
“Moira?” tanya Graciella sambil mengerutkan dahinya.
Stevan menggigit bibirnya menatap ke arah Graciella dengan wajahnya yang masih belum bisa menutupi kekagetannya.
“Siapa Moira?” tany Graceilla lagi. Merasa tak asing dengan nama itu. Tapi juga tidak bisa mengingat siapa pemiliknya.
Stevan tampak gusar. Tentu dia tidak bermaksud untuk membuka lembaran itu lagi. Apalagi dia sudah berjanji untuk tidak mengungkit nama itu di depan Graciella, tapi apa yang diceritakan oleh Graciella membuat dirinya langsung spontan mengucapkan nama gadis kecilnya itu. Stevan lalu memandang ke arah Graciella yang masih saja memasang wajah menuntut padanya.
“Aku seharusnya tidak mengatakan nama itu di depanmu,” ujar Stevan lagi.
“Lalu? Sebenarnya siapa pemilik nama itu? kenapa kau tidak boleh mengatakannya padaku?” tanya Graciella langsung penuh tanda tanya.
“Kau yakin ingin mengingat siapa dia? jika kau tahu, kau sudah melupakan begitu banyak hal,” ujar Stevan dengan wajah seriusnya. Selama empat tahun berdekatan dengan pria ini. Baru kali ini Graciella melihatnya bisa begitu serius. Tentu melihat hal itu membuat Graciella langsung terdiam.
Graciella hanya diam memandangi Stevan. Dia menarik napasnya sedikit berat dan juga memipihkan bibirnya. Graciella tentunya sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi membuka masa lalunya. Dia menghapus semua ingatan itu pasti tentunya memiliki tujuan. Tapi, dia juga ingin tahu siapa gadis kecil itu? kenapa dia terus saja memanggilnya mama? dan dia juga tidak ingin seterusnya dihantui oleh mimpi buruk itu. Sepertinya, mau tak mau dia harus membuka lembar kehidupannya dulu.
“Aku-aku rasa aku ingin mengetahui tentang dirinya,” ujar Graciella sambil bernapas berat.
“Tapi jika kau mengetahui ini semua, kau akan tahu semua yang kau lupakan karena Moira adalah kunci semuanya,” ujar Stevan lagi memperingatkan. Dia tidak mungkin menutupinya lagi dan hanya bisa memperingatkan. Jika saja tidak ada mimpi yang mengusik Graciella. Dia akan menyembunyikan semua hal itu darinya hingga mati. Tapi jika sudah begini. Bagaimana pun dia tidak akan bisa lagi menutup-nutupinya.
Mendengar peringatan dari Stevan membuat Graciella semakin ingin mengetahui tentang Moira, tapi disaat bersamaan pula rasa ragunya semakin besar. Apakah dia bisa menerima semua itu? Graciella menggenggam tangannya erat.
“Aku rasa masa lalu tidak untuk dilupakan walaupun terlalu menyakitkan. Aku bukan Graciella yang dulu, pastinya aku bisa menerima semuanya nanti,” ujar Graciella lagi mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Dan ini semua juga berhubugan dengan Xavier,” kata Stevan lagi.
Stevan menarik napasnya sebelum dia mulai menceritakan semuanya. “Moira adalah ….”
Graciella hanya diam mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh Stevan. Dia tak menyangka dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Semua yang dijelaskan oleh Stevan rasanya bukan bagian dari hidupnya. Dia ingin menggeleng, tapi dia tidak sanggup. Semakin banyak yang diutarakan oleh Stevan, semakin Graciella mengerutkan dahinya.
Namun, akhirnya perlahan-lahan semuanya terasa masuk akal. Tentang Moira, tentang Xavier dan tentang luka yang dia dapatkan. Semuanya benar-benar membuat otaknya seperti mendapat kejut listrik, tapi juga akhirnya semuanya menyatu. Bagaimana bisa dia melupakan gadis kecilnya?
Stevan pun merasakan beban yang sangat berat yang ada di dalam pundaknya. Dia terdiam sesaat ketika membicarakan tentang kronologi kejadian ini. Bukannya ini adalah hal yang baik untuknya. Jika dia bisa menceritakan semua dan membuat seolah-olah ini adalah salah Xavier. Dia yakin Graciella akan membenci pria itu dan kemungkinan dia mendapatkan wanita di depannya akan kembali terbuka lebar. Tapi ….
“Xavier tidak punya kuasa dengan hal ini. Dia juga saat itu sedang terluka dan aku rasa dia salah mempercayai atasannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku yakin, dia berusaha untuk menyelamatkan kalian. Aku tahu bagaimana kerasnya dia menjaga kalian, tapi mungkin waktu itu dia benar-benar salah memilih orang kepercayaan.”
Stevan memipihkan bibirnya. Tidak, dia tidak bisa melakukan itu. Mengambil hati Graciella dengan memburukkan Xavier, itu bukan dirinya. Dan sepertinya dia yakin walaupun dia melakukan hal itu, belum tentu Graciella akan menyukainya.
Graciella mendengar itu hanya diam. Dia tidak tahu harus bersikap apa. Pantas saja dia menghapus tentang Xavier dan juga Moira jika kejadiannya semenyedihkan itu. Tapi saat ini dia tidak bisa merasakan perasaan apa pun, rasanya hanya seperti mendengarkan sebuah cerita tapi bukan tentangnya karena memang dia tidak bisa mengingat semuanya dan mengingat perasaan itu. Dia tentu kanget dengan semua hal yang keluar dari mulut Stevan. Tapi untuk merasakan hal yang lebih, dia tidak bisa menemukannya.
Stevan menatap ke arah Graciella yang tampak gusar. Dari wajahnya tampak sekali dia mencoba untuk mengerti walaupun tampak juga wajah tak percaya. Stevan mengeluarkan ponselnya dan segera mencari sesuatu. Saat dia menemukannya, sorot matanya meredup.
Graciella membesarkan matanya lalu menggigit bibir atasnya dengan begitu keras ketika Stevan menyodorkan sesuatu dari ponselnya. Dengan tangannya yang gemetar dia mengambil ponsel itu. Graciella langsung menutup mulutnya cepat dan air mata yang tanpa aba-aba membasahi matanya lolos begitu saja menatap potret seorang gadis kecil yang begitu cantiknya. Di foto itu dia tampak tersenyum sambil bermain dengan bonekanya.
Sedari tadi saat Stevan menceritakan tentang Moira, Graciella masih tak mengerti tentan perasaannya. Dia seolah masih menerka bagaimana gambaran-gambaran tentang Moira, tapi begitu melihat gambar sosok gadis kecilnya, pertahanannya serasa langsung runtuh. Rasa sedih itu membuncah begitu saja. Rasa sedih yang pedih dan bahkan seketika membuat seluruh tubuhnya menjadi sakit. Seolah ribuan pisau tiba-tiba menancap di tubuhnya. Sakitnya, hingga membuat napas sesak.
Graciella kembali melihat foto gadis kecilnya yang kabur karena air mata yang teruse mengumpul. Dia berulang kali mengusapnya tapi tetap saja air mata itu keluar terus menerus. Dia juga terus menarik napasnya panjang karena begitu susah untuk masuk ke dalam paru-parunya. Seolah seluruh udara di gerbong itu telah hilang terhisap kesedihannya. Graciella sendiri tak percaya dia memiliki putri yang begitu cantiknya hingga tanpa sadarnya mengusap wajah putrinya di layar ponsel itu. Matanya, hidungnya, wajahnya begitu sempurna. Graciella benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Haru, sedih, senang untuk tahu semuanya tapi juga merasa begitu miris karena dia sekarang sama sekali tidak bisa memeluk putrinya yang rasanya baru dia tahu.