
Xavier! Graciella hilang!” teriak Laura ketika dia menyadari bahwa Graciella sudah tidak ada di rumah itu. Dia dan orang-orang yang ada di sana sudah mencari Graciella di rumah hingga ke sekitar perumahan tetapi hasilnya nihil.
“Hilang? bagaimana bisa?” tanya Xavier yang baru saja ingin kembali ke rumahnya. Dia masih punya waktu yang cukup untuk pulang ke rumah sebelum kembali bekerja.
“Aku tidak tahu. Saat aku bangun aku kira Graciella sedang pergi entah ke mana. Aku baru sadar ketika membuka ponselku dan dia menuliskan pesan bahwa dia yang mengambil uangku juga akan membayarnya. Saat itu aku meminta para penjaga untuk mencarinya tapi dia tidak ada di mana pun. Sepertinya dia memang melarikan diri.” Laura terdengar sangat panik. Dia bahkan memegang kepalanya karena tiba-tiba merasa pusing.
Mata Xavier tampak bergerak-gerak memikirkan apa kemungkinan yang terjadi. Bagaimana bisa Graciella pergi dari rumahnya? Apa yang dipikirkan wanita itu sekarang.
“Oh! Aku rasa aku tahu!” ujar Laura memekik.
“Kenapa?” tanya Xavier cepat.
“Tadi malam Adrean menelepon Gracicella. Sebelum mengangkatnya Graciella bertanya pertanyaan aneh padaku, dia mengatakan bahwa jika kita bisa bertemu dengan orang yang sangat ingin kita temui walaupun untuk menjebak kita, apa yang harus dia lakukan? dia juga menangis setelah menelepon Adrean. Aku yakin ini akal-akalan Adrean lagi untuk menjebak Graciella. Adrean selalu punya cara untuk membuat Graciella tak bisa lepas darinya?”
“Siapa yang dia maksud?”
“Tidak tahu, dia hanya mengatakan seorang kenalan,” ujar Graciella.
“Lapor Nona, penjaga gerbang utama mengatakan bahwa mereka melihat Nona Graciella tadi pagi saat dia ingin keluar dari gerbang utama. Mereka mengatakan bahwa Nona Graciella dijemput oleh seorang pria bernama Adrean,” lapor bawahan Xavier pada Laura. Xavier bisa mendengarnya dengan jelas.
“Ha? Benarkah? Ya ampun Gracie!” kesal Laura. Bagaimana Graciella bisa kembali terjebak oleh Adrean dan gilanya sekarang dia tidak memberitahu Laura. Laura segera kembali meletakkan ponselnya ke telinga, dia kira dia masih tersabung oleh Xavier. Tapi nyatanya pria itu sudah memutuskan panggilannya. “Halo Xavier? Halo?” Laura mengerutkan dahinya menyadari hal itu.
Xavier yang tadi mendengar dengan jelas laporan dari bawahannya segera mematikan panggilannya. “Fredy! Cari di mana Adrean atau Graciella berada! Laporkan padaku secepatnya dan siapkan kendaraanku! Cepat!” ujar Xavier yang tampak begitu membara.
Dia masih tak habis pikir. Kenapa Graciella bisa kembali bersama dengan Adrean? Apa maunya wanita itu? Apa dia hanya mempermainkan Xavier?
...****************...
Graciella membuka matanya seketika karena kaget merasakan gerakan di sampingnya. Dia semakin kaget melihat Adrean duduk di sana. Bagaimana bisa pria ini masuk bukannya dia sudah menguci manual kamarnya.
“Aku punya kunci cadangannya. Lain kali jika ingin mengunci pintu, tinggalkan kuncinya,” kata Adrean. Graciella hanya mengeratkan pelukannya pada Moira, seolah takut Adrean akan melakukan sesuatu pada Moira.
Graciella pikir Moira akan takut pada Adrean, dia sudah ingin menjauhkan anaknya itu dari Adrean. Tapi hal yang mengejutkan malah terjadi. Moira dengan manjanya langsung mengangkat kedua tangannya. “Papa,” ujarnya manja. Adrean sigap dan segera menggendong putri kecil Graciella.
“Kita makan, biarkan mama bersiap-siap dulu. Temui kami di ruang makan,” ujar Adrean. Membuat Graciella yang masih bingung hanya bisa diam dan melihat bagaimana Moira bergeyalut manja pada Adrean tetapi tangannya memanggil-manggil Graciella.
Graciella tentu langsung turun dari ranjangnya. Rasa sakit di kakinya yang sudah samar tak lagi dia rasakan. Dia langsung menuju ke ruang makan rumahnya. Ada seorang wanita paruh baya yang sudah menyiapkan semua makanan. Moira sudah duduk di bangku makan khususnya. Adrean tampak dengan sabar mulai menyuapi roti untuk Moira. Apakah sekarang Graciella sedang bermimpi?
“Mama! Moila mamam,” teriak Moira senang melihat ibunya. Graciella langsung tersenyum kaku melihat keadaan ini.
“Nyonya, selamat pagi,” ujar wanita separuh baya itu memberikan hormat pada Graciella.
“Pagi,” ujar Graciella yang masih tidak percaya ini adalah kenyataan. Dia hanya melihat ke arah Adrean dan Moira yang bercengkrama riang. Dia benar-benar tak bisa percaya.
“Kenapa berdiri saja, makanlah,” tegur Adrean. Dia langsung memalingkan wajahnya ketika tangannya ditarik Moira yang minta untuk disuapi. Graciella bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya. Dia duduk dengan wajah bingung.
“Moira ingin disuapi oleh Mama. Papa ada urusan.” ujar Adrean.
“Mama, mam,” ujar Moira sambil mengangguk pada ayahnya. Graciella tentu langsung berdiri dan mengambil piring berisi roti dengan selai coklat kesukaan dari Moira. “Mama!” pinta Moira yang merasa dia sudah sangat ingin memakan rotinya.
Graciella tersenyum senang, “Baiklah, Moira sangat suka makan roti ini ya?” ujar Graciella langsung berubah ceria. Moira hanya mengangguk semangat. Mulutnya terbuka lebar ketika Graciella menyuapinya. Tingkah Moira membuat Graciella tersenyum begitu bahagia, dia juga mengikuti tingkah Moira, sehingga membuatnya tampak seperti anak-anak.
Adrean memperhatikan itu sejenak. Senyuman Graciella yang seperti itu sudah lama sekali tidak pernah dia lihat. Nyatanya dia cukup terkejut mendapati senyuman seperti itu yang ingin dia lihat. Tingkah dari Graciella dan Moira yang saling bernyanyi dan bertepuk tangan seperti itu membuatnya tersenyum. Kali ini bukan sebuah senyuman sinis, melainkan senyuman manis yang tulus. Adrean saja kaget kenapa dia bisa tersenyum hanya karena hal ini.
“Nyonya, apakah Anda ingin sarapan dulu, sarapan Anda akan dingin. Biar saya yang menyuapi susu Moira,” ujar wanita paruh baya yang sepertinya adalah pengasuh Moira.
“Tidak, biar saja aku yang melakukannya,” kata Graciella tersenyum. Dia sudah melewatkan banyak waktu dari Moira. Dia belum pernah memberikannya susu. Belum pernah bermain dengannya. Bahkan belum pernah melakukan apa yang seharusnya seorang ibu lakukan. Melihat Moira begitu semangat dan senang di sisinya saja Graciella sudah begitu haru.
“Mama, kenapa lama datangnya?” ujar Moira tiba-tiba di sela Graciella menyuapinya susu. Matanya yang hitam bagaikan berlian hitam yang berbinar tampak polos menatap ke arah Graciella. Tatapan itu malah membuat sakit hati Graciella.
“Maafkan Mama. Mama terlalu lama datang ya? Maafkan Mama. Tapi Mama tidak akan pernah meninggalkan Moira lagi,” ujar Graciella menyentuh hidung Moira yang dia suka sekali. Moira tersenyum senang memperlihatkan giginya yang rapi. Ah, anaknya begitu cantiknya, Graciella mencium dahi dan kedua pipi Moira dengan gemas. Entah kenapa malah kembali menangis.
“Mama, jangan menangis. Papa malah,” ujar Moira menggoyangkan tangan kecilnya seolah melarang Graciella menangis. Kata-kata Moira membuat Graciella menjadi semakin sakit hatinya.