
"Rumah sakit!" perintah Xavier yang buru-buru dan dengan paniknya masuk ke dalam mobilnya. Dia meletakkan tubuh kecil yang lunglai itu di atas pangkuannya. "Bertahanlah sejenak! Ayo, bertahanlah!”
Mobil itu segera melaju menuju sebuah rumah sakit yang cukup besar di daerah perbatasan.
"Tolong dokter! tolong dia!" ujar Xavier dengan begitu panik dan cemasnya. Dia meletakkan putrinya yang langsung masuk ke dalam ruangan IGD dan dokter langsung merobek bahu gadis kecil itu.
"Hematothorax!" sayup terdengar oleh Xavier.
"Tuan! kami butuh persetujuan untuk pengeluaran darah dari rongga dadanya!"
"Lakukan! lakukan apa pun untuknya!"
Dokter itu langsung mengangguk. Ajudan Xavier langsung mendekati Xavier yang tampak begitu cemas dan tidak bisa tenang. Dia bahkan tidak merasakan sedikit pun luka yang ada di pinggangnya.
"Helikopter sudah menuju kemari, mungkin dua puluh menit akan sampai komandan!" lapor Arnold.
Xavier mengangguk tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. "Amankan dia! jangan sampai dia lepas! katakan pada Jenderal Stevan, rencana B diaktifkan! aku tak akan membiarkan dia bisa tenang di penjara!"
******
Graciella tidak bisa untuk kembali tidur. Jangankan tenang menutup matanya. Dia bahkan tidak bisa duduk dengan tenang. Dia terus saja berjalan mengelilingi rumah itu. Sesekali menggigit kukunya, berharap ponselnya berdering. Tapi menunggu hal itu benar-benar membuat hatinya tersiksa.
Graciella memang hanya bisa menunggu di rumahnya. Tapi di sini pun dia merasakan rasa cemas dan juga ketegangan yang sama. Pikiran dan juga gambaran-gambaran yang mungkin terjadi di sana membuatnya benar-benar tak bisa diam. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Xavier? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Moira? Apakah benar Robert Kim akan membawa mereka bertemu dengan Moira? Semua itu bergumul di dalam otak Graciella yang sekarang merasakan kedua tangannya terasa sangat dingin karena gugupnya. Andai saja dia bisa melihat semuanya, pastilah tak akan setegang dan bingung ini.
Saat Graciella masih berkutat dengan semua pemikirannya yang kalut saat tiba-tiba saja suara bel terdengar. Graciella langsung mengalihkan matanya ke arah pintu rumahnya. Jantungnya langsung ingin melompat keluar dari dadanya karena suara bel pintu itu. Dia tampak hanya mengamati pintu yang sekarang tampak senyap dengan matanya yang menunjukkan ketakutan.
Graciella berjalan berjinjit ke arah pintunya. Mencoba untuk tidak mengeluarkan sama sekali suara agar siapa pun di depan pintunya tidak bisa mengetahui bahwa dia mendekat. Graciella bernapas berat, ini tidak mungkin Xavier. Jika ini adalah Xavier, dia pasti akan menelepon Graciella terlebih dahulu. Lagi pula, tak mungkin secepat ini Xavier ada di depan pintunya.
Tokk! Tokk!
Suara pintu terketuk keras kembali membuat jantung Graciella makin berdegup dengan kencang. Dia menelan napasnya dan langsung berhenti di tempat. Ada raut wajah ketakutan tapi juga penasaran yang terpancar di wajah Graciella.
“Graciella!”
Graciella membesarkan matanya dan otomatis mundur dari tempat dia berdiri. Dia kenal suara itu. Suara yang selama tiga tahun menghantui hidupnya dulu. Graciella menarik napasnya panjang tapi langsung tertahan, dia tidak ingin Adrean tahu bahwa dia ada di sini. Biar saja dia mengira Graciella tidak ada di rumah atau setidaknya belum bangun dari tidurnya.
“Graciella?” suara itu terdengar lagi. “Aku tahu kau ada di sana. Aku sudah melihat bayanganmu dari bawah pintu ini.”
Graciella memasang wajah menyesalnya. Bodoh sekali kenapa dia malah mendatangi pintu itu. Tentu Adrean bisa melihat bayangannya yang bergerak menuju pintu.
“Ayolah, aku tahu kau ada di sana. Apa kau tidak ingin bertemu dengan putrimu?” tanya Adrean lagi terdengar dengan tawa kecil yang malah membuat Graciella merinding.
“Di mana kau bertemu dengan putriku? Mana bukti bahwa kau sudah menemukan putriku?” ujar Graciella lagi dengan suaranya yang panik dan ketakutan. Dia harus tahu yang sebenarnya. Apa ini hanya tipuan atau bagaimana?
“Buka dulu pintunya. Aku akan menyerahkan buktinya. Kau akan bertemu dengan putrimu segera,” ujar Adrean lagi. Tapi Graciella ingat dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Siapapun yang mengaku menemukan Moira, Graciella tidak boleh percaya. Dia tidak ingin membuat Xavier kesusahan hanya dengan kecerobohannya.
“T-tidak! T-tidak. Aku tidak akan membukakan pintunya. Kau harus menunjukkan buktinya terlebih dahulu. Selipkan di bawah pintuku!”
“Graciella!” ujar Adrean yang sedikit menaikkan nada suaranya. Graciella menahan napasnya mendengar nada suara Adrean yang terdengar kesal.
“Tuan! Anda tidak boleh di sini!” terdengar suara yang langsung membuat Graciella membesarkan matanya. Suara itu tegas khas orang-orang militer. Apakah itu adalah bawahan Xavier atau Stevan?
“Apa hakmu melarangku datang ke sini?” suara Adrean terdengar menantang. Graciella perlahan mendekati jendela. Melihat tiga orang yang menghadapi Adrean.
“Anda tidak boleh ada di sini. Saya minta Anda untuk pergi. Jika tidak kami akan memaksa Anda dari sini!” ujar pria itu mengancam Adrean.
“Aku tidak punya urusan denganmu! Graciella! Buka pintunya! Kau sudah berjanji akan bersamaku jika aku sudah menemukan Moira! Aku sudah menemukannya!” ujar Adrean yang kembali mengetuk pintu itu lagi. Dia juga langsung menemukan Graciella yang tampak mengintip dari jendela rumahnya.
Adrean tentu langsung mendatangi Graciella yang kaget melihat hal itu. Dia langsung menjauh dari jendela itu ketika melihat Adrean sudah ada di depannya.
“Graciella!” ujar Adrean mengetuk kaca itu dengan keras. Dia tampak kesal dan juga marah ketika para tentara mencoba untuk menarik tubuhnya. Dia terus berontak dan berusaha tetap untuk menggapai Graciella. “Graciella! Aku sudah menemukannya!”
Graciella yang melihat kemarahan dan juga emosi yang terpancar dari wajah Adrean semakin tak percaya bahwa pria itu sudah menemukan anaknya. Dia yakin pria itu hanya mengada-ada. Jika dia sudah menemukan Moira, dia tak akan melakukan hal ini. Dia pasti akan langsung membawa Moira padanya. Pria ini benar-benar menakutkan.
Graciella membuka pintunya dan melihat wajah kesal dari Adrean yang sudah dibekuk oleh bawahan Xavier. Tentu dia baru berani melakukannya karena bawahan Xavier sudah benar-benar menahan pria itu.
Dia memandang penuh amarah pada Graciella.
“Cih! Sesuai dugaanku, Kau sudah menipuku!” ujar Adrean.
“Bukannya aku sudah mengatakan bahwa aku akan percaya jika kau membawa buktinya padaku,” ujar Graciella.
“Kau sudah kembali dengan Xavier bukan?” tanya Adrean dengan wajahnya yang begitu menunjukkan emosi yang kuat. Marah karena sudah merasa dikhianati.
Graciella terdiam, dia hanya menggigit bibir bagian dalamnya. Sekarang Adrean tahu bahwa Graciella dan Xavier sudah kembali bersama. Bawahan Xavier segera menarik Adrean untuk menjauh dari Graciella.
“Huh!” dengus Adrean dengan membuat wajah marah. “Aku yakin, kau dan Xavier tidak akan mungkin bertemu dengan putrimu!”