
Xavier hanya mengerutkan dahinya. Antony benar-benar memanfaatkan momen ini untuk menaikkan elektabilitasnya di depan masyarakat.
“Berita utama malam ini. Kasus pembunuhan pengusaha sukses Tuan Robert Kim akhirnya terpecahkan. Tuan Antony yang merupakan anak dari mantan wakil Presiden Herry yang menyuarakan dan juga meminta dengan tegas kasus ini harus diselesaikan dengan tuntas pun akhirnya langsung memberikan keterangannya.” terdengar suara berita di TV itu. Graciella dan Xavier lagi-lagi mengerutkan dahinya dan saling pandang. Tak lama mereka kembali fokus dengan apa yang ada di depan mereka.
“Benar, berkat usaha kepolisian, dan juga biro penyelidikan swasta yang dipimpin oleh para ahlinya. Dengan semua usaha akhirnya bisa menangkap dalang utama dari pembunuhan Tuan Robert dan juga yang memfitnah Jenderal Xavier,” ujar Antony yang tampak berdiri di depan para wartawan seolah memberikan klasifikasinya.
“Tuan Antony, apakah benar bahwa dalang utama dari semua ini adalah Tuan Peter Sam?” tanya seorang dari wartawan yang berjejal penuh di depan Antony.
Kamera langsung menyorot Antony yang tampak sedikit diam awalnya. “Ya, Tuan Peter adalah dalang semua ini.”
Xavier yang awalnya melipat tangannya di kedua dadanya segera meloloskan lipatan itu dan kembali memandang Graciella. Graciella hanya mengangguk. Dia juga awalnya tidak percaya karena itu Daren memintanya untuk melihat siaran langsung yang ada di televisi sekarang.
Xavier dengan kerutan wajahnya kembali menatap ke arah layar televisinya. Dia kenal Tuan Peter. Pria itu walaupun punya ambisi menjadi presiden tapi sepertinya dia bukanlah orang yang bisa berpikir licik seperti itu. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini pada Xavier. Bukannya mereka sudah berjanji untuk bekerja sama?
“Apakah menurut Anda pembunuhan ini ada hubungannya dengan pemilihan Presiden? Bukannya Tuan Peter, Jenderal Xavier dan Anda juga akan bersaing dalam pemilihan Presiden nanti?” ujar Wartawan lagi dengan wajah yang penasaran.
“Aku tidak tahu apa motif sebenarnya Tuan Peter melakukan hal ini. Tapi aku hanya tergerak dengan sisi kemanusiaan. Siapa pun berhak mendapatkan keadilan bukan? Aku hanya ingin membuktikan bahwa semua sama di hadapan hukum. Baik rakyat biasa atau seorang politikus, jika mereka bersalah, maka dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya,” ujar Antony tegas dengan tatapannya yang sangat serius. “Saya rasa sampai di sini dulu. Mari menunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian. Selamat malam.” Antony segera meninggalkan tempatnya dan para pengawalnya langsung menghadang para wartawan yang sepertinya masih ingin bertanya pada Antony dan mengejarnya.
“Berikut adalah potongan saat penangkapan Tuan Peter Sam yang kami dapatkan dari berbagai sumber.”
Tayangan televisi itu langsung berubah ke sebuah gambar di mana Stevan tampak menggiring Tuan Peter yang sudah diborgol untuk masuk ke dalam kantor polisi. Di sana Stevan dan Tuan Peter tampak kewalahan untuk menghalau banyaknya wartawan yang sudah mengelilingi mereka.
“Tidak ada informasi apa pun untuk saat ini,” ujar Stevan tampak menutupi Tuan Peter yang wajahnya juga sengaja ditutupi oleh jas hitam. Mereka segera masuk ke dalam kantor polisi yang tidak memperbolehkan satu pun wartawan masuk ke dalamnya.
Sekali lagi Graciella dan Xavier tampak saling memandang. Dalam pandangan mereka seolah tersirat sesuatu yang mereka saling pahami.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Xavier pada Graciella.
“Entahlah, aku merasa ada yang tidak benar dari semua ini. Entah karena Tuan Peter ataupun karena Antony. Hanya saja, aku merasa tidak benar,” ujar Graciella. Sejujurnya, dia bingung dengan hal ini. Dia yakin Stevan tidak mungkin asal menangkap orang. Pastinya dia mendapatkan informasi dan juga sudah mencari bukti untuk menangkap Tuan Peter. Dan jika pun Tuan Peter merasa tidak bersalah, dia pasti tidak akan dengan mudah di bawa ke kantor polisi. Jadi Graciella yakin kemungkinan besar bahwa Tuan Peter terlibat adalah benar.
Lalu, apa yang masih mengganjal di hati Graciella. Apakah karena Antony? Dari awal bukannya dia memang sudah setuju untuk membantu pria itu. Tapi entah lah, walau dia sudah mengungkapkan hal yang benar dan juga Antony tak salah, dia hanya mengambil keuntungan dari kasus ini, tapi dari hati kecil Graciella merasa tidak tenang dan tetap merasa ada yang salah. Ada sedikit penyesalan yang entah dari mana datangnya.
“Ehm ….”
“Tidak. Malam ini kau tidak boleh ikut denganku. Sudah hampir pukul sebelas malam. Kau harus istirahat. Jika ada yang ingin kau tanyakan, kau tanyakan besok pagi. Aku akan mengizinkanmu,” ujar Xavier lagi yang tahu pastinya ada banyak hal di kepala istrinya sekarang.
Graciella mengerutkan dahinya dengan dalam. Ya, sejujurnya dia ingin ikut sekarang. Tapi dia juga ingat keadaan dirinya. Dia juga tidak boleh egois walaupun dia merasa dia baik-baik saja.
“Baiklah,” jawab Graciella patuh kali ini.
“Malam ini berjanjilah untuk tidur dengan baik. Jangan terlalu banyak memikirkannya. Kau harus ingat kesehatannya,” ucap Xavier yang mendekat lalu mengelus perut bawah Graciella dengan pelan.
“Ya, aku akan berusaha untuk menghentikan sejenak apa pun yang ada di dalam otakku sekarang. Tak perlu khawatir,” ujar Graciella tersenyum tipis.
“Baguslah, aku akan bersiap-siap,” kata Xavier yang langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia segera mengambil keperluannya untuk pergi malam ini dan menghubungi Arnold yang segera menyiapkan kendaraan untuk Xavier. Setelah memakai jaketnya, Xavier langsung keluar kamarnya.
Saat keluar kamar, Graciella segera berdiri melihat suaminya. Ibunya juga sudah Graciella bangunkan untuk menemaninya tidur sesuai dengan permintaan Xavier.
“Hati-hati,” pesan Graciella saat mengantar Xavier keluar dari rumahnya.
“Pasti,” jawab Xavier sambil mengecup ringan dahi Graciella sambil mengelus perut Graciella yang masih rata. “Ibu, titip Graciella. Minta dia untuk tidur dan jangan biarkan dia begadang. Aku yakin dia akan susah untuk tidur malam ini,” pinta Xavier pada Monica.
“Jangan khawatir. Ibu tak akan tidur sebelum memastikan Graciella tidur. Berhati-hatilah,” ujar Monica lagi.
Xavier tidak menjawab apa yang dikatakan oleh ibunya dan hanya memberikan anggukan keras yang pasti. Dia lalu segera melangkah ke arah mobilnya. Begitu Arnold masuk ke dalam mobil itu, mereka langsung menerjang gelapnya malam yang hanya diterangi oleh cahaya temaram bulan sabit.
Xavier mengambil ponselnya dan menelepon Stevan. Tak lama nada panggilan, telepon itu segera diangkat oleh Stevan.
“Stevan, aku sedang menuju ke sana. Di mana Tuan Peter di tahan?” tanya Xavier. Dia tetap merasa. Tuan Peter tak mungkin melakukannya sendirian. Dalang semua ini, harus dia ungkapkan.