. Aura kebencian itu tak berkurang sama sekali.


"Tempat ini delapan meter dari permukaan tanah. Dan aku ingin tahu, bagaimana caramu pergi dari ku kali ini! Jangan harap kau bisa melarikan diri dari sini dan aku tak main-main membuat semua orang berpikir kau mati di permukaan sana. Biar semua orang tak akan lagi ada yang mencari dirimu. Selamanya kau akan ada di sini." Antony segera berjalan menuju pintu itu.


"Antony! Antony jangan lakukan itu. Aku minta maaf! Antony!" Ujar Laura yang baru merasakan karma yang sudah dia perbuat. Dia tak tahu perbuatannya akan menjadi seperti ini. Tak pernah dia bayangkan begini jadinya.


"Berteriaklah sesukamu. Aku sudah bilang kau ada di bawah tanah. Hidupmu sekarang di tanganku. Jika kau masih mau melihat kedua orang tuamu, maka mulai sekarang kau harus mengikuti mauku! Laura! Sekarang kau hanya seperti hewan peliharaan bagiku! Patuhlah atau aku bisa menghabisi dirimu dan keluargamu! Jangan ragukan itu. Kau tak tahu seberapa kuat kekuatanku sekarang." Ancam Antony. "Tunggu saja kabar orang tuamu, aku akan dengan senang hati mengabarkan setiap detailnya padamu," ujar Antony lagi tersenyum begitu bengis sebelum meninggalkan tempat itu


Laura tentu kaget. Apakah Antony benar-benar serius mengabarkan hal itu pada Ayah dan Ibunya? Ayahnya bisa terkena serangan jantung dan ibunya, bisa-bisa dia langsung mati berdiri mendapati hal itu. Tentu Laura tak ingin seperti itu, biar saja Antony menyiksanya asal jangan mengenai kedua orang tuanya! Antony begitu tahu bagaimana menyerang Laura. Tak secara fisik tapi batin seperti yang dilakukan oleh Laura padanya sebelumnya.


"Antony! Antony! Aku mohon! Jangan!" Ujar Laura yang langsung menggedor pintu itu dengan kuat.


"Antony! Aku akan terima semuanya! Tapi tolong jangan libatkan orang tuaku! Antony!" Teriak Laura kuat.


Laura terus memohon dan berteriak, tapi seperti kata Antony. Semuanya hanya sia-sia. Laura hanya bisa memeluk lututnya sambil terduduk bersandarkan pintu itu. Air matanya terus mengalir. Rahangnya pegal dan tenggorokannya sakit. Tapi lebih dari semua itu. Rasa cemaslah yang menggerogotinya dari dalam. Bagaimana keadaan kedua orang tuanya?