
“Kakak! Eh?” tanya Helena kaget melihat Graciella yang akhirnya keluar dari rumah kaca itu. Dia sudah sedikit cemas Graciella akan tersesat di bagian labirin kaca itu. Tapi tiba-tiba saja Graciella keluar bersama seorang pria. Bagaimana bisa mendapatkan kencan di sini begitu cepat? dan kenapa bisa mendapatkan pria yang sangat tampan seperti ini? Pikir Helena tercengang.
“Helena, ini Xavier, dan Xavier ini Helena, dia bekerja di tempatku dan kak Daren,” ujar Graciella memperkenalkan Helena dengan Xavier. Helena segera tersenyum ramah tapi hanya dibalas anggukan oleh Xavier. Helena hanya mengerutkan dahi melihat betapa kakunya pria ini.
“Kak, E? Boleh bicara sebentar?” tanya Helena pada Graciella sambil memanggilnya.
Graciella melihat ke arah Xavier yang seperti memberikan gestur untuk mengizinkan Graciella pergi bersama Helena. Graciella segera berjalan dan ditarik oleh Helena sedikit menjauh dari Xavier.
“Kak, apa kakak ingin pergi dengan pria itu?” bisik Helena.
“Ehm, ya kenapa?” tanya Graciella yang bingung kenapa Helena sampai berbisik begini.
“Aku tidak yakin apakah Bos akan menyukai hal itu. Kakak, kakak harus hati-hati, kakak beru bertemu pria itu, nanti jika dia bertindak yang aneh-aneh bagaimana? Dia sedikit menakutkan, walaupun tampan sih,” ujar Helena melirik ke arah Xavier yang tampak diam saja memperhatikan mereka.
Graciella tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Helena. Dia mengerti, jadi Helena berpikir bahwa Graciella baru bertemu dengan Xavier di sini dan khawatir dengan hal itu. Helena mengerutkan dahinya.
“Kenapa Kakak malah tertawa, kita bekerja di departemen penyidikan. Dan ,kita punya banyak kasus seperti ini, jadi aku rasa kakak jangan terjebak. Lagipula lebih baik kakak kembali berhubungan dengan Jenderal Stevan, bukannya dia akan bisa menjaga kakak, wajahnya juga tampan,” ujar Helena mulai mengeluarkan apa yang sudah dia pikirkan.
“Kau punya hubungan dengan Stevan?” tanya Xavier yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Graciella dan Helena. Helena membesarkan matanya menatap wajah pria yang tatapannya benar-benar menakutkan untuk Helena. Terlalu serius.
“Eh? Tidak, aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Ini hanya kesalahpahaman. Stevan meneleponku tadi malam dan mereka mengira bahwa kau adalah Stevan. Helena, pria yang kemarin kita bicarakan di kapal, dia orangnya,” ujar Graceilla melirik ke arah Xavier yang mengerutkan dahinya. Berbicara apa tentang dirinya?
“Oh!!” ujar Helena dengan bibir yang membentuk lingkaran sempurna. Setelah itu dia langsung menyengir kuda. Ternyata dia salah sangka selama ini. “Jadi dia orangnya. Maafkan saya, semua ini hanya salah sangka. Aku tidak akan menganggu kakak dan dia, aku akan pulang duluan.” Helena langsung bergerak cepat berjalan meninggalkan mereka.
“Helena! Pulangnya bersamaan saja,” ujar Graciella.
“Aku akan ada di depan!” teriak Helena lagi. Dia tidak ingin ada di belakang dan merasa canggung melihat kedua orang itu bermesraan. Tapi kenapa dia merasa tak asing dengan pria itu ya? Sepertinya dia pernah melihatnya, tapi di mana?
Debur ombak tampak seirama dan mengisi nada malam. Angin semilir yang lebih kuat berhembus di sepanjang pantai itu. Graciella dan Xavier berjalan perlahan menikmati malam. Tak ada yang berbicara hanya saling menatap sesekali.
Graciella menatap ke arah lautan yang tadi siang begitu indah dengan warna birunya. Tapi sekarang semua menggelap dan kelam. Malam ini pun tak terlalu cerah. Tak banyak bintang yang bisa terlihat. Sepertinya akan hujan nanti malam.
Graciella yang sedang terhipnotis dengan deburan ombak yang lembut beraturan juga segala kekelaman itu kaget ketika sentuhan hangat menyelimuti tangannya. Graciella langsung melihat ke arah tangannya yang sudah digenggam oleh Xavier.
Graciella hanya tersenyum lebar melihat wajah kaku dari Xavier. Umur mereka tak muda lagi, tapi kenapa melakukan seperti ini terasa bagaikan kembali ke masa remaja.
“Kenapa tertawa?” tanya Xavier.
“Tidak, ehm, apakah dulu kita sering melakukan ini?” tanya Graciella melihat tangannya yang terasa begitu hangat.
“Aku juga tidak ingat.”
“Aku penasaran bagaimana kita bisa bertemu dulu. Apakah setelah aku bercerai?”
“Benarkah? Jadi aku langsung jatuh cinta padamu? Itu bukan seperti aku,” ujar Graciella. Dari dulu dia susah untuk bisa menyukai sesuatu. Tapi jika dia sudah suka, dia akan mempertahankannya. Jadi dia ingat betul bagaimana dia mencintai Adrean hingga mempertahankannya dan akhirnya menyerah. Tapi bukan berarti karena hal itu dia bisa dengan cepat menerima seorang pria. Apalagi sebelum menuntaskan hubungannya dengan Adrean.
“Mungkin karena aku memaksamu,” ujar Xavier menatap wajah mungil Graciella.
“Oh, ya kalau begitu memang masuk akal.”
“Lalu sekarang kau merasa terpaksa?”
Graciella langsung terdiam mendengar kata-kata Xavier. Pria ini kenapa malah mengajukan pertanyaan seperti itu. “Menurutmu?”
“Terpaksa atau tidak aku tidak peduli. Yang penting kau tetap denganku, berhentilah berhubungan dengan Stevan, dia mulai mengganggu bagiku,” perintah Xavier melirik ke arah Graciella.
“Aku tidak bisa.”
Mendengar kata-kata itu seketika saja Xavier menghentikan langkahnya. Dia langsung menatap Graciella dengan sangat tajam.
“Apa maksudmu kau tidak bisa menghindarinya?” tanya Xavier dengan sangat serius.
“Aku tidak bisa tidak berhubungan dengannya. Bukannya kau mengatakan bahwa untuk sementara kita tidak boleh terlihat bersama jika di depan publik. Jadi akan aneh jika aku tiba-tiba tidak berhubungan dengannya bukan? Aku yakin dia pasti juga tidak ingin berhenti mencari tahu apa alasannya.”
Xavier melempar pandangannya ke arah lautan yang luas. Dia tidak suka jika Graciella berhubungan lagi dengan pria mana pun termasuk Stevan. Dia tidak tahu bagaimana dulu? Tapi sekarang pria itu mulai mengganggunya. Dia yakin pria itu juga punya rasa yang tak biasa dengan Graciella.
Tapi apa yang dikatakan oleh Graciella benar juga, tidak mungkin tiba-tiba meminta Graciella meninggalkannya. Xavier jadi bingung harus bagaimana, dan dia selalu tidak suka dengan keadaan seperti ini.
“Aku juga bertemu Adrean tadi siang,” ujar Graciella. Hal itu langsung membuat Xavier melihat ke arah Graciella.
“Kau bertemu dengannya?” tanya Xavier. Udara di pantai itu tak terlalu gerah tapi sekarang Xavier terasa begitu terbakar. Xavier tahu Adrean ada di sini tadi. Tapi dia tak tahu mereka sempat bertemu.
“Ya, tapi aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku menyuruhnya pulang dan dia langsung pulang, sepertinya dia memang menepati janjinya.”
“Lalu apa? Kau akan menyukainya lagi jika dia berubah?” tanya Xavier yang tak bisa menahan dirinya.
Stevan, lalu Adrean. Jika Stevan dia masih bisa menahan dirinya. Dia tahu Graciella bukan wanita yang mudah menerima pria baru masuk ke dalam hatinya. Tapi Adrean, pria itu pernah ada di hati Graciella bahkan pernah menikah dengannya. Bagaimana jika api itu kembali muncul?
Xavier melepaskan genggaman tangannya dan bingung harus mencari pelampiasan apa. Perasaannya sekarang sedang bergejolak akibat sulutan api cemburu.
“Tidak, aku tidak akan bersama dengannya walaupun dia berubah. Apa kau cemburu?"
Xavier melihat ke arah Graciella dengan sorot matanya yang tajam. Ternyata cemburu itu benar-benar tak enak rasanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?