Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 70. Kita akan melanjutkan rencananya .


“Selamat siang Nona,” ujar bawahan Xavier menghadap ke arah Laura yang dari tadi menunggu kabar dari Xavier tentang keberadaan Graciella. Tadi dia memberitahukan bahwa Graciella ada di rumah sakit bersama Adrean. Apakah mereka sudah bertemu? Apakah Graciella berhasil dibawa oleh Xavier kembali?


“Siang? apakah sudah ada kabar tentang Graciella?” tanya Laura segera.


“Tidak, tapi saya punya kabar dari komandan. Dia ingin saya mengantarkan Anda pulang ke rumah Anda," kata tentara itu lagi.


Laura mengerutkan dahinya, memandang dengan tatapan sedikit bertanya, kenapa Xavier ingin dia pulang sekrang? Lalu bagaimana dengan Graciella? “Eh? lalu bagaimana dengan Graciella?”


“Komandan tidak mengatakan apa pun, dia hanya ingin Anda diantarkan pulang segera.”


Laura menggeleng dengan wajahnya yang berkerut. Ini terasa tidak benar. Pasti ini ada apa-apanya. “Tunggu dulu, aku ingin berbicara dengan Xavier!” Laura segera mengambil ponselnya, tetapi dia hanya mendengar nada sambung. Sial! kenapa Xavier tidak mengangkat panggilannya. Dia mengulanginya hingga tiga kali, tapi tetap saja Xavier tidak mengangkatnya. Sial! sial sekali, pikir Laura.


Laura tampak panik. Dia yakin bahwa perasaannya sekarang benar adanya. Pasti Graciella melakukan hal yang bodoh lagi! Bagaimana bisa dia kembali pada Adrean. Apa yang membuat dia harus kembali pada Adrean, dia tidak bisa percaya.


“Nona, mobil Anda sudah siap,” ujar tentara itu lagi. Fredy memerintahkannya untuk cepat membawa Laura pulang.


Sekali lagi! dia harus mencobanya sekali lagi! mungkin kali ini dia bisa berhasil menghubungi Xavier. Tapi sama hasilnya nihil.


"Nona?"


"Iya, iya, aku pulang!" kesal Laura. Dengan wajah sangat kesal mau tak mau dia keluar dari rumah Xavier. Ah! Siapa yang harus dia telepon untuk tahu keadaan Gracie


...****************...


Xavier menatap tajam tetapi suram ke arah sebuah sasaran tembak. Dia sudah memegang senapannya dengan erat. Posisinya siap untuk memuntahkan peluru ke sasaran tembak itu.


Dor! Dor! Dor!


Tiga peluru menembus tepat di tengah sasaran. Xavier menarik napasnya dan menatap tajam ke tempat dia tadi membidik. Wajahnya terlihat seperti tak bisa diganggu oleh siapapun. Bahkan Fredy tak berani sekedar menegur Xavier. Terlihat sekali mood-nya sedang tak baik. Dan siapapun di markas ini tahu, jika mood Xavier tak baik, lebih baik jangan mengganggunya. Xavier membuka penutup telinganya.


Xavier kembali tergiang wajah Graciella. Wanita itu, bagaimana bisa kembali bersama pria tak punya hati seperti Adrean. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? terkadang dia merasa Graciella sangat cerdas, tapi jika berhubungan dengan Adrean, dia langsung lemah dan bodoh sekali.


Dan yang lebih mengusik dan membuat Xavier heran adalah Xavier juga terus terngiang wajah tersenyum putri kecil Graciella di kepalanya. Dia merasa tak tega jika nantinya membuat gadia kecil itu sedih karena sudah merusak keluarganya. Dia juga merasa familiar dengan wajah anak perempuan itu, apakah karena tawanya yang mirip dengan Greciella?


"Lapor komandan!" ujar Fredy, mau tak mau dia harus menegur Xavier. Ada yang harus dia sampaikan. Xavier tak menjawab, hal itu tentu membuat Fredy semakin gugup. “Eh, Inspektur Jendral Stevan ingin menemui Anda.”


“Katakan saja aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun,” ujar Xavier. Dia memang tidak ingin bertemu siapa pun atau berbicara dengan siapa pun sekarang bahkan dengan Stevan. Perasaannya sedang kacau sehingga dia takut dia tidak akan bisa mengontrol dirinya


“Siap Komandan!” jawab Fredy dan segera pergi ingin melangkah melaksanakan perintah dari Xavier. Tapi baru saja dia berbalik. Sosok Stevan sudah ada di sana. Fredy bingung, tak mungkin mengusir Stevan dari sana. Bagaimana pun pangkat Stevan setara dengan Xavier jika dalam kesatuannya. Fredy hanya bisa memberikan hormat. Stevan membalasnya dengan anggukan.


Xavier melirik ke arah Stevan yang berjalan pelan ke arahnya. Xavier tidak memperdulikan pria itu dan segera menggunakan penutup telinganya kembali. Stevan juga mengambil penutup telinga, segera memakainya dan mengambil pistol yang ada di sana. Dia berdiri di samping Xavier. Xavier yang sudah dalam posisi menembak mengerutkan dahinya. Melirik ke arah Stevan.


“Aku temani!” ujar Stevan sedikit berteriak karena telinganya tertutup.


Xavier tidak menjawabnya. Dia langsung saja membidik sasarannya dengan begitu serius. Stevan pun melakukan hal yang sama. Saat Xavier mulai menembak sasarannya, Stevan pun mengikutinya. Mereka memuntahkan masing-masing tiga peluru.


Xavier kembali menarik napasnya. Mencoba untuk menata kembali perasaan hatinya. Tapi entah bagaimana, rasa hatinya tetap saja tak nyaman. Apa yang harus dia lakukan agar sejenak saja pikirannya tidak mengingat Graciella. Anehnya lagi, gambaran tawa antara Graciella dan anak perempuan itu terngiang terus menerus. Membuat Xavier semakin gusar. Bagaimana bisa dia merebut Graciella jika memang dia sudah punya seorang anak dari Adrean?


Xavier membuka penutup telinganya dengan kesal. Meletakkannya bersama senjata di atas sebuah meja. Stevan yang melihat itu pun mengikutinya. Dia tahu sahabatnya ini pastinya punya masalah yang berat. Dari dulu, dia selalu seperti ini jika menghadapi sebuah masalah.


“Kenapa? patah hati?” tanya Stevan yang berdiri di samping Xavier yang mencuci tangannya. Mengikutinya bagai ekor kemana saja.


“Siapa yang mengizinkanmu masuk daerahku?” tanya Xavier. Dia sedang kesal sekali. Tidak ingin diganggu siapapun.


“Tidak ada. Jika mengikuti pekerjaanku, aku salah karena masuk ke daerahmu. Tapi sebagai seorang sahabat, ini memang yang harus aku lakukan.” Stevan melihat wajah keras dari Xavier. Xavier hanya diam, matanya tampak bergerak-gerak. “Ada apa? Kenapa lagi dengan kau dan Graciella?”


“Dia memutuskan untuk kembali pada Adrean.”


Xavier menggigit bibir dalamnya. Matanya tampak begitu suram. Dia kembali menarik napasnya yang cukup dalam. Susah sekali menggeluarkan rasa sesak ini.


"Dia dan Adrean punya seorang putri." Xavier mengambil air mineral yang ada di atas meja. Meminumnya dengan kesal. Stevan membesarkan matanya sedikit terkejut.Tapi dia segera manggut-manggut mengerti tentang keadaan Xavier. Pantas saja pria ini terlihat sangat kacau. Xavier adalah seorang pria yang mengikuti norma pada masyarakat. Merebut istri orang mungkin bisa ditolerir, tapi merebut seorang ibu dari anaknya. Xavier tak akan mau melakukannya. Tapi bukannya bisa merebut keduanya?


"Apa kau bisa menerima Graciella dan putrinya?" Tanya Stevan balik menatap serius ke arah Xavier. Xavier mengerutkan dahinya. Wajah gadis kecil dalam gendongan Graciella sepintar terbersit di pikirannya. Wajah imut yang tak bisa dengan mudah dilupakan dan tentu semua orang bisa menerima gadis kecil itu.


"Berapa umur putrinya?" tanya Stevan lagi yang tak menunggu jawaban dari Xavier.


"Mungkin dua tahun atau lebih, tak mungkin lebih dari tiga tahun. Kejadian aku dan dia terjadi tiga tahun yang lalu," ujar Xavier menganalisa. Tiba-tiba dia berpikir, apakah saat dia bersama dengan Graciella? Apakah mungkin Graciella hamil? Tapi, dia juga bersama dengan Adrean selama tiga tahun ini, mungkin saja mereka berhubungan, bukan? ada kemungkinan Graciella hamil, tapi mungkin juga tidak.


"Kau bilang, Adrean sampai beberapa waktu yang lalu masih memperlakukan Graciella dengan kasar bahkan hampir membiarkannya tidur dengan seorang pria lain, bukan? Itu artinya Graciella dan anaknya dalam tekanan dalam rumah tangga. Kau bilang, Greciella memutuskan kembali pada Adrean. Dia tidak kembali pada Adrean, tapi dia memilih kembali untuk putrinya. Jika Adrean bisa melakukan hal sekeji itu pada Graciella, aku yakin dia bisa menggunakannya untuk mengancam Greciella. Lalu menurutmu apalagi yang bisa Graciella lakukan? Dia seorang ibu! Melihat anaknya tergores saja dia akan sakit, bagaimana jika anakmu ada ditangan orang yang selalu menyiksamu?" Stevan mencoba membangkitkan akal dan logika Xavier yang tertutup amarah dan kebencian.


Xavier menggerakkan rahangnya, apa yang dikatakan oleh Stevan masuk akal baginya. "Kenapa dia tidak mengatakannya padaku? Jika terancam bagaimana bisa dia begitu bodoh untuk pergi tanpa pertolongan?"


Stevan tampak berpikir sejenak. Dia lalu melihat ke arah Xavier. "Ini adalah masalah rumah tangga mereka dan kau masih bukan siapa-siapa. Graciella pasti sungkan untuk melakukannya. Aku juta tak tahu pasti apa alasan Greciella melakukan ini tapi aku yakin. Graciella punya alasan tertentu. Mungkin saja karena sebuah ancaman?"


"Tapi tindakannya sangat bodoh berpikir bisa mengatasinya sendiri! Sudah berulang kali dia mendapatkan masalah dengan Adrean. Apakah dia tak bisa berpikir dengan baik?"


"Aku kurang setuju padamu. Kau tahu psikologi seseorang yang dari kecil atau sering mengalami kekesaran itu berbeda. Mereka cenderung gampang menjadi takut dengan objek yang selalu mengancam mereka. Kau tahu singa di sirkus? Mereka lebih besar, lebih garang, tapi karena dari kecil ditakuti oleh cambuk? Mereka menjadi sejinak kucing," ujar Stevan menganalogikan hal itu.


"Aku sering mendapatkan kasus tentang penculikan dan kekerasan. Banyak korban yang melakukan tindakan yang bagi orang awam rasa itu sangat bodoh! Itu bisa kita katakan karena bukan di posisi mereka. Kita bisa berpikir jernih sekarang, tapi mereka yang di bawah tekanan, cara berpikir mereka tak sama dengan kita. Kita tak bisa mengatakan kenapa bisa bertindak bodoh? Posisikan dirimu sebagai seorang ibu yang anaknya dalam bahaya. Kebanyakan ibu malah akan mematuhi semua keinginan penjahatnya dari pada memikirkan harus menelepon polisi, posiskan saja dirimu," jelas Stevan panjang lebar menganalisa.


Di pekerjaannya dia memang sering bertemu dengan orang-orang seperti ini dan kebanyakan korban melakukan hal bodoh tapi itu lah insting mereka bertahan hidup. Stevan juga maklum, Tentara lebih berfokus menangani situasi yang berhubungan dengan keamanan negara dari pada harus mengurusi kasus-kasus kriminal seperti ini. Xavier hanya diam sambil mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Stevan.


"Apa saat kau melihat mereka. Mereka tampak bahagia?"


Xavier mengangguk mengiyakan.


"Aku yakin itu sengaja ditunjukkan oleh Adrean agar membuatmu cemburu dan bimbang. Dia pria yang suka orang lain iri padanya dan dia tahu kelemahanmu, dia tahu kau susah berpikir jika sedang merasa cemburu. Karena itu dia mempermainkanmu. Bersyukurlah temanmu yang tampan nan cerdas ini ada untuk selalu menenangkanmu," ujar Stevan dengan gayanya. Selalu saja mencairkan suasana yang sudah tegang.


Tawa bangga Stevan membuat Xavier mengerutkan dahinya. Benar, jika sudah penuh dengan rasa cemburu. Xavier seperti kehilangan arah untuk bisa berpikir jernih.


"Jadi bagaimana? Kau masih ingin melanjutkannya? Menolong Graciella dan sekarang bersama anaknya? Aku sudah mendapatkan rekamannya. Menolong seorang wanita dari pria kejam seperti Adrean menjadi tugas siapa saja yang mau melakukannya. Jika kau tidak mau, biar aku saja," Stevan menunjukkan ponselnya. Video pengakuan Sarah yang begitu mudah dia dapatkan terpampang di sana.


Xavier mengambil ponsel itu. Dia tak boleh berhenti sekarang. Benar kata Stevan, mungkin jika memang mereka bahagia, Xavier tak akan tega mengusik mereka. Tapi perkataan dari Stevan membuka matanya. Graciella dan putrinya harus segera diselamatkan. "Tidak! kita akan melakukannya bersama-sama. Aku masih butuh kau untuk melanjutkan rencana ini."


"Baiklah, yang penting kau tidak memintaku untuk berpacaran lagi atau menikah dengan Sarah, aku akan melakukannya." ujar Stevan. Soal strategi, Xavier memang ahli.


Xavier menatap tajam pada Stevan, "Tidak! Kita akan lakukan sebaliknya …."


...****************...


Halo kak, maaf malam upnya sekarang ya! Hehe...


Semoga suka dengan Bab ini. Seharusnya babnya di pecah menjadi Dua bab karena lebih dari 1000 kata tapi masih kurang untuk dua bab. Jadi aku kasih 1 dulu ya. Esok aku lanjut.


Sekali lagi terima kasih sudah membaca karya saya ini. Terima kasih untuk dukungannya dalam segala bentuk dan masukkannya dari komen2 kakak2 tercinta.


Tapi saya tetep minta dukungannya ya kak.


Like, comment, Dan share. Bisa di masukin ke favorite juga. semua komen aku baca dan beberapa aku balas. Semangat banget kalo liat komennya. Hehehe..


See You Next Chapter