Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 175.


“Bukannya kau juga sendiri tahu, Putrimu sudah meninggal! Apa kau tidak ingat bahwa kau memeluk abunya saat aku membawamu pergi?” ujar Monica yang merasa tersudutkan.


“Tidak! Aku tidak ingat apa pun. Karena ulah kalian semua aku bahkan tidak bisa ingat bagaimana rupa putriku! Aku kehilangan semuanya karena kalian. Anda juga seorang ibu! Bagaimana Anda tega melakukan itu pada putri kecilku. Apakah kalian semua hanya punya hati batu? Dia cucumu! Dia putriku! bagaimana bisa kalian melenyapkannya! Apa Anda sama sekali tidak punya hati!” teriak Graciella dengan penuh emosi. Bagaimana bisa seorang wanita dan seorang ibu bisa membiarkan hal ini terjadi.


Monica yang mendengar perkataan Graciella hanya bisa terdiam. Dia tidak tahu bahwa Graciella kehilangan ingatannya juga karena hal itu. Kalau begini sama saja dia membongkar aibnya sendiri.


“Kau tidak bisa menjawabnya! Katakana padaku! Apa yang mereka lakukan pada putriku! kenapa kau biarkan mereka membunuh anakku! Cucumu sendiri! Bagaimana kau bisa jadi begitu tega!” ujar Graciella lagi masih dengan histeris. Xavier hanya diam saja melihat Graciella begitu. Dia yakin ada yang  menjadi tujuan Graciella histeris seperti itu.


“Kalau tidak gara-gara aku! Mereka pasti benar-benar membunuh Moira!” jawab Monica karena terpancing oleh kata-kata dari Graciella. Tentu sekali lagi hal itu membuat semuanya terdiam.


“Lalu, di mana putriku?” tanya Graciella langsung. Graciella memang sengaja memancing emosi Monica dan Monica sudah terpancing olehnya. Jadi sekarang Graciella  tahu sebenarnya Monica mengetahui bahwa Moira sebenarnya tidak tewas malam itu. Graciella berharap Monica tahu di mana putrinya


Monica kembali tampak kaget dengan pertanyaan dari Graciella. Dia benar-benar tidak bermaksud mengatakan hal itu. Dia sudah mengubur rahasia itu begitu lama. Dia kira ketika Xavier melupakan semua hal. Maka Moira juga tak akan pernah lagi akan muncul di dalam hidupnya.


“Ibu! Di mana anakku?” desak Xavier yang merasa ibunya tak ingin memberitahukannya.


“Aku tidak tahu,” ujar Monica langsung sambil menggelengkan kepalanya. Ada wajah ketakutan yang muncul di wajah Monica.


“Ibu, aku tanya sekali lagi, dimana anakku?” tanya Xavier memegang tangan ibunya, sedikit mengguncangkan tubuh ibunya hingga Monica tampak begitu kaget.


“Ibu tidak tahu. Robert yang membuangnya entah kemana. Ibu tidak diizinkan lagi untuk ikut campur karena ibu tidak tega melihat mereka terus menyiksa Moira dan juga Graciella. Ayahmu hanya berjanji akan membiarkan Moira hidup. Tapi saat mereka mengira Graciella sudah mati di dalam bunker itu sendiri. Ibu mencoba untuk melihat keadaannya. Graciella masih bernapas sambil terus memegang abu yang mereka katakana adalah Moira. Mereka ingin Graciella mati dalam kesedihannya. Ibu benar-benar tak tega dan langsung menyelamatkannya, tapi tentan Moira, ibu tak tahu sama sekali,” Monica mengeluarkan semua yang dia tahu. Xavier memandang dalam ke arah mata ibunya. Tak ada kebohongan sama sekali yang terpancar.


Xavier memipihkan bibirnya lalu mengeraskan rahangnya. Lagi-lagi semua tertuju pada Robert Kim.


“Kita harus cepat. Aku harus bertemu dengannya!” ujar Xavier yang langsung menarik tangan Graciella dan meninggalkan tempat itu begitu saja. Monica yang masih terguncang dan juga bingung, hanya bisa terdiam ketika Xavier dan Graciella melewatinya begitu saja. Dia baru sadar beberapa saat setelahnya.


“Xavier! Apa yang ingin kau lakukan?!” teriak Monica yang tentu tak dijawab oleh Xavier yang terus saja berjalan dengan cepat. Bahkan membuat Graciella sedikit kesusahan untuk mengimbanginya. Dia harus kembali ke awal. Dia harus cepat menemui pria mengerikan itu.


*******


Iringan mobil militer memecah jalanan pagi itu. Ada empat mobil berjalan dengan cepat menggilas aspal yang masih dingin dan basah tersiram air hujan yang turun tadi malam. Pada saat mobil itu memasuki daerah perkotaan, mobil yang berjalan di barisan ke tiga perlahan melambat dan saat tiba di sebuah persimpangan. Mobil itu berbalik memisahkan diri dari rombongan.


Robert Kim yang ada di dalam mobil ke tiga itu hanya bisa mengerang kesakitan. Dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya dihimpit oleh dua orang tantara bertubuh besar yang tentu membuat nyeri di tangannya semakin menjadi. Kepalanya ditutupi oleh sebuah kain hitam. Darah masih menetes dari tangannya yang tertembak.


Tak lama dari pemisahan itu akhirnya mobil mereka berhenti di tengah tempat yang jauh dari pemukiman. Bahkan lebih cocok di katakana seperti hutan. Mobil itu segera terbuka dan dengan kasar mereka menurunkan Robert Kim yang sudah sedikit kesusahan untuk berdiri. Nyeri di tubuhnya dan juga darah yang terus keluar membuatnya benar-benar tak berdaya.


“Kenapa kalian tidak membunuhku saja?” ujar Robert yang dipaksa berjalan mengikuti mereka padahal tubuhnya sudah tak sanggup lagi.


Tapi tidak ada jawaban sama sekali.  Robert yang tidak bisa melihat kemana dan dimana dia sekarang. Hanya mendengar suara pintu terbuka. Dia lalu di dorong begitu saja masuk ke dalam sebuah ruangan. Tubuhnya yang sudah lemah jatuh begitu saja menghantam lantai kayu. Robert Kim langsung kehilangan kesadarannya begitu saja karena sakit yang begitu luar biasa saat luka di bahu kirinya yang menghantam lantai itu.


Robert Kim terbangun ketika guyuran air dingin menerpa wajahnya. Seolah nyawanya baru saja dikembalikan ke tubuhnya. Robert Kim langsung tersentak karena dinginnya air yang begitu menusuk tubuhnya.


Dia membuka matanya perlahan dengan napas yang tersengal. Masih di lantai yang sama saat dia di dorong jatuh. Lantai kayu yang berdebu. Dia melihat seorang pria dengan boot militernya berjongkok di samping tubuhnya. Dengan cepat dia langsung mengenali sosok itu. Tentu saja itu adalah Xavier.


Robert menaikkan satu sudut bibirnya melihat Xavier. Xavier hanya memandangnya dengan tatapan yang sangat dalam.


“Bagaimana dengan putrimu?” tanya Robert dengan senyuman mengejek.


“Apa yang ingin kau lakukan? Membunuhku?” ujar Robert lagi sambil meringis dan terbatuk. Lukanya semakin mencekiknya. Xavier kembali berjongkok mendekatkan wajahnya ke arah Robert Kim yang terus saja meringis merasakan dua luka dalam tubuhnya yang terus saja menimbulkan nyeri setiap kali dia bernapas.


“Aku ingin bertanya padamu, di mana putriku yang sesungguhnya?” tanya Xavier mencoba untuk bersabar. Dia tak boleh gegabah dan membuat Robert tewas di sini. Selain dia tidak akan menemukan di mana putrinya berada. Dia bisa kena masalah karena sudah membunuh tahanan.


“Haha, aku tidak akan memberitahukannya padamu. Kau bisa mencarinya ke seluruh dunia dan aku yakin kau tak akan bisa menemukannya!” ujar Robert dengan wajahnya yang benar-benar mengundang emosi sapa pun yang melihatnya. Xavier mengeraskan rahangnya dan segera berdiri.


Dengan sepatu boot militernya Xavier langsung menginjak dan menekan luka tembak yang ada di tangan Robert Kim. Tentu hal itu membuat David Kim langsung berteriak keras. Merasakan sakit yang tak pernah dia rasakan. Seketika saja rasanya tangannya benar-benar tak berasa kecuali nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Ahhkkkkk!!!” teriak Robert begitu keras.


“Katakan padaku! Di mana putriku!” ujar Xavier yang menekan sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Membuat rasa sakit itu bertambah beribu kali lipat.


“Ahkk!! Dia-dia! dia-dia ku buang di rumah bordil itu!” ujar Robert yang akhirnya tidak tahan lagi. Tak tahan lagi dengan sakit yang terasa diseluruh tubuhnya. Tak menyangka kematian bisa begitu menyakitkan.


“Lalu di mana dia sekarang!” ujar Xavier yang masih tidak puas. Dia sudah meminta bawahannya mencari Moira di sana. Tapi tak satupun orang tahu di mana putrinya itu.


“Ahk! Aku -Akh tidak tahu! Ahkkk! Dia sudah tidak ada di sana! Kau bunuh saja aku!” teriak Robert Kim yang memang sudah tidak tahan lagi dengan siksaan yang diberikan oleh Xavier padanya.


“Di mana?!” tanya Xavier lagi tidak bisa langsung percaya bahwa Robert tidak tahu di mana sekarang berada. Tepatnya dia tidak ingin percaya Robert tidak bisa memberitahunya dimana Moira sekarang. Dia tak tahu lagi dimana dia bisa mencari anaknya.


“Aku benar-benar tidak tahu! aku meminta salah satu orang kepercayaan ku untuk membuangnya ke sana! tapi mereka tidak tahu tentang gadis itu!" kata Robert lagi dengan wajahnya yang pucat pasih


“Siapa orang yang kau suruh membuang anakku?!" tanya Xavier segera menodongkan senjata apinya dengan wajahnya penuh emosi ke arah Robert Kim.


"Leonardo!" ujar Robert Kim lagi.


Xavier mendengar nama itu akhir mendapatkan angin segar! dia harus mencari pria itu sekarang!


"Dimana dia sekarang?"


"Dia sudah berhenti lama. Aku tidak tahu di mana dia sekarang, asalnya dari kota sebelah timur," ujar Robert kembali terbatuk. Dadanya kembali sesak, sakitnya sudah tak bisa dia tahankan. "Ku mohon, bunuhlah aku!"


“Aku rasa kematian akan sangat menyenangkan bagimu. Aku ingin melihat kau terus mengerang di balik penjara! Aku akan terus membuatmu tersiksa setiap hari hingga aku bisa membawa putriku pulang,” kata Xavier sambil menarik kembali pistolnya. Melepaskan pijakannya terhadap luka di tangan Robert.


Robert tampak sangat kecewa. “Kau pengecut! Kenapa tidak membunuhku saja!” teriak Robert lagi.


“Bukannya sudah aku katakana bahwa itu akan membuatmu senang. Nikmatilah rasa sakitmu. Aku akan membantumu untuk merasakannya!” ujar Xavier lagi memegang luka yang ada di bahu Robert. Menekannya dengan jarinya hingga terasa peluru itu semakin dalam merobok dagingnya. Menekan dengan sangat erat seolah men. Membuat Robert sudah tak tahan lagi atas sakit yang begitu sangat hingga dia langsung pingsan.


Xavier segera berdiri dan melihat pria itu tampak pucat dan penuh dengan keringat dingin. Dia harus cepat membawa Robert Kim. Dia tidak boleh membiarkannya mati di sini.


Xavier langsung keluar dari kabin itu dan memerintahkan kedua bawahannya kembali membawa tubuh Robert yang sudah lunglai tak sadarkan diri. Menyeretnya kembali ke dalam mobil dan membawanya untuk di serahkan ke kantor polisi untuk di tahan.


"Aku butuh data tentang Leonardo yang bekerja dengan tuan Robert Kim 5 tahun yang lalu, berikan aku informasinya secepatnya!"