
“Graciella!” tiba-tiba saja suara dari Stevan membuat semua pandangan mengarah ke arahnya. Stevan mengerutkan dahi melihat Adrean yang sudah ditahan oleh tiga orang bawahan Xavier. Pria ini mau apa lagi? Tapi dia tidak bisa berlama-lama, ada kabar yang harus cepat dia sampaikan pada Graciella.
“Stevan? Ada apa?” tanya Graciella. Melihat kedatangan Stevan, perasaan Graciella menjadi tambah tak nyaman.
“Ikut aku sekarang,” ujar Stevan dengan halus tapi juga tidak bisa ditolak sama sekali. Graciella mendengar itu langsung mengangguk keras dan tampak langsung ingin bergerak.
“Aku akan mengambil perlengkapanku dulu, tunggu sebentar,” ujar Graciella segera bergerak cepat masuk ke dalam rumahnya.
Stevan melihat Graciella yang langsung menghilang. Dia lalu memindahkan matanya melihat ke arah Adrean. Dengan diam dan juga dengan tatapan sedikit menganalisa, Stevan memiringkan wajahnya menatap Adrean.
“Apa yang kau lihat?” tanya Adrean karena tak suka dengan tatapan Stevan seolah mengejeknya.
“Kau tahu, kau pria paling tidak beruntung di dunia ini. Melepaskan wanita sepertinya dulu, kau benar-benar membuang berlian hanya untuk mencari kerikil di sekitarnya.”
“Jangan banyak berbicara kalau kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau pun sama saja. Mengejar seseorang yang tak akan pernah kau dapatkan.”
“Setidaknya aku lebih baik. Aku masih bisa berdekatan dengannya. Kau? Dia bahkan tak mau mendengar suaramu.”
Adrean tentu tak terima dengan kata-kata Adrean. Dia ingin menyerang Stevan tapi sekali lagi tiga orang bawahan Xavier mengunci pergerakannya. Semakin dia berusaha untuk melepaskan diri atau bergerak, semakin erat pula kunciannya.
“Aku sudah siap. Ayo pergi,” ujar Graciella yang sudah siap berganti pakaian dan juga tasnya. Dia tidak ingin berlama-lama. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Stevan mengangguk, Graciella langsung melangkah pergi meninggalkan Adrean. Stevan mengikutinya saat Graciella sudah ada di sampingnya. Sebelum menutup pintu untuk pergi, Stevan seolah menunjukkan kemenangannya dari Adrean. Sebuah senyuman mengejek diberikannya pada Adraen yang rasanya kesal sekali. Dia kembali berontak saat mobil itu pergi, tapi sekali lagi. Dia tidak bisa melepaskan dirinya. Graciella! Kau pasti nantinya akan dating padaku! Tunggu saja nanti! Pikir Adrean lagi.
******
“Keadaannya kritis, Tuan, saya sarankan untuk anak Anda di bawa ke rumah sakit yang lebih besar,” ujar Dokter itu tampak kewalahan. Rumah sakit itu hanya sebuah rumah sakit kecil yang fasilitasnya pun tak mumpungi untuk menghandle penyakit seperti ini. Xavier mendengar hal itu hanya menekan rahangnya kuat.
“Komandan, Helikopter sudah siap,” ujar Arnold lagi, dia tahu pasti ini akan terjadi. Melihat keadaan gadis kecil itu, sepertinya rumah sakit yang ada di sekitar ini tak akan sanggup menanganinya.
“Kami akan memindahkannya dengan helikopter, bagaimana?” tanya Xavier pada dokter itu.
Dokter itu bergerak cepat. Setelah semuanya siap, Xavier dan beberapa tim dari rumah sakit itu akhirnya langsung mengudara menuju ke rumah sakit yang terbesar yang ada di kota. Mereka tidak bisa buang-buang waktu lagi. Xavier hanya melihat dengan nanar wajah gadis kecil yang sekarang pucat, bagaikan tak ada darah di tubuhnya. Apakah dia benar-benar Moira?
Helikopter itu segera ingin mendarat di sebuah helipad yang ada di atas rumah sakit paling besar di sana. Xavier bisa melihat Graciella dan juga Stevan yang sudah menunggunya di sana. Xavier memang meminta Stevan untuk menjemput Graciella. Bagaimana pun dia harus menjelaskan keadaan ini. Jika dia benar-benar Moira, maka Graciella harus tahu keadaannya.
Graciella menahan napasnya. Angin kencang ciptaan dari baling-baling helikopter itu menghempas tubuhnya. Tapi dia bergeming. Matanya dengan cemas melihat helikopter yang cukup besar itu. Hatinya tak karuan sekarang, apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa harus di rumah sakit? Apakah ada yang terluka? Siapa? Moira kah atau Xavier? Graciella tak bisa lagi menutupi kepanikannya.
Helikopter itu akhirnya menjejak daratan. Begitu aman, pintu helikopter itu segera terbuka dan Graciella juga langsung refleks berlari ke arahnya. Dia bisa melihat yang pertama kali turun dan melompat dari helikopter itu adalah Xavier. Perasaan lega sedikit menghampirinya, setidaknya dia tahu pria itu tidak apa-apa.
Tapi perasaan lega itu hanya sepintas. Ketika dia melihat berangkat yang keluar dari sana. Graciella langsung menutup mulutnya karena kaget melihat siapa yang berbaring di atasnya. Graciella langsung melihat ke arah Xavier. Perasaannya sekarang benar-benar cemas dan ketakutan.
“A-apa, apa dia?” tanya Graciella menatap Xavier yang membantu untuk menurunkan barangkatnya.
“Aku belum tahu, tapi Robert Kim membawanya pergi,” ujar Xavier dengan wajahnya sedikit merasa bersalah. Dia sudah berjanji akan melindungi Moira, tapi dia malah membiarkan hal ini terjadi padanya.
Graciella hanya diam melihat ke arah gadis kecil yang lemah berbaring di berangkat. Infus dan juga alat-alat penunjang kehidupannya yang lain tergantung di sebelahnya. Saat berangkat itu turun menapak daratan, Graciella langsung berdiri di sisinya. Air matanya langsung mengumpul tapi secepatnya dia seka. Dia ingin melihat dengan jelas bagaimana wajah anaknya sekarang.
Kesedihan itu langsung mengiris hatinya bagaikan sembilu tajam yang mengoyaknya perlahan. Tangis yang tadi dia coba tahan tak bisa lagi dia tahan. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sudah dia perbuat pada gadis kecilnya! Graciella tak bisa lagi mengikuti berangkat yang di dorong dengan cepat masuk ke dalam Gedung itu. Graciella hanya lemas dan hampir terduduk di lantai sebelum tubuhnya langsung ditangkap oleh Xavier.
“Graciella, kita harus kuat,” ujar Xavier yang melihat bagaimana sakitnya Graciella melihat hal ini. Graciella menatap nanar ke arah Xavier. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, dia hanya menangis kuat.
Ibu mana yang akan sanggup melihat anaknya seperti itu. Dia tidak pernah ada di sisi anaknya selama ini. Saat dilahirkan dia langsung dipisahkan secara paksa. Saat kembali bersama, mereka merebutnya kembali. Mengatakan bahwa dia sudah meninggal hingga Graciella hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Entah bagaimana kehidupan anaknya tanpa dirinya. Senangkah? Susahkah? Atau bagaimana? Tapi saat mereka menemukannya, keadaannya juga malah begini. Dia benar-benar tak sanggup melihatnya.
“Kau bilang akan menjaga putriku? kenapa dia begini?” tanya Graciella. Rasanya ingin gila sudah. Bagaimana bisa Graciella bangkit sekarang.
“Maafkan aku,” ujar Xavier. Penyesalan yang dalam tampak dalam wajahnya. “Kau boleh menyalahkanku nantinya, Tapi sekarang dia butuh kita. Ayo, kita harus ada di sisinya,” ujar Xavier lagi dengan lembut.
Graciella memalingkan wajahnya. Dia menarik napas Panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dia punya. Benar, putrinya membutuhkan dia sekarang.
Dengan sempoyongan dan beberapa kali hendak jatuh, Graciella akhirnya bisa melangkah masuk ke dalam rumah sakit itu. Xavier perlahan membopong tubuh Graciella. Luka di bagian pinggangnya yang menganga mulai membuatnya kesulitan untuk sedikit bergerak.