Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 213. Hah! kau saja gagal apalagi diriku?


Stevan memandang dengan tatapan tajam dan wajahnya yang serius melalui cermin dua arah yang langsung menghadap ke arah ruang interogasi James. Dia bisa melihat bagaimana gerak gerik pria yang cukup terlihat tambun itu.


“Dia gelisah,” ujar Daren mengamati bagaimana tingkah dari James.


“Tentu saja dia gelisah. Dia sudah ada di sana selama hampir 18 jam,” ujar Stevan sambil menyipitkan matanya.


“Dan dia belum juga ingin mengatakan siapa yang menyuruhnya untuk menyewa mobil itu?” tanya Daren.


“Kami tidak bisa memaksanya. Dia sepertinya tahu haknya itu atau memang sudah ada yang mengajarinya hal seperti itu. Dia memilih diam dan hanya mengatakan bahwa bukan dia yang melakukannya.”


Daren memainkan bibirnya. Tak lama terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Daren segera melihatnya. Stevan juga sedikit melirik ke arah ponsel Daren.


“Dari Graciella. Dia akan tiba ke kantor ini sebentar lagi,” ujar Daren.


“Kau menyuruhnya datang ke sini?” tanya Stevan lagi. Masih terlalu pagi untuk Graciella datang ke sini. Jam di dinding tempat pemeriksaan itu bahkan belum menunjukkan pukul 7 pagi.


“Tidak. Dia memaksa. Aku sudah mengatakan untuk tidak perlu takut. Tapi kau tahu bagaimana Graciella. Dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur,” ujar Daren lagi.


“Kenapa Xavier tidak melarangnya?” tanya Stevan lagi. Sedikit khawatir.


Daren hanya sedikit tersenyum. “Memangnya kau juga bisa melarang Graciella?”


Stevan manggut-manggut sendiri. Dia memang bisa mengatakan akan melarang Graciella tapi jika sudah langsung berhadapan dengan wanita itu apalagi melihat tatapannya. Stevan pun luluh.


“Dia akan mengabari jika dia sudah sampai di sini,” ujar Daren lagi.


...****************...


“Jangan berwajah cemberut begitu,” ujar Graciella melihat wajah suaminya yang diam. Sudah dilarang untuk pergi sepagi ini tapi istrinya ini tetap saja tidak mau menurut dengannya. “Aku sudah bilang, aku bahkan tidak bisa tidur tadi malam karena sudah terlalu banyak istirahat. Sekarang, aku harus cepat menyelesaikan tugas ini. Jika sudah menyelesaikannya. Aku janji aku akan meminta cuti hingga kandunganku berusia empat bulan.”


Xavier hanya diam saja sambil serius melihat jalanan. Matahari saja belum terlihat begitu terang di ufuk timur. Jalanan masih remang. Beberapa bahkan masih tertutup kabut, tapi dari tadi istrinya sudah terus merengek ingin diantarkan ke kantor polisi. Dari pada melihat wajah Graciella yang cemberut, mau tak mau dia mengantarkannya. Istrinya ini terkadang memang keras kepala sekali.


“Suami?” goda Graciella lagi yang tahu Xavier marah padanya.


“Aku punya waktu hingga pukul sepuluh. Aku akan menemanimu di sana,” ujar Xavier yang hanya menatap lurus ke depan. Dingin dia mengatakannya.


“Baiklah. Tidak masalah. Setelah dia membuka mulut tentang siapa yang sudah mengirimnya. Aku janji aku akan pulang dan beristirahat lagi. Lagipula terlalu banyak tidur membuatku menjadi bermimpi buruk,” ujar Graciella lagi.


“Mimpi buruk? Bermimpi apa?” tanya Xavier. Akhirnya melihat ke arah Graciella.


“Eh?” ujar Graciella yang otaknya langsung memproses semuanya. Jika dia katakan bahwa dia bermimpi tentang Adrean. Baik mimpi buruk sekali pun, Suaminya ini bisa-bisa semakin marah padanya. Dia tahu bagaimana cemburunya Xavier dengan Adrean. Sepertinya lebih baik tidak mengatakan apa pun tentang Adrean. “Sejujurnya aku lupa tentang Detailnya. Tapi aku benar-benar bermimpi buruk dan aneh, karena itu aku merasa tidak enak untuk tidur terlalu banyak,” ujar Graciella mencari alasan.


Xavier hanya sesekali melihat ke arah Graciella yang menebar senyumannya. Mencoba untuk menggoda suaminya yang masih berwajah ketat.


“Orang bilang tidak boleh berwajah seperti itu loh, nanti terlihat jadi cepat tua,” ujar Graciella masih mencoba membuat suasana hati suaminya membaik.


“Ya tidak apa-apa. Aku masih cinta kok,” jawab Graciella dengan tawa kecilnya.


Xavier menarik napasnya sedikit berat lalu melihat ke arah Graciella dengan tatapan kesalnya. Tapi tatapan itu tak lama sebelum dia kembali ke arah jalanan. Lalu tangannya yang gagah itu langsung memegang kepala Graciella dan menariknya. Xavier merangkul istrinya perlahan.


“Tolonglah lain kali jangan terlalu keras kepala,” pinta Xaveir yang nyatanya tak pernah bisa berlama marah pada Graciella.


“Haha, baiklah, aku tidak akan keras kepala lagi. Tapi jika ini keinginan bayinya bagaimana?” ujar Graciella.


“Berarti dia benar-benar keluarga Qing,” ujar Xavier lagi melepas Graciella dari rangkulannya. Kembali fokus dengan jalanannya. Mengakui bahwa salah satu sifat keras kepala memang dimiliki garis keturunannya.


“Dasar, tentu saja dia keluarga Qing, dari awal kan aku hanya tidur denganmu,” ujar Graciella asal saja. Mendengar itu Xavier akhirnya sedikit menaikkan sudut bibirnya. Entah kenapa malah senang mendengar hal itu.


Tak lama mereka sampai juga di kantor polisi tempat James di tahan. Xavier langsung sigap untuk membantu istrinya turun dari mobil.


“Tak apa, aku hanya hamil suami. Bukan sakit,” ujar Graciella.


“Tapi sama saja, kau harus tetap di jaga,” jawab Xavier lagi. Graciella mengerutkan dahinya melihat suaminya yang sudah merangkul pinggang kecilnya. “Kenapa melihatku seperti itu?”


“Kalau begini aku rela loh hamil berkali-kali agar terus diperhatikan seperti ini,” canda Graciella.


Xavier mengerutkan dahinya. “Hamil tidak hamil, aku terus perhatian denganmu,” jawab Xavier lagi dengan sedikit dingin, sepertinya kesalnya masih ada tertinggal di hatinya. Graciella melihat itu hanya tertawa kecil.


“Akhirnya kalian sampai juga,” ujar Daren yang langsung menjemput Graciella.


“Ya, kak, maaf merepotkanmu,” ujar Graciella yang merasa tak enak dia harus dijemput masuk ke dalam.


“Tak apa. Dia sudah diintrogasi semalaman. Tapi dia tetap tidak ingin membuka mulut siapa yang sudah memerintahkannya,” ujar Daren lagi.


“Benarkah, apa aku boleh masuk ke dalam untuk menginterogasinya?” tanya Graciella. Daren langsung berhenti. Dia lalu melihat ke arah Xavier. Xavier hanya berwajah datar.


“Kalau Xavier saja gagal melarangmu datang ke sini. Tak mungkin aku melarangmu untuk mengintrogasi dia. Tapi kita harus minta izin dulu dengan Stevan,” ujar Daren lagi segera membuka pintu yang ada di samping ruang interogasi itu.


Stevan tentu langsung melihat ke arah pintu. Dia langsung tersenyum manis melihat Graciella. Walaupun tidak suka Graciella datang sepagi ini, nyatanya melihat wajah wanita itu menjadi penambah semangatnya tersendiri. Tapi dia langsung mengulum senyuman itu ketika melihat Xavier yang masuk ke dalam.


“Kalian? Pagi sekali sudah datang ke sini,” ujar Stevan pura-pura terkejut.


“Dia tidak bisa dilarang sama sekali,” adu Xavier pada Stevan.


“Hah, kalau kau saja gagal, apalagi aku,” ujar Stevan. Xavier mengerutkan dahinya. Kenapa semua orang mengatakan bahwa dia gagal?


“Sudah. Ehm, aku di sini ingin meminta izin untuk menginterogasinya, boleh?” ujar Graciella dengan senyumannya yang sumringah.