
“Komandan! Dokter Graciella ada di seberang jalan kita,” lapor Fredy yang matanya begitu jeli melihat keberadaan Graciella yang ada di seberang jalan mereka. “Kita harus memutar sejenak.”
Jalan yang mereka lewati memang jalan satu arah. Mereka harus berputar untuk bisa menuju ke tempat Graciella.
Xavier langsung menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah yang dilaporkan oleh Fredy. Dia melihat Graciella yang sedang berdiri di depan pusat perbelanjaan itu sambil menggandeng Moira yang sedang memuluk bonekanya dengan satu tangan. Ada perasaan gugup yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, tapi juga ada perasaan tak sabar untuk bertemu mereka. Dia tak menyangka, dia akan bertemu putri yang bahkan baru dia tahu keberadaannya.
“Tidak perlu. Menepi sekarang!” perintah Xavier yang melihat sebuah jembatan penyeberangan yang langsung menghubungankan tempatnya ke depan pusat perbelanjaan itu.
“Tapi komandan?”
“Kalian saja yang memutar. Berhenti di sini!” ujar Xavier. Dia tak ingin kehilangan jejak dari Graciella, apalagi wanita itu seolah ingin pergi dari sana. Xavier langsung keluar dari mobil itu bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna.
Xavier segera berlari dengan secepat yang dia bisa. Sesekali dia melihat ke arah Graciella yang sedang sedikit bercengkramah dengan Moira. Dia sudah tidak sabar untuk bisa menemui anaknya itu. Ingin bisa lebih dekat melihatnya dan menyentuhnya. Dia hanya berharap dalam hati bahwa Graciella belum pergi dia sudah sampai di sana.
“Dingin?” tanya Graciella merapatkan jaket anaknya. Udara malam di musim gugur lebih dingin dari pada sebelumnya.
“Dingin!” ujar Moira mengikuti kata-kata ibunya tapi segera menyengir kuda. Melihat itu Graciella tersenyum, dia sekali lagi mencolek hidung mancung milik Moira.
“Tahan ya, sebentar lagi kita akan pulang. Malam ini Moira senang?” tanya Graciella lagi.
“Senang. Moila dapat main-main!” ujar Moira terlonjak senang hingga menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sangat lucu terlihat. Graciella kembali tersenyum lebar karenannya.
Graciella kembali berdiri tegak melihat ke arah sekitarnya. Sebuah taksi langsung berhenti di dekat Graciella. Graciella langsung membuka pintunya dan baru saja ingin masuk tiba-tiba seseorang menyerobot masuk begitu saja.
“Nyonya! istriku akan melahirkan! Izinkan aku menggunakan taksi ini duluan!” ujar pria itu tampak begitu panik.
Graciella yang awalnya mengerutkan dahi dan sedikit kesal karena pria ini datang begitu saja langsung mengangguk. Dari wajahnya kelihatan dia memang sedang sangat terburu-buru.
“Terima kasih Nyonya,” ujar pria itu segera menutup pintu dan taksi itu pergi begitu saja.
Graciella melirik ke arah Moira yang juga menatapnya. “Sabar ya, kita naik taksi selanjutnya saja.”
Moira tersenyum sedikit dan mengangguk pasti. Menunggu sebentar saja tak akan masalah.
Xavier yang tadinya melihat Graciella hampir saja naik ke sebuah taksi tampak sedikit melambatkan larinya, dia sedikit kecewa. Tapi begitu melihat Graciella tak jadi naik. Xavier langsung kembali berlalri sekuat tenaganya. Dengan sangat cepat menuruni eskalator turun itu. Sedikit lagi! tinggal sedikit lagi dia akan bisa memeluk putrinya.
Xavier berhenti sejenak setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah. Dia sekarang bisa melihat lebih jelas bagaimana senyuman anaknya yang tampak riang. Jantung Xavier berdetak begitu kuat. Bukan karena dia sudah berlari kencang, tapi dia yakin karena melihat Moira. Detakan jantung itu rasanya menyakitkan. Apa yang harus dia lakukan? bagaimana caranya mendekati anaknya? Apakah Graciella mengizinkannya? Jika tidak, haruskan dia mengakui semuanya?
Dan benar saja, mobil itu benar-benar menyasar ke arah Graciella dan Moira berdiri. Kecepatannya begitu cepat hingga Graciella yang sedang berdiri langsung kaget ketika beberapa orang terdengar berteriak. Graciella tanpa pikir panjang lagi langsung mencoba menyelamatkan Moira dengan cara menarik anaknya ke dalam dekapannya. Dia segera ingin menghindar tapi tubuhnya tiba-tiba saja di dorong seseorang hingga Graciella tersungkur jatuh menghantam kaca yang menjadi gerbang utama pusat perbelanjaan itu.
Semua terasa hening karena kejadiannya begitu cepat. Graciella merasa kepalanya begitu sakit karena terbentur oleh kaca yang cukup tebal. Pandangan Graciella kabur tetapi perlahan semakin menjelas. Matanya membesar melihat kerusakan yang dibuat oleh mobil itu. Setengah badan mobil itu masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Kaca-kaca berhamburan dimana-mana.
Tapi Graciella tak bisa terlalu terpaku dengan keadaan itu. Otaknya langsung mengingatkannya agar mencari anaknya. Graciella langsung melihat ke segela arah. Tadi bukannya anaknya ada dalam pelukannya.
Mata Graciella kembali membesar melihat tubuh munggil anaknya yang tergeletak tak jauh darinya. “Moira! Moira!” teriak Graciella histeris dan segera ingin bangkit. Seorang pria yang ada di dekat mereka berinisitif menggendong tubuh Moira dan menyerahkannya pada Graciella. Graciella menerima tubuh Moira yang tampak lemas. Dia segera memeriksa nadi anaknya. Masih terasa. Syukurlah! ucap Greciella dalam hati. Ada luka kecil di bagian dahinya, tapi sekecil apapun benturan di kepala bisa menyebabkan keadaan yang gawat.
“Moira! Moira! bangun! bangun, nak!” ujar Graciella panik. Dia menggoyangkan tubuh Moira, memegang kedua pipinya. “Tolong, siapapun! Panggilkan ambulans atau bawa kami ke rumah sakit!” histeris Graciella memecah segalanya. Dia memeluk Moira yang masih tak sadarkan dirinya.
Xavier bisa mendengarkan suara Graciella. Untunglah dia sempat mendorong tubuh Graciella yang menggendong Moira. Jika tidak mobil itu pasti sudah membuat tubuh mereka remuk. Tapi yang menjadi gantinya adalah Xavier sendiri. Untung saja dia tidak kehilangan kesadarannya.
Xavier tidak bisa merasakan kaki kirinya tapi dia berusaha untuk bangkit, apa lagi dia bisa melihat dan mendengar Graciella yang terduduk memeluk Moira dengan histeris menangis memanggil-manggil nama anaknya. Xavier mencoba untuk menapak di kaki kanannya dan baru sadar mata kaki kirinya begitu sakit, tapi dia memaksakan dirinya. Berjalan sambil menyeret kaki kirinya agar bisa sampai ke tempat Graciella.
“Tolonglah! siapa pun! Moira!” Graciella memelas dengan sangat. Orang-orang di sana juga berusaha untuk memanggil ambulans, tapi tentunya ambulans tidak datang begitu cepatnya.
Graciella langsung kaget begitu kedua tangan kekar itu mengambil Moira dalam dekapannya. Matanya membesar saat melihat siapa pemilik tangan kekar itu. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Wajah Xavier tampak begitu menahan rasa sakit. Tapi dia segera berusaha untuk membawa tubuh Moira dalam gendongannya. Walau jalannya tertatih dia berusaha untuk bisa pergi dari sana. Jika menunggu, Xavier takut ada apa-apa pada anaknya.
Semua orang yang ada di sana hanya bisa melihat bagaimana Xavier menggendong tubuh kecil Moira untuk mencari bantuan. Dia mencoba mencari mobil yang bisa dia gunakan untuk mengantar putri kecilnya ke rumah sakit!
“Komandan!” ujar Fredy yang tidak menyangka melihat keadaan Xavier yang begitu parah. Lukanya ada di mana-mana. Berdirinya dan berjalannya tak tegak seperti biasa tapi dia masih berusaha untuk menggendong Moira.
“Mobil! di mana mobil?” tanya Xavier.
“Tidak bisa masuk!” lapor Fredy yang panik.
“Bawa dia! bawa ke rumah sakit segera!” Xavier langsung memberikan Moira pada Fredy yang segera menerima tubuh Moira. “Pergi sekarang!” ujar Xavier yang tahu bahwa Fredy mengkhawatirkan dirinya.
...****************...
Halo kak! plis jangan membayangkan kecelakaan ala sinetron ikan terbang. Kalau mau bayang kayak dikecelakaan fast and Furious atau mission impossible aja. (banyak maunya othor) wkkwkwk...