
“Aku rasa aku tidak apa-apa. Ini hanya masalah hormon karena mungkin tidak terbiasa terkunci di sini. Aku akan baik-baik saja.”
“Pergilah.” Antony melepas pelukannya. “Jadi calon ibu jangan keras kepala. Lagipula aku ingin tahu lebih cepat apakah dia sudah ada di sini atau belum?” Antony mengelus perut rata Laura. Membuat Laura sedikit tergelitik karenanya. Jauh dari itu semua, di takut akan keadaan Laura.
“Kau benar-benar ingin aku hamil ya?” tanya Laura lagi.
Antony menarik napas panjang tanda tak percaya. Tak cukup menyakinkankah wajah dan kelakukannya dari tadi?
“Tentu saja. Apa menurutmu aku main-main?”
“Apa kau yakin ingin punya anak dari wanita aneh, ceroboh dan juga suka melakukan hal sesuka hatinya seperti aku ini?” tanya Laura. Dia benar-benar merasa akan menjadi ibu yang tidak baik untuk anaknya.
“Yakin. Bukan hanya satu anak. Aku ingin kau melahirkan enam anak!” canda Antony.
“Kau pikir aku kucing bisa melahirkan anak sebegitu banyak. Dua saja cukup!” ujar Laura kaget.
“Baiklah. Sudah, bersiap-siaplah. Kau akan pergi sebentar lagi.”
Laura mengangguk mengerti. Dia segera bersiap-siap.
***
Antony melihat dengan wajah datarnya. Sejujurnya ada rasa cemas yang melanda dengan kepergian Laura dari villa itu. Tapi, dia juga akan lebih cemas jika terjadi apa-apa pada Laura.
Laura melihat ke arah Antony yang berdiri melihatnya. Laura melambaikan tangan saat mobil itu mulai melaju. Tapi entah kenapa malah sedih meninggalkan Antony di sana sendirian. Dia bisa kembali bukan?
Pintu gerbang villa itu langsung terbuka. Laura mencoba meredam perasaan ragunya dengan melihat ke arah sekitarnya. Dia ingin menikmati pemandangan saat siang hari. Kemarin dia pergi dengan Antony, hanya terlihat gelap. Ternyata lebih indah dari bayangannya.
Sekuat apa pun Laura untuk mengalihkan pikirannya. Dia tetap tidak bisa menutupi kekhawatirannya. Beberapa kali melihat ke arah belakang. Tapi villa itu sudah jauh tak terlihat.
Antony memerintahkan lebih dari enam anak buahnya yang mengikuti Laura dengan cara mereka masing-masing. Yang pasti tidak membuat orang-orang di luaran tampak curiga. Tapi sayangnya, dia tidak bisa meminta penjaga-penjaga khusus kepresidenan untuk menjaga Laura. Itu sangat berbahaya jika dia lakukan.
***
“Nyonya ada mobil yang keluar tanpa pengawalan,” lapor seseorang pada Adelia dari ponselnya.
Adelia mengerutkan dahinya. “Apakah itu Antony?”
“Saya masih tidak tahu Nona. Kami tidak bisa melihat ke dalam mobil itu.”
Adelia terdiam sejenak. Dengan raut wajah dingin dia berkata, “Ikuti mobi itu dan pastikan siapa dan ke mana tujuannya? laporkan padaku segera!”
“Siap Nyonya.”
Adelia menutup panggilan itu. Ya, dia tak sabar ingin tahu siapa yang keluar dari sana. Karena, rasanya Antony tak cukup bodoh untuk keluar dari sana, mengingat bagaimana pun dia masih mengaku ada di luar negeri.
***
“Saya sedang mengikuti mobil itu. Orang dari Nyonya Adelia pun sudah bergerak maju,” lapor orang yang diperintahkan oleh Graciella memata-matai tempat itu.
“Baiklah. Ikuti dan beri kabar siapa dan ke mana tujuan mereka.” Graciella mengatakannya dengan tegas.
“Ya! baik Nyonya.”
Panggilan telepon itu langsung tertutup. Graciella memegang erat ponselnya. Apakah itu benar adalah Laura? orang yang dia kirim memata-matai tempat itu hanya berhasil mendapatkan gambaran buram tentang seorang wanita yang ada di villa itu. Mereka tidak sedikit pun bisa mendekat karena penjagaan yang begitu ketatnya.
Siapa yang disembunyikan oleh Antony di sana?
***
Dia segera diarahkan ke sebuah tempat dengan tulisan poli kandungan. Tapi sebelum dia sampai di sana. Dia melihat seorang pria dengan pakaian rapi menunjukkan gestur OK padanya. Tentu hal itu membuat Laura bingung.
Di dalam ruangan. Laura segera di sambut oleh dokter kandungan wanita. Itu adalah pesan dari Antony untuk mencarikan Laura dokter kandungan wanita. Dia tidak mau tubuh Laura disentuh oleh dokter pria yang lain.
“Silakan Nona,” ujar Dokter itu mempersilakan Laura untuk naik ke meja pemeriksaan. Laura mengangguk pelan. Dia tidak banyak berbicara seperti biasanya dia di villa itu.
Laura tidur dengan tegang. Bukan, dia tidak takut dengna pemeriksaan USG ini. Bukannya hanya meletakkan alat di perutnya dan semua akan terlihat. Tapi yang sekarang membuatnya tegang adalah apa yang tadi dia lihat. Siapa pria itu? apakah ada sesuatu di luar sana yang akan terjadi padanya? apakah dia orang baik atau tidak? Laura jadi pusing karenanya.
“Nona?” suara dokter yang memanggilnya membuat Laura kembali ke ruangan itu.
“Ha? ya ada apa?” tanya Laura bingung.
“Ini, saya menjelaskan bahwa rahim Anda baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali. Sepertinya, kita memang harus memeriksa darah Anda. Kehamilan yang terlalu dini, tidak bisa diperiksa dengan USG juga.” ujar dokter itu dengan senyuman ramah.
“Oh, ya, aku tahu itu,” ujar Laura seadanya. Otaknya masih berpikir, siapa pria itu?
“Baiklah. Saya sudah memanggil orang laboratorium untuk mengambil darah Anda. Sambil menunggu saya akan melakukan pemeriksaan dalam dan mengambil sampel dari cerviks anda untuk pemeriksaan pap smear.”
Laura hanya mengangguk. Dokter itu langsung melakukan pemeriksaan dalam pada Laura. Sedikit tidak nyaman karena dia harus membuka lebar pahanya. Untung saja dokter ini wanita, jika tidak dia pasti tak akan mau melakukannya. Tak berap lama, orang laboratorium itu pun datang. Dia segera mengambil darah Laura dan pergi untuk memeriksanya.
“Pemeriksaan darahnya akan dikirim ke E-mail yang Anda cantumkan ini. Sekarang semuanya sudah selesai, Kita akan bertemu setelah hasilnya keluar,” ujar doker itu dengan senyuman ramah.
“Nona, ayo kita keluar,” ujar dokter pribadi Antony.
Laura sedikit ragu. Dia merasa dia tidak aman ada di sana.
“Aku tidak mau keluar,” ujar Laura tiba-tiba. Dokter itu langsung kaget. Apakah Nona ini tidak ingin kembali ke Villa lagi? bisa gawat jika sampai pak presiden tahu. Bukannya dia yang bertanggung jawab untuk Laura.
“Eh, kenapa Nona? Anda jangan begitu, jika tidak, Tuan ….” Dokter itu ingin membujuk Laura.
“Bukan. Aku ingin berbicara dengan Antony sekarang.” Laura menatap dokter itu dengan wajah seriusnya.
“Tapi ….” Dokter itu tentu takut jika tiba-tiba Laura menelepon Antony dan mengatakan dia tidak ingin pulang. Bisa gawat nantinya.
“Serahkan saja ponselmu! aku butuh bicara dengannya sekarang!” Laura menatap dokter itu kesal.
“Baik,” kata dokter itu menyerahkan ponselnya. Sebelumnya dia membuka kata sandinya terlebih dahulu. Dokter kandungan yang ada di sana hanya mengerutkan dahinya.
Laura langsung mencari kontak Antonya dan segera meneleponnya. Tak perlu suara sambungan, telepon itu langsung diangkat.
“Halo?” suara Antony terdengar di sana.
“Aku rasa ada seseorang yang mengikutiku ke sini. Aku melihat mereka memberikan gestur padaku,” ujar Laura menggigit kukunya. Dokter pribadi Antony membesarkan matanya. Ternyata bukan karena Nona ini tidak mau pulang melainkan hal yang lebih genting lagi.
“Aku sudah tahu, aku sudah menuju ke sana!” ujar Antony.
Laura mendengar itu langsung mengerutkan dahinya. “Tapi Antony nanti ….”
“Aku sudah bilang. Serahkan saja semua padaku. Tetaplah di sana hingga ada orang dengan lencanaku datang menjemputmu.”
Antony menutup telepon itu. Laura hanya diam menatap layar ponsel yang tak langi menunjukkan sambungan teleponnya. Benar bukan, pasti ada masalah jika dia keluar dari sana.