Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
bab 289


“Bagaimana tidurmu?” tanya Graciella yang melihat temannya itu akhirnya keluar dari kamarnya. Dari kemarin sore hingga pagi ini Laura sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Bahkan ketika makan malam. Laura tidak ikut makan bersama mereka. Graciella dan Xavier sedang menikmati makan pagi mereka.


Laura memberikan sebuah senyuman tipis yang singkat. Graciella melihat ke arah wajah temannya itu. Ada lingkar hitam dan juga mata sembab yang terlihat. Sepertinya dia tidak tidur dengan baik. Kenapa? Kenapa keadaan Laura lebih baik saat dia bersama dengan Antony.


“Makanlah,” kata Graciella sambil memberikan piring untuk Laura. Laura mengambilnya dan hanya diam. Perlahan mengunyah makananya. Sesekali mengambil lauk dan juga sayuran. Baru beberapa suap perutnya merasa mual.


Laura jadi ingat. Dulu, dia pernah mogok makan karena diculik oleh Antony. Dia tidak ingat semuanya saat dia tidak sadarkan diri. Tapi, Calton mengatakan bahwa Antony begitu panik dan bahkan memarahi dokter pribadinya karena sudah menusuk begitu banyak nadinya. Mengingat hal itu malah membuat Laura tersenyum, tapi matanya perih. Air mata berkumpul begitu saja di matanya.


Graciella bisa melihat keanehan itu. Senyuman tipis tapi terlihat tulus. Graciella lalu melihat suaminya yang hanya diam saja, tapi Xavier cukup memperhatikan Laura. Entahlah, apa yang dipikirkan oleh Laura sekarang. Tetapi, bagi Graciella dan Xavier tindakan ini cukup mengkhawatirkan.


“Aku akan menghubungi ayah dan ibumu. Apakah kau ingin pulang saja atau bertemu di sini. Aku rasa lebih baik di sini dulu. Ayah dan ibumu yang datang berkunjung.” Graciella mengambilkan beberapa potong daging dan meletakkannya ke atas nasi Laura.


Laura terdiam, gerakan mengunyahnya terlihat melambat. “Boleh tidak jangan menghubungi mereka dulu.”


Graciella terdiam sejenak, kembali dia melempar pandang ke arah suaminya yang lagi-lagi berwajah datar. “Kenapa? Mereka pasti sangat merindukanmu. Ibumu bahkan menemuiku untuk melacak di mana keberadaanmu.”


Graciella tidak habis pikir. Bagaimana Laura malah mengatakan hal itu? apakah dia tidak rindu dengan kedua orang tuanya? Ada yang salah dengan Laura. Ya, sepertinya dia benar-benar ingin membawa Laura ke psikiater.


“Aku hanya tidak ingin bertemu dengan mereka.” Laura kembali diam setelahnya. Graciella benar-benar merasa asing dengan Laura yang sekarang. Wanita ini adalah wanita paling ceria dengan hidup tanpa beban. Dia juga tak pernah bisa diam. Tapi sekarang, dia bahkan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


“Laura, apa kau benar tidak apa-apa?” Graciella mengatakannya dengan nada keibuan. Meletakkan tangannya di atas lengan Laura.


Laura menarik napasnya panjang lalu melihat ke arah Graciella yang menatapnya cemas. Dia sedikit mengerucutkan bibirnya lalu melihat ke arah perut Graciella. Dia ingat bagaimana bahagianya Antony saat tahu dia tidak datang bulan. Kenapa? Dia bisa serindu ini dengan Antony.


“Sudah berapa bulan? Pasti sangat bahagia ya. Ya, ampun, aku lupa. Aku belum mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Akhirnya bersatu. Hanya segelintir orang yang bisa bersatu dengan orang yang mereka cintai ….” Suara Laura terdengar turun. Dia langsung kembali menatap ke arah piringnya. Mencacah nasinya beberapa kali seolah dia sedang menutupi sesuatu.


“Antony, dia ….” Suara berat Xavier terdengar.


Namun, karena hal itu Laura yang tadinya tampak tak begitu berminat dan bersemangat langsung mengangkat kepalanya. Tiba-tiba saja ada binar kecemasan dalam matanya. Kenapa dia? apakah mereka sudah melaporkannya? Ya, kenapa Laura tidak melarang mereka melaporkan Antony.


“Kenapa dia? apakah dia baik-baik saja? Kalian tidak melaporkan apa yang dia lakukan padaku kan? Benar kan?” cerca Laura yang tiba-tiba saja suara lemahnya itu hilang. Berganti ketertarikan yang kuat.


“Apakah kalian benar-benar tidak melaporkan Antony? Aku minta jangan.” Laura menekankannya sekali lagi. Xavier adalah orang berpengaruh. Jika sampai dia melaporkan tindakan Antony maka, dia benar-benar akan menjadi wanita pembawa sial bagi Antony.


Graciella menarik napasnya singkat. Dia lalu memegang tangan Laura yang tampak mengepal di atas meja makan mereka. Sepertinya Graciella mulai mengerti apa yang terjadi. Graciella memberikan senyuman manisnya.


“Kami tidak akan melakukannya.” Graciella tersenyum tulus.


Laura akhirnya menghembuskan napas leganya. Bahunya yang tadi terangkat karena mendengar nama Antony langsung kembali melemas. “Terima kasih.”


“Apa Antony memperlakukanmu dengan baik di sana?” tanya Graciella.


“Ya, dia baik. Walaupun terkadang sedikit mengesalkan. Tapi dia memang mengesalkan. Dia suka meninggalkanku sendirian. Itu membosankan sekali.” Laura langsung kembali memakan makanannya. Berbicara dengan nada yang sering dia gunakan. Melihat itu semua, Graciella langsung menaikkan sudut bibirnya. Ternyata Laura hanya tertarik jika ada nama Antony tersemat di obrolan mereka.


“Bukannya Aku sudah katakan bahwa Antony adalah pria yang baik.” Graciella mengulik lagi.


“Ya, apalagi sekarang dia sudah sangat berubah. Kau tahu. Terkadang aku bingung kenapa Antony bisa seperti itu. Sekarang dia sangat cuek. Dia bahkan tidak pernah lagi bertanya apakah aku sudah makan atau belum. Terkadang dia juga tidak menjawab pertanyaanku dan hanya mengajawabnya dengan kata-kata ‘Hmm’ itu juga mengesalkan,” ucap Laura sambil menggeser sedikit cara duduknya agar bisa berhadapan dengan Graciella yang ada di sampingnya. Graciella melihat hal itu. Akhirnya dia benar-benar mengerti.


“Kau jatuh hati ya dengannya?” tanya Graciella to do point. Awalnya benar-benar tidak bisa menyangka ini. Graciella mengira bahwa Antony mungkin sudah memaksa dan juga berlaku kejam dengan Laura karena perbuatan wanita ini dulu. Dia tidak menyangka ternyata dia salah, kali ini dia benar-benar salah. Graciella sedikit menyesal sudah membawa Laura ke tempat ini.


Laura membesarkan matanya sempurna. Apakah begitu ketara? Bagaimana dia mengatakan pada Graciella tentang hal itu padahal dari dulu dia selalu bercerita sebagaimana tidak sukanya dia pada Antony. Bahkan dia pernah berkata pada Graciella, jika Antony adalah pria terakhir di bumi, dia baru ingin menikahi pria itu.


“Ehm … Aku.] …” Laura bingung harus mengatakan hal apa.


“Sudah, jangan disangkal. Aku sudah menjadi temanmu begitu lama. Aku tahu mana yang membuatmu tidak suka dan mana yang membuatmu bisa begitu semangat seperti ini.” Graciella memberikan senyuman menggodanya lagi.


“Entahlah, tapi aku sekarang merasa begitu tergantung padanya. Aku rasa aku ingin selalu melihat dia dan ada di sampingnya. Apakah itu cinta?” tanya Laura. Dia belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Jadi dia juga tak tahu apakah itu cinta?


“Tentu saja bodoh! Dulu kau begitu bijaknya menasehatiku saat ingin menolak Xavier. Sekarang kau malah begini! Ah! Jadi misi penyelamatanku kemarin sia-sia! Aku merasa bodoh memisahkanmu dengan Antony.” Graciella tertawa kecil melihat wajah temannya yang terlihat polos.  Laura menjadi tertular tawa kecil Graciella. “Ceritakan padaku bagaimana ini bisa terjadi?”