Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 160. Berhentilah!


“Tapi kau harus menepati janjimu!” ujar AdreanA sekali lagi menegaskannya.


“Bukannya aku selalu menepati janjiku, asal kau bawa anakku dengan segala buktinya, bahkan harus terus bersamamu saja aku akan melakukannya. Aku hanya ingin anakku,” ujar Graciella dengan wajah yang begitu menyakinkan, butiran-butiran air mata yang membuat bulu matanya yang seindah kipas kecil nan lentik itu basah. Tentu siapa pun yang melihatnya akan percaya.


“Baiklah,” ujar Adrean yang cukup percaya. Graciella dari dulu memang adalah orang yang tepat janji. Walau sudah empat tahun tak dekat denganya, sepertinya wanita ini tak berubah. Dia memang selalu gegabah dan hanya ingin mendapatkan keinginannya tanpa berpikir konsekuensinya. Itulah salah satu sifat buruk Graciella.


“Ya, terima kasih,” kata Graciella dengan senyuman yang berbalut suasana sedih. Berusaha semakin membuat Adrean yakin dengan keadaan ini.


Tak lama makanan yang Adrean pesan akhirnya datang juga. Graciella hanya menyentuh makanan di depannya sedikit saja ketika dia pura-pura melihat ponselnya.


“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku harus kembali ke kantor sekarang, Kak Daren sudah menungguku,” ujar Graciella. Dia tidak ingin berlama-lama lagi bersama dengan pria ini.


Adrean menatap ke arah Graciella, walaupun masih enggan dia tak punya lagi alasan untuk menahan Graciella lebih lama. “Ya, baiklah.”


Graciella segera mengambil tasnya. Graciella hanya melemparkan sebuah senyuman yang datar dan berdiri melihat Adrean yang terus menatap dirinya. “Aku pergi dulu.”


Adrean hanya mengangguk pelan sebelum Graciella melangkah keluar dari restoran itu. Graciella menarik napas panjang yang terasa lega ketika dia sudah keluar dari restoran itu. Dia memalingkan wajahnya sejenak melihat ke arah Adrean yang tampak tenang menyantap makanannya.


Graciella kembali menarik napasnya panjang dan segera melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya.


“Nona Graciella, kenapa kau malah setuju untuk bersamanya?” tanya Stevan yang langsung berbicara pada alat komunikasi yang terpasang di telinga kirinya.


“Menghadapi orang licik, kita juga harus menggunakan cara licik. Biar saja dia berpikir bahwa aku masih seperti Graciella yang dulu,” kata Graciella sedikit menyungingkan senyumannya.


“Eh? Apa maksudmu, Nona Graciella?” tanya Stevan.


“Aku tidak punya niat untuk menepati janji itu. Jika memang dia melakukannya dan menemukan keberadaan putriku hidup atau mati. Aku tidak akan menepati janjiku.” Graciella memandang lurus ke arah luar dengan mata yang menarawang jauh. Adrean adalah seorang yang tak bisa dipegang omongannya. Jadi orang seperti itu juga harus dihadapi dengan sifat yang sama. “Adrean masih mengira aku adalah Graciella yang dulu yang selalu saja menepati kata-kataku dan gegabah. Jadi biarkan dia berpikir aku tetap seperti itu,” ujar Graciella.


“Bagaimana jika dia menemukan keberadaan Moira dan memaksamu untuk kembali padanya seperti dulu,” ujar Stevan.


Graciella tersenyum sedikit, “Lalu untuk apa aku punya dua jenderal yang sekarang menjagaku?”


Stevan langsung terdiam. Graciella memang sudah begitu banyak berubah, tak menyangka gadis rapuh yang murung dulu bisa menjadi wanita seperti ini. Terkadang Stevan sendiri takut melihat perubahan Graciella.


“Bolehkah aku meminta beberapa bawahanmu mulai sekarang untuk mengawasi Adrean, Aku ingin tahu kemana dia pergi dan berada, karena pastinya dia akan pergi untuk mencari di mana Moira, aku ingin kita melacaknya lebih dulu sebelum dia memberitahu kepada ku,” ujar Graciella pada Stevan lagi.


“Tentu, aku akan menugaskan beberapa orang untuk terus mengawasi semua pergerakannya, tidak perlu cemas.”


Graciella langsung saja menjalankan mobilnya. Saat dia berhenti di lampu merah, tiba-tiba saja kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang dengan sedikit kasar. Tentu itu membuat Graciella langsung kaget. Pria itu langsung menujukkan tanda kartu militer yang dia punya. Graciella menggigit bibirnya dan menurunkan kaca jendelanya.


“Komandan ingin Anda pindah ke mobilnya,” ujar pria itu tanpa basa-basi. Graciella tidak bisa mengatakan apa-apa dan langsung mengikuti apa yang diminta oleh Xavier. Dia mengambil tasnya dan segera keluar dari mobilnya. Melihat beberapa mobil yang ada di belakangnya. Sebuah mobil memberi isyarat dan Graciella langsung menuju ke arah mobil itu.


Graciella langsung membuka pintu mobil itu  dan melihat Xavier hanya duduk di dekat pintu sisi lain dengan wajah diamnya. Graciella tentu langsung masuk. Tidak ingin membuat orang curiga. Apalagi jika Adrean mengikutinya, pastinya akan membuat semua rencana Graciella gagal nantinya.


Begitu Graciella duduk di dalam mobil itu, suasana dingin terasa sekali. Mobil mereka segera berjalan tapi Xavier sama sekali tidak bergeming. Graciella tak punya niat sama sekali untuk menutupi rencananya dari Xavier, bagaimana pun dia tahu bahwa Xavier akan dengan mudah mengetahuinya. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara memberitahu pada pria ini.


Graciella melirik ke arah Xavier yang masih saja berwajah ketat. Tampak sekali dia sedang menahan emosinya. Graciella melihat Xavier yang menarik napasnya panjang.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Xavier dengan nada datarnya.


“Aku hanya ingin mengetahui apakah Adrean tahu tentang Moira,” ujar Graciella. Xavier langsung menatap ke arah Graciella, dari wajahnya dia tampak begitu kaget. Bagaimana Graciella tahu tentang Moira?


“Aku sudah tahu semuanya, Aku tahu bahwa kita memiliki seorang putri bernama Moira. Aku tahu kau adalah pria yang dulu pernah tidur denganku di hotel Sangri-La. Aku juga tahu apa yang terjadi padanya,” ujar Graciella menatap wajah Xavier yang masih tak percaya.


“Apa kau sudah ingat semuanya?” tanya Xavier. Bagaimana bisa Graciella mengetahuinya semua. Rasanya, baik Stevan maupun Daren tidak akan mungkin membuka hal itu.


Graciella menggeleng lemah. “Aku tahu semua dari Stevan,” ujar Graciella


“Sial! Bagaimana bisa mengatakan hal itu padamu?” ujar Xavier yang tampak kesal. Dia berusaha agar Graciella tak bisa mengingat apa pun tentang putri mereka. Jika tidak dia akan bertindak seperti ini. Xavier benar-benar tidak ingin Graciella terlibat apa pun dengan orang-orang yang sudah merenggut putri mereka.


“Aku yang memaksanya untuk menceritakan semuanya. Aku tidak bisa tenang karena mimpi yang terus menghantuiku itu.”


“Berhentilah, apa pun rencana yang sedang ada di dalam otakmu, berhenti sekarang,” ujar Xavier langsung dengan wajah yang begitu serius.


“Tidak, aku tidak akan berhenti. Aku ingin tahu bagaimana keadaan anakku. Apa kau tidak ingin tahu bagaimana keadaan putri kita?” tanya Graciella tampak teguh dengan pendiriannya. Supir dan Arnold – ajudan Xavier – mencoba untuk bertindak seperti patung yang seolah tidak mendengar pertengkaran yang terjadi di belakang. Bahkan bergerak pun mereka tidak bisa.


“Tentu aku ingin! Tapi kau harus berhenti melakukan ini semua. Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi! Biar aku saja yang melakukannya, kau hanya tinggal menunggu semuanya selesai,” Xavier mulai meninggikan suaranya. Kesal mengetahui seberapa keras kepalanya Graciella sekarang.


Graciella mengerutkan bagian di antara kedua alisnya sehingga membuatnya terlihat bergelombang. “Tidak, aku tidak akan berhenti. Aku ingin segera bertemu dengan gadis kecilku!” teguh Graciella kembali yang tentu membuat Xavier bertambah kesal. Dia sulit menahan amarahnya, mengetahui Graciella yang bertemu dengan Adrean secara tiba-tiba sudah begitu menyulut emosinya sekarang wanita ini malah tampak begitu keras kepala.


“Graciella, kalau aku mengatakan kau harus berhenti maka kau harus berhenti segera!” suara Xavier semakin meninggi walaupun dia mencoba keras agar tidak terkesan membentak Graciella.


“Kenapa aku tidak boleh berusaha untuk mengetahui dimana anakku! Aku yakin Adrean tahu dimana anakku! Karena itu aku tidak akan berhenti, Aku pasti menemukannya!” ujar Graciella yang tak disangka malah lebih tinggi nada bicaranya dari pada Xavier. Kedua orang yang duduk di bangku depan saling melempar pandang, apakah ini akan menjadi perang dunia ke tiga? Tidak penah ada yang berani menggunakan nada bicara seperti itu pada Xavier.