
“Hei, aku dengar dari nenekmu. Kau pergi untuk menjemput Moira?” ujar Stevan semangat tat kala Xavier mendatangi kantornya.
“Ya,” singkat Xavier yang hanya melirik Stevan.
“Benarkah? Lalu di mana dia sekarang? apakah dia ada di rumahmu?” tanya Stevan semangat. Akhirnya dia akan bertemu lagi dengan gadis kecil cantiknya. Pikirannya membayangkan bagaimana wajah Moira sekarang. Apakah masih sama imutnya seperti dulu?
“Tidak. Dia tidak ikut dengan kami. Graciella membiarkan dia bersama dengan orang tua angkatnya,” ujar Xavier lagi.
Dia masih teringat wajah putri kecilnya. Baru sehari dia sudah ingin kembali ke sana. Tapi hal itu tidak mungkin sering dilakukan olehnya. Karena jika dia terlalu sering datang ke tempat itu, maka dikhawatirkan ada orang yang akan mengetahui keberadaan Moira. Bahkan pada Stevan pun saat ini dia tidak ingin terbuka di mana Moira berada. Untungnya dia sudah mengerahkan beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Moira dan keluarga angkatnya.
“Ha? Kenapa bisa begitu? Kenapa tidak membawanya ke sini dulu untuk beberapa minggu untuk bertemu denganku lalu kembali ke sana? Lalu apakah Graciella tidak sedih, aku tahu bagaimana dia begitu menyayangi putrinya itu,” tanya Stevan dengan wajahnya yang kecewa. Harapannya untuk bertemu dengan Moira kecilnya pupus sudah.
“Moira sangat dekat dengan ibu dan ayah angkatnya. Lagipula, jika di sini. Akan sangat sulit untuk menjaga keamanannya walau kita berdua melakukannua. Orang-orang yang tidak menyukaiku akan mulai menjadikannya target. Saat ini dia di jaga ketat dan tempatnya juga cukup terpencil. Jika terlihat saja orang asing dari radius sepuluh kilometer dari sana. Bawahanku akan segera bertindak,” Ujar Xavier dengan sangat serius.
“Wow, ya. Itu terdengar seperti dirimu. Kau memang ayah paling protektif yang pernah aku temui,” ujar Stevan.
“Kita tidak boleh lengah, orang yang memfitnahku pastinya tidak main-main dalam melancarkan niatnya. Aku tidak tahu apakah hanya aku sendiri yang dia incar. Ataukah Graciella, jika tiba-tiba Moira datang ke sini. Dia akan lebih mudah untuk menjadikannya sasaran. Karena itu aku membuat dia tetap di sana sementara agar penjagaannya lebih maksimal,” jelas Xavier lagi.
“Ya, kau ada benarnya juga. Jika Moira di sini kau tidak mungkin melarangnya untuk keluar. Nenek dan ibumu pasti akan membawanya pergi menemui teman-teman mereka. Saat Graciella dan Moira ada dalam satu tempat maka keadaan berbahaya itu akan berlipat ganda. Berjanjilah, setelah semua ini selesai kau harus membawaku menemuinya,” ujar Stevan dengan senyumannya yang kembali merekah.
“Hmm, Lalu bagaimana dengan perkembangan tentang kasus pembunuhan Robert Kim? Sudah dapat petunjuk siapa yang melakukannya?” tanya Xavier dengan nada serius.
“Belum, sampai saat ini masih belum di dapatkan siapa yang melakukan hal itu. Kami sudah mengawasi orang-orang yang dicurigai kemungkinan besar bisa melakukan hal itu. Tapi sepertinya tidak, mereka tidak terlibat,” ujar Stevan yang langsung serius, meninggalkan wajah kecewanya.
“Adrean?” tanya Xavier.
“Dia sepertinya tidak terlibat sama sekali. Sehabis pemakaman dia tetap melakukan apa yang selalu dia lakukan dan tidak ada tanda-tanda sama sekali dia menghubungi seseorang. Aktifitasnya sama sekali tidak mencurigakan,” ujar Stevan.
Xavier tampak berpikir. Dari awal dia menaruh kecurigaan pada Adrean. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pria itu sudah berubah. Tapi Xavier masih menaruh curiga padanya.
“Sepertinya kami membutuhkan keahlian dari Graciella,” ujar Stevan yang langsung membuat Xavier menatap ke arah Stevan dengan mengerutkan dahinya.
“Tidak bisa. Dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kami,” ujar Xavier.
“Ya,” ujar Xavier seadanya. Dia tidak ingin membantah tentang isu kehamilan Graciella. Biar saja, agar semua orang yang menyukai Graciella mengerti bahwa Graciella sudah pasti miliknya.
“Baiklah, aku akan mengabarimu jika nantinya aku menemukan petunjuk yang bisa menunjukkan siapa pembunuh Robert Kim. Ehm? Bagaimana dengan pencalonan menjadi presiden?"
"Aku tidak punya minat menjadi presiden dari awal, itu hanya pancinganku untuk melancarkan rencanaku. Aku akan mengundurkan diri dari pencalonan sesuai janjiku dengan Tuan Peter."
"Sayang sekali, padahal elektabilitasmu sangat tinggi. Aku dengar Antony juga tiba-tiba mencalonkan diri, apa kau tahu itu?" Tanya Stevan.
"Siapa yang tak tahu, ayahnya adalah seorang wakil presiden. Sedikit banyak ayahnya atau dia sendiri punya keinginan menjadi presiden."
"Jika menggunakan jejak ayahnya. Aku rasa Antony punya peluang dalam pemilihan nanti," ujar Stevan lagi.
"Ya, dia punya, apalagi jika terjadi sesuatu pada saingannya yang lain hal itu akan membuat masyarakat mengalihkan. Aku yakin mayoritas mereka akan memilih Antony," ujar Xavier lagi.
"Politik memang terlalu sulit untuk diikuti."
"Ya, karena itu aku tidak ingin masuk ke dalamnya. Baiklah, aku harus pergi sekarang." Xavier segera berdiri dari kursinya.
"Ok, Ehm, kirim salamku pada Graciella. Tapi, serius, aku rasa jika memang kau ingin menemukan siapa orang yang menjadi dalang semua hal ini, kau harus berdiskusi dengan Graciella. Dia selalu punya sudut pandangan yang lain dari pada yang lain," ujar Stevan lagi, soal ini dia benar-benar serius mengatakannya.
Xavier tampak diam sejenak berpikir. "Aku akan memikirkannya," ujar Xavier dan langsung berjalan keluar dari ruangan Stevan. Stevan hanya melihat ke arah pria itu pergi dengan helaan napas berat. Jatuh cinta pada wanita yang salah, memang paling menyiksa.
****
"Lihatlah, apakah menurutmu dengan dekorasi ini? Rasanya bagus juga jika semuanya ditata dengan nuansa putih," ujar Monica yang melihat desain dekorasi yang ada di tabletnya. Sudah banyak contoh dekorasi yang tentuhnya megah dan mewah yang dikirimkan oleh pihak dekorasinya nanti.
Graciella melihat gambar yang ditunjukan oleh Monica. Sebuah dekorasi yang tampak begitu mewah dipenuhi bunga-bunga berwarna putih. Graciella tiba-tiba teringat tentang acara pernikahannya yang pertama. Pernikahan itu juga cukup meriah. Punya banyak undangan yang dia yakin semuanya hanya orang-orang bayaran dari Adrean, karena setelah itu tak satu pun dari mereka pernah kembali dia temui. Graciella masih sangat muda. Terlalu naif bahwa memikirkan pernikahan hanya sekedar keindahan dalam pestanya. Tapi bahkan saat pestanya belum selesai, neraka dalam hidupnya di mulai. Entahlah, hingga sekarang dia masih tak habis pikir. Apa yang membuat Adrean melakukan itu padanya. Jika hanya kerena dia tidur dengan Xavier seminggu sebelumnya, rasanya itu terlalu kejam.
“Graciella?” tanya Monica yang melihat Graciella malah tampak menerawang jauh.
“Oh? Ya, maaf Ibu. Ehm, tapi apakah ini tidak berlebihan. Aku rasa untuk pernikahan kedua, ini akan terlalu mencolok, aku rasa aku hanya ingin pernikahan yang sederhana,” ujar Graciella dengan senyuman sungkannya. Bukan tak suka, hanya saja dia merasa sudah tidak cocok dengan pernikahan ala cinderella