
Gadis kecil itu hanya menggeleng lemah. Bibirnya yang kecil tampak pucat dan juga gemetar karena sudah cukup lama kedinginan. Dia terus memandangi wajah Graciella yang tampak keibuan tersenyum padanya.
“Ibumu tidak ada?” tanya Graciella. Gadis kecil itu segera mengangguk dengan cepat. “Bagaimana dengan ayah?”
“Ayahku sedang pergi bekerja di cafe itu. Dia memintaku untuk menunggu di sini setiap harinya hingga dia pulang bekerja,” ujar gadis kecil itu polos sambil menunjuk cafe yang tadinya ingin didatangi oleh Graciella dan juga Xavier.
Graciella mengerutkan dahinya, lalu dia melirik ke arah Xavier yang juga tampak menatap ke arah gadis kecil itu. Pria itu hanya memunculkan wajah datarnya.
“Di mana rumahmu?” tanya Xavier. Terdengar sedikit datar sehingga gadis kecil itu tampak ketakutan melihat Xavier. Dia benar-benar bukan pria yang cocok dengan anak-anak, pikir Graciella.
“Jangan takut, paman ini tidak segalak itu. Di mana rumahmu gadis kecil?” ujar Graciella menenangkan gadis kecil yang masih melirik takut pada Xavier. Graciella mengusap air hujan yang mengalir dari rambut gadis kecil itu.
“Sejak ayah tidak kerja di gedung tinggi, setiap malam kami tinggal di penampungan,” ujar gadis itu yang lebih bisa terbuka dengan Graciella.
Graciella mengulum senyumnya. Gadis sekecil ini sudah harus menjalani hidup yang cukup keras di sebuah kota dengan negara maju seperti Amerika. Ada perasaan sedih yang langsung melingkupi hati Graciella.
Graciella tak pernah tahu kenapa, tapi dia sekarang lebih sensitif jika berhubungan dengan anak-anak kecil terutama dengan anak perempuan. Graciella selalu dan gampang merasa sedih. Entah kenapa, walaupun terkadang dia bertemu dengan anak perempuan yang sedang ceria tapi perasaan itu selalu saja muncul.
“Kau lapar? Atau ingin minum sesuatu yang hangat?” tanya Graciella mengetatkan sweater-nya.
Gadis itu hanya diam saja. Melihat ke arah perutnya yang kecil. Sebenarnya perutnya sudah mulai perih, belum lagi dia kedinginan sehingga membuat perutnya semakin sakit. Tapi ayahnya mengatakan dia harus menunggu di sini. Jika dia pergi, dia takut ayahnya akan kebingungan mencarinya.
“Aku akan menunggu saja di sini. Terima kasih Nyonya,” ujar gadis itu sopan.
“Kenapa? Kau sangat kedinginan. Secangkir coklat panas akan membuatmu hangat,” ujar Graciella lembut. Meletakkan rambut-rambut lepek ke belakang telinga gadis cantik ini.
Xavier yang melihat dan mendengar bagaimana cara Graciella dalam menangani anak ini menjadi merasa tersentuh. Xavier juga tidak tahu kenapa? Tapi apa pun yang dilakukan oleh Graciella membuat dia merasa begitu hangat dan menyentuh perasaannya. Padahal selama ini, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, apalagi dia baru saja mengenal Graciella pagi ini. Tapi entah kenapa? Semuanya yang dia lakukan terasa begitu berkesan. Terasa begitu dia kenal.
“Ayah akan kesusahan mencariku jika aku pergi dengan Anda,” ujar gadis itu.
Graciella tersenyum haru, umurnya masih begitu muda tapi dia bisa berpikir tentang ayahnya tanpa mengikuti keinginannya. Gadis yang pintar, dipaksa untuk menjadi dewasa karena keadaannya.
“Ayahmu bekerja di sana bukan? Kebetulan kami juga ingin pergi ke sana, bagaimana jika minum dan makan di sana?” tanya Xavier yang mencoba lebih ramah agar anak tidak takut dengannya.
Bola mata yang coklat dan besar itu menatap ke arah Xavier. Xavier mencoba untuk sedikit tersenyum, tapi malah membuat wajahnya tampak lucu bagi Graciella sehingga membuat Graciella tersenyum kecil akibat hal itu. Melihat Graciella tertawa kecil membuat Xavier mengerutkan dahinya sambil melirik ke arah Graciella dengan sedikit tajam, membuat Graciella langsung memalingkan wajahnya. Apakah ada yang lucu?
Gadis itu tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak ketika Graciella menjulurkan tangannya, dia langsung menyambut tangan Graciella. Graciella langsung tersenyum teduh keibuan. Gadis kecil itu segera mengikuti Graciella sambil sesekali melihat ke arah Xavier yang mengikuti mereka dari belakang.
Graciella segera membuka pintu cafe yang cukup ramai itu. Matanya mengedar ke seluruh cafe untuk mencari ke tempat duduk yang pas untuk mereka bertiga. Tapi tak disangka gadis kecil itu malah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Graciella dan mendatangi seorang pria yang tampak menggunakan pakaian seragam dan juga celemek.
“Daddy!” ujar gadis kecil itu dengan semangat.
“Angeline, apa yang kau lakukan? Bukannya Daddy sudah katakan untuk menunggu di luar. Daddy sedang bekerja! Kenapa kau tidak patuh!” ujar pria itu tampak sedikit kaget dan juga dengan nada tinggi. Mungkin dia kaget karena melihat putrinya masuk ke dalam cafe itu untuk menemuinya. Dia takut atasannya akan memecatnya karena putrinya masuk begitu saja dan mengganggunya bekerja.
Gadis kecil yang tadinya tampak riang menyapa ayahnya langsung menurunkan arah pandangannya. Dari wajahnya tampak begitu kecewa dengan reaksi pertama dari ayahnya. Padahal dia senang sekali melihat ayahnya, tapi ayahnya malah memarahinya. Graciella bisa melihat perubahan wajah itu. Merasa miris dan tahu perasaan gadis kecil bernama Angeline itu.
“Maaf Tuan, tapi aku yang mengajaknya ke mari. Putri Anda sangat patuh hingga dia kehujanan dan kedinginan di luar. Dia bahkan menolak ketika aku mengajaknya makan dan minum untuk menghangatkan tubuhnya. Dia baru setuju jika aku mengajaknya ke sini karena dia takut ayahnya akan kesulitan mencarinya jika kami mengajaknya ke tempat lain. Tuan, jangan marahi anakmu. Dia gadis yang baik hati dan pintar,” ujar Graciella mengelus kepala Angeline yang masih saja tampak menurunkan pandangannya.
Pria yang berdiri di depan Graciella itu langsung berwajah menyesal. Dia melihat putrinya yang masih tampak menunduk. Pria itu menarik napasnya lalu berjongkok di depan Angeline.
“Maafkan Daddy, Daddy hanya tidak ingin kehilangan pekerjaan ini agar kita tak harus begitu lama hidup seperti ini. Angeline, Daddy janji, kita akan hidup lebih baik ya, Nak,” ujar Pria itu akhirnya bisa berbicara dengan lebih lembut pada Angeline yang langsung mengangguk dan memeluk ayahnya. Graciella hanya tersenyum senang.
Sedangkan untuk Xavier, hal ini bukan tidak menyentuh dirinya, tapi entah bagaimana, sebuah gambaran kilasan muncul dalam kepalanya. Sepertinya dia pernah memeluk seorang gadis kecil dengan begitu eratnya. Tapi lagi-lagi kilasan itu hanya kilasan singkat. Walau singkat selalu saja membuat kepala langsung terasa sakit.
“Kau tidak apa-apa?” ujar Graciella yang melihat wajah Xavier tampak berubah, terlihat sedikit kesakitan.
“Ehm, tidak apa-apa. Aku akan duduk di sana,” ujar Xavier yang buru-buru menuju sebuah tempat di pojok cafe di dekat dinding kaca pembatas.
Graciella hanya mengerutkan dahinya melihat tingkah Xavier yang aneh. Tapi perhatiannya kembali tertuju pada Angeline.
“Tuan, aku akan membawa putrimu ke sana. Bisakah Anda melayani kami?” tanya Graciella lagi segera memegang tangan Angeline.
“Tentu Nyonya, sebentar lagi saya akan membawakan menunya pada Anda dan Tuan,” ujar pria itu yang tampak begitu segan melihat Graciella. Graciella hanya mengangguk dan segera membawa Angeline ke arah Xavier yang memegangi kepalanya. Dari gerak geriknya Graciella tahu pria itu sedang sakit kepala.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Graciella sambil mendudukan Angeline di kursi yang ada di sebelahnya. Graciella duduk di depan Xavier.
Xavier langsung melihat ke arah Graciella dengan kerutan dalam di kepalanya. Xavier tidak bisa menjawab apakah dia baik-baik saja atau tidak. Tapi setiap kali dia menutup matanya, bayangan dia memeluk erat gadis kecil itu muncul kembali, dan perasaan itu begitu membuat perasaannya tak nyaman. Sama tak nyamannya ketika Xavier melihat luka di pipi Graciella. Salah satu hal yang membuatnya sangat penasaran dengan wanita ini.
"Apa kau pernah mengenalku?" tanya Xavier tiba-tiba membuat Graciella kaget dan mengerutkan dahinya.