Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 226


Laura membuka matanya. Melihat sekeliling yang cukup remang. Dia memegang kepalanya dan mencoba untuk bangkit dari posisinya. Saat dia berhasil duduk, dia mulai mengamati keadaan sekitarnya.


Dahinya seketika mengerut melihat keadaannya. Dia tahu persis ini bukan apartemennya. Dia ada dalam sebuah ruangan yang lebih tepatnya dikatakan kamar. Dia berbaring di atas tempat tidur yang luas dengan sperai satin berwarna abu-abu. Di ruangan itu juga terdapat beberapa sofa di ujungnya. Ada pula seperti meja makan di sisi lain. Ruangan ini malah seperti sebuah apartemen berukuran studio yang memiliki semuanya kecuali dapur. Aroma furnitur baru menyeruak di sekililingnya.


Saat dia mulai bergerak, dia merasakan nyeri dibagian lipatan siku tangan kirinya. Dia langsung menarik kemeja yang dia gunakan dan menemukan bekas suntikan. Laura memukul bekas itu.


"Aw!" pekiknya sakit tanda dia tidak sedang bermimpi sekarang. Apa yang terjadi? kenapa dia punya bekas suntikan itu? apa yang mereka lakukan padanya?


Laura masih merasakan efek obat yang dia hirup atau mungkin yang disuntikkan ke tubuhnya. Dia masih merasa sempoyongan saat menjejakkan kakinya ke lantai beralaskan karpet tebal berwarna biru yang tampak sangat mewah.


Dia melihat sekelilingnya dengan wajah bingung. Tempat apa ini? di mana dia sekarang?


Laura menyangga tubuhnya di meja bundar besar yang terletak di bagian tengah ruangan itu. Ada vase kaca besar yang penuh dengan bunga lili putih, bunga kesukaannya.


Tempat apa ini? Itu saja yang ada di dalam pikirannya. Dia ingat terakhir kali dia sadar, ada seseorang yang menyerangnya. Setelah itu dia tak ingat lagi.


Laura membesarkan matanya. Dia kembali ke arah ranjang besar itu. Mencoba mencari di rak-rak berbahan kayu mahoni dengan ukirannya yang indah. Nihil, dia tidak menemukan tasnya dan barang-barangnya. Sial! Tentu saja mana mungkin penculik itu membiarkan ponsel Laura ada di sini.


Laura lalu berjalan ke arah pintu dengan daun ganda yang melengkung di bagian atasnya. Dia perlahan mendekat. Mencoba untuk mendengarkan sesuatu yang mungkin bisa dia dengar di balik pintu tebal ini. Laura menempelkan perlahan daun telinganya.


"Apakah dia sudah sadar?" Suara berat laki-laki terdengar.


"Entahlah, aku belum masuk memeriksanya," jawab yang lain.


"Tak perlu, Tuan akan segera tiba, kita hanya diminta berjaga," kata pria yang sepertinya suaranya mirip dengan pria yang pertama.


Laura mengerutkan dahinya. Tuan siapa? Siapa yang sudah menculiknya. Mata Laura membesar! Apakah mungkin Tuan El? bukannya Laura sudah bilang dia akan membayar hutangnya dengan cara mencicil! Masa begitu saja dia harus diculik dan disekap begini! Laura segera panik!


"Hei! Siapa pun kau di sana! Aku tidak takut! Bukannya aku sudah bilang aku akan mencicilnya! Aku sudah mengirimkan uang $500 pada Tuanmu! Belum separuh sih, tapi bukannya aku sudah bertekat baik!" Teriak Laura sambil menggedor-gedor pintu itu tanpa rasa takut.


Tak ada dalam kepalanya yang dangkal itu bahwa mungkin saja apa yang dikatakan Kate sebelumnya benar. Tak ada dalam pikirannya, mungkin saja orang-orang itu akan mencelakakannya. Laura hanya berpikir dia harus membayar hutangnya. Bukannya dia tak punya musuh sama sekali?


"Hei! Aku tak akan berhenti sampai kalian membukakan pintunya." Berisik Laura terus memukul pintu kayu itu.


Wajahnya langsung cemerlang ketika mendengar suara kunci yang sedang dibuka. Dia malah tak sabar untuk bertemu Tuan El, orang yang mengaku-ngaku sebagai mafia. Padahal Laura tahu dia hanya penjahat kelas teri.


Wajah senang Laura langsung berubah seketika saat melihat pintu itu terbuka. Seorang pria dengan postur tubuh besar dan wajah yang sangar terlihat. Dia menggunakan senjata laras panjang yang dikalungkan di tubuhnya. Wajahnya sama sekali tak ramah.


Di titik itu Laura baru sadar bahwa dia tidak berurusan dengan Tuan El, Tuan El tak mungkin melakukan ini padanya. Laura mundur ke belakang tatkala pria itu masuk ke dalam ruangannya.


"K-kau si-siapa?" tanya Laura gemetar.


Pria itu hanya melihat Laura dengan tatapan tajam dan datarnya. Melihat wanita dengan tubuh kecil yang gemetar di depannya. Wajahnya memang cantik, tapi Max rasa kurang cerdas. Dia sedikit bingung, kenapa Tuannya bisa menyukai wanita seperti ini?


Max sudah memeriksa tentang kehidupan wanita ini. Dia memang pernah menjadi seorang dokter. Tapi selain itu, kehidupannya tak ada yang menarik. Tak pernah ada prestasi atau apa pun. Malah bisa dibilang dia adalah gadis manja yang semua kebutuhannya ditopang orang tuanya yang kebetulan adalah seorang menteri dan ibunya juga seorang dokter. Jika Max bisa menganalisa, wanita ini hanya merepotkan saja.


"Kau melihat apa?" tanya Laura yang sedikit risih ditatap oleh Max. Dia kira pria ini ingin melakukan memperkosanya atau bagaimana?


"Tuan akan datang sebentar lagi. Lebih baik Anda bersiap-siap, mandilah, Anda sudah tidak mandi selama tiga hari," ujar Max datar saja dengan menggunakan bahasa Inggris karena dari tadi Laura juga menggunakan bahasa Inggris saat berbicara dengannya. Dia membalikkan tubuhnya setelah selesai berbicara.


Laura mengerutkan kembali dahinya. Tiga hari? Jadi dia sudah dibuat tidak sadar selama tiga hari? Pantas saja perutnya begitu lapar sekarang.


Tapi Max tak menjawabnya. Dia hanya diam dan tiba-tiba ada beberapa wanita yang datang ke arah Laura membawa beberapa barang. Laura tentu kaget. Tapi yang membuatnya kesal adalah pria itu tidak menjawab dan malah kembali menutup pintu kamar itu.


Laura semakin bingung ketika melihat ke lima wanita itu langsung melakukan tugasnya. Dua meletakan sesuatu yang seperti makanan di meja makan. Dua orang meletakan beberapa barang dan baju yang mereka bawa ke ranjang dan meja rias. Seorang lagi langsung masuk ke kamar mandi. Laura benar-benar tak mengerti.


"Nona, silakan makan. Makanan Anda sudah siap," ujar salah satu dari mereka.


"He?" Kaget Laura. Dia segera melihat ke meja makan yang sudah lengkap semua makan yang begitu menyelerakan. Mulai dari daging hingga mie dan sayuran ada semua di sana. Buah-buahan pun tampak segar terkupas.


Perut Laura langsung bergemuruh melihat makanan itu. "Ini semua untukku?"


Pelayan itu mengangguk tanpa banyak bicara. Laura yang sudah tak sabar langsung duduk dan menyantapnya. Nyatanya, tiga hari tak mengisi perutnya membuat dia mudah menjadi mual. Mungkin karena terlalu kosong hingga tak bisa lagi makan banyak. Laura mendorong piringnya yang masih cukup banyak makanan. Nafsu besar, apalah daya, lambungnya menolak.


"Nona, air hangat bunga mawar Anda sudah selesai," ujar pelayan lain dengan sungkan.


Laura yang baru menarik napas menennagkan diri dari mual perutnya langsung melirik pelayan itu. Apa? Air mawar?


"Kau menyediakan apa?" Tanya Laura tak percaya. Seumur-umur dia tak pernah mandi dengan air seperti itu.


"Air hangat bunga mawar," ulang pelayan itu.


Laura langsung berdiri. "Benarkah kau pakai bunga mawar asli?" tanyanya.


Pelayan itu hanya mengangguk. Laura membesarkan matanya melihat bath up berisi penuh dengan kelopak mawar merah. Sayang sekali, pikirnya polos.


Walaupun merasa aneh. Akibat tidak mandi tiga hari membuat Laura merasa gatal di seluruh tubuhnya. Laura pun merasa sayang jika tidak menggunakan air itu, dan dia memutuskan untuk berendam di sana.


Sudah lama rasanya tak merasa kehangatan yang begitu nyaman. Tiba-tiba Laura yang tadinya menikmati kehangatan itu langsung menganalisa. Daerah tempatnya berkunjung, bukannya sedang musim dingin? Tapi kenapa di sini terasa jauh lebih hangat? Apakah dia sudah tidak ada di daratan Eropa lagi?


Hal itu membuat Laura mempercepat mandinya. Saat dia keluar kamar, hanya tinggal dua orang pelayan yang ada di ruangan itu. Laura juga kaget melihat seprai tempat dia tidur sudah berganti dengan sprei putih yang tampak begitu bersih. Sebuah gaun terletak di sana. Gaun berwarna Lilac yang begitu cantik.


"Silakan Nona, ini adalah alat-alat kosmetik Anda, " ujar pelayan itu.


Laura melongo. Di sana terdapat deretan kosmetik dengan merek ternama. Satu setnya harganya bisa berpuluh hingga ratusan juta.


"Sebenarnya ini ada apa? Dan siapa tuan yang kalian maksud?" tanya Laura lagi berbahasa Inggris dengan sedikit curiga. Bagaimana dia mendapatkan begitu banyak barang-barang bermerek dari seseorang yang tak dikenalnya.


Pelayan itu hanya diam. Tak merespon dan hanya menunduk.


"Kalian tuli, buta atau bagaimana? Tidak salah satu dari kalian tadi berbicara denganku. Kalau kalian tidak berbicara. Aku tidak akan menggunakannya," ancam Laura. Ini sudah terlalu kelewatan. Apalagi gaun itu terlihat begitu mewah.


Pelayan itu saling pandang. " Kami tidak boleh berbicara kecuali hanya untuk pekerjaan kami," ujar salah satu dari mereka.


"Baiklah, kalau begitu aku tak akan menggunakannya. Aku pakai saja jas mandi ini untuk bertemu dengan Tuan kalian Itu, memangnya siapa sih dia?" Tanya Laura lagi. Apa salah satu pria yang pernah mendekatinya saat dia berjalan-jalan di Eropa ini. Atau mungkin salah satu dari secret admirer-nya. Memikirkan itu entah kenapa Laura jadi merasa berbunga-bunga. Umurnya sudah hampir kepala tiga tapi dia masih punya secret admirer..


...****************...


jika banyak typo bertebaran, besok saya edit lagi lebih baik ya kak. soalnya seharian sibuk dengan kerjaan. maaf ya