Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 208. jangan terlalu semangat!


“Pria di CCTV perempatan itu menunjukkan tubuhnya yang penuh duduk di sini. Bisa dibilang tubuhnya menyentuh stir. Aku tidak tahu kenapa? Mungkin memang caranya untuk menyetir. Tapi jika ini adalah kendaraan si penembak. Dia menembak Robert Kim hingga darahnya mengenai dinding dan juga tiang infus, pastilah di bajunya akan punya bercak darah juga. Sarung tangannya juga berdarah bukan. Maka aku rasa akan ada bercak darah yang menempel di sekitar ini karena sedikit tidaknya, bahkan walau hanya segaris. Darah itu pasti ada,” ujar Graciella yang terus memperhatikan posisinya.


Stevan mengerutkan dahinya membuat kedua alisnya mendekat. Dia langsung melihat dengan tegas ke arah bawahannya.


“Luminol!” ujar Stevan segera.


“Baik komandan!” jawab bawahan Stevan segera. Graciella tersenyum sedikit melihat Stevan mengerti apa yang dia maksud. Dia membuka sabuk pengamannya dan juga mendorong kembali tempat duduknya. Graciella lalu segera turun dari mobil tinggi itu. Bahkan turun pun dia kesusahan hingga harus dibantu oleh Daren.


“Tapi penyewa mobil ini adalah James Lie,” ujar Daren menunjukkan data diri pria yang menyewa mobil ini sebelumnya.


“Dia tidak masuk dengan kriteria pria itu. Fisiknya berbeda sekali dengan pria itu,” ujar Stevan.


“Ya, itulah kenapa aku harus bersusah payah untuk naik dan turun dari mobil ini. James Lie hanya seorang pemilik percetakan, tubuhnya tak lebih dari 158 cm. Dan dari bentuk tubuhnya yang sedikit gempal aku yakin dia tidak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan fisik. Apa kalian tidak mencurigai seorang pria dengan tinggi 158 cm menyewa sebuah mobil yang untuk naik dan turun saja begitu menyusahkan. Aku lebih tinggi sedikit darinya, tapi aku masih kesusahan. Bagaimana lagi dengannya. Aku saja merasa begitu kecil duduk di mobil itu, bagaimana lagi dengannya?” tanya Graciella yang menganalisa. Tentu dia yakin pria dengan tinggi seperti itu tak akan memilih mobil garang yang bahkan susah untuk dia kendarai.


“Jadi ….” Ujar Stevan.


“Jika tes luminol itu positif, kita harus menanyai James, untuk siapa dia menyewa mobil ini. Pembunuh itu benar-benar berhati-hati,” ujar Graciella dengan senyuman.


“Ya, itu benar. Cepat! Lakukan tes luminolnya!” ujar Stevan segera.


“Baik Komandan. Tim pemeriksa akan segera datang,” ujar bawahan Stevan. Mereka hanya diperintahkan mencari tempat penyewaan hingga tidak membawa peralatan yang lengkap.  Graciella tersenyum cukup senang. Penyelidikannya perlahan menemukan titik terang.


“Nyonya, Komandan menelepon,” ujar Serin yang dari tadi memang memegang tas yang dibawa oleh Graciella. Tentu saja dia harus fokus dengan semuanya dan tidak terganggu dengan tas yang dia bawa-bawa.


“Oh, aku permisi dulu,” ujar Graciella pada Stevan dan Daren.


“Ya, tenang saja. Jika kau ingin pulang dulu, kau boleh pergi. Aku dan Stevan akan memberitahumu tentang hal ini. Aku rasa kau sudah cukup lelah. Kau harus beristirahat, pikirkan juga keadaanmu dan bayimu,” ujar Daren segera. Tadi melihat Graciella begitu lincah naik dan turun dari mobil itu sudah membuatnya sedikit pusing. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Graciella. Bisa-bisa Xavier melarangnya untuk bekerja dengannya lagi nantinya. Stevan pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Daren.


“Baiklah,” ujar Graciella yang tahu kekhawatiran kakak angkatnya. Dia segera mengangkat ponselnya dan segera berjalan sedikit menjauh dari Daren dan Stevan yang mulai sibuk. Bawahan Stevan mulai memeriksa bagian-bagian mobil yang lain. Mana tahu menemukan petunjuk yang lain sebelum tes luminol bisa dilakukan.


“Halo?” suara berat itu langsung membuat lengkungan di wajah Graciella semakin jelas.


“Halo, sedang apa suami?” tanya Graciella.


“Aku baru selesai rapat. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah makan siang?” tanya Xavier langsung.


“Belum. Aku sedang di tempat penyewaan mobil. Pembunuh itu menyewa sebuah mobil di tempat ini. Stevan dan Kak Daren sedang menunggu untuk tes luminol. Ehm, apakah bisa makan siang bersama? Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu,” ujar Graciella. Dia menggigit bibirnya tapi sudut bibirnya melengkung indah.


“Baik. Aku akan menunggumu.”


Graciella tidak lagi saat panggilan itu langsung diputus oleh Xavier. Sepertinya dia sudah terbiasa atau memang harus memaklumi sikap suaminya ini saat melakukan panggilan. Graciella langsung mengirimkan lokasinya pada Xavier dan setelah itu dia kembali mendekati Daren dan juga Stevan.


“Kakak, Jenderal, aku akan makan siang dengan Xavier.  Aku akan menunggu hasilnya,” ujar Graciella dengan senyumannya.


“Baiklah. Jangan khawatir. Kami langsung akan mengirimkannya padamu,” ujar Stevan dengan senyuman manisnya.


Graciella lalu melihat ke arah Serin. Dia ingin makan berdua dengan Xavier sekarang. Jadi rasanya dia tak mungkin membawa Serin. Sedangkan mobil Serin ada di kantor karena mereka pergi dengan satu mobil.


“Serin, eh?” kata Graciella.


“Tidak perlu khawatir Nona, saya akan pulang dengan taksi,” ujar Serin yang mengerti. Dia juga tak ingin menganggu momen Komandan dan Nyonyanya. Apalagi dia tahu pastilah Graciella ingin mengabarkan tentang kehamilannya pada Xavier.


“Tak perlu. Tenang saja, aku dan Daren akan mengantarnya pulang ke kantor nanti. Kau tunggu lah di tempat tunggu yang ada penyejuk ruangannya, jangan terlalu lelah,” kata Stevan lagi.


“Baiklah,” ujar Graciella senang. Punya banyak orang-orang yang begitu memperhatikannya sekarang sangat menyenangkan. Apalagi perhatian mereka semakin tinggi ketika tahu Graciella hamil.


Hal ini bertolak belakang sekali ketika Graciella hamil pertama kali. Ketika dia tahu dia hamil, dia sangat bingung dan tertekan. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Adrean. Pria itu pastinya akan meminta dia menggugurkan anaknya. Jika pun Graciella menolak. Dia pastinya akan berusaha bagaimana pun untuk membuat anaknya tidak dilahirkan.


Mungkin karena hal itu juga tadi Graciella sempat merasa bingung. Dia mungkin terbawa kenangannya saat dia hamil Moira dulu. Tapi sekarang perlahan-lahan dia merasakan perasaan senang. Dia yakin, walaupun begitu cepat. Xavier akan bahagia mendengar kabar kehamilannya. Bukannya dia memang ingin memiliki anak seperti yang pernah dia katakan padanya. Entah kenapa, sekarang Graciella malah tidak sabar menunggu Xavier.


Dia melihat perutnya yang tentunya masih rata. Mengelusnya pelan dan merasa menjadi sangat lucu. Senyum manis mengembang lebar di wajahnya.


“Nyonya, Komandan sudah datang,”  ujar Serin yang sebenarnya dari tadi tampak mengamati Graciella yang terus saja senyum-senyum sendiri. Pancaran kebahagian seorang ibu memang berbeda.


“Oh!” ujar Graciella langsung berdiri dengan cepat dari duduknya. Terlalu bersemangat.


“Nyonya, saya rasa Anda harus lebih berhati-hati. Jangan terlalu bersemangat,” ujar Serin yang takut terjadi apa-apa dengan Graciella. Melihatnya berdiri dengan cepat membuat Serin linu sendiri.


“Oh, iya. Aku mengerti,” ujar Graciella. “Aku pergi dulu.”


Graciella langsung melangkah ke arah luar. Melihat sebuah mobi sedan yang sudah terparkir di sana. Xavier yang melihat Graciella berjalan ke arahnya langsung keluar dari mobil itu dan membukakan pintu untuk istrinya yang tampak begitu sumringah. Xavier sedikit mengerutkan dahinya, kenapa Graciella tampak begitu bahagia?