
Graciella melihat lurus pada dinding kaca dari apartemen Laura. Pemandangan kota sore ini cukup indah walaupun awan lebih di dominasi warna abu-abu dari awan mendung.
Graciella duduk di kursi roda yang sengaja dipinjam oleh Laura dari rumah sakit untuknya. Beberapa hari terkurung di kamar membuatnya rindu melihat pemandangan di luar.
Graciella memegang kaca yang tadinya terasa hangat karena sengatan matahari. Rintik hujan mulai tampak menghiasinya perlahan. Halus seperti jarum-jarum yang menghantam kaca yang ada di depannya.
Beberapa jam yang lalu Xavier pamit untuk bertugas. Graciella teringat akan tatapan matanya yang enggan. Bagaimana bisa, hanya dengan tatapannya itu membuat bekas yang dalam pada ingatan Graciella.
"Sudah merindukannya?" tanya Laura membawa sup telur yang masih hangat. Dia sudah menyiapkan begitu banyak makanan untuk makan malam dirinya dan Graciella. Ayahnya juga mengatakan bahwa mereka akan kedatangan tamu. Siapa lagi kalau bukan Antony. Laura sudah beberapa kali menolak kedatangan Antony, kali ini dia tak bisa lagi mengelak.
"He? apa? rindu dengan siapa?" tanya Graciella melihat Laura yang sekarang berjalan ke arahnya membawakan semangkuk sop buatannya.
"Ya si Tuan es batu itu. Eh tapi sekarang dia sudah mencair, jadinya panggilnya komandan saja," ujar Laura meracau.
Graciella mengerutkan wajahnya sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah Laura. "Pergi baru saja, bagaimana bisa rindu? lagi pula untuk apa aku rindu padanya. Aku dan dia tak ada apa-apanya."
Laura menyunggingkan senyuman nakalnya. "Bukan tak ada apa-apanya, belum ada saja. Sebentar lagi juga ada. Tapi, si komandan, pacarnya lagi sakit, kenapa malah memikirkan pekerjaan," ujar Laura lagi.
"Dia seorang tentara. Tentu dia harus lebih mengutamakan tugasnya daripada apapun. Lagipula aku bukan pacarnya. Jangan sembarangan menyebarkan gosip. Orang yang mendengarnya bukannya senang, mereka pasti mencibirku, ingat, aku masih terikat pernikahan." ujar Graciella yang sedikit menyeruput supnya. Tak menyangka, walaupun sedikit menyebalkan, Laura cukup handal dalam memasak. "Wah, masakanmu enak, suamimu akan sangat bersyukur mendapatkanmu," puji Graciella.
"Nah itu dia! Umurku sudah cukup! Aku juga punya pekerjaan tetap, mandiri, cantik! Pintar memasak pula, tapi kenapa jodohku belum muncul juga?" Ujar Laura dengan wajah mendramatisir. Graciella yang dari tadi mendengar Laura memuji dirinya sendiri hanya tersenyum sambil memasang wajah tak percayanya. Percaya diri sekali temannya ini.
Baru saja Graciella ingin membalas perkataan Laura. Suara bel di pintu terdengar. Graciella dan Laura membesarkan matanya.
"Mungkin itu jodohmu." Graciella sedikit tersenyum.
"Hah …" Laura mendengus kencang. "Pasti Antony!" katanya melirik malas pada pintu apartemennya. Graciella hanya mengangguk sambil tersenyum.
Laura membuka celemek yang dia gunakan, sedikit merapikan rambutnya dan menggunakan pewarna bibir. Gracilella menggerutkan wajahnya. Katanya tak suka tapi menyambutnya dengan mendandani wajah, pikir Graciella.
Laura segera menuju pintu apartemennya. Membukanya dan memunculkan sosok dengan senyuman hangat. Laura hanya menyambutnya dengan wajahnya yang tampak kesal. Antony sudah biasa di sambut begitu oleh Laura.
"Untukmu," ujar Antony memberikan sebouquet bunga campuran yang di dominasi warna merah muda dan putih. Wanginya pun semerbak tapi tetap halus.
Laura mengambilnya, dia mencium sedikit bunga itu lalu melirik ke arah Antony, "Lain kali tak perlu memberiku bunga. Jangan terlalu boros! Walaupun aku tahu kau punya banyak uang. Lebih baik ditabung saja!"
Antony hanya manggut-manggut saja. Setelah membuka sepatu dan juga mantel hitam yang dia gunakan dia segera masuk mengikuti langkah Laura menuju ke ruang TV sekaligus bersambung dengan ruang makan.
"Hai! Gracie!" Sapa Antony melihat Graciella yang ada di kursi roda. Graciella hanya memberikan sebuah senyuman. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik saja," ujar Greciella.
"Wah terima kasih, aku pasti suka," ujar Greciella cukup girang dengan hadiah yang diberikan Antony.
"Cup cake dari La Patisserie? Itukan yang aku mau! Kenapa kau memberikanku bunga sedangkan pada Gracie kau berikan cup cake? Memangnya aku bisa makan bunga?" ujar Laura tanpa sadarnya cemburu.
Antony dan Graciela hanya mengerutkan dahi melihat Laura yang tiba-tiba meledak kesal begitu saja.
"Aku pernah memberimu coklat dari Paris dan kau bilang kau sedang diet hingga tak ingin makanan yang manis-manis, jadi aku kira kau tak akan mau makan itu," ujar Antony mengutarakan alasannya.
Laura mengerutkan wajahnya. Iya dia ingat pernah mengatakannya. Tapi melihat Antony memberikan Graciella makanan yang dia mau, dia jadi merasa ingin memakannya.
"Ya sekarang aku sedang tidak diet! Sekarang belikan aku cup cake rasa karamel!" ujar Laura.
"He? Sekarang? La Patisserie itu jauh dari sini," ujar Antony.
"Pokoknya belikan!" Laura tampak manja merajuk.
"Baiklah," ujar Antony pasrah atas permintaan dari Laura.
"Eh! Ini saja, ini juga terlalu banyak untukku. Laura, kita bisa membaginya," ujar Graciella. Merasa tak enak hati karena dirinya Antony harus bolak balik ke toko kue itu.
"Kau kan juga suka dengan karamel. Belikan saja." Laura mendorong Antony yang tadi sejenak berhenti. Laura memainkan matanya, Graciella menjadi yakin ini hanya akal-akalan dari Laura saja. Saatnya balas dendam.
"Oh, tidak! Aku tidak ingin makan karamel malam ini, kau saja yang makan. Lagian kau tidak kasihan dengan Antony, dia pasti capek sekali. Antony di sini saja, Laura sudah menunggumu, lihat dia sudah masak banyak." Greciella mengatakannya dengan senyuman mengembang sempurna. Laura membesarkan matanya dengan lubang hidung yang kembang kempis, melihat itu Graciella benar-benar tertawa. Antony jadi bingung kenapa Graciella tertawa.
"Benarkah?" ujar Antony tak percaya. Laura hanya menyipitkan matanya melihat Anotny yang tampak bahagia. Laura hanya merengut.
"Ya, benar. Sudahlah Laura, makan ini saja," ujar Graciella lagi. Laura hanya mengangguk pelan. Antony sedikit lega, dia tak perlu bolak balik yang setidaknya memakan waktu satu jam.
Graciella langsung menyuguhkan cup cake yang dibawa Antony. Baru saja dia ingin mengambilnya, tiba-tiba suara bel kembali berbunyi. Graciella dan Laura kembali saling melihat.
"Apakah itu si Tuan Komandan? Bukannya dia berkata akan pergi dan pulang lusa?" ujar Laura menganalisa. "Apa mungkin ada yang ketinggalan?" Laura mencoba mencari pemikiran yang tepat. Graciella hanya mengangkat bahunya sejenak.
"Biar aku saja yang membukanya," ujar Antony.
Dia segera berjalan menuju ke arah pintu apartemen Laura. Sebelum dia membukanya, suara bel kembali berbunyi. Laura mengikuti Antony. Graciella pelan-pelan mengikuti di belakang mereka.
Antony segera membuka pintu itu. Wajahnya langsung berkerut melihat sosok yang ada di depannya. Pria itu berdiri dengan senyuman ciri khasnya. Tampak licik dan sinis.
"Aku ingin menjemput istriku." Suara Adrean seketika membuat bulu kuduk Graciella berdiri.