
“Jangan gegabah,” ujar Monica melihat ke arah luar. Melihat Xavier yang segera berjalan keluar dari rumahnya menuju ke mobil. “Jika kita bertindak sekarang, aku takut Xavier makin membenci kita. Lagi pula wanita itu sudah bersuami. Xavier tidak mungkin begitu mudahnya untuk menikahinya.”
David Qing sedikit menyipitkan matanya. Apa yang dikatakan oleh istrinya ada benarnya. Dia harus mengambil langkah hati-hati untuk bisa mencapai ambisinya.
"Xavier itu punya sifat yang keras. Jika kita juga bermain keras saat ini, dia pastinya akan sangat menentang kita. Biarkan saja dulu, kita cukup mengawasi. Jika nantinya keadaan sudah sangat mengancam. Kita baru akan bertindak," ujar Monica lagi kali ini melihat Xavier yang sudah masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja dari rumahnya.
"Baiklah." David Qing langsung mematikan panggilan ponselnya.
Monica meletakkan ponselnya lalu mengambil cangkir tehnya dan menyeruput tehnya pelan.
"Ferdinand, cari keberadaan wanita itu dan laporkan bagaimana keadaannya," kata Monica melirik penjaga pribadinya.
"Baik Nyonya." Ferdinand langsung keluar dari ruangan itu. Monica menatap lurus pada satu titik, pikirannya melayang memikirkan sesuatu.
...****************...
Graciella kembali membuka matanya, mengamati semua keadaan di kamarnya yang gelap. Graciella segera hendak duduk dan mendapati handuk yang setengah mengering di dahinya.
Graciella mengulik ingatannya. Semalaman rasanya dia ditunggu oleh seseorang. seseorang yang dari siluet tubuh dan juga suara bahkan aromanya mirip dengan Xavier. Dia juga bermimpi bertemu dengan pria itu. Tapi setelah dia bangun dia tidak melihat Xavier sama sekali. Entah kenapa ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya bahwa semua itu hanya mimpi.
Graciella meletakkan handuk itu ke dalam wadahnya. Dia ingin pergi ke kamar mandi. Selain itu juga dia ingin membersihkan tubuhnya. Demam membuatnya banyak berkeringat dan sekarang tubuhnya menjadi lengket.
Graciella berdiri perlahan. Walaupun tubuhnya masih terasa berat tapi lebih baik dari kemarin. Kakinya yang terbalut perban pun sudah tidak terlalu nyeri seperti tadi malam. Keadaannya jauh membaik.
Graciella memutar otaknya, menyanggah tubuhnya dengan berpegangan pada tembok dan menyusurnya. Tapi saat dia baru saja ingin membuka pintu kamar mandi, pintu kamarnya malah terbuka. Graciella tentu kaget, apalagi melihat sosok yang masuk ke kamarnya.
Awalnya dia berpikir itu adalah Laura, tapi matanya langsung membesar ketika melihat sosok tegap itu masuk dengan membawa sebuah mangkuk. Sepertinya air kompres untuk Graciella.
“Anda?” kata Graciella yang kaget, dia hampir terjatuh karena tak kokoh memegang dinding. Xavier yang melihat Graciella sudah berdiri dan bahkan hampir jatuh langsung meletakkan apa yang dia bawa dan menolong Graciella. Graciella langsung memegang kedua lengan dari Graciella.
“Kau ingin apa?” tanya Xavier. Suara itu berat dan datar tapi jauh lebih lunak daripada biasanya.
“Eh? Iya … kenapa kau ada di sini?” tanya Graciella yang tidak menjawab pertanyaan dari Xavier.
“Aku di sini dari semalam,” ujar Xavier memandang wajah Graciella. Mata mereka saling bertaut sejenak tapi tak seperti biasanya, Xavier langsung memalingkan padangannya. Graciella sedikit mengerutkan wajahnya.
“Ehm, aku ingin ke kamar mandi,” ujar Graciella yang merasa tak nyaman. Dia takut Xavier akan mencium bau badannya karena keringat semalam.
“Aku akan membantumu,” ujar Xavier tegas. Dia langsung ingin menggendong Graciella kembali.
“Ha? Aku ingin buang air kecil, bagaimana kau ingin membantuku?” tanya Graciella kaget. Apalagi sekarang dia sudah di dalam gendongan Xavier. Graciella langsung bingung, apalagi dia benar-benar takut bau tubuhnya mengganggu Xavier.
“Di dalam licin, tadi saja kau sudah ingin jatuh, aku akan membantumu.” Xavier mantap ke arah Graciella. Hanya menghindar dari menatap mata Graciella.
“Tapi … itu memalukan. Lagi pula kita bukan sepasang kekasih atau suami istri,” kata Graciella yang wajahnya langsung memerah.
“Biasakanlah, mungkin nantinya kita akan sering melakukannya,” kata Xavier sambil menaikkan satu sudut bibirnya yang langsung membuat Graciella melongo. Pria ini bicara apa?
Xavier membawa Graciella masuk ke dalam kamar mandi itu, dengan perlahan mendudukan Graciella di atas closet duduk yang ada di sana. Graciella hanya melihat ke arah Xavier yang tampak menunggunya.
Graciella menggigit bibirnya, melihat Xavier yang berlipat tangan berdiri di sampingnya. Apa yang ada di dalam pikiran pria ini, bahkan sepenuh apapun kandung kemihnya, jika dia memperhatikannya seperti seorang pengawas dalam ujian, bagaimana bisa Graciella buang air kecil.
“Bisakah kau tidak melihat ke arahku? Atau tunggu saja di luar, jika aku sudah selesai aku akan memanggilmu.” Graciella memandang Xavier dengan wajah memelas, bagaimana pun menolaknya pria ini sepertinya tak akan mengikuti keinginan Graciella.
Xavier menggoyangkan rahangnya menatap Graciella yang berharap padanya. “Baiklah.” Xavier memutar tubuhnya, Graciella menghembuskan napasnya pelan, akhirnya dia mau juga pergi dari sini, pikir Graciella.
“Lakukanlah, aku tunggu di sini.” Xavier berhenti di belakang pintu kamar mandi, tak terlalu jauh dari Graciella. Graciella membesarkan matanya, tetap saja walaupun dia berdiri menjauh, tapi Xavier tetap bisa mendengar atau melihat apa yang dia lakukan.
“Tunggu sajalah di luar, aku hanya buang air kecil. Setelah itu aku pasti akan memanggilmu.” Graciella yang kesal tapi juga bingung melihat kelakukan dari Xavier ini.
Xavier hanya melirik Graciella. Mau tak mau dia keluar juga dari kamar mandi. Graciella yang melihat itu langsung menghembuskan napas leganya. Kenapa pria itu tiba-tiba menjadi begitu posesif.
Graciella menuntaskan hajatnya. Setelah itu dia segera melihat ke arah kaca, wajahnya benar-benar terlihat kucel. Bekas riasan matanya yang tidak dibersihkan dengan benar terlihat membuat matanya menjadi gelap. Rambutnya cukup berantakan karena diikat seadanya. Baunya, tercium asam karena dari dia terluka, dia tidak mandi.
Graciella mencuci wajahnya, airnya terasa segar dan dingin. Rasanya jika mandi dia pasti lebih nyaman. Graciella melirik ke arah bath up yang ada di sana. Luka di kakinya tak boleh basah selama tiga hari. Sepertinya dia bisa berendam dengan kaki dikeluarkan. Graciella langsung saja membuka bajunya.
Graciella perlahan bergerak ke arah bath up itu. Dia harus hati-hati karena dia bergerak dengan melompat. Perlahan dia akhirnya sampai juga ke bath up itu, dia segera masuk dan mulai memposisikan tubuhnya. Graciella sedikit kaget ketika permukaan dingin dari bath up itu mengenai kulitnya. Tapi perlahan-lahan dia terbiasa. Graciella langsung memutar air untuk mandinya, tak terlalu hangat tapi juga tidak dingin.
Graciella langsung merasa senang ketika air itu mulai menutupi tubuhnya. Rasa lengket dan juga gerah di tubuhnya serasa terangkat semua. Dia segera ingin mengambil sabun untuk lebih melengkapi mandinya, tapi dia baru sadar, tidak ada sabun di dekatnya.