
“Gracie? Sekarang kau ada di mana?” tanya Laura lagi mengetahui Graciella tak lagi menjawab.
“Oh, aku … aku akan pulang secepatnya. Tapi bisakah kau menjemput ku?” tanya Graciella pada Laura.
“Menjemputmu? Di mana?” tanya Laura. Dia sedikit heran, temannya ini biasanya sangat mandiri. Terkadang Laura ingin mengantar atau ingin menjemputnya. Dia selalu tidak mau karena masih bisa pergi sendiri. Tapi tumben sekali hari ini dia minta di jemput.
“Aku ada di markas militer bagian selatan.”
“Ha? Markas militer? Apa semalaman ini kau bersama Xavier? Wow! bagaimana bisa? ini sudah kedua kalinya. Kali ini kalian ngapain?” tanya Laura semangatnya membara. Ingin cepat-cepat tahu apa yang sudah dilakukan oleh Graciella dengan Xavier. Temannya hebat sekali. Ah! dia jadi iri.
“Aku tidak melakukan apapun. Aku akan menghubungimu lagi setelah ini untuk menjemputku. Aku minta tolong ya.” Graciella sedikit merayu tapi suaranya tetap lemah. Laura mengerutkan dahinya. Kenapa Graciella terkesan tidak senang?
“Eh, baiklah," kata Laura.
“Terima kasih.” Graciella langsung mematikan panggilan ponsel itu. Dia memandangi layar ponsel dari Xavier. Perasannya sungguh tak nyaman. Rasa sakit itu entah kenapa bisa muncul saat Laura menjelaskan semuanya.
Laura mengingatkannya bahwa dia adalah wanita yang sudah bersuami. Statusnya adalah seorang istri. Walau bagaimana pun, dia tetap terikat pernikahan yang sah dan tercatat di negara dengan Adrean. Bagaimana dia bisa membiarkan Xavier mendekatinya dan memberikannya rasa nyaman ini? Dia harus sadar dirinya siapa? Mulai saat ini dia harus membatasi hubungannya dengan Xavier. Dia tidak ingin di antara mereka ada yang terluka nantinya. Yang pasti dia tak ingin membuat Xavier terluka.
Graciella menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya. Dia menghapus matanya yang entah kenapa bisa basah. Kenapa harus menangis? Toh Xavier dan Graciella tak ada hubungan apa-apa.
Tapi Graciella tak bisa membendung air matanya. Semakin dia menenangkan dirinya dengan mengatakan bahwa dirinya dan Xavier tak ada apa-apa, semakin sakit hatinya. Semakin perih matanya. Ah! apa yang harus dia lakukan!
Graciella! Apa yang kau harapkan! Kau wanita yang sudah bersuami! Bahkan jika kau entah bagaimana bisa berpisah dengan Adrean? Apa kau pikir keluarganya akan menerimamu yang sudah berstatus janda? Bagaimana jika mereka tahu tentang keadaanmu? bahkan keturunanmu saja sudah tak baik, pastilah mereka akan menolakmu mentah-mentah. Katakan bagaimana bisa kau berharap bisa bersama dengan pria itu!
Graciella menghapus air matanya dengan sangat keras. Tapi air mata itu kembali memenuhi matanya. Graciella bingung harus apa sekarang. Kenapa bisa hanya dengan sedikit perhatian dia bisa menjadi selemah ini? Dia harus membunuh perasaan ini. Perasaan ini masih belum berkembang dengan baik. Lebih baik membunuhnya sekarang agar tidak menjadi lebih dalam.
Graciella termenung cukup lama. Mencoba meredam rasa yang timbul dari membunuh perasaannya sendiri. Berulang kali menghela napas panjang karena rasanya sesak. Perasaan ini bukan apa-apa, dia hanya terlalu sering disakiti hingga ada orang yang tiba-tiba perhatian membuat Graciella dengan mudah terbawa perasan, hanya itu. Esok juga dia akan melupakannya. Benarkan?
...****************...
“Bagaimana dengan apa yang aku minta kemarin?” tanya Xavier melirik ke arah Fredy yang berjalan di sampingnya selagi mereka menuju ke asrama Xavier setelah mereka melakukan pertemuan. Xavier harus memastikan keadaan Graciella. Seharusnya dia sudah makan siang dan memakan obatnya.
“Saya sudah melakukannya dan menemukan hal yang lebih mengejutkan dari sebelumnya.” Fredy tampak yakin.
Xavier mengerutkan dahinya. Fredy tahu bahwa Xavier menuntutnya menjelaskan apa yang sudah dia dapatkan. Fredy mendekati Xavier dan membisikkan sesuatu yang membuat Xavier membesarkan matanya. Wajahnya tampak begitu kaget.
“Kau harus menjelaskan itu semua padaku nanti.” Xavier segera melangkah lebih cepat ke arah kediamannya.
“Siap Komandan!” jawab Fredy pada Xavier yang akhirnya masuk ke dalam asramanya.
Xavier tentu langsung menuju ke arah kamarnya. Matanya segera membesar melihat Graciella sedang berdiri dan sepertinya belajar untuk berjalan sendiri.
“Nanti saja aku minum. Laura akan datang sebentar lagi. Bolehkah dia masuk? dia ingin menjemputku,” ujar Graciella sedikit tersenyum tipis. Tapi dia tak lama memandang Xavier, dia langsung membuang pandangannya.
Xavier yang mendengar hal itu tentu mengerutkan dahinya. "Kenapa ingin pulang lagi? bukannya aku katakan aku tidak mengizinkanmu pulang?”
“Aku harus pulang. Lagipula tidak baik bagiku dan bagimu jika ada orang yang tahu tentang kita.”
“Apa maksudmu?’
“Ini tidak pantas. Aku adalah wanita yang sudah memiliki suami dan kau adalah pria lajang. Tentu ini tidak pantas. Aku harus pulang,” ujar Graciella yang mencoba menekan perasaannya. Rasa sesak saat dia mengatakan hal ini.
Xavier yang mendengar hal itu tentunya bingung dan kesal. Emosinya langsung naik mendengarkan penjelasan dari Graciella. “Setelah semua ini? kau masih ingin pulang dan mengakui pria itu adalah suamimu? Bagaimana bisa pria seperti itu kau pertahankan sebagai suami?”
“Bagaimanapun aku menyangkalnya. Saat ini di catatan negara ini. Dia adalah suamiku. Bagaimana pun kau menyangkalnya, dia tetap suamiku,” ujar Graciella. Sebenarnya dia tak ada maksud untuk kembali pada Adrean, tapi biarlah, dia tak perlu meluruskan hal ini pada Xavier.
“Kau ini wanita yang bagaimana? Aku tidak akan membiarkanmu kembali padanya! Aku yakin dia akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari ini. Kemarin aku masih bisa melindungimu, bagaimana jika nanti aku terlambat dan tak bisa melindungimu?” tanya Xavier dengan mata yang memerah.
“Kau tak perlu melindungiku. Melindungiku bukan tugasmu.”
"Bagiku itu sudah menjadi tugasku!” ujar Xavier yang tanpa sadarnya memegang kedua lengan Graciella. Graciella kaget dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Xavier memandang Graciella dengan matanya yang kelam. Graciella takut akan kembali terperangkap dengan tatapan menghipnotis itu. Dia langsung menunduk. Menutupi sorot matanya dengan bulu matanya yang lentik. “Graciella, Apa kau tidak menyukaiku?” tanya Xavier. Kali ini bernada rendah yang membuat jantung Graciella langsung berdetak nyeri. Bagaimana ini? perasaannya berontak.
Graciella ingat kembali kata-kata Laura. Xavier adalah pria yang seharusnya mendapatkan wanita yang setara dengannya. Yang punya latar belakang keluarga yang baik dan pastinya wanita yang masih melajang. Bukan seperti dirinya. Dipaksa bagaimana pun, dia sudah tahu bagaimana ujungnya. Dari pada harus merasa indah lalu berakhir luka. Lebih baik tak memulainya sama sekali.
“Tidak!” ujar Graciella mencoba semantap mungkin mengatakannya. “Cintaku hanya untuk Adrean. Itu lah kenapa walaupun dia menyakitiku, aku mempertahankannya.”
Xavier terdiam mendengar hal itu. Menatap ke arah mata seindah mata boneka porselen itu memandang kukuh padanya. Xavier meremas lengan Graciella. Graciella bisa melihat otot leher dan pipi Xavier menegang. Tanda dia menahan amarah yang sangat.
“Aku tidak percaya,” ujar Xavier dengan gelengan kepalanya. Graciella tak tahu lagi harus bagaimana. Dia benar-benar sudah mencoba menegarkan dirinya sendiri. Sebentar lagi dia takut dia malah akan menangis di sini.
“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Sekarang aku hanya ingin pulang. Kau tidak berhak melarangku. Kau bukan siapa-siapa.” Graciella mengatakan hal itu dengan sangat ketus. Xavier mengerutkan dahinya. Matanya yang tadi membara tampak menyuram. Hal itu malah membuat sakit di hati Graciella bertambah. Tatapan kecewa itu sangat menyakitkan hati Graciella. “Suamiku sudah menunggu di rumah.”
Xavier menekan gigi geliginya. Amarahnya sudah sangat memuncak. Dia takut sebentar lagi dia tak akan bisa menahannya. Xavier melepaskan tangannya dari lengan Graciella. “Fredy!” teriak Xavier begitu keras hingga Graciella saja kaget karenanya.
Fredy yang tahu bahwa Graciella dan Xavier terlibat pertengkaran sengit langsung terlonjak. Dia segera mendatangi Xavier.
“Antarkan wanita ini pulang.” Xavier pergi begitu saja dari sana tanpa melihat ke arah Graciella.
“Siap komandan!” ujar Fredy yang juga hanya bisa mengatakan hal itu. Dia hanya memandang Graciella yang langsung menumpahkan air matanya. “Dokter?” kata Fredy bingung.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa kakiku pegal. Kita pergi sekarang,” bohong Graciella. Tentu nyeri kakinya tak ada apa-apanya dengan apa yang dia rasakan sekarang.