
“Apa maksudmu?” tanya Graciella dengan suara yang gemetar. Tiba-tiba saja seluruh badannya terasa dingin seolah terguyur air es. Hatinya tak karuan. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul dan juga rasa berat di kepalanya. Anaknya mungkinkah masih hidup?
Tiga tahun yang lalu, setelah kejadian yang merusak hidup Graciella selamanya. Dia menemukan dirinya hamil setelahnya. Tentu dia berusaha sebisa mungkin untuk menutupi kehamilannya dari Adrean. Selain pria itu akan semakin marah dan membencinya, sudah pasti dia akan meminta Graciella menggugurkan janin di dalam kandungannya. Tapi Graciella tak mungkin melakukan hal itu. Walau dia hadir karena kesalahan, tapi bayi dalam kandungannya tak punya dosa apapun.
Graciella selalu menutupi kehamilannya. Dia selalu memakai pakaian lebih longgar dan juga terkadang membebat perutnya agar terlihat lebih rata. Untung saja hanya perutnya yang membesar dan Adrean juga jarang pulang ke rumah dan Adrean tak pernah ingin menyentuhnya sejak awal mereka menikah. Teman-teman di rumah sakitnya juga tak banyak curiga karena Graciella terus menggunakan jas dokternya saat bekerja. Semua berjalan dengan baik hingga dia harus mengalami perdarahan di awal bulan ke sembilan kehamilannya.
Graciella seharusnya pergi ke rumah sakit saat itu. Tapi saat dia bersiap, Adrean muncul di rumahnya dengan seorang wanita dan dia mengunci Graciella di kamarnya karena takut Graciella akan mengganggunya lagi.
Greciella harus menahannya rasa sakitnya sendiri dan setelah berjuang sendiri selama hampir 12 jam, menutupi suaranya saat kontraksi, mencoba agar Adrean tak mengetahui keadaannya. Graciella akhirnya melahirkan di bath up kamarnya sendiri dengan perdarahan yang lumayan banyak.
Tangis kecil bayi perempuannya memecah air matanya. Graciella ingat bagaimana wajahnya yang dia dekap untuk pertama dan terakhir kalinya. Tangisan bayinya membuat dirinya begitu haru, dia seorang ibu sekarang tapi tangis itu pula yang membuat perjuangannya selama sembilan bulan akhirnya sia-sia. Adrean akhirnya mengetahui tentang bayi mungilnya.
Pria itu masuk dengan wajah kaget dan syok melihat keadaan Graciella. Tapi dia bukan kaget karena Graciella bersimbah dan terendam darahnya tapi karena dia tak menyangka Graciella berani untuk menyembunyikan dan melahirkan anak haramnya.
Adrean dengan amarahnya segera menarik bayi mungil yang menangis begitu keras karena merasa kedinginan dari pelukan Grwciella. Graciella ingin menahannya tapi keadaanya pun sangat lemah saat itu. Bayi mungilnya yang tali pusarnya pun belum terlepas dari plasentanya langsung di bawa pergi oleh Adrean.
Graciella berusaha bangkit untuk menghalangi Adrean membawa bayinya. Bagaimana pun bayinya tak berdosa walaupun dia terlahir karena kesalahan. Graciella tak menghiraukan bagaiamana nyeri dan sakitnya tubuhnya. Darah yang mengucur deras bagaikan air mengalir begitu saja membasahi tubuhnya saat dia mencoba berjalan tapi langsung ambruk karena tak punya tenaga untuk menopang tubuhnya. Dia harus menarik tubuhnya agar bisa mendekati Adrean. Memohon dengan sangat agar Adrean tak mengambil anaknya.
Adrean saat itu hanya acuh. Dia bahkan memandang bayinya seolah sama memijijikkannya dengan Greciella.
"Aku tak akan pernah membiarkan kau bisa bersama dengan bayimu!"
Kata-kata itu yang terlontar dari bibir Adrean. Kata-kata yang hingga kita tak bisa dia lupakan. Itulah terakhir kali dia melihat, mendengar, dan menyentuh putri kecilnya. Adrean membawanya dan meninggalkan Greciella yang pingsan akibat perdarahan.
Graciella terbangun dua hari kemudian di sebuah rumah sakit. Adrean datang ke esokan harinya. Saat Greciella bertanya dimana anaknya. Adrean hanya menjawab dia tak akan pernah lagi bertemu anaknya karena dia sudah membuang anak itu. Sebuah aib seharusnya tak dipertahankan.
Hati Greciella hancur saat itu. Hancur hingga tak bisa lagi merasakan apa-apa. Baru sesaat dia menjadi ibu, tapi sudah bayinya direnggut begitu saja darinya. Graciella hampir gila. Dia sangat berharap dia gila saat itu hingga bisa melupakan semua penderitaannya. Bahkan itu pertama kalinya dia melukai dirinya sendiri dan berharap menyusul putri kecilnya. Tapi dia bahkan belum diizinkan Tuhan untuk kembali. Mungkin memang ada banyak dosa yang dibuat pendahulunya dulu hingga hidupnya harus begini.
Adrean selalu mengatakan bahwa dia membuang anaknya begitu saja dan kemungkinan besar sudah tidak ada di dunia ini. Graciella pun sudah berusaha mencarinya di setiap panti asuhan dan juga rumah sakit, tapi dia tak menemukan bayinya. Tapi kenapa sekarang Adrean mengatakan bahwa dia tahu dimana anaknya?
"Jangan bercanda! Aku tidak akan percaya dengan mudah! Kau hanya ingin menjebakku agar datang kepadamu kan?" Ujar Graciella dengan suara yang serius, dia langsung berdiri. Laura yang mendengar itu pun menjadi tegang, tertular ketegangan yang ditunjukkan oleh Graciella.
"Aku akan memanggilmu dengan panggilan video, pergilah ke tempat orang lain tak bisa melihatmu," ujar Adrian langsung mematikan panggilan itu. Tak lama menggantinya dengan panggilan video.
Tangan Graciella rasanya gemetar. Dia ragu ingin menjawabnya atau tidak. Dia tak ingin menjawab panggilan itu karena takut itu hanya jebakan dari Adrean.
Tapi bagaimana jika benar? Bagaimana jika dia memang bersama dengan anaknya? Adrean bisa saja menyerahkan anaknya pada orang lain dan anaknya sekarang masih hidup. Bagaimana ini?
"Gracie? ada apa?" Tanya Laura yang bingung kenapa Graciella begitu tampak cemas.
"Tentu aku akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengannya. Kenapa?"
"Bahkan jika dia hanya ingin menjebakku?"
"Aku akan tetap melakukannya. Aku tak tahu apakah akan terjadi lagi atau tidak. Itu patut dicoba." Laura memberikan jawaban sesuai sudut pandanganya.
Graciella mengangguk mengerti. Dia langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi, munguncinya dan menjawab panggilan telepon dari Adrean. Suara Laura terdengar samar memanggil nama Graciella dari luar.
Mata Graciella membesar hingga mulutnya terbuka yang langsung dia tutup dengan telapak tangannya karena melihat apa yang terpampang di layar ponsel Laura. Air matanya mengalir begitu saja. Deras hingga dengan cepat membasahi pipinya yang putih.
"Ayo, panggil Mama!" kata Adrean meminta seorang anak berumur dua tahun dengan wajah yang begitu imut Wajahnya bagaikan fotokopi dari Graciella saat dia kecil. Rambutnya hitam dan ikal dibagian bawahnya. Pipinya penuh bagai bak Pao. Senyumannya benar-benar mirip dengan Graciella. Dia melambaikan tangan ke arah ponsel, saat ini dia sedang ada di dalam pangkuan dari Adrean.
"Mama!" Ucapnya belum terlalu jelas. Graciella tersenyum sambil menangis. Akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya menangis dalam kebahagiaan.
"Ya? Ini mama! Ini mama! Siapa namamu sayang?" Ucap Graciella dengan suara serak nan sengau karena hidungnya yang sudah berair akibat menangis.
"Moila," ujarnya cedal.
"Moira, namanya Moira, artinya takdir," Adrean mengambil alih panggilan video itu lagi. Greciella hanya tersenyum senang. Nama yang bagus, pikirnya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk datang ke sini, tapi aku yakin kau akan datang dengan suka rela. Jika kau ingin bertemu dengannya. Datanglah sendiri, kau tahu kami di mana? Moira, say goodbye to mama," ujar Adrean dengan senyuman liciknya yang mengambang. Graciella tahu bahwa itu bukanlah sebuah kata-kata tulus walaupun Adrean mengatakannya dengan lembut. Itu malah terasa seperti sebuah perkataan kemenangan karena dia tahu Greciella tak akan bisa menolak hal ini.
"Pai Mama," ujar Moira patuh. Sekali lagi Adrean menunjukkan senyum licik kemenangannya. Panggilan itu dimatikan sepihak oleh Adrean padahal Graciella masih ingin melihat wajah Moira yang begitu lucu. Dia sampai gelagapan tak ingin panggilan itu terputus.
Tapi tak lama muncul sebuah pesan di ponsel Laura.
"Kau tahu aku bisa dengan mudah mencelakakannya. Karena itu, lebih baik jangan menceritakan apapun pada siapa pun. Cepatlah datang atau sekali lagi aku akan membuatmu berpisah dengan putrimu, dan aku pastikan kali ini untuk selamanya."
Mata Graciella kembali membesar sempurna, kali ini bersamaan dengan wajah ketakutannya. Dia tak mungkin akan membiarkan Adrean kembali membawa putrinya atau paling parahnya dia akan melukai putri kecilnya. Tidak! Graciella sudah kehilangan dua tahun dari hidup putrinya. Dia tak ingin kehilangannya lagi, apalagi untuk selamanya.
...****************...
Kakak2! hari ini boleh ya satu aja! wkwkk... Mau pulang dulu! haha...besok diusahakan up tapi ga janji Crazy up ya..
makasih kaka! jangan lupa supportnya kak, like, comment, Dan share. Support kalian begitu berarti, hehe