Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 45. Bertemu keluarga.


Graciella melihat ke arah cermin pantulan dirinya. Dia ingat beberapa hari yang lalu dia pun didandani seperti ini. Kali ini rambutnya yang hitam dibiarkan tergerai bergelombang besar. Bibirnya tak lagi pucat berpulas pewarna bibir merah jambu seperti kelopak bunga sakura. Tak banyak yang diberikan oleh perias itu pada wajah Graciella. Permintaan langsung dari Adrean, dia ingin wajah Graciella tetap terlihat alami. Menunjukkan sisi kepolosannya.


Graciella sedikit kaget saat melihat pintu kamarnya terbuka. Dia dengan cepat mengambil pistol yang dia letakkan di dalam laci meja riasnya. Benar saja Adrean yang masuk dengan gayanya. Dia sedikit terdiam lalu memunculkan senyuman tipisnya. Senyuman yang begitu manis, tapi entah kenapa terasa asing bagi Graciella padahal senyuman itu dulu yang memikat hatinya pada sosok Adrean.


Adrean lalu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya. Graciella hanya mengerutkan dahinya melihat pria itu berjalan ke arahnya. Dia menggenggam erat pistol yang ada di dalam genggamannya sekarang.


“Kau bisa melepaskannya sejenak. Aku hanya ingin memakaikan ini," ujar Adrean.


Mata Graciella membesar sempurna. Dia tak percaya apa yang dilihatnya. Itu cincin pernikahannya dengan Adrean. Dia kira cincin itu sudah hilang. Saat itu dia ingin memasak untuk Adrean dan sengaja melepas cincin pernikahannya. Tapi setelah itu Graciella tak bisa menemukannya.


Graciella benar-benar panik mencarinya. Saat itu, pernikahannya masih menjadi hal yang sangat berharga bagi Graciella. Dia sangat sedih ketika cincin itu hilang.


Saat Graciella mengatakan hal itu pada Adrean, bukannya menolong untuk mencari cincin itu, Adrean malah memakinya dan juga menghukumnya karena menghilangkan cincin pernikahan mereka.


Menuduhnya sengaja menghilangkannya hanya karena tak ingin terlihat sudah menikah. Karena itu Adrean juga melepas cincin pernikahannya. Graciella mencarinya benar-benar seperti orang gila, dia bahkan mencarinya di luar rumah dimana jika dipikir dengan akal sehat, tentu saja tak ada di sana. Tapi karena tertutup rasa bersalah dan cintanya. Graciella benar-benar menjadi wanita bodoh!


Graciella tersenyum miris. Kenapa dulu dia harus mencoba mempertahankan sebuah rumah tangga yang awalnya saja sudah sangat terlihat menyakitkan. Bagaimana bisa dia berpikir dengan kesetiaan dan kebaikannya, sikap yang selalu mengalah dan menurut pada Adrean bisa membuat seorang Adrean mencintainya lagi seperti dulu. Kenapa dia harus pernah berlutut memohon untuk dicintai oleh pria ini? pria yang bahkan mencuci tangannya ketika menyentuh dirinya. Kenapa dulu dia begitu bodoh mencintai pria ini! Kenapa! sekarang semua itu membuat hatinya jadi kembali sakit. Kenangan itu sangat menyakitkan. Sekarang kenapa cincin ini harus muncul lagi?


Graciella mengambil cincin itu lalu melirik ke arah Adrean. "Di mana kau menemukannya?"


"Sudah lama, hanya lupa memberikannya padamu," ujar Adrean tanpa rasa bersalah.


Graciella kembali melihat cincin pernikahannya yang berlapis emas putih dengan berlian kecil di tengahnya. Dia yakin, Adrean tak menemukan cincin ini. Tapi Adreanlah yang sengaja menyimpannya agar dia bebas keluar tanpa menggunakan cincin pernikahannya. Saat itu Graciella pasti akan mempertanyakan kenapa dia tak memakai cincin pernikahannya jadi karena tak mau disalahkan, Adrean membuat seolah-olah itu semua kesalahan Graciella. Adrean selalu begitu. Menumpahkan semua kesalahan padanya.


"Aku tak ingin memakainya." Graciella meletakkan kembali cincin itu ke tempatnya. Dia ingin lepas dari pria ini, tak ada gunanya tetap memakai cincin itu.


"Kenapa?" tanya Adrean mengerutkan dahinya.


"Sudah terlalu lama tidak menggunakan cincin, akan tak biasa rasanya." Graciella tak memperhatikan Adrean.


Adrean sedikit kesal akibat ulah Graciella yang menurutnya terlalu banyak tingkah. Bukannya dia dari dulu ingin Adrean bersikap lebih lembut padanya? Bukannya Graciella ingin Adrean mencintainya kembali? Kenapa sekarang wanita ini terkesan angkuh? Apakah karena kehadiran pria itu?


Memikirkan hubungan Graciella dan Xavier, membuat emosi Adrean kembali naik. Dia langsung menangkap tangan Graciella dengan sedikit kasar.


Graciella tentu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Adrean. Tak sakit sebenarnya, hanya saja dia tak suka caranya.


"Kau harus menggunakannya," ujar Adrean memasukkan cincin itu ke jari manis Graciella yang lentik. "Sekarang kau sudah siap. Kita akan pergi sekarang." Adrean berpindah posisi, siap untuk mendorong Graciella menuju ke arah mobil mereka tanpa menunggu persetujuan dari Graciella.


...****************...


Pelayan mempersilakan Adrean dan Graciella masuk ke dalam sebuah tempat makan pribadi. Dua orang pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua.


Graciella menahan napasnya. Saat ini dia seperti lini pertama untuk menghadapi keluarga Adrean. Pria itu malah berdiri di belakang untuk mendorong kursi rodanya. Graciella menegakkan tubuhnya karena merasa tegang.


Pintu itu perlahan terbuka menunjukkan sosok-sosok yang ada di dalamnya. Tak ramai, hanya ada ada tiga orang di dalamnya. Di bagian tengah duduk seorang pria berumur matang, terlihat jelas dari uban yang menutupi rambutnya. Graciella berasumsi itu adalah kakek dari Adrean.


Disebelahnya ada seorang pria dan wanita yang lebih muda dari pria di tengah. Sepertinya mereka lebih pantas menjadi orang tua Adrean.


"Adrean?" Wanita setengah baya bergaya glamor itu berdiri. Wajah-wajah mereka terlihat kaget.


Adrean segera mendorong Graciella yang menggenggam tas kecilnya yang hanya berisikan pistol. Semua orang memandang Graciella dengan tajam seolah menghakimi, wanita macam apa yang sudah berani Adrean bawa ke keluarga mereka?


"Kakek," ujar Adrean memberikan salam. Melihat Adrean memberikan salam Graciella jadi mengikutinya.


Robert mengerutkan dahinya, melihat Graciella sekali lagi. Melihat seksama, bagaimana wanita ini bisa ada di atas kursi roda? "Ya." Singkat Robert seolah menerima salam dari Adrean. Adrean mendorong Graciella mendekat ke arah meja yang menurut Graciella cukup besar hanya di isi oleh mereka. Adrean duduk di dekat Robert.


"Ini adalah Graciella. Dia adalah istriku," ujar Adrean segera. Graciella melirik sedikit ke arah Adrean. Sudah begitu lama dia ingin kata-kata itu meluncur dari bibir Adrean. Dulu, inilah yang dia inginkan hingga terbawa dalam mimpinya, sebuah pengakuan bahwa dia adalah istri Adrean. Tapi kenapa? Saat ini tak sedikit pun rasa senang dia rasakan. Malah merasa canggung dan tak nyaman.


"Ha? Apa? Bagaimana bisa kau sudah menikah?" Tanya wanita itu kaget. Seperti baru saja menerima petir di siang hari.


"Kapan kau menikah dengan Adrean?" Suara tua tegas itu terdengar lagi. Matanya kembali melirik Graciella.


"Kami …." ujar Adrean ingin menjawabnya.


"Biarkan dia yang menjawab. Dia hanya terluka kakinya, kecuali dia juga bisu! Menantu keluarga Kim haruslah punya keberanian. Jawab aku," ujar Robert seperti sedang mengintrogasi seseorang. Graciella jadi sedikit gugup menjawab kakek dari Adrean ini.


"Tiga tahun, kami sudah menikah tiga tahun," ujar Graciella. Dia mencoba menyamarkan nada gugupnya. Mungkin memang sifat keluarga ini yang tak pernah ramah.


"Tiga tahun? Itu cukup lama untuk menyembunyikan sebuah pernikahan. Kenapa?" Tanya pria yang lebih muda, Ronald.


"Aku hanya belum yakin mengenalkan mereka pada kalian, maafkan aku, Paman dan Bibi," ujar Adrean. Graciella mengerutkan dahinya. Pemikirannya meleset. Kalau mereka paman dan bibi Adrean lalu di mana orang tua Adrean?


"Tentang kalian, kita bicarakan nanti. Aku yakin mereka sebentar lagi akan datang, kita harus menyambut mereka." Ujar Robert melirik Adrean.


Graciella tak menyukai suasananya yang kaku dan juga tegang yang mengitarinya sekarang. Sepertinya keluarga Adrean memang keluarga yang kaku. Dia bahkan baru kali ini melihat Adrean bisa sesopan itu.