
“Karena aku tidak akan bisa melihat kau dilukai oleh mereka lagi!” bentak Xavier yang tidak bisa lagi menahan semuanya. Emosi, takut dan juga cemasnya berkumpul menjadi satu.
Pundak Xavier yang tadinya terangkat karena emosinya, langsung perlahan turun karena menatap mata Graciella yang hanya terdiam menerima bentakan dari Xavier, seketika saja Xavier merasa menyesal sudah menggunakan nada tinggi itu pada Graciella.
“Aku memang tidak ingat bagaimana aku bisa melewati hari itu mengetahui mereka sudah menahanmu dan juga Moira. Tapi aku sangat yakin aku tidak ingin mengingatnya atau merasakannya lagi di masa depan. Karena itu sebisa mungkin aku menjauhkan semuanya dari dirimu. Graciella, aku hanya tidak ingin kau terluka lagi karena diriku, sampai sekarang itulah dosa yang menghantuiku, aku tidak ingin itu terulang lagi,” ujar Xavier dengan wajahnya yang begitu memelas menggenggam kedua pergelangan tangan Graciella dengan lembut. Baru kali ini Graciella melihat wajah pria itu seolah memohon padanya. Wajah yang biasanya tegas itu tampak tak bisa menutupi kekhawatirannya.
Graciella hanya bisa terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Xavier. Dia menarik kedua tangannya dari genggaman Xavier. Graciella menyeka air mata yang membuatnya basah di ujung matanya.
“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa hanya menunggu. Apa kau bisa membayangkan bagaimana aku bisa hidup tenang karena setiap hari aku harus menebak apakah putriku masih ada? Apakah dia selamat? Apakah dia hidup dengan baik? Apakah dia bahagia? Apakah ada orang yang menjaganya dan menyayangi putriku yang begitu cantiknya? Aku benar-benar tak akan bisa hidup tenang tiap hari memikirkan hal itu,” ujar Graciella dengan tangis yang pecah begitu saja yang langsung membuat Xavier merasa tak sanggup melihatnya. Graciella merasa dia semakin sensitif jika sudah berhubungan dengan Moira. Dia hanya tak bisa memaafkan dirinya karena tak bisa menjaga putri kecilnya dengan baik.
Xavier tahu persis bagaimana perasaan Graciella sekarang. Dia pastinya begitu mengkhawatirkan Moira. Xavier langsung memeluk tubuh gemetar Graciella yang tidak bisa lagi menahan kesedihan hatinya. Dia sudah begitu rindu memeluk putri kecilnya, merasakan hangat pelukannya.
“Kita akan menemukannya, aku akan berjanji padamu,” ujar Xavier dengan mata yang memerah tapi langsung penuh tekat. Graciella hanya mengangguk pelan dalam pelukan Xavier yang cukup bisa meredam perasaannya, jika tidak mungkin Graciella akan begitu histeris. Dia tak ingin apa-apa lagi di dunia ini. Dia hanya ingin tahu di mana putrinya. Xavier terus memeluk Graciella mencoba untuk menenangkan wanitanya dan perlahan-lahan tampaknya Graciella mulai tenang.
“Komandan, kita sudah sampai di tempatnya,” ujar Arnold, mau tidak mau mengganggu suasana yang ada di belakang mereka. Mobil mereka menepi tak jauh dari sebuah tempat pertemuan.
Xavier mengangguk mengerti. Dia perlahan melepas tubuh Graciella dan menatap wajah wanita yang tampak sudah memerah dan juga basah. Graciella segera menghapus air matanya dan menjepit hidungnya yang basah.
“Ada yang harus aku lakukan sekarang. Aku minta apapun yang terjadi, bahkan jika ada orang yang menyerang mobil ini, kau jangan sampai keluar dari sini,” ujar Xavier yang langsung memasang wajah seriusnya. “Jaga Nona Graciella, apa pun yang terjadi jangan biarkan dia keluar dari sini,” tegas Xavier langsung.
Perintah itu langsung mendapat anggukan dari supir mobil itu yang juga salah satu bawahan Xavier. Xavier memang dalam perjalanan misi untuk melakukan rencananya ketika dia mendengar laporan bahwa Graciella sekarang bersama dengan Adrean. Karena itu dia segera menemui wanita ini dan terpaksa membawanya.
Graciella memandang ke arah luar mobil. Untung saja mobil ini memiliki kaca yang tidak bisa menembus hingga ke dalam, tapi di dalam bisa melihat keluar dengan jelas. Tiba-tiba dia melihat sosok yang dia kenal keluar dari mobil itu. Graciella sampai membesarkan matanya dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pria itu adalah Robert Kim. Orang yang dari kemarin membuatnya berpikir bagaimana bisa menemuinya. Tiba-tiba saja dia sekarang bisa melihat pria itu di depannya.
“Graciella! Ingat perkataanku, apapun yang terjadi jangan keluar,” ujar Xavier yang melihat Graciella terpaku pada sosok Robert Kim yang memang sengaja dipancing oleh Xavier untuk datang ke tempat itu.
“Kau ingin bertemu dengannya?” tanya Graciella lagi menatap Xavier. Sejenak saja dia kembali melihat Robert Kim, Xavier bisa tahu amarah dan kebencian tersirat di mata Graciella
“Ya, tetaplah di sini, jika kau keluar, maka rencanaku akan hancur dan yang pasti kau akan menjadi sasaran mereka lagi. Jadi, berjanjilah padaku kau tetap akan ada di sini,” ujar Xavier yang segera memegang kedua lengan Graciella agar wanita itu bisa memalingkan wajahnya ke arah Xavier agar keterpakuannya terhadap Robert Kim teralihkan.
“Ehm, ya, baiklah,” ujar Graciella yang akhirnya menyerah. Dia sebenarnya ingin sekali keluar dan mendekati pria itu. Dia ingin tahu apa reaksi pria itu jika melihat dirinya lagi. Tapi keseriusan dalam sorot mata Xavier membuatnya urung melakukan itu. Dia tak mau merusak apa pun rencana dari Xavier.
“Baiklah,” ujar Xavier. Dia merapikan sedikit kemejanya sebelum dia keluar dari mobil itu dan menutup pintunya cepat.
Graciella tampak serius melihat Xavier segera masuk ke dalam gedung yang sama yang dimasuki oleh Robert Kim, Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang ingin diperbuat oleh Xavier? Dia bahkan tidak membawa banyak anak buahnya.
*****
Robert Kim langsung turun dari mobilnya dan melihat keadaaan tempat janji temu dengan Tuan Bernando. Pria itu adalah salah satu petinggi dan juga usahawan yang sangat sukses. Dia masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Tentu dukungan dari dia akan sangat berpengaruh dengan obsesinya.
Belum lagi dia juga menerima laporan bahwa David Qing langsung berkoalisi dengan Tuan Peter. Merasa dikhianati dan juga bagaikan manis sepah dibuang, Tuan Robert benar-benar tak bisa mempercayai rekannya yang dulu saling mendukung ternyata malah menusuknya dari belakang. Tentu saja, David Qing memiliki hubungan dengan Tuan Peter, jika tidak dia tidak mungkin semudah itu membentuk sebuah Koalisi.
“Tuan Bernando, senang melihat Anda,” ujar Tuan Robert yang memang mulai kehilangan kekuasaan beberapa tahun ke belakang. Semenjak Xavier menjabat sebagai Jenderal, sepak terjangnya menjadi terbatas karena Xavier memberantas semua hal ilegal, sehingga dia tidak bisa melancarkan banyak rencananya dengan mulus. Padahal yang membuat Xavier mudah mendapatkan gelar jenderal itu ada sedikit campur tangan darinya.
“Tuan Robert Kim, senang bertemu dengan Anda, Tapi apakah Anda tidak mendapatkan pesan saya?” tanya Tuan Bernando yang berwajah sungkan menjabat tangan Tuan Robert.
“Apa maksud Anda?” tanya Tuan Robert mengerutkan dahi.
“Ya, aku sudah memindahkan jadwal pertemuan kita karena aku harus bertemu dengan orang lain hari ini,” ujar Tuan Bernando sungkan.
“Tapi kita sudah lama mengatur pertemuan ini, bagaimana bisa Anda memindahkannya?” tanya Tuan Robert lagi.
“Ya, Beliau tiba-tiba menghubungi saya, dan karena saya memang punya kepentingan dengan Beliau, karena itu saya memindahkannya, Maafkan saya Tuan Robert, ini pasti kesalahan dari asisten saya,” ujar Tuan Bernando ramah.
“Siapa yang ingin anda temui?” tanya Robert yang penasaran dan juga sedikit kesal dengan Tuan Bernando. Sudah hampir seminggu yang lalu dia membuat janji pada pria ini dan dengan mudahnya dia mengganti jadwal pertemuan mereka. Robert jadi sangat penasaran dan juga ingin tahu siapa orang yang sudah menggeser tempatnya.
“Tuan Bernando, selamat siang,” suara berat itu langsung membuat Tuan Robert menoleh hingga ke belakang. Dia memandang dengan tatapan tak suka melihat Xavier yang berjalan dengan penuh ketegasan dan percaya diri ke arah mereka.
“Jenderal Xavier. Aku sudah menunggu Anda!” ujar Tuan Bernando begitu bersemangat mendatangi Xavier.
Robert Kim yang melihat hal itu langsung mendidih. Dia menggenggam erat tangannya dan juga tak bisa lepas memandang Xavier dengan matanya yang memerah. Xavier bahkan tidak menyapanya, dia hanya memandang Robert kim dengan ujung matanya. Tentu sekali lagi, hal itu merobek-robek harga dirinya.
“Kau!!!”
...****************...
Happy New Year kakak2!
semoga tahun depan menjadi tahun penuh keberuntungan, rezeki, yang penuh tawa dan kesehatan yang prima.
Sekali lagi, sudah 2 tahun saya berkarya di sini bersama kakak2 yang ga aku sangka masih mau dan tetap membaca karyaku yang jelimet abis ini. Ga da romantisnya. Kadang malah bikin otak mumet. Hahha, maafkan aku kak.
tapi aku bener-bener berterima kasih sama para kakak2 yang sudah mendukung, yang udah kayak saudara bahkan tak pernah bertemu sebelumnya. Tanpa kalian aku bukan seorang penulis, kalian lah yang membuat cita-cita dan mimpi si tukang coret2 buku sekolah dulu ini tercapai. Terima kasih, hanya itu saja yang bisa aku kasih sama kakak2.
Aku berusaha akan menyuguhkan cerita yang baik untuk kalian. Aku cinta kalian semua. sekali lagi Terima kasih, for Quin, You are my Queen!!! (Halah sok2an bahasa Inggris!)
Sekali lagi selamat tahun baruu!!!