
Monica mengengguk pelan. Graciella hanya menatap dengan tidak percaya. Begitu susahnya mereka mencari di mana Moira. Ternyata selama ini mereka hanya butuh bertanya pada orang terdekat mereka.
“Ibu, di mana Moira?” tanya Graciella memengang tangan Monica. Genggaman tangan itu sangat erat hingga membuat Monica kaget. Tentu, semua hal sudah mereka lakukan dan mendengar secercah harapan seperti ini seolah mendapatkan angin segar yang melegakan.
“Moira dibawa oleh Leonardo untuk dibuang ke sebuah rumah bordil atas perintah dari Robert. Tapi diperjalanan dia merasa kasihan karena sikap Moira yang sangat manis. Karena itu dia malah membawanya kepada adik perempuannya dan menyerahkan Moira di sana." Monica menarik napasnya sejenak. "Leonardo yang tahu bahwa aku membantumu untuk selamat, lalu memberitahukan semua itu. Dia merasa harus mengatakan hal ini agar jika terjadi sesuatu padanya, maka Moira bisa diselamatkan,” jelas Monica menatap ke arah Graciella yang hanya diam dengan mata yang mulai terisi oleh air mata. Tentu saja dia senang mendengarkan penjelasan dari Monica. “Moira tumbuh menjadi anak yang manis. Dia di asuh dengan baik oleh keluarga adik perempuan Leonardo yang memang tidak memiliki anak. Aku beberapa kali pernah melihatnya dari jauh dan sering mengirimkannya barang-barang kebutuhannya. Dia benar-benar perpaduan sempurna antara dirimu dan Xavie.” Monica menghapus air matanya yang keluar begitu saja. Dia juga ingin bertemu dengan cucunya itu, tapi karena takut jika dia mendekati Moira, maka suaminya dan Robert Kim malah mengetahui keberadaan dari Moira.
Graciella mendengar itu sedikit terisak tapi kali ini di wajahnya terhias sebuah senyuman bahagia. Graciella tidak bisa menutupi rasa haru dan juga perasaan senangnya. Cukup tahu bahwa selama ini Moira bisa hidup dengan baik dan tumbuh bersama orang-orang baik membuat Graciella lega dan tenang. Melihat tangis bahagia yang Graciella tunjukkan membuat Liliana dan Monica juga terharu.
Tok! Tok! Tok!
Sebuah ketukan di pintu membuat ketiga wanita itu memalingkan wajahnya ke arah pintu itu. Graciella, Monica dan juga Liliana segera menghapus air matanya.
“Masuk!” teriak Liliana mengizinkan untuk seseorang di belakang pintu itu segera masuk ke dalam ruangan. Seorang pelayan tampak muncul di balik pintu itu.
“Ada apa?” tanya Monica. Itu adalah pelayan pribadinya.
“Maaf mengganggu nyonya. Tapi Tuan Xavier sudah sampai. Mobil beliau sudah ada di depan Nyonya,” ujar pelayan itu mengabarkan tentang kedatangan Xavier.
Mendengar itu ketiga wanita itu saling melempar pandang. Sedikit terkejut tapi langsung bersemangat. Tentu saja ini kabar yang dari tadi sudah mereka tunggu. Akhirnya Xavier bisa kembali lagi pulang dan bersama mereka.
Graciella langsung berdiri dari duduknya. Monica juga langsung meletakkan mangkuk sup itu. Hati Graciella yang tadi penuh dengan kebahagiaan karena mendengar bagaimana keadaan Moira, sekarang semakin bertambah bahagia hingga membuatnya begitu semangat karena dia mendapakan kabar bahwa Xavier sudah ada di sini. Perasaan Graciella sekarang sesak akan suka cita yang rasanya ingin meledakkannya.
Graciella langsung keluar dari kamar itu bersama dengan Liliana dan juga Monica. Mereka berjalan dengan cepat untuk menemui Xavier. Saat mereka memasuki ruang tengah. Sosok pria tegap itu akhirnya terlihat.
Graciella yang perasaannya penuh dengan keharuan langsung mendekap tubuh Xavier begitu saja. Xavier saja sampai kaget karena bisanya Graciella tidak langsung menunjukkan persaannya seperti ini jika ada orang lain. Tadi saat mereka bertemu, Xavier bisa mengerti karena mungkin Graciella begitu khawatir. Tapi kali ini? Kenapa tiba-tiba Graciella melakukan hal ini. Belum lagi tubuh wanita itu bergetar, suaranya tangisnya halus terdengar oleh Xavier. Xavier mengerutkan dahinya dan melihat ke arah Monica dan Liliana yang melihat itu hanya tersenyum kecil. Tentu juga hal itu membuat Xavier sedikit penasaran.
“Ada apa?” tanya Xavier saat Graciella melepaskan pelukannya. Wajah Graciella sudah penuh dengan air mata, pipinya memerah. Tak mengerti itu adalah tangisan bahagia. Karena itu Xavier menjadi khawatir, apa yang terjadi pada Graciella saat dia tidak ada di sini. Tapi kekhawatiran Xavier perlahan pudar saat wajah tangis itu perlahan menunjukkan senyuman.
“Kita akan bertemu dengan Moira. Kita akan bersama lagi dengan dirinya,” ujar Graciella dengan suara yang bergetar sambil memegang kedua pipi Xavier. Graciella mengatakan itu tanpa bisa menahan tangisnya. Air matanya terus mengalir walaupun gurat wajah bahagia itu terlihat.
“Ya, benar,” kata Graciella sambil kembali memeluk tubuh pria itu. Dia benar-benar ingin meluapkan rasa kebahagiaan yang begitu membuncah di dalam hatinya. Xavier langsung membalas pelukan Graciella. Dari wajahnya tampak kelegaan yang nyata.
“Ibumu yang menjaga Moira,” ujar Liliana yang melihat raut bahagia Xavier yang sudah lama sekali tidak dia lihat. Biasanya pria itu tampak sangat datar dan dingin. Xavier melihat ibunya dengan memipihkan bibirnya lalu sedikit tersenyum. Monica bahkan sudah lupa bagaimana wajah anaknya ketika tersenyum.
“Ibu akan memberitahu di mana Moira. Kapan kalian akan menemuinya?” tanya Monica sambil melihat pasangan bersuka cita ini.
“Secepatnya,” ujar Xavier melirik ke arah Graciella. Graciella mengangguk setuju.
“Tapi, apakah tak apa? Graciella sedang hamil. Nantinya dia akan kelelahan,” ujar Lilina terlihat cemas.
Xavier langsung melihat ke arah Graciella. Graciella langsung menggeleng kecil. Dia tidak bisa berbicara mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak hamil. “Aku ingin ikut. Aku ingin melihat Moira,” ujar Graciella tegas menatap ke arah Xavier. Xavier yang melihat mata memelas itu tentu tak sanggup menolak. Apalagi terakhir kalinya Graciella ingin sekali untuk ikut tapi dia menolaknya dan berakhir membuat wanita ini menangis semalaman.
“Tidak apa-apa, Nenek. Aku akan menjaganya,” ujar Xavier meletakkan tangannya merangkulpinggang kecil Graciella. Graciella langsung tersenyum tipis karena mendengar persetujuan dari Xavier.
Liliana sebenarnya masih merasa tidak bisa tenang walaupun Xavier sudah mengatakan akan menjaga Graciella. Liliana masih merasa cemas.
“Ibu tidak apa-apa. Aku juga akan menjaga Graciella. Lagipula tempat itu tidak terlalu jauh. Ibu tenang saja di rumah, saat kami kembali kami akan membawa Moira dan ibu pasti akan senang saat bertemu dengannya,” ujar Monica mencoba untuk menenangkan Liliana. Lilianan hanya mengangguk, akhirnya mengizinkan kepergian mereka.
...****************...
Graciella duduk di samping Xavier yang mengenggam tangannya erat. Monica yang duduk di depan mereka hanya memandang hal itu. Dia menggigit bibirnya melihat kehangatan mereka. Bagaimana dia pernah berusaha untuk memisahkan mereka berdua?
Helikopter yang mereka gunakan langsung mengudara. Liliana hanya memandang ke arah helikopter itu dari jauh. Dia bersidekap dan melambaikan tangannya saat melihat helikopter itu pergi menjauh.
Graciella berulang kali menarik napasnya. Dia sangat gugup. Di otaknya muncul banyak pertanyaan. Apa yang akan dikatakan oleh Moira saat pertama kali saat melihat mereka? apakah dia senang? Apakah dia malah marah karena menganggap mereka tidak menyayanginya? Semua hal itu berputar di kepala Graciella membuatnya tampak sedikit ragu. Xavier melihat wajah Graciella hanya menaikan satu sudut bibirnya. Dia kembali mengusap punggung tangan Graciella dengan halus untuk menenangkan wanita itu. Monica melihat itu pun tersenyum, yakin bahwa keluarga anaknya akan menjadi keluarga bahagia yang harmonis.