
Graciella berjalan perlahan di antara dua moncong senjata sekarang mengarah ke tubuhnya. Dia kembali menggigit bibirnya mencoba menenangkan dirinya. Suasana di sana seketika menjadi hening bagi Graciella. Bahkan angin pun tak terasa berhembus.
Graciella menarik napasnya dalam setiap kali dia melangkah. Dia menatap ke arah anak yang matanya memunculkan guratan takut, sedih, juga trauma yang mendalam tertutup air mata yang terus mengalir membasahi pipinya yang putih pucat. Gracilella sedikit tersenyum padanya agar menenangkan. Bagaimana pun dia harus menyelamatkan anak itu, itu tekadnya.
Di antara lampu sorot yang menyinari jalannya. Graciella dengan teguh berjalan, langkahnya makin tegas mengarah dan menatap penjahat di depannya yang mengacungkan senjatanya ke arah Gracilella.
Xavier menyipitkan matanya melihat langkah Graciella yang semakin cepat mengarah ke penjahat itu. Tangannya mantap mengarahkan senjata pada penjahat di depannya. Xavier menggerakkan tangannya perlahan agar tak dicurigai di balik tubuhnya. Bawahan Xavier menatap sinyal itu dengan seksama. Segera Xavier menggoyangkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Zhuubbb ... !!!
Suara peluru menembus daging terdengar. Ibu diplomat yang sedang ditahan di lantai dua itu menjerit dengan histeris membuat perhatian ke arahnya. Tubuh penyanderanya jatuh dari jendela lantai dua. Sebuah lubang peluru sudah menembus kepalanya.
Hal itu tentu membuat penjahat yang sedang menyandera anak itu teralihkan. Dia tak percaya teman seperjuangannya sudah terkapar, terbaring tak bernyawa.
Graciella melihat perhatian dari penjahat teralihkan tak membuang kesempatan. Dia segera berlari dan menarik anak Diplomat itu. Karena memang tidak fokus, anak itu dengan mudahnya ditarik oleh Graciella. Graciella langsung memeluk tubuh anak itu, menjadikan tameng dan benar saja penjahat itu memuntahkan timah panasnya.
Tapi Graciella kaget ketika tubuhnya ditarik ke belakang dan diputar sehingga dia membelakangi penjahat itu. Graciella baru sadar tangan kekar yang memegang pundaknya itu adalah tangan Xavier. Graciella mencoba melihat apa yang terjadi. Dengan waktu hanya sepersekian detik, Xavier sudah membalikkan keadaan. Dia sekarang ada di depan penjahat itu, menjadikan tubuhnya tameng melindungi Gracilella dan tanpa goyah mengarahkan senjata apinya ke arah dahi sang penjahat. Selain itu, ada banyak titik merah yang sudah berkumpul di dahinya.
"Menyerah atau mati?" ujar Xavier dengan suaranya yang berat dan tegas. Mampu menggetarkan nyali siapapun. Bahkan Gracilella saja sedikit ciut mendengarnya. "Jatuhkan senjatamu!"
Penjahat melirik seluruh anak buah Xavier yang sudah berkumpul dan mendekati dirinya dengan sikap waspada mereka. Penjahat itu tak bisa lagi berkutik, mau tak mau dia menyerahkan dirinya dan langsung diamankan oleh anak buah Xavier.
"Sudah, semua sudah selesai." Graciella menenangkan anak Diplomat yang tubuhnya masih gemetar ketakutan. Bahkan orang dewasa juga akan gemetar jika ada di dalam situasi seperti ini.
Anak itu mengangguk, matanya membesar ketika melihat lengan Graciella. "Kakak! lenganmu berdarah."
Graciella langsung melihat lengannya. Mungkin karena keadaan tadi adrenalinnya terpacu hingga dia tak sadar bahwa lengannya terluka. Sepertinya peluru itu menyerempet lengannya.
"Oh, ini tidak apa-apa. Jangan takut lagi ya." Graciella menyunggingkan senyuman manisnya, pintar mengatakannya padahal tadi dia juga gemetar. Nyatanya dia masih takut mati.
"Roxanne!" suara Ibu dari anak itu terdengar histeris. Anak itu pun langsung menghambur ke arah ibunya yang langsung mendekapnya kuat, mencium pipinya. Graciella segera berdiri sambil melihat kehangatan keluarga, hal yang tak pernah dia rasa sejak kecil. Graciella tersenyum senang, ada rasa puas bisa membuat ibu dan anak itu kembali berkumpul.
"Kau harus bertemu paramedis!" tiba-tiba sosok Xavier sudah ada di depannya. Menunjuk batang hidung Graciella bagaikan seorang penjahat. Graciella tentu tak suka dengan sikap pria dengan tatapan dingin di depannya ini.
"Tidak perlu. Kau lupa aku siapa?" cukup ketus Graciella mengatakannya. Padahal dia sadar, seharusnya mengatakan terimakasih pada pria ini. Kalau tadi Xavier tidak menariknya, mungkin peluru itu tak hanya menyerempet lengannya.
"Kau wanita bodoh yang sangat beruntung. Bawa dia keluar dari sini!" Dingin Xavier mengatakannya dan pergi begitu saja melewati Graciella.
"Aku bisa keluar sendiri!" kata Graciella pada bawahan Xavier yang tadi ditugaskan untuk membawanya keluar. Graciella melirik sinis ketika melewati Xavier yang tak memperdulikan hal itu.
"Komandan, Perdana Menteri, beliau menelepon ingin berbicara dengan Anda." Seorang tentara memberikan laporan.
Xavier hanya melirik tentara itu, "Katakan pada Beliau, aku tidak punya waktu berbicara dengannya."
"Siap Komandan!" bawahan Xavier itu menelan ludah, mana mungkin dia mengatakan hal itu pada Perdana Menteri. Tapi dia harus menyanggupinya.
"Kalian! bersihkan tempat kejadian perkara sebelum fajar! laporkan keadaan semuanya padaku, termasuk wanita itu!" ujar Xavier melihat Gracilella yang sudah berjalan keluar dari daerah tempat kejadian perkara, melewati beberapa barikade yang mereka buat dan menghilang dari pandangannya setelah dia masuk ke dalam mobil.
----***----
"Namanya dr. Graciella Luo, beliau berdinas di rumah sakit Internasional Medical, sebagai dokter IGD. Beliau sudah berdinas di sana selama dua tahun." lapor Fredy, ajudan pribadi dari Xavier.
Xavier menggoyangkan rahangnya yang tegas. Matanya yang tajam mengarah pada satu titik, jelas sekali dia sedang berpikir. Sejujurnya dia cukup terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Gracilella tadi. Wanita yang pemberani juga cerdas. Tak lama dia melirik ke arah Fredy yang langsung tampak siap menerima perintah Xavier.
"Dia sudah membantu kita dalam misi kali ini. Sebagai penghargaan padanya, minta kepala rumah sakit untuk menaikkan jabatannya menjadi kepala IGD, katakan itu rekomendasi dari ku," ujar Xavier.
"Siap, Komandan." Fredy langsung ingin membuat permintaan tertulis yang akan dia serahkan pada kepala rumah sakit besok pagi.
Baru saja dia ingin undur diri. Xavier kembali berbicara, "Satu lagi, besok undang dia untuk makan siang bersama ku sebagai tanda permintaan maaf, aku sudah meragukannya kemampuannya tadi."
Fredy mendengarkan itu mengerutkan dahinya. Seumur dia menjadi ajudan Xavier, Xavier tak pernah mau menjamu siapa pun. Kenapa sekarang malah mau mengajak seorang wanita makan siang.
Xavier yang tak mendengar kata siap dari Fredy melirik ajudannya itu tajam.
"Siap Komandan, saya laksanakan!" ujar Fredy yang sadar mendapatkan lirikan dari Xavier.
"Kau boleh pergi sekarang," ujar Xavier.
Fredy memberikan hormatnya dan segera keluar dari ruang kerja Xavier. Xavier kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya. Matanya menerawang jauh. Ada barut kesedihan yang tiba-tiba saja muncul di matanya. Tapi hanya dia yang tahu apa yang sudah membuat barut sedih itu muncul.
Xavier menekan bibirnya, dia segera memalingkan pandangannya dan berdiri. Meninggalkan ruang kerjanya dan pergi dari sana.