Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 127. Sosok yang hilang.


“Mudah, ajukan perceraian. Maka semua akan baik-baik saja. Katakan saja pada keluargamu kau sudah tidak tahan dengan kelakuanku. Mereka akan menerima dan tetap menganggap kau adalah putri kecil mereka yang suci tak berdosa,” ujar Xavier lagi.


“Kau gila. Sampai mati pun aku tidak akan mau menceraikanmu! Kakekku pasti akan sangat marah padaku jika dia tahu aku menuntut cerai darimu. Kau tidak akan bisa memaksaku, seorang prajurit hanya bisa menikah satu kali dan yang bisa menuntut perceraian hanyalah sang istri,” ujar Devina dengan seringai yang licik. Dia tak akan pernah melepaskan Xavier. Bertahun-tahun dia mengejar Xavier dan akhirnya mendapatkannya. Walaupun itu hanya status tapi hal itu sudah membuatnya puas. Setidaknya suaminya adalah seorang jenderal setampan Xavier.


Xavier mengerutkan dahinya menunjukkan wajah sedikit mengerti, dia bahkan mengangguk kecil membuat Devina malah jadi penasaran.


“Baiklah, jika begitu. Maka kita akan hancurkan semuanya. Aku akan menyebarkan semua kelakuanmu ini. Orang-orang akan menganggap wanita rendahan, nama keluargamu akan tercoreng. Untukku, orang akan mengasihani ku, tidak masalah bagiku. Sebuah simpati akan menguntungkan untukku. Aku yakin keluargaku pun bisa dengan mudah memanfaatkan hal  ini. Jadi … menuntutlah cerai atau nama seluruh keluargamu dan dirimu akan hancur di mata masyarakat!” ancam Xavier.


Devina mendengar itu langsung menatap Xavier dengan wajah memerah dan mata yang melotot. Guratan marah tampak sekali. Dia langsung menampar Xavier dengan sangat keras. Saking kerasnya tamparan itu hingga terasa menggema di seluruh ruangan.


Namun, Xavier bukannya tampak kesakitan. Dia malah menaikkan satu sudut bibirnya menunjukkan senyuman liciknya, tamparan itu menunjukkan bahwa dia berhasil membuat Devina memikirkan apa yang dia katakan. Jejak memerah tampak di pipinya.


“Aku tunggu surat perceraian di markas ku secepatnya!” ujar Xavier tersenyum dan langsung melangkah keluar dari kamar itu.


“Kau pikir hanya kau sudah menang dengan begini?” teriak Devina dengan segala emosinya. “Kau tidak tahu tentang apa yang sudah hilang dari dirimu!” kata-kata Devina itu seketika membuat langkah Xavier langsung terhenti.


Dia langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Devina yang tampak tertawa kecil tapi terkesan sinis. Tawa kecil sinis Devina langsung berubah dengan tatapan tajam yang licik.


“Kau kira di sini aku yang terluka dan kehilangan dirimu! Tapi sebenarnya kau lah yang kehilangan semuanya! Kau tidak tahu apa yang sudah kau lupakan! Aku penasaran bagaimana wanita itu bisa menjalani hidup selama empat tahun ini tanpa dirimu! Aku yakin dia sangat tersiksa! Membayangkannya saja aku sudah sangat puas!” culas Devina sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Xavier mendengar itu langsung melangkah kembali ke arah Devina dan berhenti tepat di depan Devina dengan matanya yang begitu tajam. Tapi Devina hanya tersenyum licik seolah dia tak takut dengan tatapan Xavier.


“Katakan padaku! Siapa wanita itu!” tekan Xavier pada Devina.


“Cih! Sampai mati pun aku tidak akan memberitahukan siapa dia! Biar kau tersiksa hingga mati karena sudah membuat orang yang sangat kau cintai dulu terluka begitu parah! Ingat itu Xavier! Kau sudah membuat dia tersiksa! Kau yang sudah membuatnya terluka begitu parahnya! Kau lah sumber kesedihan hidupnya! Aku ingin tahu apakah kau bisa hidup tenang lagi setelah ini! Wanita itu! Aku yakin dia bahkan memilih mati dari pada hidup denganmu!” histeris Devina seperti orang kesetanan untuk melampiaskan semua kekesalannya yang sudah memuncak pada Xavier. Pria ini benar-benar tidak punya hati.


Xavier mendengar itu langsung terpancing emosinya. Tanpa sadarnya dia hampir saja ingin menampar Devina. Tapi untunglah dia masih bisa menahan dirinya. Tangannya yang terlayang dihentikannya seketika.


“Kenapa? Kau ingin memukulku? Pukul saja!”  ujar Devina.


“Lalu kau akan menuntut ku dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Aku tahu dan bisa membaca semua pikiranmu! Dan percayalah aku akan menemukannya!” ujar Xavier lagi.


“Cobalah! Semakin kau melangkah mendekatinya. Maka akan semakin jauh dia darimu. Setiap langkahmu akan menimbulkan sebuah luka baginya! Xavier! Aku menyumpahi dirimu tak akan bisa bahagia dan bersatu dengan dirinya! Kau dan dia akan terus menderita hingga kalian mati!” teriak Devina dengan begitu keras.


Xavier menahan dirinya dan langsung pergi keluar dari rumah itu. Bagaimana pun, bahkan jika harus mengorbankan seluruh hidupnya! Xavier berjanji, dia akan menemukan wanita itu! Dan hatinya mengatakan dengan sangat! Dia adalah Graciella!


***


“Nona Graciella! Makanlah yang banyak, kau semakin kurus di Amerika,” ujar Stevan menyerahkan daging lada hitam di atas nasi Graciella.  Graciella kaget menerima daging yang sudah entah berapa kali diletakkan Stevan di atas nasinya.


“Stevan, jangan begitu. Perutku sudah akan meledak jika begini,” ujar Graciella melihat ke arah Stevan yang hanya memandanginya. Lebih banyak terpaku dari pada memakan makanannya.


“Ah! Apa perasaanku saja atau kau memang bertambah imut selama ada di Amerika,” ujar Stevan lagi begitu terpukau dengan Graciella. Wanita tegar secantik ini, siapa pun yang mengenalnya, baik tahu atau tidak tahu kisah hidupnya akan dengan mudahnya jatuh cinta padanya. Tapi Stevan tahu, walaupun dia berani untuk menyukai Graciella, perasaannya akan bertepuk sebelah tangan. Jadi dia juga membatasi hatinya, mengagumi saja sudah cukup.


“Jangan mulai gombalanmu itu Stevan! Kau mulai membuatku mual!” ujar Laura yang sibuk memakan makanannya.


“Lalu di mana Antony?” tanya Graciella dengan polosnya. Tapi karena pertanyaan itu membuat Laura segera hampir tersedak, hal itu juga langsung memancing gelak tawa dari Stevan.


“Hahaha! Apa kau tidak tahu! Teman mu yang bodoh ini menolak Antony, dua hari lagi pria itu akan menikah dengan wanita lain, tentu sebuah pernikahan yang menguntungkan keluarga. Dia akan menjadi kandidat presiden yang kuat untuk tahun depan,” ujar Stevan menjelaskan.


“Kau tidak perlu menertawakan aku! Bagaimana dengan mu? Bahkan tidak ada lagi wanita yang bisa kau dapatkan!” ledek Laura yang tak ingin kalah dengan Stevan.


“Bukan tidak ada wanita yang bisa aku dapatkan, tapi itu semua karena aku membatasi diriku. Aku masih menunggu Nona Graciella agar entah bagaimana tergelincir dan menjadi menyukaiku!” ujar Stevan lagi dengan senyumannya yang mengembang sempurna ke arah Graciella. Membuat matanya menjadi melengkung lucu.


“Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan kau bersama dengan Graciella!” ujar Laura lagi.


“Oh? Aku tidak menyangka begitu inginnya kau bersama ku, Laura. Kenapa tidak dari dulu saja kau mengatakan bahwa kau menyukaiku. Aku akan mempertimbangkan dirimu demi menghargai Nona Graciella!” goda Stevan lagi pada Laura. Laura sudah sangat kebal dengan rayuan gombal pria ini.


Graciella hanya tersenyum tipis melihat perkelahian dari kedua sahabatnya ini. Sudah lama sekali tidak mendengarkan pertengkaran heboh ini. Rasanya merindukannya juga. Tapi selalu saja. Setelah dia bangun dari rumah sakit itu, seolah ada yang hilang.


Dalam perasaannya dia seperti mencari sebuah sosok samar yang seharusnya ada di sana. Tak yakin, tapi rasanya seorang pria.


“Ehm, lalu bagaimana kabar tentang Adrean?” ujar Graciella tiba-tiba yang langsung membuat Stevan dan Laura terdiam. Graciella tidak bisa lagi menemukan siapa pria yang dia cari itu, jadi dia berpikir siapa lagi kalau bukan Adrean. Hanya pria itu yang pernah singgah dihatinya.