
Graciella tampak terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya. Sejak mereka mendarat. Mereka harus pergi ke sebuah dermaga dan naik sebuah speedboat khusus yang membawa mereka ke tempat yang mereka tuju.
Dari speedboat itu Graciella bisa melihat sebuah desa yang sangat indah. Gedung-gedung dengan cat berwarna-warni seperti warna merah,hijau terang, kuning dan juga biru tertata di atas tebing pesisir pantai itu. Selain itu tempat mereka akan bersandar begitu indah dengan tanjung berbatu. Air lautnya berwarna biru terang yang sangat bersih dan begitu jernih. Desa di atas tebing itu bagaikan sebuah desa di dalam dongeng.
Xavier merangkul tubuh istrinya yang tampak masih terkagum dengan pemandangan yang ada di depannya. “Selamat datang di Manarola, Cinque Terre."
Graciella tersenyum senang merasakan angin laut Mediterania yang menerpa tubuhnya. Mereka turun dari speedboat itu. Xavier segera membawa Graciella menyusuri sebuah jalan batu di sisi-sisi tebing berbatas langsung dengan lautan. Memang tempat itu hanya memiliki jalanan berbatu tanpa ada jalan yang bisa dilewati oleh mobil membuat kota itu menjadi begitu asri dan tenang. Graciella bahkan takjub melihat setiap sudut kota cantik itu. Mereka segera menuju ke arah sebuah pondok pribadi yang sudah di sewa khusus oleh Xavier untuk mereka. Arnold berhenti mengikut mereka saat mereka turun dari Speedboat.
Graciella semakin tidak bisa menutupi wajah keterpukauannya melihat pemandangan dari pondok pribadi mereka. Suasananya begitu indah. Tepat di samping ruang tempat tidur mereka langsung terlihat pemandangan yang membuat mata sayang untuk berkedip. Di depannya sebuah kolam renang pribadi berbatas langsung dan cocok dengan pemandangan laut Mediterania yang menentang di depan mereka. Graciella benar-benar tidak pernah tahu ada pemandangan yang begitu indah di dunia ini.
“Bagaimana? Kau suka?” tanya Xavier yang langsung mendekap istrinya yang masih terpaku dengan pemandangan di depannya.
“Iya, bagaimana kau bisa mendapatkan tempat ini?” tanya Graciella, dia langsung melirik ke arah Xavier. “Jangan bilang ini juga dicarikan oleh Arnold atau Fredy?”
Xavier tersenyum tipis tapi terlihat manis, “Bukan.”
“Lalu?”
“Seseorang pernah mengatakan bahwa tempat ini sangat cantik. Jadi aku berjanji akan membawa orang paling yang penting bagiku nantinya ke sini. Aku sudah meminta Arnold untuk merencanakan liburan kita ke sini seminggu yang lalu dan akhirnya kita ada di sini,” jelas Xavier.
Graciella mengerutkan dahinya. “Seseorang? Siapa?”
Xavier hanya memainkan bibirnya tapi tidak mengucapkan sepatah kata pun. “Bukan siapa-siapa, yang penting sekarang, kita harus menikmati liburan ini,” ujar Xavier yang langsung saja menggendong Graciella.
“Xavier! Apa yang kau lakukan?” teriak Graciella tentu saja langsung kaget apalagi Xavier dengan cepat membawanya ke tepian kolam renang. “Xavier, jangan! Aku masih menggunakan gaun!”
Tapi Xavier sama sekali tidak mendengar perkataan Graciella dan langsung menjatuhkan Graciella di dalam kolam renang itu. Graciella tentu langsung masuk ke dalam kolam renang yang terasa sedikit hangat. Graciella langsung naik ke permukaan. Mengusap wajahnya dan melihat Xavier yang sudah membuka bajunya.
“Curang sekali!” ujar Graciella menyipratkan air ke arah Xavier yang sudah selesai membuka baju. Tak lama pria itu langsung masuk saja ke dalam air itu. Graciella tertawa kecil melihat Xavier yang terjun ke dalam kolam, riak air yang dibuat oleh Xavier membuat Graciella harus mengusap kembali wajahnya. Tak lama Xavier muncul dipermukaan dan segera mendekati Graciella.
Xavier menarik tubuh Graciella yang ada di depannya. Membuat wanita itu tidak bisa menjauh darinya. Xavier menatap Graciella dengan sangat dalam, membuat mata mereka langsung terpaut cukup lama. Xavier segera kembali mendaratkan sebuah ciuman dalam. Ciuman itu lembut ******* bibir Graciella. Membuat perasaan yang mengalir hingga keluruh tubuh mereka.
Graciella juga mendekatkan tubuhnya pada Xavier yang mencoba menanggalkan gaun itu di dalam air. Meloloskannya dengan mudah karena memang gaun itu bukanlah gaun yang terlalu pas ke tubuh Graciella. Sejenak saja tubuh Graciella sudah hampir polos. Hanya tinggal pakaian dalamnya. Xavier kembali menjadikan bibir Graciella sasarannya. Tapi kali ini ciuman itu bukanlah ciuman yang lembut melainkan ciuman yang penuh dengan perasaan dan hasrat.
Xavier mengelus setiap jengkal tubuh Graciella. Membuat Graciella menggeliat kegelian. Pautan mereka terus saja bergulir hingga akhirnya Xavier menggiring Graciella ke pinggir kolam lalu membawa istrinya itu ke dalam pondok itu.
Xavier mengambil handuk dan membersihkan sejenak tubuh mereka berdua sebelum dia segera menghempaskan tubuh Graciella ke ranjang. Xavier menindih tubuh istrinya dan menciumnya kembali. Merasakan tubuh Graciella yang terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Wajah Graciella pun terlihat lebih memerah. Membuat Xavier sedikit mengerutkan dahinya.
“Apa kau sakit?” tanya Xavier yang merasa kehangatan tubuh Graciella lebih dari biasanya.
“Tidak, aku hanya ….” ujar Graciella yang langsung mencium bibir Xavier. Sebenarnya tubuhnya yang menghangat karena hasratnya yang sudah terlalu memuncak. Xavier langsung menerima ciuman itu dan langsung melanjutkan aksinya.
“Ahh ….” Graciella mendesah pelan ketika Xavier mencium turun ke leher dan juga pundaknya. Napasnya tertahan dan tangannya menggenggam erat sprei ketika sensasi geli dan nikmat itu mengalir ke seluruh tubuhnya saat Xavier mulai dengan lembut bermain di daerah dadanya. Puas bermain di sana, Xavier menyisir turun dengan bibirnya. Mengecup pelan perut rata Graciella membuat Graciella benar-benar kegelian.
Tubuh Graciella melengkung ketika tangan Xavier mulai menjelajahi bagian bawah tubuhnya. ******* Graciella membakar semangat Xavier untuk bisa membuat istrinya merasakan kenikmatan lebih. Tubuhnya yang menggeliat-geliat benar-benar menggoda buat Xavier untuk melanjutkan aksinya.
“Sayang,” panggil Graciella.
“Kau memanggilku tadi dengan apa?” tanya Xavier yang merasa senang Graciella memanggilnya begitu ketika mereka melakukan hal ini. Xavier menatap mata sayu yang menahan nikmat, bibir mungil yang terbuka sedikit menggoda. Memandangnya seolah meminta lebih.
“Sayang,” ulang Graciella lalu menggigit bibirnya. “Aku mau lebih,” ujar Graciella. Sudah tidak tahan dengan semua kenikmatan yang membuatnya hampir gila. Xavier tersenyum dan mengecup pelan bibir Graciella.
“Tentu,” ujar Xavier yang langsung memberikan apa yang diminta oleh Graciella. Graciella menutup matanya sambil menggigit bibirnya dan mere’mas seprai menahan perasaan yang diberikan oleh Xavier.
Suara ******* mereka saling bersaut. Keringat mereka bersatu dengan kehangatan. Gerakan-gerakan lembut dan penuh perasaan sengaja dilakukan oleh Xavier agar bisa menikmati momen ini dan tak ingin cepat-cepat berakhir. Xavier dan Graciella beberapa kali mencoba untuk mengubah posisi mereka.
Gerakan Xavier semakin lama semakin cepat. Graciella tahu bahwa suaminya sebentar lagi akan menuju puncaknya. Graciella pun entah sudah berapa kali merasakan sengatan listrik yang rasanya hampir meledakkan dirinya.
“Aku akan keluar,” ujar Xavier berat.
“Hu-um,” jawab Graciella yang pasrah saja. Xavier langsung mencium dalam bibir Graciella saat tubuhnya menegang. Graciella memeluk tubuh suaminya itu dengan erat sebelum keduanya tertidur lemas bersama dalam pelukan hangat.