
“Saya bersumpah akan mendahulukan semua kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Saya akan menjalankan tugas seadil-adilnya dan memegang teguh peraturan dasar negara. Dan berbakti pada negara.” Sumpah itu langsung terucap dari bibir Antony saat pelantikan darurat setelah pengunduran diri Presiden sebelumnya. Entah bagaimana caranya, tapi tak seorang pun yang menentang pencalonannya.
Antony berjalan ke depan istana negara yang langsung di sambut sorak sorai dari para masyarakat yang mendukungnya. Dia melambaikan tangannya dengan senyumannya yang teduh.
“Terima kasih untuk semua dukungan Anda. Saya tidak mungkin melangkah sejauh ini tanpa dorongan Anda semua. ” ujar Antony memberikan kata-kata pertamanya sebagai Presiden yang membuat semua masa histeris. “Semua sudah berjalan dengan semestinya. Karena itu, saya berharap Anda sudah bisa merasa tenang dan beristirahat dengan tenang di rumah Anda masing-masing. Saat ini biarlah dan izinkanlah saya melayani Anda semua dengan semampu saya. Sekali lagi terima kasih untuk semua dukungan Anda.” Antony membungkuk di depan semua orang yang ada di hadapannya. Semua kembali histeris melihat seorang presiden membungkukkan tubuhnya dihadapan mereka semua. Mereka merasa benar-benar sudah memilih orang yang tepat.
“Sial! Dia pintar sekali melakukan itu,” ujar Stevan yang masih geram dengan ulah Antony. Dia dan Xavier menonton pelantikan dan juga pidato Antony dari Televisi layar lebar di dalam istana itu. Hanya mereka yang tidak ikut hingar-bingar pelantikannya.
Xavier hanya diam tidak bereaksi. Tapi dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Stevan. Antony memang pintar sekali memanfaatkan semuanya.
...****************...
Graciella menggigit bibirnya dengan sedikit kuat. Tidak percaya dalam waktu semalam saja Antony bisa menggulingkan kedudukan Presiden dan pagi harinya dia sudah menjadi Presiden. Tentu ini hal yang sangat luar biasa.
“Pria itu, dia pintar sekali melakukannya,” ujar Monica yang menyipitkan matanya melihat tingkah Antony di depan televisi.
“Tentu. Ayahnya pasti sudah menatanya sejak awal. Jika saja Xavier mengikuti arahan David, dia pasti juga bisa seperti itu,” ujar Liliana yang akhirnya mengetahui apa yang terjadi di negaranya.
“Tidak juga. Sekarang aku merasa bersyukur Xavier tidak mengikuti jejak David. Setidaknya, dia tetap berpegang teguh dengan kebenarannya,” ujar Monica.
“Sekarang kalian baru menyadarinya. Sudah terlambat. Sudah ku bilang jangan pernah memaksa cucuku. Jika dia ingin menjadi tentara biarkan saja. Toh, sama-sama mengabdi pada negara.” Liliana mulai menggerutu yang membuat Monica hanya tersenyum maklum. Ibu mertuanya memang semakin cerewet.
...****************...
Graciella berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu rumahnya ketika mendengar dan melihat mobil yang berhenti tepat di depan kediamannya. Dia dengan cepat membuka pintu dan segera melihat ke arah suaminya yang baru turun dari sana.
Entah kenapa, walaupun sudah tahu kabar Xavier yang tidak mengalami apa pun di sana. Tapi Graciella begitu lega bahwa suaminya sudah kembali padanya. Tanpa sadarnya Graciella segera memeluk suaminya itu.
Xavier yang mendapatkan pelukan dari Graciella langsung membalasnya. Dia tahu kecemasan yang dirasakan oleh Graciella. Wanita ini pasti cemas dengan apa yang bisa dilakukan oleh Antony padanya dan juga Stevan. Walaupun tak mengungkitnya secara langsung, sebenarnya Antony merasa Xavier dan Stevan adalah halangan untuknya. Karena itu sebelum pelantikannya, mereka secara khusus dipanggil menghadap.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Graciella menatap wajah suaminya yang tampak cukup lelah. Belum beristirahat sama sekali.
“Semua baik-baik saja. Semoga saja,” ujar Xavier. Walau tampak semuanya menjadi tenang. Tapi ini hanya seperti gunung berapi yang tampaknya damai tapi bisa saja meletus sewaktu-waktu. “Kita masuk dulu,” bisik Xavier.
Monica dan Liliana yang melihat Xavier juga segarq menyambut Xavier seolah dia baru pulang dari medan perang. Xavier langsung saja membersihkan dirinya dan melihat istrinya membawakan makanan untuknya.
“Sudah makan di sana?” tanya Graciella meletakkan makanan yang memang sudah disiapkan oleh pelayan mereka.
“Apa yang terjadi?” tanya Graciella.
Xavier menatap ke arah istrinya. Jawaban tidak ada apa-apa pastilah tak akan membuat istrinya ini puas. Karenanya dia harus menjawab semuanya dengan kejujuran. “Antony yang ternyata memintaku untuk datang. Aku, Stevan dan dia berbincang. Secara tersirat dia meminta untuk menghentikan semua penyelidikan dan memintaku juga Stevan untuk mendukungnya dan tak mengusik kehidupannya. Dia juga mengatakan terima kasih untukmu,” ujar Xavier menaikkan satu sudut bibirnya.
“Aku malah tidak merasa tersanjung dengan hal itu.” Graciella malah merasa menyesal. Dia punya andil dalam kekacauan ini. Sebuah keputusan yang dia pikir mudah dan kecil punya dampak yang begitu besar, ini jadi seperti Butterfly Effect bagi Graciella. “Apa kau mendukungnya?”
“Aku dan Stevan mengosongkan pilihan kami. Walau kami tidak mendukungnya. Dia akan tetap menang.”
“Dia pintar mengambil hati rakyat,” ujar Graciella.
“Ya. Saat ini yang penting semuanya aman. Jika kita memaksa untuk terus melanjutkan kasus ini, bukan hanya kita yang dalam masalah. Tuan Peter pun sama. Saat begini kita benar-benar tidak boleh gegabah. Antony saat ini tidak bisa tersentuh sama sekali,” ujar Xavier rangkul tubuh Graciella.
“Ya aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Untuk saat ini, biarlah kita simpan saja semuanya. Aku yakin, siapa pun yang melakukannya. Pasti akan mendapatkan balasannya cepat ataupun lambat,” ujar Graciella lagi bersandar manja pada suaminya.
“Ayo beristirahat,” ujar Xavier yang mulai menelentangkan tubuhnya. Graciella tidur dalam pelukan suaminya. Ternyata dia hanya butuh sebuah pelukan untuk bisa tidur begitu lelapnya.
...****************...
“Tuan Presiden, semuanya sudah menunggu Anda,” ujar Ajudan Antony yang memanggil Antony untuk bergabung dalam pesta penobatannya menjadi presiden.
Antony hanya diam. Dari wajahnya tidak tampak kesenangan atau kebahagiaan yang muncul walaupun dia baru saja menjadi orang nomor satu negara itu. Antony lalu melihat ajudannya yang lain.
“Max!” panggil Antony pada orang kepercayaannya.
“Ya, Tuan Presiden,” ujar Max segera sigap. Antony melihat pria itu sambil perlahan memiringkan wajahnya. Bibirnya tertutup datar.
“Cari wanita itu hingga dapat. Apa pun yang terjadi, dan bagaimana pun! Aku ingin kau menemukan dia! kau tahu apa yang kau harus lakukan jika sudah bertemu dengannya. cari dia secepatnya! Aku mau tahu, kali ini bagaimana caranya dia akan pergi dariku!” ujar Antony melemparkan foto Laura ke atas meja kerjanya.
Salah satu hal yang membuatnya ingin menjadi Presiden hanya karena wanita itu. Dia akan mendapatkannya dan memberikannya pelajaran sekarang. Dengan kekuasaannya. Bagaimana pun dia tidak akan pernah bisa lari lagi dari genggamannya.
“Baik Tuan Presiden!” ujar Max segera mengambil foto itu.
Antony menarik napasnya dan segera merapikan jasnya. Begitu dia keluar dari ruang kerjanya. Wajahnya yang dari tadi ketat, langsung tersungging senyuman ramah menyambut semua orang yang sudah menunggunya dari tadi. Sebuah perubahan yang begitu drastis.