
“Kau?” Laura tidak percaya dengan sosok yang ada di depannya. Tangannya perlahan ingin menggapai sosok yang ada di depannya. Apalagi dia tak yakin apakah ini hanya angannya saja atau tidak.
Tapi tangan Laura yang tadinya bergerak lambat langsung disambar oleh Antony dan yang langsung meletakkan telapak tangan Laura menyentuh pipinya. Wajah datar pria itu perlahan menyunggingkan senyuman manisnya.
Laura yang merasakan hangat pipi Antony langsung menutup mulutnya. Matanya terbelalak dengan sangat besar. Dia benar-benar tidak percaya bahawa Antony sekarang tiba-tiba ada di depannya.
Laura menatap pria itu dengan wajah yang sangat terharu. Dia tanpa sadarnya langsung bangkit dan memeluk tubuh pria itu. Rasanya begitu rindu padahal baru beberapa hari tidak bertemu. Tak peduli lah ini hanya dalam mimpinya atau memang terjadi. Yang penting dia bisa memeluk Antony.
Antony yang mendapatkan pelukan erat dari Laura awalnya sedikit kaget. Tapi perlahan dia membalas dekapan hangat itu. Dia juga sudah begitu merindukan Laura. Mereka mempertahankan posisi itu untuk sesaat. Menumpahkan desakan perasaan yang rasanya ingin meledak sekarang.
Graciella dan juga Xavier yang melihat di balik pintu hanya saling pandang dan tersenyum. Mereka meninggalkan kedua orang yang penuh cinta tapi terlarang itu. Apa yang mereka harus lakukan? Terkadang dalam cinta, tak tahu mana yang benar, di mana pula yang salah. Biarlah yang merasa yang mengarunginya. Mereka yang hanya orang luar, tak bisa berbuat apa-apa.
“Bagaimana kabarmu?” bisik Antony yang akhirnya melonggarkan sedikit pelukannya untuk melihat wajah wanitanya yang kembali sudah basah. Matanya terlihat sembab dan menghitam, terlihat sekali dia tidak tidur dengan baik.
“Baik kau rasa aku hanya sedikit pusing,” ujar Laura merasa begitu nyaman dengan usapan lembut yang diberikan oleh Antony pada pipinya untuk menghapus air mata yang terasa asin dan hangat.
Otak Laura yang rasanya semakin lambat berputar langsung teringat sesuatu. Ada hal yang harus dia katakan pada Antony. Laura langsung mengambil tangan kekar Antony dan langsung meletakkannya di perut bawahnya.
Antony yang melihat bagaimana wajah antusias yang ditunjukan oleh Laura dan juga bagaimana dia menekan telapak tangannya pada perut Laura hanya mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang muncul di dalam pikirannya tapi dia tidak ingin menebak.
“Ini ….” Antony memindahkan pandangannya dari tangannya lalu ke wajah Laura yang tampak sumringah itu berulang.
“Aku hamil!” teriak Laura dengan penuh kegirangan. Padahal baru saja beberapa jam lalu dia pingsan karena mendapatkan kabar itu. Tapi di depan pria ini, entah kenapa perasaan itu penuh dengan kebahagiaan mendapatkan buah cinta mereka sekarang bersemayam di dalam perutnya yang kecil.
Antony mendengar itu terlihat perlahan membesarkan matanya dan wajahnya yang sekarang lebih banyak datar perlahan berubah menjadi tak percaya. Sebuah senyuman langsung tercipta. Senyuman lebar yang benar-benar merubah wajahnya menjadi begitu manis.
“Benarkah?! Kau tidak bermain-main denganku kali ini bukan?” Tanya Antony. Sekarang tanpa tekanan dari Laura, dia malah menekan lembut perut Laura.
“Tidak, dokter dari rumah sakit baru saja mengirimkan hasilnya. Kita akan punya bayi.” Laura terlonjak begitu senang sambil memegang wajah Antony yang masih tidak percaya. Satu lagi cita-cita dan keinginannya yang terdalam akhirnya terwujud. Dia akan memiliki anak dari wanita yang paling dia cintai.
Antony tanpa sadarnya langsung meraup tubuh Laura dan membawanya ke dalam pelukan paling erat yang pernah Laura rasakan. Rasanya bahkan membuat Laura sedikit sesak, tapi Laura juga bisa merasakan bagaimana kebahagiaan yang begitu dalam yang tersalurkan dalam pelukan itu. Usapan lembut di kepalanya terasa begitu menenangkan. Bagaimana dia bisa berpikir hidup tanpa ini semua? Laura nyatanya sudah begitu tergantung dan juga terikat dengan pria ini.
“Terima kasih untuk memberikanku kebahagiaan yang sangat ini. Aku akan berjanji untuk terus menjagamu dan anak kita. Terima kasih sudah mewujudkan semua keinginanku. Kau dan anak kita adalah hal yang paling penting untukku sekarang.”
Laura tersenyum manis dalam dekapan prianya. Dia hanya mengangguk pelan. Antony mendorong tubuh Laura untuk lepas dari pelukannya tapi langsung disambut oleh sebuah ciuman dalam yang begitu mewakili perasaan keduanya sekarang. Kebahagian yang begitu penuh hingga membuat keduanya merasa sesak.
“Baiklah, aku akan menunggu kabarnya. Aku akan memberikan nomor ponselku padamu,” kata Antony dengang senyuman mengembang sempurna, bahkan senyuman itu memperlihatkan gigi-geliginya yang putih dan teratur.
Laura menggigit bibirnya. “Bisakah, jika ada kesempatan. Kau pergi denganku untuk memeriksakan dia. Pasti rasanya berbeda jika ditemani olehmu.” Laura mengutarakan keinginannya. Entahlah, mungkin anak ini sangat terikat dengan Antony hingga rasanya Laura ingin selalu berdekatan dengan Antony. Jika boleh dia selalu ingin ada di sisinya. Tapi keadaan tak memungkinkan.
“Pasti. Tapi mungkin bukan yang kali ini. Tapi aku pasti akan menemani dalam pemeriksaan yang lain. Aku juga ingin bertemu dengan versi kecil dirimu.” Antony mengenggam tangan wanitanya dengan lembut.
“Bagaimana jika dia adalah Versi kecil darimu?” tanya Laura dengan tawa yang cenderung seperti sebuah tawa kecil.
“Maka kau akan punya dua orang pengagum yang mencintaimu dengan sangat.”
“Kalau begitu lebih baik dia versi kecil darimu dan aku akan menjadi wanita tercantik di rumah kita nantinya.” Luara awalnya sedikit terkekeh tapi perlahan senyumannya itu pupus. Apakah seseorang yang hamil begitu cepat perasaannya berganti? Baru saja terasa begitu senang, sekarang entah kenapa kesedihan perlahan menyusup.
“Kenapa?” tanya Antony yang tadi ikut tertawa mendengar keinginan istrinya tapi sekarang wajah Laura tampak sedih.
“Aku tidak tahu kapan kita akan bisa kembali tinggal bersama. Aku rasa aku dan dia harus menunggu hingga kau menyelesaikan masa jabatanmu.” Luara tiba-tiba merasa begitu sendu. Jika statusnya tetap saja seperti ini. Itu artinya untuk keluar di hadapan publik saja akan begitu susah. Lagipula walau Antony nantinya sudah selesai menjabat, Anaknya tetap tidak akan bisa tampak bersama dengan Antony untuk waktu yang lama. Publik akan kaget dengan kedatangannya. Mereka akan menghujat Antony karena pasti mereka tahu bahwa Antony punya hubungan gelap dengan seseorang selama menjabat karena tak mungkin anaknya sudah sebesar itu nantinya.
Antony terdiam sejenak. Dia lalu kembali meremas tangan wanitanya ini. “Aku akan mengundurkan diri. Bagaimana pun seperti yang aku katakan. Kau dan dia adalah yang terpenting. Aku tidak perlu dikenal sebagai seorang presiden. Aku hanya ingin menjadi suami dari seorang Laura dan juga ayah dari anak yang kau kandung sekarang. Itu sudah sangat cukup bagiku. Kedudukan tinggi ini tak ada artinya dibandingkan dirimu dan dia. Kau adalah segalanya.” Antony menarik tubuh Laura untuk kembali masuk ke dalam pelukannya. Laura mendengar itu kembali bingung perasaannya. Haruskan senang atau malah harus sedih, pria ini, dia sudah berkorban begitu banyak hanya untuk seorang Laura.
*****
Halo kak. Aku ingin menjawab beberapa pertanyaan yang aku baca di komenan.
1. Up lebih dong kak!
Quin : Ga bisa kak, huhu, maafkan aku! sehari aku harus ngurus 4 Novel berbeda. Semoga setelah minggu ini aku bisa terus up. minimal tiga kali seminggu.
2. Di tamatin di sini kan?
Quin : Yes, pasti. Athena juga. Novel baru yang baru dirilis di sini juga.
Jadi cuma itu yang mau aku sampaikan ya. Semoga semua memakluminya