
“Tuan.” Max menyapa tuannya dengan sedikit membungkuk saat Antony baru saja keluar dari ruangan itu.
“Tetap jaga dia. Jangan biarkan dia keluar. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku. Bagaimana dengan orang-orang yang dikirim oleh Adelia?” tanya Antony lagi dengan wajahnya yang serius.
“Kami sudah membereskannya. Semua orang yang dikirim oleh Nyonya Adelia sudah tidak akan bisa lagi dihubungi olehnya.”
“Bagus.” Antony melihat kembali ke arah pintu ganda itu. Suara isak tangis dari Laura masih terdengar samar. Dia hanya memainkan rahangnya. “Pastikan semua orang tidak bisa menemukan dia di sini. Baik Adelia ataupun Graciella.”
“Baik Tuan.” Max mengangguk mantap. “Tapi Tuan ….” Suara ragu perlahan terdengar.
“Hm? Ada apa?” jawab Antony.
“Tuan, bukannya ini akan sangat berbahaya untuk Anda. Jika saja ada lawan politik Anda yang mengetahui hal ini maka ….” Max terdengar menurunkan nada suaranya ragu-ragu.
“Maka jangan sampai ada yang tahu. Itulah kenapa aku sengaja menugaskan untuk melakukan hal ini. Jangan sampai ada yang tahu!” Antony mewanti-wanti Max dengan sangat serius.
Max mendengar itu langsung mengangguk mantap. “Baik Tuan.
Antony segera berjalan ke arah lift yang tak jauh dari tempatnya. Dia segera menekan tombol itu dan pintu segera terbuka. Dengan cepat dia masuk ke dalamnya dan segera menuju ke sebuah tempat.
Tempat itu bagaikan sebuah lorong bawah tanah yang penuh kelokan. Tapi walaupun penuh dengan kelokan dan tempatnya yang membingungkan. Antony bisa dengan pasti mengarah. Tempat itu lalu menuju ke sebuah pintu khusus. Antony melekatkan sidik jarinya ke alat yang ada di sebelah pintu itu. Sehingga pintu itu segera terbuka. Seketika dia keluar dari sebuah ruangan bawah tanah. Saat dia melangkah keluar. Bagaikan memiliki sensor tersendiri pintu itu tertutup dan hanya menyisakan sebuah tembok kosong. Antony langsung menaiki anak tangga. Dan tiba-tiba saja dia berada di sebuah rumah mewah. Ruangan yang dia lewati sekarang adalah ruangan kerjanya.
Tepat tak lama setelah dia tiba di ruangan itu. Suara ketukan nyaring terdengar dari pintunya. Antony mengerutkan dahinya lalu melihat jam tangan. Sepertinya mereka sudah datang.
“Masuk!” perintahnya. Antony berjalan ke arah meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati besar yang sangat elegan.
Pintu ganda ruangan itu terbuka. Pintu itu memunculkan sosok Adelia yang tampak jauh lebih sederhana dari biasanya. Dia hanya mengurai rambutnya dengan gaun santainya. Wajahnya tampak diam.
“Apa mereka sudah datang?” tanya Antony lagi. Tahu apa yang ingin disampaikan oleh istrinya itu.
“Sudah. Mereka menunggumu di ruang makan,” jawab Adelia dengan nada datar.
“Baiklah, sebentar lagi aku akan datang ke sana.”
Adelia hanya memandangi Antony. Ada banyak hal yang ingin dia katakan tapi bibirnya terkatub dengan sempurna. Antony yang tadinya sudah fokus dengan kertas yang ada di depannya, kembali melihat wajah Adelia.
“Ada apa?” tanya Antony.
“Ibu dan ayahku.” Adelia menggigit bibirnya. Bagaimana mengatakannya. “Mereka pasti merasa aneh jika melihat kita tidur berbeda kamar. Jadi ….”
Antony memainkan rahangnya. “Aku akan tidur di sini sehingga mereka berpikir aku banyak pekerjaan. Lebih baik kau menemani mereka. Aku akan ke sana beberapa menit lagi,” ujar Antony segera sibuk dengan dokumen-dokumen yang memang terlihat menumpuk di depannya.
Adelia mengerutkan wajahnya dengan mimik wajah sedih. Dia menggigit bibirnya. Dia hanya ingin Antony menghargai kedua orang tuanya. Dia ingin Antony mengerti, bukannya akan tetap aneh melihat menantu mereka lebih memilih bekerja hingga larut malam dari pada menemani putri mereka? Adelia hanya ingin punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
“Antony, tak bisakah kau hanya berpura-pura tidur di kamar bersama ku? Itu akan membuat kedua orang tuaku senang melihatnya. Saat mereka datang kemarin. Kau juga lebih memilih tidur di sini. Ibuku bertanya apakah kau lebih senang bekerja dari pada menemaniku?” lirih Adelia mengatakannya.
Antony terdiam sejenak. Memang terakhir kali mertuanya datang. Dia juga menggunakan alasan ini untuk bisa tak sekamar dengan Adelia. Dan apa yang dikatakan oleh Adelia cukup masuk akal baginya. Walaupun hubungan mereka tak baik. Tapi Antony juga tidak ingin memperkeruh keadaannya dengan mertuanya.
“Keluarlah, aku akan menyusul nantinya,” usir halus Antony.
Adelia segera menggigit bibirnya kembali. “Baiklah, kami menunggu saja di ruang makan.”
“Hm, aku kana segera ke sana.”
Adelia segera keluar dari ruangan Antony yang membuat Antony segera mendongakkan pandanganya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya lalu mengusap keras wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Delapan meter di bawah mereka. Sekarang Laura masih menangis tersedu di balik pintu ruangan bawah tanah yang memang dimiliki oleh istana kepresidenan ini. Awalnya diperuntukan untuk ruang rahasia dan perlindungan presiden dari segala marabahaya. Sekarang dia gunakan untuk menyekap seorang gadis yang memang harus diberikan pelajaran olehnya.
Antony melihat ke arah ponselnya. CCTV yang ada di sana menunjukkan hasil tangkapan kameranya langsung di ponsel Antony. Laura masih bergeming di tempatnya. Mata Antony yang tadinya sangat tajam seketika menyuram. Ada perasaan aneh yang muncul melihat tubuh gadis itu bergetar.
Tapi Antony cepat-cepat menutup ponselnya. Dia memang pantas mendapatkannya. Jika dengan cara baik-baik Laura tidak bisa menerima dirinya. Mungkin dengan cara seperti ini dia akan menerimanya. Tidak! Dia tidak punya pilihan. Dia wajib menerima Antony. Karena sekarang hidup wanita itu seutuhnya dimiliki oleh Antony.
Antony langsung tersenyum licik. Dia bangkit dan memasukkan ponselnya ke dalam jas dan segera merapikannya sedikit. Dengan langkahnya yang sangat pasti. Antony segera berjalan ke arah pintu ruang kerjanya.
Dia menuju ke arah ruang makan yang ada di istana kepresidenan itu. Melihat istrinya dan kedua orang tuanya tampak berbincang dengan ceria. Mata Adelia menangkap sosok yang gagah masuk ke dalam ruangan makan itu. Seketika saja tertambat hingga tak dapat lagi memalingkan wajahnya.
“Akhirnya datang juga,” ujar Louise dengan senyuman merekah. Segara berdiri menyambut menantu kebanggaannya. Tak salah dia menerima Antony kembali walaupun dia sempat membuat Louise hampir saja kecewa.
“Ayah mertua. Ibu Mertua.” Antony segera memberikan salamnya. “Maaf sudah membuat kalian menunggu lama.” ujar Antony yang segera mendekati Adelia.
Dengan mesranya merangkul pinggang Adelia. Menunjukkan kemesraan semu pada kedua orang tua Adelia yang hanya tersenyum senang melihat keakuran mereka berdua.