
Xavier yang merasa Graciella sudah mengerti tentang hal ini langsung mencoba mengambil alih.
“Joceline!” panggil Xavier.
“Ya?” kata Joceline dengan entengnya.
“Ibu dan ayahku sudah mengakuinya, bahwa kau bukanlah wanita yang aku tiduri malam itu. Wanita itu adalah dia,” kata Xavier menunjuk sejenak ke arah Graciella.
Joceline membesarkan matanya dan perlahan menatap ke arah Graciella. Graciella hanya memandang Joceline dengan tatapannya yang sebenarnya biasa saja tapi tiba-tiba Joceline langsung histeris.
“Aku tidak bermaksud mengambil tempatmu. Tapi seseorang mendatangi ku dan memintaku untuk mengakuinya. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menggantikan mu. Mereka mengatakan jika aku tidak mau, mereka bisa menangkapku. Tapi jika aku mau, aku boleh meminta apapun pada Xavier, kecuali menikah dengannya. Aku juga tidak boleh berhubungan lagi dengan Xavier. Tapi Xavier yang memaksa untuk tetap berhubungan. Dia ingin aku hidup dengan baik. Nona, maafkan aku. Aku benar-benar terdesak waktu itu,” ujar Joceline dengan gayanya yang langsung bersujut di kaki Graciella. Dia tahu, keberadaannya membuat Graciella tidak bisa mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.
Lagipula Joceline tahu bahwa Xavier punya kedudukan yang tinggi, pria ini pasti tidak tinggal diam, dia pasti akan menghukum Joceline karena sudah membohonginya selama ini. Joceline seharusnya memang tidak lagi berhubungan dengan Xavier, tapi Xavier selalu memberikan uang padanya, itu sangat menguntungkan.
“Eh? kau tidak perlu melakukan hal ini. Sejujurnya aku malah ingin berterima kasih, padamu" ujar Graciella pada Joceline yang membuat wanita itu langsung memasang wajah kagetnya, padahal tadi dia sudah berusaha untuk menunjukkan wajah paling bersalahnya. Tapi kenapa Graciella malah berterima kasih padanya?
“Kenapa kau malah berterima kasih padaku?” ujar Joceline. Pikiran orang kaya memang tidak bisa ditebak. Atau hanya dia saja yang bodoh.
Graciella menatap Xavier yang sedang memandangnya dengan wajah sendu. “Karena sudah memberikanku semua jawaban yang aku butuhkan.” Graciella tersenyum mengatakan hal itu. Xavier benar-benar tahu kerisauan hatinya. Xavier hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Xavier tahu Graciella adalah wanita yang susah untuk dibuat percaya. Jadi dia mencari cara bagaimana caranya untuk meyakinkan Graciella. Dan sepertinya hal ini berhasil. Xavier tidak perlu banyak bertanya. Dia akan menunjukkan buktinya.
“Ada apa ini?” tanya Joceline merasa menjadi begitu bodoh.
“Tidak ada apa-apa. Joceline kau sudah boleh pergi dari sini," ujar Xavier.
“Kau tidak ingin menghukumku atau memenjarakanku kan?” tanya Joceline lagi. Hampir saja jantungnya copot karena merasa ketahuan.
“Tidak.” singkat Xavier.
“Lalu, bagaimana ayah dan ibumu? mereka tidak akan menghukumku karena sudah mengatakn hal ini kan?” tanya Joceline lagi. Kedua orang tua Xavier juga sangat berkuasa.
“Jika aku jadi kau, aku akan berpikir untuk pindah keluar kota atau keluar negeri sekarang, aku tidak bisa melindungimu dari mereka,” ujar Xavier lagi pada Joceline.
“Sial! itulah yang aku takutkan! Baiklah aku akan siap-siap, aku akan pergi!” ujar Joceline terlonjak, sepertinya uangnya cukup untuk kabur ke luar kota, ah, tapi bagaimana dia harus bertahan hidup di sana. menyesal sekali menghamburkan uang yang diberkan Xavier. Jika dia meabung, uangnya pasti cukup untuk pergi ke luar negeri.
“Joceline, aku sudah mengirimkan $50.000 untukmu, pergilah keluar negeri, aku yakin itu cukup."
Joceline mendengar itu langsung membesarkan matanya! "Xavier! kau benar-benar pria yang sesungguhnya. Beruntungnya wanita yang akan menikahi dirimu," ujar Joceline ingin meluapkan kegembiraannya mendapatkan uang yang tak sedikit dari Xavier. Dia ingin memeluk Xavier tapi Xavier langsung memberikan jarak. Graciella menggigit bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Joceline. Diakah wanita beruntung itu?
"Oh! Ya aku lupa. Nona, jangan berpikir macam-macam. Aku hanya terlalu senang. Baiklah, aku pergi dulu," ujar Joceline segera menuju ke pintu rumah dan pergi begitu saja.
"Aku …." ucap Greciella seketika berhenti melihat Xavier yang sekarang ternyata sudah ada di dekatnya.
"Apa masih marah padaku?" tanya Xavier dengan lembut. suara beratnya menambah keseriusan dalam bicaranya.
"Tidak, aku hanya ingin minta ma … "
Graciella tidak dapat melanjutkan perkataannya karena bibirnya langsung dibekap oleh Xavier. Xavier menciumnya dalam sekali seolah ingin melampiaskan emosinya. Semalaman berpikir bagaimana cara agar Graciella dapat menerimanya. Gusar karena dia tahu Graciella masih marah dan tak percaya padanya.
Xavier melepaskan ciuman dalam itu. Dia menatap ke arah Graciella yang selalu saja bersemu merah ketika dia menciumnya. Sangat menggelitik nafsunya.
"Menikahlah denganku, aku memohon padamu," ujar Xavier lembut.
Graciella menggigit bibirnya. Lagi-lagi bukannya tak mau, hanya saja ini terlalu cepat. "Aku takut untuk menikah lagi, aku baru saja bercerai dan ini terlalu cepat." Akhirnya Graciella menyatakan pemikirannya.
Xavier mengerti. Pernikahan Graciella sebelumnya sangat tidak baik dan untuk keluar dari pernikahan itu. Graciella bahkan harus menunggu selama tiga tahun. Wajar baginya untuk tidak ingin menikah lagi dalam waktu dekat.
"Tapi aku ingin menikah denganmu, hanya saja, bisakah menunggu sedikit lebih lama. Aku janji tidak akan terlalu lama, aku hanya butuh untuk menyakinkan diriku sendiri. Aku akan menikah denganmu," jelas Graciella dengan nada yang mencoba menyakinkan Xavier. Xavier jadi sedikit tersenyum melihat ekspresi Graciella. Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa dia malah tertawa?
"Aku pasti akan menunggu. Aku sudah menunggumu tiga tahun, menunggu lebih lama tidak akan jadi masalah," ujar Xavier yang terdengar cukup merayu buat Graciella. Tapi perasaanya langsung berbunga-bunga.
"Baiklah. Eh? Joceline itu …." Graciella tak enak menanyakan apakah Joceline seorang wanita panggilan.
"Ya, tapi aku sudah mengatakan padanya untuk tidak melakukannya lagi. Dia orang yang baik, hanya saja salah langkah," ujar Xavier.
"Apakah kalian ehm, pernah melakukan ehm … ?" Graciella tak tahu cara menyampaikannya. Dia hanya ingin tahu, bukannya selama ini Xavier mengganggap Joceline adalah wanita yang dia tiduri, mungkin saja ....
"Tidak, aku tidak pernah melakukan apapun dengannya. Kau yang pertama dan terakhir." Xavier mamandang serius pada Graciella.
Graciella mengerutkan dahinya, Xavier adalah pria dewasa, dia juga pasti punya *****, bagaiamana melampiaskannya? Dan kenapa dia malah berpikir seperti ini?
"Aku lebih memilih untuk olahraga atau ya terkadang melakukannya sendiri. Aku tidak bisa sembarangan melakukannya jika tidak dengan hati," ujar Xavier lagi seolah tahu apa yang ada di pikiran Graciella.
"Lalu bagaimana dengan malam itu?" Graciella dan Xavier saat itu tidak pernah mengenal satu sama lainnya. Tapi pria itu memaksa melakukan semua hal itu.
"Itu karena seseorang memasukkan obat perangsang dalam minumanku karena itu aku kehilangan akalku dan melakukannya dengan mu."
"Benarkah? Lalu siapa yang melakukannya padamu?" ujar Graciella dengan wajah bertekuk.