Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 229. Apakah ini benar-benar karmanya?


Antony keluar dari kamar mandinya dengan canggung. Sudah lebih dari tiga bulan dia tidak pernah lagi sekamar dengan Adelia. Dan ini kali pertamanya lagi mereka akan ada dalam satu kamar.


Walaupun Adelia sudah menyiapkan sebuah tempat tidur kecil dari sofa yang ada di sana untuk dirinya sendiri. Tapi Antony tetap merasa tak nyaman.


“Jangan khawatir. Aku akan tidur di sana. Aku tahu kau tak nyaman seranjang denganku,” ujar Adelia melihat Antony yang mengamati semua yang ada di kamar utama mereka. Tak ada yang berubah. Bahkan lemari berisi alkohol yang dulu diisi oleh Antony. Sekarang sudah kembali terisi dengan minuman-minuman yang seluruhnya dipecahkan oleh Adelia sebelumnya.


“Hmm,” jawab Antony singkat. Adelia kembali menggigit bibirnya pelan. Dia kira mungkin saja walaupun hanya sedikit. Kehangatan dalam diri Antony yang dulu pernah dia rasakan akan kembali. Nyatanya tidak. Pria itu bahkan tidak melarangnya tidur di sofa.


Antony duduk di ranjang empuk yang seharusnya menjadi tempat tidurnya selama ini. Dia tidak melirik ke arah Adelia yang sangat berharap Antony melihatnya sedikit saja.Dia melakukan semuanya dengan lambat. Dalam hati kecilnya berharap sekali suaminya punya rasa peka ataupun sedikit saja perhatian dengannya. Dia berharap Antony memanggilnya untuk tidur bersamanya dalam satu ranjang. Tak kasihankah dia melihat Adelia tidur di sofa keras ini?


“Adelia!” ujar Antony segera berdiri.


Adelia tersenyum membelakangi Antony. Akhirnya, ternyata walaupun sudah cukup lama marah pada Adelia. Antony tetaplah Antony yang sangat baik dan hangat. Adelia dengan wajahnya yang sumringah langsung membalikan tubuh ke arah Antony.


Dia melihat Antony masih saja terpaku dengan ponselnya. Adelia mengerutkan dahinya.


“Ya?” suara itu lembut keluar dari bibir Adelia.


“Ada yang harus aku kerjakan sekarang. Ini masalah keamanan negara. Tidur saja. Jika ibumu bertanya. Katakan hal itu. Jika dia masih bertanya tentang kenapa aku lebih memilih bekerja dari pada tidur denganmu. Katakan saja, bahwa itu konsekuensi sebagai istri seorang presiden.” Antony segera mengambil semua kebutuhannya. Sebuah mantel untuk menutupi baju tidurnya dan menatap Adelia dengan wajah seriusnya, tak lama dia pergi begitu saja.


Melihat itu Adelia terdiam. Suara pintu tertutup terdengar cukup kuat. Adelia langsung kesal. Dia yang sedang memegang bantalnya langsung merem*s bantal itu dengan kuat untuk menyalurkan semua emosinya. Dia kira Antony mau mengajaknya untuk tidur bersama. Tapi pria itu malah pergi begitu saja meninggalkannya kembali tidur sendirian. Ranjang ini, benar-benar ranjang tak bertuan.


Antony berjalan dengan cepat. Dia kaget melihat apa yang dilakukan oleh Laura di kamar itu. Dia melempari semua barang-barang yang ada di kamar itu. Laura! Kelakuannya memang tidak pernah ada yang berubah.


Antony harus mengunci dengan baik ruangan itu. Sebelum dia masuk ke dalamnya. Dia harus memanipulasi CCTV ruangan kerjanya agar menangkap dirinya yang sedang bekerja. Dia harus duduk satu menit penuh untuk membiarkan CCTV mengulang videonya. Hingga jika siapa pun yang memantau dirinya dari CCTV akan menemukan dirinya ada di dalam ruangan itu.


Antony segera masuk ke dalam ruang rahasia. Saat dia sampai di sana. Pelayan dan penjaga di sana tampak berkumpul di depan pintu kamar Laura.


“Kalian bubar semua!" perintah Antony. Semua orang di sana perlahan meninggalkan tempat itu walaupun banyak juga yang masih penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. "Apa yang dia lakukan?” tanya Antony pada Max.


“Aku rasa Nona Laura mengamuk.” Max melirik ke arah Antony yang tampak berwajah kesal.


“Aku akan masuk. Buka pintunya,” perintah dari Antony.


“Tapi Tuan, Nona Laura melempar semuanya membabi buta. Bisa-bisa Anda terkena kaca atau semacamnya.” Max langsung khawatir dengan keadaan Antony. Jika tiba-tiba saja dia terkena lemparan vase atau kaca di ruangan itu dan terluka. Bagaimana caranya dia mencari alibi untuk semua orang di atas sana.


“Tidak masalah. Aku harus masuk ke sana. Jika tidak wanita itu tidak akan berhenti.” Antony memaksa.


“Tuan ….” Max masih tidak mengizinkan Antony untuk masuk. Baginya itu sangat riskan dan berbahaya.


Antony melirik dengan tajam dan langsung memotong perkataan dari Max. “Buka saja! Ini perintah!”


Laura segera melihat ke arah Antony. Dia tahu raungan dan isak tangisnya tidak akan mengundang Antony kembali. Tapi kalau dia bertindak bar-bar seperti ini. Dia yakin Antony akan datang. Karena dari dulu Antony paling tidak suka jika Laura seperti ini.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Antony dengan sangat marah.


“Kenapa?! Akhirnya kau datang kan! Aku hanya ingin kau datang ke sini!” ujar Laura menantang. Bodoh sekali dia berpikir Antony akan mendengarkan tangisnya. Jadi lebih baik menantangnya saja. Laura langsung mengambil tempat lilin yang terbuat dari perunggu dan melemparkannya pada Antony! perunggu itu mengenai pipi Antony yang langsung membuatnya tergores. Merah. Laura melihat itu kaget. Bagaimana bisa menggores seperti itu? pikirnya. Padahal dia kira itu hanya akan membuat benjol kepala Antony.


Antony memegang pipinya. Rasanya panas dan nyeri. Laura hanya diam.


“Kau memang tidak pernah berubah!” Antony dengan geram. Dia melangkah mendekati Laura yang segera berancang-ancang mengambil senjata rahasianya. Vase besar yang berisi bunga lili. Jika dia bisa melemparkannya ke arah Antony. Antony pasti pingsan. Dia bisa mengancam para bawahannya dan membuatnya bisa keluar dari sini.


“Kau diam di sana! Atau aku akan melempar vase ini!” Laura berteriak dengan keras sambil mencoba mengangkat vase itu. Antony saja yang mendengar hal itu sedikit terdiam. Tapi sial sekali. Sepertinya keberuntungan masih belum berpihak dengan Laura atau memang dia tidak mengkalkulasi semuanya dengan matang sehingga dia tidak tahu bahwa Vase itu sangat berat. Tentu saja karena vase itu sangat besar.


Antony mengerutkan dahinya tapi langsung dengan cepat mendekati Laura. Laura yang panik tidak bisa sama sekali mengangkatnya langsung mencoba segala cara untuk menjauhkan Antony yang tinggal beberapa langkah lagi ada di dekatnya.


Laura menggulingkan vase besar itu hingga membuat Antony sedikit menghindar. Di saat itu pula Laura mencoba untuk berlari dari Antony. Suara vase yang terguling dan pecah menyentuh lantai membuat semua orang di belakang pintu itu langsung kaget. Max sedikit khawatir tapi ingat kata-kata Antony untuk tidak membuka pintu apa pun yang terjadi jika dia ada di dalam sana.


Laura langsung mencoba untuk berlari menjauh dari Antony. Tapi  dia lupa kalau dia terkurung di ruangan yang hanya sepetak itu saja. Tentu saja walaupun menghindar. Antony yang lebih gesit darinya dengan cepat bisa menangkap dirinya.


Antony segera menangkap tubuh Laura dari belakang. Mengangkatnya dan menahan tubuh Laura yang berontak sebisa mungkin untuk melarikan diri darinya. Laura bahkan memukul-mukul tangan kekar yang sekarang menahan di pinggangnya. Semua itu membuat jas mandi Laura yang dia gunakan sedikit tersingkap. Antony bisa merasakan hangatnya kulit perut Laura sekarang.


Antony terus menahan Laura dan memutar tubuh gadis yang sebenarnya tidak terlalu kecil tapi tak sepadan dengan tubuhnya. Laura pun mulai memukuli tubuh Antony. Walaupun kewalahan akhirnya Antony bisa menangkap kedua tangan Laura dan dengan cepatnya dia langsung melemparkan tubuh Laura ke arah ranjang yang ada di samping mereka.


Laura langsung terhempas. Walaupun dia jatuh ke ranjang yang sangat empuk tapi hempasan Antony tidak main-main kerasnya hingga dia terambing-ambing beberapa kali di atas ranjang itu. Jas mandi itu terlepas ikatannya. Memperlihatkan tubuh bagian depan Laura yang nyatanya polos tanpa penutup sama sekali. Bukannya tadi Laura menolak menggunakan pakaian dari Antony?


Laura menatap wajah Antony yang tampak begitu kesal dan marah padanya tapi juga ada hal lain di matanya. Pandangannya sangat tajam bagaikan seekor harimau yang sedang mengintai mangsanya. Seketika saja tubuh Laura gemetar dan menutup tubuhnya. Takut akan sosok yang berjalan dengan mantap ke arahnya. Dia belum pernah setakut ini melihat seseorang. Bagaimana bisa Antony yang selama ini tatapannya selalu teduh dan ramah berubah menjadi seperti iblis.


Antony langsung menangkap tubuh Laura yang mencoba untuk menjauh darinya. Menindihnya di bawah tubuhnya. Menahan Laura yang tentunya memberikan perlawanan gesit untuknya. Tapi semua perlawanan itu tidak berarti pada Antony. Dia malah tertantang lebih karena perlakukan Laura.


Semakin Laura berontak. Semakin semangat dia untuk mendiamkan wanita ini. Lagipula, aroma harum bunga mawar yang menyeruak di tubuh Laura membuatnya semakin beringas. Kulit putih yang terekspos akibat pergumu””lan yang mereka lakukan ini membuat Antony semakin hilang akalnya.


Antony segera melucuti semua yang ada di tubuh Laura. Menunjukkan kemolekan dan kehangatan kulit yang pernah dia rasakan. Mengingatkannya dengan semua yang pernah terjadi di antara mereka. Hal itu membuatnya gelap mata.


“Antony! Berhenti!” teriak Laura. Separuh tubuhnya sudah tak lagi tertutupi. Apa yang ingin Antony lakukan? memperk*s*nya?


“Diam! Bukannya kau sengaja mengundangku ke sini! Bukannya kau yang menggodaku malam itu? Sekarang! Kau yang harus menuntaskan semua ini!” ujar Antony. Akal sehatnya hilang sudah. Kerinduannya akan kehangatan yang sudah dia tahan begitu lama akhirnya tidak bisa juga dia bendung lagi. Wanita yang selama ini ada dalam otaknya. Sekarang tergeletak di bawah tubuhnya.


Laura terus mencoba mempertahankan dirinya. Tapi semuanya tidak bisa lagi dia tahan. Apalagi semakin lama kekuatannya semakin melemah. Dengan air matanya yang mengalir. Akhirnya dia harus pasrah. Apakah ini semua benar-benar karmanya?