Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
bab 275.


Laura mengerutkan dahinya. Kata-kata itu malah tak menyenangkan baginya. Bukan apa-apa, kata di sini seolah dia hanya sejenak bersama Laura. Dan memang bukannya Antony tak bisa berlama dengannya. Bahkan menginap saja tak bisa.


Laura mendorong tubuh Antony dan melepaskan dirinya. Tentu hal itu membuat Antony kaget.


"Kenapa?"


"Lebih baik tidak membuat aku senang sejenak. Kalau ingin datang sejenak lalu pergi lagi. Lebih baik tak perlu begini," ujar Laura menghempaskan tubuhnya ke sofa. Pelukan itu membuatnya berharap kehangatan itu akan lebih lama bersamanya.


Antony hanya diam. Dia duduk di sebelah Laura yang lagi-lagi pura-pura menonton televisi.


"Bukannya kau ingin aku datang? Aku baca semua pesanmu."


"Kau sudah datang, sudah begitu saja. Setidaknya aku tahu kau sehat." Laura melipat tangannya.


"Aku akan ada di sini selama dua hari," ujar Antony.


Kata-kata itu membuat Laura langsung menatap kearah pria yang ada di sampingnya. Pria itu mengulas senyuman manisnya.


"Kau serius? Bagaimana bisa kau ada di sini dua hari?" Tanya Laura. Tiba-tiba sangat semangat. Tentu meruntuhkan sikap menolaknya tadi.


"Aku tidak bisa datang sepuluh hari ini karena ada beberapa orang yang menyelidikiku. Karena itu aku harus melakukan hal-hal yang tidak mencurigakan. Saat ini, mereka tak bisa mengikutiku karena semuanya tahu aku masih dalam perjalanan kenegaraan. Waktuku dua hari lagi untuk bersama denganmu."


"Benarkah?"


"Jika tak ada masalah atau bencana yang mendadak. Semua bisa diatasi oleh wakilku dan aku akan bersamamu di sini."


Laura tersenyum lebar sekali. Dari matanya terlihat cahaya yang berbinar. Dia tentu senang sekali mendengarnya. Pria ini akan menemaninya selama 2 hari. Tentu itu sudah cukup untuknya sekarang.


"Baguslah," ujar Laura yang mengulum senyumnya. Tentu dia tak mau Antony sampai tahu betapa senangnya dia sekarang. Walau sebenarnya Antony memang sudah tahu.


"Sekarang sarapanlah, aku dengar kau tidak mau makan?" Ujar Anotony.


"Kau tidak makan?" Tanya Laura.


"Aku sudah makan. Aku hanya ingin sedikit istirahat. Tidur di pesawat tak begitu nyaman. Ayo!" Antony menarik tangan Laura dan membawanya kembali ke ruang makan. Makanannya yang sudah dingin juga telah dipanaskan seperti keinginan Antony sebelum dia menemui Laura tadi.


"Iya, iya. Kalau kau ingin berisitirahat. Istirahatlah. Aku sudah dewasa, bisa makan sendiri."


"Tapi walau bisa makan sendiri, tentu tak enak makan sendirian. Aku temani, tapi nanti temani aku beristirahat," pinta Antony lagi.


"Ok," jawab Laura singkat.


***


Laura langsung menghidupkan televisinya. Dia membuka aplikasi nonton film. Satu-satunya hiburanny hanya ini.


Antony sedang membersihkan dirinya di kamar mandi. Suara air terdengar masih deras.


Laura mencari-cari film yang dia sukai. Dia tertarik dengan sebuah film berjudul passenger yang dibintangi oleh Jennifer Laurance dan Chris Part. Sebenarnya dia sudah menonton sedikit trillernya. Sebuah film fiksi ilmiah dicampur oleh romansa.


Pintu kamar mandi itu tak lama terbuka. Antony keluar sudah lengkap dengan kaos dan juga celana tidurnya yang panjang. Dia mengusap air di rambutnya yang biasanya rapi, kali ini terlihat sudah berantakan tapi tetap mempesona.


"Film apa itu?" tanya Antony melihat sebuah pesawat luar angkasa yang besar.


"Oh, film lama. Ini sudah masuk dalam listku. Ehm, kalau tidak salah film tentang seorang pria yang terpaksa bangun di sebuah kapal luar angkasa yang rusak dan seharusnya dia bangun sekitar 100 tahun lagi. Dia merasa kesepian dan tertarik dengan salah satu wanita di kapsul tidur. Dan dengan pertimbangan dia malah membangunkan wanita itu. Mereka berdua di dalam kapal penuh fasilitas, lalu jatuh cinta hingga wanita itu mengetahui bahwa pria lah yang sudah membangunkannya, karena itu mereka harus mati bersama di kapal itu. Ya, seperti itulah yang aku baca," jelas Laura antusias.


Antony yang mendengar itu hanya memandang wajah Laura. Dia senang mendengarkan bagaimana semangatnya wanita ini menjelaskan film itu padanya. Karena itu dia sabar mendengarkannya.


"Sepertinya seru," ujar Antony lagi, dia segera melihat ke arah TV layar datar 80 inchi itu.


Laura sibuk memperhatikan filmnya, sedangkan Antony lebih sibuk memperhatikan Laura yang tampak begitu konsen dengan tontonannya. Entah sejak kapan Laura begitu suka menonton film.


Sampai pada adegan yang membuat Laura membesarkan maranya. Karena itu pula Antony jadi tetarik melihat film itu. Antony menaikkan sudut bibirnya. Film itu menunjukkan bagaimana kedua pemain sedang berdua di atas ranjang.


"Harus dipercepat," ujar Laura mencari remot TV. Entah kenapa, bagai anak kecil, dia merasa malu melihat adegan ranjang di depan matanya.


"Kenapa? Itu tak masalah," ujar Antony lagi.


"Yah! Tapi harus dipercepat." Laura terus mencarinya. Tapi tak menemukan remot itu, seperti tadi ada di sini.


Laura lalu melihat ke arah tangan Antony yang dari tadi diam. Remot itu ada di sana.


"Kemarikan," ujar Laura ingin merampas remot itu. Antony menariknya menjauh. "Sini!" Laura segera mencoba mengejarnya hingga tanpa sadarnya dia berada di atas tubuh Antony.


Dengan sebuah dekapan pelan, tubuh Laura jatuh di atas tubuh Antony, tepat bertumpu di dada pria itu. Laura menatap pria di bawahnya yang memandangnya sayu. Wangi segar menyeruak dari tubuhnya.


"Ehm, remot?" Kata Laura lagi.


"Adegannya sudah selesai?" Ujar Anotony.


"Benarkah?" Laura segera melihat ke arah TV itu. Benar saja adegannya sudah berganti.


"Tapi adegan kita belum."


"Ha …." Laura baru saja memandang ke arah Antony ketika bibirnya langsung dilum'at oleh Antony. Sebuah ciuman diam tapi dalam. Laura pun kaget tapi tak bisa melepaskan dirinya.


Tangan Antony memegang kedua sisi kepala Laura pelan saat ciuman diam itu perlahan bergerak. Dia mengecup bibir Laura dan mulai **********. Laura bisa merasakan pasta gigi mint yang baru saja digunakan oleh Antony.


Napas Antony menyapu pipinya. Entah kenapa, sekarang malah napas Laura yang terasa begitu berat.


Antony menaikkan tubuhnya tak lagi bersandar di kepala ranjang, tapi sama sekali tak melepaskan ciumannya pada Laura. Laura yang mulai terpancing memulai membalas ciuman Antony. Semakin lama semakin bersemangat. Menyedot dan saling menyapu, saling melaga lidah.


Tapi tiba-tiba Antony melepaskan pautannya. Menatap wajah Laura yang sepenuhnya sudah memerah dan matanya yang sendu.


"Sudah," ujar Antony.


"Kenapa?" Laura merasa nanggung. Kenapa malah berhenti? Sepertinya memang dia sedang masa subur hingga merasa begitu terpancing.


"Aku sudah bilang, aku tak ingin memaksamu." Antony bernada begitu lembut.


Laura menggigit bibirnya. Dia tak rela perasaan ini disudahi begitu saja. Antony jahat sekali! Sudah memulainya tapi malah pergi begitu saja. Apakah dia ingin Laura yang memintanya?


"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Antony segera ingin meninggalkan Laura.


...****************...


Pojok Author:


Selanjutnya, umur 21 ke bawah jangan lanjutkan. tunggu besok aja. Walau gak hot, tetep skip. wkkwkw, kalo ngeyel, aku ga nanggung akibatnya ya


UPDATE!!!


ini aku udah setor selanjutnya. tapi di tolak NT, katanya unsur dewasa. padahal biasanya kagak wkwkwk