Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 181. Tak adakah yang ingin mendengarkannya?


“Kau sedang mengandung?” tanya Xavier langsung yang mengangkap kata-kata neneknya. Tatapannya penuh harapan.


Graciella langsung berwajah kaget dan bingung harus apa. Tentu saja dia tidak hamil. Bagaimana bisa Liliana menganggapnya hamil padahal dia sendiri tidak tahu tentang hal itu.


“Ya Tuhan,” ujar Liliana lagi dengan wajahnya yang tampak kaget. Graciella yang tadinya ingin menjelas hal itu pada Xavier tapi langsung urung karena terpotong oleh kata-kata Liliana. Graciella dan Xavier langsung melihat ke arah Liliana. “Apakah aku merusak kejutannya?” tanya Liliana yang merasa Graciella sengaja tak mengatakan kabar baik ini pada Xavier  untuk memberikan kejutan manis untuk Xavier.


Tentu hal itu membuat Graciella semakin merasa aneh dengan semuanya. Dari mana Liliana bisa berpikir dia sedang mengandung dan bagaimana pula dia memberikan kejutan yang dia sendiri tidak tahu. Graciella takut Xavier merasa hal itu benar adanya dan membuat harapan palsu. Apalagi saat dia melihat wajah Xavier, raut wajah pria itu tampak memunculkan wajah bahagia.


Saat Graciella kembali ingin menjelaskannya. Suara dari seorang polisi militer memotongnya kembali.


“Maaf, waktu pembesukannya sudah habis.”


Xavier dan ketiga wanita yang ada di sana segera menatap ke arah polisi militer itu. Graciella yang tadinya ingin menjelaskan langsung menatap ke arah Xavier. Ada rasa enggan yang tiba-tiba saja muncul. Rasanya terlalu cepat dia bertemu dan harus berpisah dengan Xavier.


“Aku akan segera menemuimu. Untuk saat ini pasukanku ditarik mundur karena itu kau harus hati-hati. Katakan pada Stevan bahwa aku meminta tolong sekali lagi agar bisa memberikan perlindungan terhadapmu. Bertahanlah sejenak hingga aku keluar dari sini,” ujar Xavier sambil menyelipkan jari-jemarinya yang kokoh untuk menyentuh lembut pipi Graciella.


Graciella mengangguk pelan sambil merasakan kehangatan telapak tangan Xavier yang menyentuh pipi lembutnya.


“Bagaimana jika Graciella tinggal di rumah kita? Di rumah kita keamanannya tentu lebih baik. Keadaannya juga akan lebih baik jika dia ada di rumah kita. Ibu bisa menjaganya,” ujar Monica akhirnya angkat bicara. Hal itu tentu mengangetkan. Bukan hanya Graciella bahkan Xavier kaget mendengar tawaran dari ibunya.


Graciella tidak tahu apa yang terjadi pada Monica hari ini. Baru kemarin dia tampak begitu tidak menyukai Graciella. Tapi entah kenapa hari ini dia bertindak cukup baik memperlakukan Graciella.


“Benar, kau tidak perlu khawatir. Nenek sendiri yang akan menjaga Graciella. Cepatlah pulang agar bisa berkumpul dengannya,” ujar Liliana dengan senyuman manisnya. Xavier hanya memandang ketiga wanita yang paling dekat dan penting untuknya. Walau sedikit merasa ada yang aneh dengan sikap ibunya, Xavier lega. Setidaknya ibunya tak akan melakukan apa pun yang akan mencelakakan Graciella karena sudah tidak ada ayahnya di sana. Dia tahu ibunya selalu mengikuti apa keinginan ayahnya hingga bisa berbuat kejam seperti dulu. Dan bukannya ibunya  juga pernah menyelamatkan Graciella. Jadi dia yakin Ibunya akan menjaga Graciella.


Xavier segera dijemput kembali oleh para polisi militer. Kali ini dia dia tidak diborgol. Graciella hanya menatap punggung bidang Xavier yang perlahan menghilang di balik pintu itu. Walau sudah tahu Xavier akan segera dibebaskan. Tapi perasaan itu selalu ada. Perasaan tak rela ketika ingin berpisah.


Begitu Xavier tak ada lagi di ruangan itu. Graciella, Liliana dan juga Monica akhirnya keluar dari ruangan Membuat Stevan dan juga Daren yang menunggu langsung berdiri. Dari wajah mereka ada keingintahuan yang besar tentang apa yang terjadi di dalam sana.


“Aku dengar kau sudah bisa memberikan bukti untuk membuat penyelidikan terhadap Xavier akan dihentikan?” tanya Daren yang langsung tersenyum puas. Tentu saja bangga dengan Graciella. Tak sia-sia dia menghamburkan uang untuk Graciella belajar di Amerika. Intuisi dan juga kejeliannya sangat memukau.


“Ya, Graciella sangat hebat. Aku sampai tidak menyangka dia bisa melihat hal itu,” ujar Liliana dengan senang. Begitu bangga pastinya.


“Kalau begitu semua akan selesai sebentar lagi. Tidak perlu ada yang harus dikhawatirkan,” ujar Stevan senang. Ternyata kabar yang disampaikan oleh pengacara dari Xavier bahwa dia akan mengeluarkan Xavier adalah benar.


“Ya, Graciella pun akan ikut kami ke rumah kami,” ujar Monica yang langsung memegang lengan atas Graciella dengan lembut, khas keibuan. Graciella sampai kaget dengan perlakuan ini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? kenapa Monica benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Jika hanya ingin mengikuti kata-kata Liliana tentu dia tidak akan melakukan hal seperti ini.


“Benarkah? Jadi kau akan tinggal di rumah Xavier sekarang?” tanya Daren pada Graciella.


Graciella hanya tersenyum dan menggigit bibirnya. Tentu saja dia tidak bisa menolak tapi juga akan merasa aneh jika tiba-tiba saja pindah ke rumah Xavier.


“Ya, tentu saja. Calon ibu tidak boleh tinggal sendiri. Aku akan menjaganya dengan baik. Nenek akan memberikan banyak makanan bergizi agar bayimu berkembang dengan baik,” kata Liliana yang langsung menimbrung dipembicaraan ini.


Mendengar hal itu membuat Stevan dan juga Daren langsung berwajah kaget.


“Ha? Bayi? Kau?” tanya Stevan kaget, dia melihat Graciella lalu segera melihat ke arah perut Graciella.


“Bukan, bukan begitu,” ujar Graciella yang mulai merasa risih. Semakin banyak saja orang yang salah paham dengan hal ini. “Nenek, sepertinya ada kesalahan. Aku rasa aku sedang tidak mengandung.” akhirnya Graciella punya waktu untuk menjelaskannya pada Liliana. Sekali lagi tak tahu dari mana kabar itu di dapatkan oleh Lilian.


“Sudahlah. Nenek tahu bahwa kau sedikit malu mengakuinya karena mungkin kau dan Xavier belum memiliki ikatan. Tidak perlu malu. Dia tetap akan diakui sebagai keluarga Qing. Semoga nantinya aku akan mendapatkan cucu perempuan. Sudah terlalu lama keluarga ini tidak mendapatkan keturunan perempuan.” Liliana tampak antusias. Bahkan dia berdoa hingga matanya melihat ke atas, meminta kepada Tuhan agar dikaruniai seorang cicit perempuan.


“Tapi, dari mana Anda tahu aku hamil?” tanya Graciella. Mengintrupsi kebahagian ini rasanya tak etis baginya.


“Nenek tidak sengaja melihat kau membuang testpack di kamar mandi. Saat nenek lihat hasilnya adalah positif.”


Graciella membesarkan matanya dan menampilkan wajah mengertinya. Sepertinya Liliana salah melihat testpack. Bukannya Graciella membuang testpack yang bahkan masih terbungkus. Mungkin saja testpack itu milik wanita lain yang kebetulan melakukan pemeriksaan di sana. Benar-benar sebuah kesalahan.


“Monica, bersiaplah untuk membicarakan dan menyiapkan tentang pernikahan mereka. Kehamilan memang membahagiakan, tapi pengantin wanita dengan perut membesar tak akan menjadi hal yang baik nantinya,” ujar Liliana menatap ke arah Monica.


“Baik Ibu,” ujar Monica menurut sambil tersenyum. Senyuman yang sudah lama tak dilihat oleh Liliana.


“Wah! kalau begitu selamat! Moira akan segera punya adik! Xavier beruntung sekali,” ujar Stevan. Mencoba menampilkan senyuman setulus mungkin. Walaupun sudah mencoba untuk mengikhlaskanya tapi ternyata rasanya tetap saja sakit.


“Eh, bukan begitu!” ujar Graciella melihat ke arah Stevan yang mengerutkan dahinya. Apakah dia salah bicara?


“Sudahlah. Graciella pasti lelah. Matanya sangat cekung. Pasti dia dari semalam kurang istirahat. Ibu hamil harus banyak istirahat,” ujar Liliana semangat menggandeng tangan Graciella. Menariknya untuk segera mengikutinya. Mereka hanya tinggal menunggu Xavier untuk pulang dan pancaran kebahagiaan akan kembali di rumah mereka.


Graciella hanya berwajah pasrah, tak ada kah orang yang ingin mendengarkan penjelasannya?