Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 135. Aku bisa menjadi presiden.


Xavier segera menutup panggilannya kepada Graciella. Dia tidak ingin Laura curiga dengannya.


“Komandan, mereka semua sudah datang,” ujar Arnold, ajudan Xavier sekarang.


“Baiklah, apakah Devina juga datang?” tanya Xavier menyisipkan ponselnya ke dalam jasnya.


“Sudah, beliau bersama dengan Tuan Robert datang. Mereka membawa surat perceraian itu,” lapor Arnold lagi.


“Baguslah.” Xavier langsung melangkah cepat menuju ke ruang keluarga yang ada di tengah rumah orang tuanya. Xavier memang diminta datang ke sini karena baik keluarganya dan keluarga Devina tampak kaget dengan perceraian mereka.


Xavier langsung membuka pintu ganda yang tingginya hampir 3 meter itu. Dia langsung melihat ayah dan ibunya juga Tuan Robert dan Devina ada di sana. Semua memandang ke datangan dari Xavier. Devina hanya berwajah muram melihat ke arah Xavier yang sekarang duduk di depannya sambil memperbaiki jasnya. Di depan mereka, tampak surat perceraian yang belum ditandatangani keduanya.


“Katakan padaku, kenapa ini bisa terjadi?” ujar Tuan Robert yang hanya memandang Xavier dan David Qing dengan matanya yang menyipit.


“Anda bisa menanyakannya pada Devina,” ujar Xavier tampak santai.


“Aku sudah menanyai cucuku dan alasannya sangat tidak masuk akal. Apa yang terjadi?” tanya Tuan Robert lagi dengan sangat penasaran.


“Lebih baik Anda hanya tahu alasan yang seperti itu, jika Anda tahu yang sebenarnya, aku yakin Anda akan menyeret Devina pergi dari sini,” ujar Xavier lagi mengambil pena dari saku jasnya dan segera menandatangi surat perceraian itu.


David Qing dan Monica hanya diam memandang anaknya menandatangi surat perceraian itu. Tak ada sedikit pun kata-kata bantahan keluar dari mereka. Hal itu tentu membuat Tuan Robert geram. Semua orang di ruangan ini seolah tahu benar alasan kenapa Devina meminta cerai dari Xavier yang sudah mati-matian dia tempat menjadi sosok calon presiden yang baik.


Pemilihan yang lalu, Xavier mengatakan dia masih belum bisa menjadi presiden. Sekarang pemilihan presiden tinggal satu bulan lagi, Devina dan Xavier malah ingin bercerai. Apalagi malah yang membuat masalah adalah Devina. Bagaimana bisa dia meminta cerai dengan Xavier?


“Katakan padaku! Katakan yang sebenarnya!” bentak Robert sambil memukul meja marmer di depannya yang membuat Devina langsung kaget. Robert memandang ke arah David dan Xavier. Merasa mereka sudah membuangnya.


“Tuan Robert! Jangan Anda melakukan hal seperti itu di depan istri saya!” ujar David yang langsung berdiri seketika melihat kelakukan dari Tuan Robert.


“Aku hanya menuntut keadilan! Setelah aku bersusah payah menjadikan anakmu setinggi seperti ini! Kau membuangku? Huh?” ujar Robert Kim  yang juga langsung berdiri menghadapi David Qing.


“Maka kau harus membuka matamu dengan apa yang dilakukan oleh Devina! Bagaimana dia bisa terang-terangan mencoreng nama baik keluarga kami! Suami pergi bertugas dia malah tidur dengan pria lagi! Wanita macam apa yang melakukan hal seperti itu!” ujar Monica yang langsung mengambil alih, mengatakan hal yang sebenarnya agar Robert Kim mengerti duduk perkaranya.


Davina yang mendengar itu langsung membesarkan matanya. Dia dengan gelagapan melihat ke arah Xavier yang tampak tenang. Sementara Robert Kim tampak cukup kaget mendengarnya.


Devina saling menautkan jari jemarinya. Meremasnya dengan erat karena merasa sangat gugup.


“Devina! Kenapa kau tidak menjawab!” ujar Tuan Robert lagi, dia ingin tahu kebenarannya.


“Ini semua salah dari Xavier! Dia tidak pernah ada waktu aku membutuhkannya!” ujar Devina dengan suara bergetar ingin menangis. “Xavier, bukannya kau mengatakan bahwa kau tidak akan mengatakan alasan perceraian kita yang sebenarnya pada siapa pun?” Devina akhirnya merasa dia sedang dikhianati sekali lagi oleh Xavier. Dia bahkan ikut berdiri diantara Robert Kim, David Qing dan juga Monica. Dia tidak ingin disalahkan sendirian akibat perceraian ini.


“Kau kira ayah dan ibuku akan percaya dengan alasan yang seperti itu. Kau lihat, kakekmu saja tidak bisa menerima alasan itu. Yang menikah memang kita berdua, tapi sebenarnya ini pernikahan antara Kakekmu dan ayahku! Alasan karena kau tidak lagi bisa mentolerir keadaanku tak akan bisa diterima oleh mereka. Jadi maaf, Tuan Robert! Kau ingin tahu berapa banyak pria yang Devina sudah bawa ke ranjangku? Jika kau ada di dalam posisiku? Kau akan menerima hal itu? Bagaimana menurutmu? keluargaku juga bukan orang sembarangan yang bisa menerima wanita yang sudah dicicipi banyak pria,” ujar Xavier begitu santai, hanya dia yang duduk menatap pertengkaran ini.


Robert Kim meremas tangannya. Devina hanya tampak begitu takut melihat lirikan mata kakeknya yang begitu tajam menatapnya.


“Tanda tangani surat itu segera!” ujar Robert Kim yang memandang David Qing dengan tatapannya yang sangat dalam. Tak menyangka koalisi begitu lama, rusak hanya dengan seperti ini.


Devina pun menurut. Wanita itu dengan cepat mengambil pena yang terletak di dekat surat perceraian itu dan langsung menandatanganinya. Xavier melihat itu menaikkan satu sisi bibirnya. Devina menyipitkan matanya marah pada Xavier.


Begitu Devina selesai menandatangani surat itu. Robert Kim langsung mencengkram tangannya dengan sangat erat. Tanpa menunggu lama langsung menyeret Devina keluar dan meninggalkan ruang keluarga itu.


David Qing dan Monica juga Xavier hanya memandangi mereka yang buru-buru meninggalkan tempat itu.


“Apa ini tidak akan jadi masalah?” tanya Monica melihat keberingasan Robert Kim.


“Tidak akan ada masalah,” ujar Xavier sambil berdiri. David Qing melirik ke arah anaknya, “Aku tanpanya akan tetap menjadi seorang presiden.” Mantap Xavier menjawab hal itu. David Qing yang merasa anaknya setelah kehilangan ingatan adalah anak yang begitu dia idamkan.


“Tapi dia bisa melakukan hal-hal yang tidak-tidak pada kita,” ujar Monica lagi.


“Maka kita harus mengumpulkan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Aku sudah mengatur pertemuan dengan Tuan Peter,” ujar Xavier lagi dengan wajahnya yang tampak licik. Jika begini David dan Xavier tampak begitu mirip.


“Tuan Peter? Dia adalah saingan kita,” ujar David Qing. Tuan Peter adalah saingan paling berat bagi koalisi dari David dan juga Robert Kim. Pria itu punya ambisi yang sama, tiba-tiba saja datang saat pemilihan ini dengan reputasi bagus di depan para masyarakat.


“Tidak lagi. Dia sudah setuju menjadi wakil ku nantinya,” ujar Xavier dengan sangat tenang. Bahkan David Qing tampak sangat terkejut mendengarkan kata-kata Xavier. Sejak kapan anaknya bisa begitu tertarik dan bergerak cepat untuk menjadi seorang Presiden. Tentu hal itu membahagiakan David Qing. Tak sia-sia dia melakukan begitu banyak hal dan sebentar lagi keturunannya akan meneruskan garis keluarga.


Xavier memandang licik ke arah pintu kosong tempat Robert Kim dan juga Devina pergi. “Ayah, bersiaplah untuk bertemu dengan Tuan Peter!" ujar Xavier melirik ayahnya. David Qing mengangguk pelan.