Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 31. Kau terlalu polos


“Sudah bangun?” tanya Xavier yang duduk di samping ranjang perawatan Graciella. Graciella yang baru saja bangun langsung mengangguk pelan. Kepalanya sedikit pusing, mungkin akibat banyak kehilangan darah karena luka di kakinya kemarin. “Ada yang salah?”


“Ya. Hanya sedikit pusing.” Graciella melirik ke meja di dekat tempat tidurnya. Ada segelas air minum. Graciella langsung ingin menggapai gelas itu tapi Xavier langsung mengambil gelas dan segera menuangkan kembali air putih.


“Jika ingin sesuatu. Katakan padaku," ujar Xavier datar saja. Dia membantu Graciella untuk duduk sejenak sebelum dia memberikan minuman itu pada Graciella. Graciella memperhatikan pria yang sudah tampak begitu rapi pagi ini. Pakaiannya sudah terganti dengan pakaian dinasnya. Terlihat begitu gagahnya.


“Terima kasih," ujar Graciella setelah selesai meminum setengah air putih yang Xavier tuangkan. Xavier langsung mengambil kembali dan meletakkannya di tempat semula. “Sudah ingin bekerja?” tanya Graciella.


“Sebentar lagi. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di markas. Karena itu kau akan dipindahkan ke tempatku segera setelah sarapan ini.” Xavier sibuk menyiapkan sarapan yang sudah dibawakan oleh perawat tadi pagi. Graciella hanya melihat ke arah pria itu. Xavier mengambil posisi kembali duduk di pinggiran ranjang Graciella.


Graciella memandang terus pria yang wajahnya tampak dingin. Tak pernah tertawa bahkan tersenyum saja sangat jarang. Tapi semalaman ini dia menjaga Graciella. Graciella pura-pura tidur dan mengamati apa yang dilakukan oleh pria ini. Setiap kali perawat datang untuk memeriksa keadaan Graciella. Xavier dengan sigap bangun dan meminta perawat agar tak terlalu berisik. Tentu agar Graciella tidak terbangun. Graciella memperhatikan itu semua. Pria ini … kenapa kelakuannya terasa begitu hangat.


"Bolehkah menolak?” tanya Graciella lagi melihat Xavier sedang mengaduk bubur, bersiap untuk menyuapi Graciella.


“Tidak. Walau kau menolak. Aku tetap akan membawamu ke markas. Buka mulutnya!” ujar Xavier dengan nada datar. Bahkan jika orang-orang mendengarnya seperti pria ini sedang ada masalah dengan Graciella.


“Boleh aku makan sendiri?” tanya Graciella lagi.


“Tidak. Aku akan menyuapimu," kukuh Xavier. Graciella merasa aneh. Sudah begitu lama dia tak pernah disuapi oleh siapa pun. Makan disuapi begini rasanya jadi tak nyaman.


“Tapi aku bisa makan sendiri, tanganku tidak sakit.”


Xavier diam menatap cukup tajam  ke arah Graciella. Dia tak suka dengan penolakan dari Graciella. Graciella hanya menggigit bibirnya.


“Kenapa?” tanya Xavier.


“Aku hanya tidak terbiasa. Biar aku saja.” Graciella menjulurkan tangannya. Xavier dengan wajah terpaksa memberikannya. Dia langsung bangkit dan duduk di sofa yang ada di dekat ranjang. Graciella hanya memandangi pria itu. Suasananya hening dan cangung. Graciella jadi bingung harus berbicara apa jadi dia putuskan untuk menghabiskan bubur yang asal dia telan saja. Tak ada rasanya.


Tak lama terdengar suara ketukan di pintu ruang rawat itu. Graciella mengerutkan dahinya, siapa kira-kira yang datang. Xavier hanya terlihat santai bangkit dari duduknya.


“Cepat habiskanlah agar kita bisa langsung pindah," ujar Xavier sambil berdiri dan berjalan ke arah pintu. Graciella hanya mengangguk patuh. Apa lagi yang dia bisa lakukan? Bahkan berdiri saja dia belum mampu. Xavier membuka pintunya dan melihat sosok Fredy sudah ada di depannya.


“Semua sudah disiapkan Komandan,” lapor Fredy langsung.


“Baiklah. Tunggu saja perintah dariku.”


“Kenapa?” tanya Xavier melihat wajah Graciella yang bertekuk kepahitan.


“Obatnya pahit," ujar Graciella.


“Tentu, itu bukan permen.” Xavier cuek memberikan komentar. Graciella mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa ada pria secuek ini. Xavier ini sifat sebenarnya seperti apa? terkadang begitu dingin dan cuek. Tapi lain sisi, terkadang begitu perhatian hingga terasa menyentuh. “Semua sudah siap, aku akan memanggil dokter untuk membawamu ke mobil.”


Lagi-lagi Graciella mengangguk pelan.  Hanya bisa mengiyakan apa keinginan dari Xavier. Sesaat kemudian dia dorong dengan kursi roda menuju ke lobi rumah sakit tempat mobil Xavier terparkir.


Graciella baru saja hendak berdiri perlahan saat tiba-tiba Xavier berdiri di depannya. Tentu hal itu membuat Graciella kaget dan kembali terduduk.


“Kau mau apa?” tanya Xavier.


“Tentu ingin ke mobilmu, kan kau yang memintaku untuk pergi ke markas bersamamu. Apa kau mengubah pemikiranmu? Apa aku boleh pulang?” tanya Graciella semangat. Xavier menyipitkan matanya melihat nada senang dari pertanyaan Graciella. Tapi dia bukan orang yang suka mengubah pikirannya dengan mendadak. Tentu dia tidak izinkan Graciella pulang sekarang.


“Tidak. Aku tidak bisa  menjagamu jika di sana,” ucap Xavier yang langsung saja menyusupkan kedua tangannya ke belakang lutut Graciella. Graciella yang melihat tindakan Xavier tentu langsung kaget.


“Kau mau apa?” tanya Graciella gelagapan. Dia takut jatuh dan juga malu karena banyak orang yang melihat mereka. Lobi rumah sakit itu penuh dengan pasien juga tenaga kesehatan yang lain. Graciella langsung mencoba menutupi wajahnya dengan cara meringkuk ke tubuh Xavier.


“Kenapa?” tanya Xavier yang melihat Graciella meringkuk. Dia tak juga melangkah karena melihat tingkah Graciella. Gadis mungil meringkuk di dalam pelukannya. Benar-benar seperti menggendong kelinci kecil.


“Aku malu. Banyak orang yang melihat. Hei! Kenapa kau tidak cepat membawaku ke mobil?” protes Graciella yang menemukan bahwa Xavier hanya memandanginya saja. Jarak antara mereka ke mobil hanya tinggal beberapa langkah. Kenapa Xavier hanya diam saja?


Xavier menaikkan sudut bibirnya. Dia tidak ingin cepat-cepat kehilangan pemandangan yang menurutnya menyenangkan ini. “Itu hanya perasaanmu. Tidak ada yang melihat kita.”


“Eh? benarkah?” kata Graciella dengan polosnya percaya kalau tak ada yang melihat mereka. Dia mencoba untuk melihat ke sekeliling. Nyatanya mereka sekarang menjadi pusat perhatian. Banyak orang yang memandangi mereka, bahkan beberapa tersenyum ke arahnya. Graciella langsung kembali meringkuk. “Kau bohong!” Graciella gelagapan.


“Terlalu polos. Pantas saja kau sering terlibat masalah. Terlalu mudah percaya. Kau harus mengubah sifat mu itu,” kata Xavier seraya membawa Graciella masuk ke dalam mobilnya. Perlahan dia mendudukkan Graciella. Dia bahkan mengatur tempat duduk itu agar Graciella bisa sedikit bersandar dan tak duduk dengan sangat tegak.


Graciella hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria itu.  Saat Xavier mengatur tempat duduknya. Xavier jadi begitu dekat dengannya. Graciella bisa dengan mudah mencium aroma khas dari tubuh Xavier, wangi maskulin tapi juga tercium lembut. Kenapa tiba-tiba saja jantung Graciella terasa berdetak begitu kencang dan seketika pipinya menjadi panas. Apakah lukanya infeksi hingga dia merasa panas dingin sekarang?


“Apakah sudah nyaman?” tatapan mata Xavier begitu lembut. Nada bicaranya pun lunak tak seperti biasanya. Graciella hanya bisa menatap mata itu dengan kerutan di dahinya. Bagaimana ini? Graciella bahkan tak bisa menjawabnya. Terlena akan mata hitam yang selalu bisa membuat dirinya bungkam.