Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 189. Maaf. Kami tidak bisa mengikuti permintaan Anda.


“Kalian tahu pasti apa tujuan kami datang ke sini sekarang,” ujar Xavier yang sedang duduk bersama Anali dan Ronnie.


Anali dan Ronnie saling melempar pandangnya. Mereka tentu tahu apa tujuan dari Xavier dan Juga Graciella ada di sini. Mereka ingin menjemput putri mereka.


“Ya, kami sudah tahu Tuan,” ujar Ronnie dengan senyuman terpaksanya.


“Kami sangat berterima kasih. Kalian sudah menjaga Moira selama lima tahun ini dengan penuh kasih sayang dan sangat baik. Aku juga tahu kalian sangat menyayangi Moira seperti Moira menyayangi kalian. Karena itu, kami ingin mengajak kalian untuk pindah dari sini dan ikut bersama kami ke Ibukota, sehingga Moira tidak akan kehilangan ibu dan ayahnya,” ujar Graciella perlahan dan dengan nada yang keibuan. Dia memandang Anali yang juga hanya diam menatap dirinya.


Anali dan juga Ronnie kembali saling tatap. Dari wajah mereka tampak keraguan dan juga kesulitan yang terlihat. Graciella yang tadinya berharap dengan sangat Anali dan Ronnie bisa menyetujuinya jadi sedikit ragu. Dia melihat ke arah Xavier yang hanya diam saja menunggu jawaban mereka.


“Maaf, Nyonya, Tuan. Kami mengerti dan berterima kasih atas tawaran Anda berdua. Tapi sepertinya kami tidak bisa melakukan hal itu,” ujar Ronnie dengan sungkan.


“Kenapa? ” tanya Graciella yang sedikit kecewa. Gadis kecilnya pasti sedih jika berpisah dengan orang tua angkatnya ini. Graciella jadi resah dan berulang kali melihat ke arah Xavier.


“Kami akan menjamin semua kebutuhan Anda di sana. Bahkan kami akan mencarikan pekerjaan yang cocok untuk Anda di sana,” ujar Xavier lagi menyakinkan kedua orang yang ada di depannya ini.


“Kami tahu Tuan dan Nyonya pastinya akan menjamin kehidupan kami di sana. Tapi, di sini kami juga punya tanggungan. Kedua orang tua kami ada di sini dan mereka sudah renta, kami tidak bisa meninggalkannya. Kami yakin Anda juga bisa membawa mereka ke Ibukota tapi maaf, kami tidak ingin merepotkan dan dianggap seperti mengambil keuntungan untuk tawaran Anda,” jelas Ronnie lagi.


Xavier menarik napasnya, dia mengerti jika seperti ini. Tentu mereka tidak bisa memaksa keinginan mereka. Tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan bukan?


“Lalu bagaimana dengan Moira?” tanya Graciella menatap ke arah Anali.


“Sejak pertama kami sudah tahu bahwa suatu saat kami akan berpisah dengannya. Kami sudah tahu pasti suatu hari Anda akan menjemputnya. Jadi, kami rasa sudah cukup senang bisa bersama dengannya selama lima tahun ini,” kata Analin. Walaupun dia mengatakannya dengan senyuman, mata dan getaran di suaranya tidak bisa membohongi bahwa dia begitu berat mengatakan hal itu.


Graciella terdiam. Dia menarik tubuhnya yang tadi condong ke arah Anali.   Dia menggigit bibirnya. Perasaannya sekarang serba salah. Bagaimana nanti perasaan Moira jika dia tahu ayah dan ibunya tak bisa ikut dengan meraka? Graciella menarik napas dalam. Semoga saja Moira bisa mengerti.


****


“Kaoru nanti di sana harus semangat belajar ya! Ayah akan senang mendengar kalau Kaoru bisa juara kelas,” ujar Ronnie mengelus kepala Moira. Moira hanya melirik pria itu, wajahnya tampak sudah tidak bisa menahan tangisnya.


“Nanti di sana, jadilah anak yang baik ya. Kaoru cantik sekali,” ujar Anali tersenyum dengan matanya yang sudah memerah. Mengelus  halus rambut anaknya yang sudah berbalut gaun putih yang sengaja dibawa oleh  Monica. Anali terus mencoba menahan tangisnya. Tentu, lima tahun bukanlah waktu singkat untuk bersama, tapi tetap saja tidak rela untuk melepaskannya.


“Ibu dana Ayah kenapa tidak ikut? Kita bisa tinggal bersama. Ibu ikut Kaoru saja,” ujar Moira menangis tersedu. Napasnya pendek karena menahan rasa sedihnya.


“Jika Ibu dan Ayah pergi, siapa yang akan menjaga nenek dan kakek. Kaoru tahu kan Kakek sama sekali tidak bisa berjalan. Nanti siapa yang akan membawakan makanan untuk mereka. Di sana Kaoru akan banyak yang menyayangi, Ibu yakin Kaoru akan lebih senang ada di sana,” ujar Anali. Air matanya tak bisa lagi di tahannya. Turun begitu saja hingga dia  menunduk agar menutupi wajahnya yang sedang menangis. Ronnie mengepalkan tangan dan menutupi bibirnya dengan kepalan tangan itu. Mondar mandir dengan kepala mendongak agar tidak menangis.


“Tapi Kaoru sayang ibu,” raung Moira memeluk Anali. Anali menerima pelukan itu dengan erat. Dia tahu putrinya sekarang pastinya sangat sedih. Moira adalah anak yang selalu menenangkan orang lain jika ada yang bersedih hatinya. Tapi jika dia ikut menangis, artinya dia benar-benar sangat sedih.


Anali memeluknya erat sekali. Mencium putrinya beberapa kali seolah ingin memuaskan. Dia harus ingat bagaimana rasanya memeluk, mencium putrinya. Karena mungkin akan lama sekali baru bisa memelukny atau mungkin tidak akan pernah lagi. Melihat itu, Ronnie yang tadinya bersikap tegar jebol juga pertahanannya. Dia menangis memeluk putri dan juga istrinya.


Graciella yang sebenarnya melihat hal itu hanya bisa diam saja di tempatnya mengintip kedekatan orang tua dan anak ini. Air matanya pun tak bisa dibendung sama sekali. Perasaan yang pancarkan oleh Moira dan Anali benar-benar menyentuh perasaannya.


“Kenapa?” tanya Xavier yang tiba-tiba datang menghampiri Graciella yang tampak menahan tangisnya di sisi pintu hotel itu. Xavier melihat ke arah dalam, melihat bagaimana Anali dan Moira masih berpelukan dengan erat.


Xavier pun hanya menatap sendu melihat bagaimana putrinya yang tersedu dalam pelukan Anali dan Ronnie. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh Graciella. Semakin dilihat tentunya semakin berat bagi mereka.


Graciella memengang pundak Xavier. Xavier hanya melirik ke arah Graciella yang menghapus air matanya.


“Kita harus pergi sekarang,” ujar Xavier.


“Baiklah,” ujar Graciella.


Karena mendengar suara dari arah pintu. Anali dan Robbie langsung melihat ke arah pintu, melihat Xavier dan Graciella yang sudah ada di sana. Anali dan Robbie tahu bahwa sudah saatnya mereka menyerahkan anak mereka.


“Kaoru, ayo,” ujar Anali menghapus air mata Moira yang masih saja mengucur. Tetap menangis seperti begitu kehilangan sesuatu. Robbie menggendong anaknya untuk terakhir kalinya. Dia mencubit ujung hidungnya yang berair karena menangis tadi.


Mereka berlima berjalan menuju dua mobil yang akan membawa mereka pulang. Di depan pintu gerbang Ronnie memandang anaknya lalu perlahan menurunkannya. Moira masih bernapas berat, sesekali tampak senggugukan, tapi air matanya sudah tidak ada lagi terlihat di matanya yang indah.


Moira turun tapi langsung memengang tangan Ronnie erat. Anali kembali mencium anaknya tapi kali ini dia tampak lebih tegar. Ronnie langsung menyerahkan putri kecilnya agar menggenggam tangan Graciella.


Air mata Moira kembali  mengalir. Saat Graciella menuntunnya ke arah mobil yang akan membawa mereka ke Ibukota. Moira semakin menangis. Dia melihat ke arah ayah dan ibunya yang hanya tersenyum tipis dengan air mata yang kembali tidak bisa di bendung. Mereka melambaikan tangan untuk sebuah salam perpisahan.