Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 261. Ada apa? pekerjaanku masih banyak


Adelia menatap Antony yang sedang menyuapkan makan paginya. Tampak cukup buru-buru apalagi setelah ponselnya tampak bergetar.


Adelia juga tahu pria ini kemarin pulang begitu larut malam entah ke mana, yang pasti dia sudah keluar dari kantornya sebelum pukul 8 malam. Tentu semua itu dia ketahui dari mata-mata yang dia minta mengikutinya. Tapi anehnya, setiap kali dia pergi dia bagaikan menghilang. Tiba-tiba saja seberapa banyak pun orang yang dia minta untuk mengikutinya pasti kehilangan jejaknya. Adelia jadi curiga, jangan-jangan dia sudah menemukan wanita itu.


Antony melirik ponselnya.  Sebuah pesan dari Calton yang mengatakan bahwa Laura ingin segera bertemu dengannya. Tentu semuanya dengan bahasa isyarat yang masuk akal. Karena itu dia mempercepat makannya. Dia ingin pergi ke sana sebelum dia ke kantornya.


"Antony," panggil Adelia saat melihat suaminya itu sudah membersihkan bibirnya. Tanda dia sudah menyelesaikan makan paginya. Adelia memandangnya dengan tatapan curiga.


Tapi tatapannya berubah seketika saat Antony menatap ke arahnya. Sebuah senyuman terulas begitu manis warnai bibirnya.


"Ada apa?” tanya Antony dengan nada suara yang datar.


“Malam nanti ada pesta di keluargaku. Ayah dan ibuku ingin kau untuk datang. Aku sudah mengatakan bahwa kau sangat sibuk dan juga tidak bisa diganggu akhir-akhir ini tapi mereka sama sekali tidak mendengarkan apa yang aku katakan, mereka sangat ingin kau datang.” Adelia menjelaskannya perlahan. Antony hanya memberikan anggukan untuk merespon apa yang dikatakan oleh Adelia.


Adelia sebenarnya sama sekali tidak ingin memberikan harapan bahwa Antony akan setuju untuk pergi ke sana dengannya. Tapi bagaimana pun ayah dan ibunya memaksanya agar Antony bisa ikut ke pesta keluarga mereka yang pertama setelah mereka menikah. Bagi mereka Antony adalah kebanggaan mereka dan juga tak mungkin bisa dikalahkan oleh siapa pun. Memiliki seorang menantu presiden, siapa yang bisa mengalahkan itu?


“Jadi, tak perlu khawatir. Aku akan mengatakan bahwa kau  ….” Adelia melanjutkan karena hanya mendapatkan jawaban diam dari Antony.


“Aku akan ikut.” Tiba-tiba saja Antony menjawab hal itu dengan santainya.


“Eh? Apa?” tanya Adelia yang  malah tak siap mendapatkan jawaban itu dari bibir Antony.


Antony menatap ke arah wajah istrinya yang begitu cantik walau hanya terpoles oleh pewarna bibir berwarna merah jambu. Dari matanya terlihat harapan walaupun dia tidak mengucapkannya tadi. Sekarang harapan itu berubah menjadi keterkejutan.


Antony hanya tidak ingin terlalu kejam dengan Adelia. Dia pasti akan kesulitan untuk mengatasi ayah ibunya kalau Antony tidak bisa ikut. Belum lagi cibiran dari para keluarganya yang pasti ditujukan di belakangnya. Antony memang tidak menyukai Adelia, tapi dia juga tidak ingin membuat wanita ini begitu menderita ketika menikah dengannya.


“Aku akan ikut. Katakan saja pada Max kapan pestanya akan di mulai. Aku akan pulang sebelum pesta itu digelar.” Antony memberikan sedikit senyuman tipisnya sambil melihat wajah Adelia yang sejatinya tampak begitu kaget. Tapi secepatnya Adelia langsung menutupinya.


“Oh, ya, baiklah. Aku akan mengatakannya. Kau benar-benar ingin ikut?” tanya Adelia sekali lagi memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi atau berkhayal pagi-pagi buta seperti ini.


“Ya. Beri saja kabar. Aku harus pergi sekarang.” Antony mengecap sedikit tehnya sebelum dia berdiri.


Hari masih begitu dini untuk dijelajahi. Antony menatap ke arah ponselnya dan mendapatkan beberapa pesan yang dia tahu bukan dari Calton. Pastinya Laura yang mengirimnya pesan dari ponsel Calton. Antony hanya menaikkan sudut bibirnya. Paginya cukup berwarna dengan pesan kesal dari Laura.


Laura melipat tangannya kesal sambil duduk di depan televisi besar di sana. Tak ada satu pun kabar tentang Graciella dia dapatkan. Padahal semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana kabar Graciella. Apakah dia sudah berhasil di selamatkan atau belum? Di mana dia sekarang? Apakah Adrean benar-benar terbunuh karena perintahnya semalam?


Semua itu membuatnya tidak bisa tidur tenang. Dia terus terbangun setiap jamnya. Sial sekali, bahkan Antony yang dia tanya bagaimana perkembangan kasus ini tadi malam sebelum pria itu pergi. Hanya melempar senyum dan memintanya untuk menunggu pagi hari.


Laura jadi sedikit kesal. Melihat sifat Antony yang sekarang. Dia jadi lebih suka dengan Antony yang dulu karena selalu menjawab pertanyaannya. Antony yang sekarang, terlalu pendiam dan suka membuatnya penasaran. Ah! Apa maumu Laura? Pikir Laura sembari memukul pipinya. Dulu menyukai pria yang pendiam. Mendapatkan Antony menjadi pendiam, dia malah lebih suka dengan Antony yang dulunya begitu cerewet memperhatikannya. Antony yang sekarang bahkan tidak peduli dia sudah makan atau tidak. Huh!


“Nona, sepertinya Tuan akan sampai beberapa menit lagi,” ujar Calton yang hanya bingung menghadapi Laura yang baginya seperti wanita yang PMS setiap saat. Pagi–pagi saja dia sudah begitu kesal karena Antony tak kunjung datang. Apa dia pikir Antony hanyalah orang biasa yang seenaknya bisa datang ke sini?


Laura memandang Calton dengan wajah bebeknya. Dia lalu mengangguk. “Baiklah.” lalu memalingkan wajahnya.


Calton melihat itu hanya mengerutkan dahinya. Begitu saja kah? Padahal tadi Laura yang mengirimkan banyak pesan ancaman jika Antony tidak datang secepatnya. Calton saja sampai pusing dan takut jika Antony salah paham dengan isi pesan itu.


“Nona, Tuan sudah datang,” ujar Calton lagi beberapa saat setelahnya. Melihat mobil Antony yang baru saja masuk ke pekarangan villa itu.


“Benarkah?” Laura segera terlonjak kaget. Wajahnya yang sedang merajuk mirip bebek tadi hilang seketika. Dia langsung semangat menuju ke arah pintu masuk bertepatan dengan Antony yang masuk ke dalam rumah.


“Antony!” ujar Laura yang tanpa sadarnya menyambut Antony dengan ceria dan antusias.


Antony yang mendapat sambutan dengan senyuman merekah lebar dari wajah Laura sedikit mengerutkan dahinya. Dia tak pernah disambut dengan begitu ceria oleh Laura selama dia mengenal wanita ini. Bahkan biasanya wanita ini cenderung kesal dengan kedatangannya.


Antony menghentikan langkahnya karena Laura yang berhenti di depannya. Masih dengan senyuman yang mengembang sempurna dan matanya yang berbinar menatap wajah pria yang tak tahu kenapa sekarang tampak begitu tampan bagi Laura. Padahal dulu sepertinya wajah Antony ini biasa saja baginya.


“Ada apa pagi-pagi mengancamku untuk datang ke sini?” tanya Antony dengan nadanya yang datar.


Mendengar itu Laura kembali memasang wajah bebeknya. “Kenapa? Kau terpaksa ya datang ke mari?”


Antony mengerutkan dahinya sambil sedikit wajah tak percaya. Kenapa Laura bisa tampak manja begini. “Pekerjaanku banyak di pagi hari. Ada apa?”