
“Tuan, Tuan Calton melaporkan bahwa Nona Laura dibawa oleh seseorang yang bernama Nona Graciella. Dia adalah istri dari Jendral Xavier!” lapor salah satu penjaga Antony dari panggiilan telepon.
Antony mendapatkan sinyal bahaya itu. Tapi dia tidak bisa pergi ke tempat itu karena sekarang dia sudah dikelilingi oleh para paspamres yang dia tidak bisa percayai.
Antony mendengar itu menggeraskan rahangnya dan menekan kedua bibirnya.
“Baiklah,” ujar Antony datar.
“Apakah kita harus pergi untuk mendapatkan Nona Laura lagi, Tuan?” tanya Calton yang mengambil alih panggilan telepon itu. Kaget dengan respon datar dari Antony.
“Tak perlu, jika dengan Graciella. Aku yakin untuk sementara dia aman. Kita akan mengambilnya kembali ketika semua keadaan aman.”
Antony sedikit merasa lega. Untunglah itu Graciella dan bukan orang suruhan dari Adelia. Dia tahu bahwa bagaimana pun Laura akan aman. Graciella akan menempatkan Laura di markas militer milik suaminya. Dan bahkan dia sendiri tak akan bisa dengan mudahnya masuk ke dalam sana, apalagi orang suruhan Adelia. Setidaknya, Laura akan aman.
“Baik Tuan,” jawab Calton yang langsung diputus oleh Antony.
Dalam matanya terlihat amarah, kecemasan dan pengharapan. Dia yakin, Laura pasti akan kembali padanya.
***
“Bagaimana?” tanya Adelia menelepon salah satu dari orang yang dia perintahkan untuk menangkap Laura.
“Maaf Nyonya. Tapi tiba-tiba saja gedung ini dijaga oleh para Paspampres. Mereka mengatakan bahwa Presiden di bawa ke sana karena Presiden terluka,” lapor penjaga itu.
Adelia mengerutkan dahinya dan sedikit memiringkan wajahnya tak percaya. “Apa? Antony terluka?” suara Adelia sedikit membesar.
“Ya.”
“Lalu kenapa Laura di bawa ke rumah sakit?” tanya Adelia lagi. Apakah wanita itu terluka atau bagaimana?
“Nona Laura dibawa ke poli kandungan Nyonya.”
Mata Adelia langsung membesar.Poli kandungan, apakah? Perasaan Adelia menjadi tak tenang. Apakah wanita itu berhasil mengandung anak Antony! Sial! benar-benar sial!
“Lalu sekarang dia di mana?! aku tidak ingin tahu, walau dia ada di ujung dunia! kau harus mencarinya! aku tidak ingin wanita itu bisa berkeliaran!” ujar Adelia yang begitu panas. Bahkan luka di tangannya yang terkena kaca, tak seperih perasaannya sekarang. Napasnya pun kembali sesak. Bagaimana bisa wanita itu hamil!
“Baik Nyonya!” ujar pria itu. Adelia segera mematikan ponselnya. Ingin meremasnya tapi sakit di tangannya mengahalagi dia melakukan hal itu.
Adelia benar-benar tidak habis pikir. Kalau Laura sampai mengandung maka tidak ada lagi yang tersisa untuk Adelia. Antony pasti memilih Laura untuk selamanya. Lalu bagaimana dengan dirinya.
Adelia menggigit bibirnya dan segera berbalik. Matanya membesar tat kala melihat Antony sudah ada di belakangnya. Apakah dia mendengar semuanya?
“Ant--antony? kau sudah pulang?” tanya Adelia ramah menutupi rasa gugupnya. Bagaimana ini?
Antony menepis tangan Adelia ketika wanita itu mendekat ke arahnya. Seolah ingin menyentuhnya.
“Tak perlu bermanis. Kau benar-benar seorang wanita yang munafik. Terlihat baik di luar tapi busuk di dalam. Berhentilah! jika tidak kau akan tahu akibatnya!” Antony menatapnya dengan datar.
Adelia menggigit bibirnya. Hidungnya bergerak-gerak menandakan ada emosi yang dia simpan.
“Oh, lalu kau suka dengan wanita yang terang-terangan merebut suami orang? wanita yang bahkan hingga hamil dengan suami orang?” tanya Adelia dengan lonjakan emosi yang begitu nyata.
“Maka kau akan kehilangan semuanya!” histeris Adelia.
“Aku tidak masalah kehilangan segalanya. Kedudukan ini sendiri juga hanya keinginan ayahku dan ayahmu. Aku tidak pernah menginginkan semua ini.” Antony terlihat santai mengatakannya.
“Juga anakmu yang lain?” tanya Adelia dengan sorot mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar menahan amarah.
Antony mengerutkan dahinya mencerna kata-kata Adelia. “Apa maksudmu?”
“Aku -- aku juga sedang mengandung anakmu,” Suara Adelia gemetar menyampaikan kebohongan itu. Apalagi yang dia bisa? hanya ini caranya mempertahankan Antony.
Antony tampak tehenyak. Dia kaget dengan apa yang keluar dari bibir Adelia. Adelia mengandung anaknya.
“Tidak mungkin. Kita sudah lama tidak melakukannya.”
“Aku hamil setelah melakukannya terakhir denganmu. Aku juga baru sadar karena emosiku yang turun dan naik. Aku menunggumu untuk pulang. Tapi, aku tidak menyangka akan mendengar bahwa Laura juga mengandung anakmu. Antony, aku ibu dari anakmu. Apakah kau juga akan tega pada anak yang ada dalam kandunganku?” tanya Adelia dengan suara lembut dan sendu. Membuat Antony tak bisa mengatakan apa-apa hanya mengepalkan tangannya. Bagaimana ini bisa terjadi?
***
“Laura, apa kau baik-baik saja?” tanya Graciella. Matanya kembali seperti mengamati apa yang terjadi pada Laura.
Laura yang tadinya masih mengamati keadaan. Berharap ada beberapa penjaga Antony yang akan mencegat mereka dan membawanya kembali ke villa mereka. Tapi, bahkan hingga mobil mereka berhenti di markas militer. Laura tak menemukan siapa-siapa? apakah Anotny belum tahu bahwa dia ada di sini.
“Aku tidak apa-apa.” Laura tersenyum tipis tapi kosong. Dia menyeruput sedikit teh panas yang dia minta. Sebenarnya sedikit aneh, Laura tidak pernah suka minuman hangat.
“Apakah Antony benar-benar menculikmu?” tanya Graciella yang merasa Laura terlihat linglung.
Laura menatap ke arah Graciella. Dia membuka sedikit bibirnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan Graciella. Benar dia menculik Laura. Bukan hanya raganya, hatinya pun sudah dia culik.
“Kau sedang mengandung? sudah berapa bulan?” tanya Laura yang melirik ke arah perut Graciella. Senyum tipis kosong itu kembali tersungging, hal itu malah membuat Graciella khawatir.
Laura mengelus perut Graciella yang mulai membuncit. Seandainya dia hamil? apakah akan seperti ini? lucu, pikir Laura.
“Laura, apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Graciella.
Laura mengangguk pelan sambil melemparkan pandangannya ke arah mug tehnya. Graciella merasa ada yang tidak beres. Apakah ini efek dari penculikan itu?
“Presiden Antony mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangannya sampai terluka dan harus diberikan perawatan di salah satu rumah sakit ….”
Mendengar suara berita dari ruang tengah kediaman Graciella membuat Laura seketika membesarkan matanya. Dia segera bangkit dan berjalan cepat ke arah televisi itu.
Graciella saja sampai bingung melihat tingkah Laura. Dia mencoba mengejar Laura tapi ingat tentang keadaannya yang tak boleh terlalu terburu-buru.
Sampai di ruang tengah itu, Laura sudah duduk di sofa depan televisi sambil memeluk lututnya. Graciella benar-benar bingung dengan sikap Laura sekarang. Wajah dan fisiknya milik Laura, tapi sifatnya begitu berbeda. Sepertinya memang dia syok karena penculikan yang dilakukan oleh Antony.
“Lau?”
“Apakah kau tahu bagaimana cara menghubungi Antony?”
Graciella mengerutkan dahinya. Menatap sorot mata berharap dari Laura. Kenapa dia ingin menghubungi orang yang sudah membuatnya seperti ini?