Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 220. Mari hidup dengan damai!


Saat Xavier sampai di area istana kepresidenan. Tempat itu sudah dikepung bagian depannya. Arnold harus membawa Xavier menuju ke sebuah tempat masuk rahasia yang biasa digunakan untuk mengevakuasi Presiden jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Xavier langsung menyusuri istana kepresidenan yang begitu luasnya. Dia diberitahu bahwa semua orang berkumpul di ruang oval yang ada di dalam sana. Langkahnya dengan cepat membawanya ke depan sebuah pintu besar yang segera terbuka untuknya. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan itu.


Xavier yang tadinya berharap bertemu dengan para petinggi kenegaraan dan juga Presiden langsung menghentikan langkahnya seketika ketika melihat ruangan itu nyaris kosong. Dia sedikit memiringkan kepalanya melihat hanya ada Stevan, Antony, dan dirinya yang ada di ruangan itu.


“Ada apa ini?” tanya Xavier langsung dengan suara berat dan tegasnya. Dia dipanggil oleh Presiden dan bukan untuk bertemu dengan Antony.


“Kemarilah, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu dan Stevan sebelum kau memasuki ruangan itu,” ujar Antony dengan gayanya yang khas. Senyuman ramah yang sekarang terasa sangat mengerikan di wajahnya.


“Aku hanya mematuhi apa yang dikatakan oleh atasanku. Aku datang ke sini untuk bertemu Presiden,” tegas Xavier lagi. Bergeming dia, tak melangkah sedikit pun.


Antony tampak memasang wajah sabarnya. “Xavier, aku adalah presidennya sekarang. Seluruh Jenderal dan petinggi yang ada di ruangan sebelah tempat ini sudah setuju untuk mendukungku. Dengan kata lain, sekarang aku adalah presidennya walaupun aku belum dilantik,” jabar Antony dengan wajahnya yang serius.


Xavier mengerutkan dahinya. Dia melihat ke arah Stevan yang mengangguk pelan. Dia juga sama kagetnya ketika pertama kali datang ke sini.


“Hanya tinggal kalian berdua lah yang belum memberikan suara kemana kalian akan memberikan dukungan. Tapi aku ingatkan. Semua petinggi itu sudah memilihku bahkan Jenderal besar kepolisian dan juga Jenderal besar tentara yang berarti atasan kalian pun sudah memilihku,” ujar Antony lagi dengan senyumnya yang mengembang. Duduk bersandar pada kursi yang biasa diduduki oleh Presiden.


Xavier hanya menggertakkan rahangnya. Dia tidak tahu harus berkata apa jika begini. Jika memang apa yang dikatakan oleh Antony adalah benar. Walau dia berpihak pada Presiden sebelumnya, mereka tetap akan kalah.


“Sudahlah, jangan terlalu tegang seperti itu. Lagi pula sebenarnya kita tidak punya masalah sama sekali bukan? Aku malah ingin berterima kasih banyak atas kerja keras istrimu, Jenderal Xavier dan juga kerja sama dengan Jenderal kepolisian Stevan. Tanpa kalian, aku tidak akan ada di sini. Jadi aku rasa, lebih baik membiarkan hubungan kita menjadi seperti ini. Damai,” ujar Antony lagi.


“Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?” tanya Xavier lagi.


“Aku? Aku tidak melakukan apa pun. Aku hanya benar-benar tidak suka dengan ketidakadilan. Aku juga hanya bersikap hati-hati. Karena itu meminta bantuan dari kalian. Bukannya kalian juga tidak suka dengan ketidakadilan, atau sejak kapan kalian mulai melindungi tersangka?” tanya Antony lagi dengan wajahnya yang tampak sok polos bagi Stevan.


“Kami tidak pernah melindungi siapa pun yang bersalah,” ujar Stevan tegas. Xavier bergabung berdiri di dekat Stevan.


Antony mendengar itu langsung menyeringai. Menaikkan satu sudut bibirnya hingga terlihat begitu licik. “Kalau begitu, kalian melakukan hal yang tepat. Dukung aku.”


“Apa yang membuatmu begitu tega menggulingkan Presiden. Apa kau tidak bisa menunggu satu tahun lagi?” tanya Stevan yang mulai kesal dengan tingkah Antony ini. Xavier memegang pergelangan tangan Stevan. Bagaimana pun dia harus hati-hati dengan Antony yang sekarang.


“Aku tidak menggulingkannya. Masyarakat yang melakukan hal itu. Mereka tidak percaya lagi dengan kredibilitas Presiden Wan, dalam periode masa kedudukannya banyak hal yang mengecewakan. Kasus penculikan, kasus pembunuhan bahkan para politisi dengan terang-terangan saling bunuh satu sama lain membuat masyarakat merasa tak lagi aman di bawah pemerintahanya. Bukannya rasa aman adalah salah satu hal yang harus ada dalam hidup kita?” ujar Antony. “Para Masyarakat mendorongku untuk menjadi Presiden. Mereka datang dan menyuarakan semua keinginan mereka dan mereka ingin aku menjadi Presiden. Aku hanya mendengarkan rakyatku. Bukannya kita semua mengabdi pada mereka? Benar bukan?”


“Bagaimana? Apakah kalian sudah setuju? Sudah ku katakan. Hubungan kita sangat baik sekarang. Untuk apa diperkeruh dengan hal-hal yang tak menguntungkan sama sekali untuk kalian. Tak perlu repot-repot menyelidiki hal yang bahkan orangnya sendiri tak ingin memberikan informasinya.” Antony kembali menyeringaikan senyuman liciknya.


Stevan dan Xavier saling menggenggam erat tangan mereka masing-masing. Pria ini benar-benar licik dan picik.


“Tuan, sudah saatnya,” ujar Ajudan dari Antony yang memberitahukan mereka.


“Baiklah, kita sudah sepakat. Kalian tenang saja, aku tidak akan pernah mengusik kehidupan kalian, tapi ingat, jangan mengusik pula kehidupanku. Mari hidup dengan damai,” ujar Antony berdiri dan memperbaiki jasnya. Dia tersenyum ramah sebelum meninggalkan Xavier dan juga Antony menuju ke ruangan yang ada di sebelahnya.


“Pria itu! Aku benar-benar geram melihatnya!” ujar Stevan yang baru mengeluarkan rasa kesalnya. Xavier dari tadi menggenggam pergelangan tangannya berusaha menahan dirinya agar tidak meledak di depan Antony.


“Kita tidak bisa melakukan apa pun padanya sekarang. Jika dia benar menjadi Presiden. Maka kita bahkan tidak bisa menyentuhnya,” kata Xavier menganalisa. Mereka hanya sebagian dari Jenderal di angkatan bersenjata pemerintahan ini. Masih banyak Jenderal lain yang mungkin sudah ada di bawah Antony. Menyerangnya sekarang sama dengan mencari mati. Bukan, bukannya Xavier takut dan mengikuti apa yang diinginkan Antony. Tapi bertindak gegabah, akan menghancurkan semuanya.


“Kecuali Tuan Peter bisa membongkar semuanya,” ujar Stevan.


Xavier melirik ke arah Stevan. “Kau yakin? Seorang terdakwa berani membuka mulut tentang Presiden. Dia pasti lebih memilih hidup di balik jeruji besi dari pada harus kehilangan semuanya.”


Stevan memipihkan bibirnya. “Politik memang selalu mengerikan.”


****


Graciella tidak bisa tidur sama sekali. Dia hanya duduk cemas melihat apa yang terjadi dari televisi. Masa yang tadinya hanya beberapa puluh orang sekarang sudah hampir ratusan ribu orang. Tentu mereka menuntut mundurnya presiden dan wakil presiden yang menurut mereka sudah gagal. Graciella benar-benar tak habis pikir, bagaimana Antony bisa melakukan hal ini.


“Graciella kau tidak tidur?” tanya Monica yang baru bangun sekitar pukul lima pagi.


“Oh, aku tidur, Bu. Tapi terbangun,” ujar Graciella dengan senyuman cemasnya.


“Apakah Xavier belum juga pulang?” tanya Monica.


“Dia sudah pulang, tapi dia harus pergi lagi. Ada sesuatu yang terjadi di istana kepresidenan,” ujar Graciella. Monica yang melihat hal itu di depan televisi langsung membesarkan matanya. Kaget melihat lautan manusia yang mengepung tempat itu.