Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 175. Di mana putriku?


“Bawahanmu meminta mengaktifkan rencana B, Dia akan segera dibawa ke tempat yang sudah kita rencanakan,” ujar Stevan lagi. Akhirnya dia bernapas cukup lega mendengar bahwa gadis kecil di dalam sana bukanlah gadis kecilnya.


“Adrean tadi datang, dia mengatakan dia sudah menemukan Moira. Apa jangan-jangan Adrean benar-benar sudah menemukannya?” ujar Graciella menatap kea rah Xavier.


“Aku ragu tentang hal itu, jika Robert Kim saja tidak menemukan lagi Moira di sana. Aku ragu dia mendapatkannya,” ujar Xavier lagi.


“Tenang saja, bawahanku sudah mengikutinya. Sampai sekarang tidak ada perkembangan yang berarti,” ujar Stevan.


“Sekarang, kita harus bertemu dengan Robert Kim!” ujar Xavier yang segera ingin pergi meninggalkan tempat itu. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika tangannya ditarik oleh Graciella. Xavier mengerutkan dahinya menatap Graciella. Bukannya mereka harus bertindak cepat untuk menemukan Moira?


“Lukamu, Kau harus diobati dahulu sebelum menghadapi Robert Kim,” ujar Graciella. Mungkin karena suntikan adrenalin yang keluar saat seseorang merasa emosi atau tegang. Membuat Xavier kembali melupakan tentang sakitnya luka di pinggang itu.


“Luka ini tidak apa-apa,” ujar Xavier lagi.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan luka ini. Lagi pula Robert Kim tak akan kemana-mana bukan?” ujar Graciella. Dia tidak tahan melihat luka menganga itu terlihat di pinggang Xavier.


“Benar, jika kau datang dengan keadaan seperti itu, aku tidak tahu berapa lama kau akan bertahan di sana. Bisa-bisa sebelum kau tahu di mana Moira, kau sudah pingsan kehabisan darah. Saat ini Robert Kim sudah di tahan. Kita juga sudah bisa memastikan bahwa gadis kecil ini bukanlah Moira. Saatnya memikirkan sejenak tentang dirimu. Kau harus kuat untuk berurusan dengan Robert Kim,” ujar Stevan lagi membujuk Xavier.


Xavier mengangguk, akhirnya setuju juga untuk merawat lukanya.


Graciella berdiri diam di sisi tempat tidur perawatan Xavier. Tangannya digenggam erat oleh pria yang sekarang hanya berwajah serius. Dokter sedang menjahit lukanya yang memang cukup dalam. Xavier sesekali menekan bibirnya menunjukkan rasa yang dia tahan. Tapi selebihnya, wajahnya hanya datar saja.


“Lukanya sudah di jahit. Tiga hari ini jangan terkana air atau basah. Anda bisa istirahat dulu karena darah Anda cukup banyak keluar,” kata Dokter itu setelah selesai menutup luka Xavier dengan perban, mengingat banyak darah yang keluar dari tubuh Xavier. Tapi dokter itu dan juga Graciella langsung kaget melihat Xavier yang segera menurunkan bajunya dan seolah tak ada apa-apa langsung berdiri.


“Arnold akan membawamu kembali ke rumah. Aku harus segera pergi,” ujar Xavier segera mengancingkan bajunya.


“Kau tidak ingin istirahat dulu,” ujar Graciella lagi.


“Aku harus mencari Moira secepatnya. Lagi pula aku tidak bisa menahan Robert Kim lebih lama. Aku harus cepat mendapatkan keberadaan Moira. Kita tidak tahu apa yang sudah dan akan terjadi padanya,” ujar Xavier. Akhirnya merasa dia belum gagal. Kali ini dia harus membawa putrinya yang asli tanpa lecet sedikit pun. Apapun dia lakukan untuk hal itu!


“Tapi keadaanmu ….”


Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Xavier dan Graciella langsung kaget melihat sosok yang masuk ke dalam ruangan itu. Sosok itu juga tampak tak percaya dengan apa yang terlihat di sana. Monica hanya bisa membesarkan matanya.


“Ibu?” tanya Xavier yang kaget melihat sosok ibunya di sana. Bukannya tidak ada yang mengabarkan bahwa Xavier ada di sini sekarang? Bukannya seharusnya ibu masih berkutat dengan keperluan kremasi ayahnya.


“Ibu mendapat kabar dari salah satu teman ibu di sini. Dia mengatakan melihatmu dibawa ke ruangan ini karena terluka. Ibu langsung ke sini,” ujar Monica yang mencoba menutupi wajah terkejutnya. Tak menyangkan Xavier di sini dengan Graciella. Gadis ini, sudah lama sekali tidak melihatnya. Terakhir kali melihatnya dia bagai mayat hidup yang tanpa nyawa. Apakah dia kembali mendekati anaknya?


Graciella pun hanya bisa diam melihat Monica. Dia sepertinya tak pernah melihat wanita itu, tapi dari tatapan kagetnya, sepertinya wanita ini mengenalinya. Dokter yang ada di sana perlahan undur diri. Sepertinya ini adalah urusan keluarga. Lebih baik dia tidak terlibat.


“Aku baik-baik saja. Ibu, lebih baik ibu pulang saja,” ujar Xavier lagi yang langsung menghalangi pandangan Monica ke arah Graciella. Dia berdiri langsung di depan Graciella.


“Kapan kalian kembali bersama?” tanya Monica melirik gadis itu. Ternyata dia belum kapok juga padahal dulu rasanya dia sudah ingin mati saja.


“Itu bukan urusan ibu. Ada hal yang harus aku lakukan sekarang. Ibu lebih baik pulang untuk mengurus keperluan Ayah,” ujar Xavier lagi.


Monica mengerutkan dahinya yang tetap terlihat kencang walaupun usianya sudah cukup matang. Dia memiringkan wajahnya melihat ke arah Xavier.


“Bagaimana bisa kau memiliki hal yang lebih penting dari pada acara penghormatan terakhir ayahmu. Apa wanita ini lebih penting daripada ayahmu?!” ujar Monica tak habis pikir. “Belum ada dua puluh empat jam ayahmu tewas, tapi kau malah lebih memilih untuk bersama dengan wanita yang sangat dibenci oleh ayahmu. Aku benar-benar menyesal pernah menyelamatkanmu, Graciella!” ujar Monica dengan emosinya. Kesal dengan kelakukan anaknya dan juga Graciella. Saking kesalnya suaranya bergetar dan juga matanya tampak berkaca-kaca.”


“Anda pernah menyelamatkanku?” tanya Graciella yang akhirnya buka suara.


“Tentu! Jika bukan karenaku! Kau pasti sudah mati di dalam bunker itu! seharusnya aku membiarkan saja kau mati!” ujar Monica kesal. Tak menyaring apa yang dia katakana. Xavier dan Graciella yang mendengar itu langsung membesarkan sedikit mata mereka.


“Jadi ibu juga tahu dan terlibat dalam penculikan Graciella dan putriku?” ujar Xavier. Di baru tahu bahwa ibunya juga terlibat dalam hal ini. Padahal di kira hanya ayahnya dan Robert Kim saja yang tahu. Tak menyangka wanita yang dia hormati ini juga melakukan hal yang sama.


Monica mendengar pertanyaan itu langsung tersadar dengan apa yang baru saja keluar dari bibirnya. “I-ibu ….” Ujar Monica yang bingung harus membela apa.


“Jadi Anda tahu apa yang sudah dilakukan oleh suami anda dan Tuan Robert Kim pada putriku? di mana putriku sekarang?” tanya Graciella lagi, kali ini dia menggeser tubuh Xavier. Dia tidak ingin ditutupi olehnya. Bagai baru menemukan titik terang yang lain, dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk menanyakan tentang putrinya.


“Jawab Ibu! Apa ibu tahu apa yang terjadi pada putriku?” tanya Xavier dengan tegas bagaikan mengintrogasi seorang tawanan.