
Xavier hanya mengangguk pelan. Xavier lalu melirik ke arah beberapa orang yang tak jauh darinya. Melihat wajah dengan bentuk familiar diantara orang-orang berwajah Amerika.
"Saya turut berduka cita atas kematian bibi Anda," ujar pria itu menyambut Xavier.
"Terima kasih," ujar Xavier. Dia kembali melirik ke arah beberapa orang yang tampak sedang melihat tempat kejadian perkara. Selain wajahnya yang terlihat khas Asia, keberadaan satu-satunya wanita di sana membuat dia tertarik. "Siapa mereka?"
"Salah satu tim penyidik. Profesor Callahan adalah salah satu ahli yang sering berkerja sama dengan FBI dan yang lain aku rasa adalah timnya," ujar pria itu melihat ke arah tim Profesor Callahan.
Xavier terus memandang ke arah Graciella dan timnya dengan tatapan yang tajam dan mulai menyipitkan matanya. Tatapan itu ditangkap oleh Graciella, seketika itu Xavier membuang pandangannya.
"Aku mau tim penyelidik yang lebih baik," ujar Xavier dengan bahasa negaranya pada pria itu.
Graciella yang sedang menggunakan perlengkapan khusus untuk menginvestigasi tempat kejadian perkara langsung mengerutkan dahinya. Tim yang lebih baik? apa mereka kurang baik untuknya?
Graciella yang baru selesai mengancing baju khusus dan juga memakai sarung tangannya segera berjalan ke arah pria yang sekarang tampak sedang membelakangi Graciella.
“Graciella, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Bruce yang melihat Graciella menjauh tapi segera diam ketika melihat Graciella mememberikan gestur seolah meminta waktu sejenak.
Graceilla terus saja berjalan ke arah pria yang sedang berbincang dengan orang yang tadi menyapanya. Saat sudah ada tepat di belakang pria itu, Graciella mengerutkan dahinya mendapati pria itu sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari pada dirinya. Aroma yang bisa di cium oleh Graciella terasa samar-samar tapi cukup familiar. Ah! Banyak orang yang punya aroma yang sama. Mungkin saja Graciella pernah menciumnya di suatu tempat.
Graciella tanpa pikir panjang lagi langsung menepuk pundak dari Xavier dengan tegas. Bruce yang dari tadi melihat gelagat temannya kaget hingga membuka mulutnya. Bagaimana bisa Graciella melakukan itu?
Pria itu seketika langsung berhenti berbicara. Dia perlahan melihat ke arah tepukan bahu itu berasal. Dia lalu melihat ke arah Graciella yang menatapnya dengan serius. Tak ada senyuman atau wajah yang ramab menghiasi wajah Graciella. Untuk apa ramah dengan yang kesan pertama bagi Graciella adalah arogan.
“Apa Anda merasa kami bukan tim yang terbaik?” tanya Graciella dengan bahasa negaranya. Hal itu tentu membuat Xavier mengerutkan wajahnya. Dia cukup terkejut karena wanita ini mengerti apa yang dia katakan. Wajah Asia tentu banyak yang mirip. Mungkin saja dia berasal dari negera dengan ras yang sama. Tapi, walaupun wanita mungil bertubuh kecil yang berdiri di depannya ini menatapnya dengan cukup sinis. Xavier tidak menyesal dengan apa yang dikatakannya.
“Kau berani menyentuhku?” tanya Xavier dengan nada dingin dan datar, tak ada yang betani melakukan hal ini pada Xavier sebelumnya. Tatapan matanya yang tajam itu langsung menghunus ke arah Graciella. Sayang sekali, Graciella sudah kebal dengan tatapan seperti itu. Banyak didapatkan saat dia memecahkan sebuah kasus dan para pelakunya akan menatap Graciella dengan tatapan membunuh seperti itu.
Graciella mengerutkan dahinya. Selain arogan pria ini juga sangat sombong. “Tentu, kenapa aku harus takut menyentuh Anda? Anda juga manusia bukan? a Mungkin di negera Anda, Anda adalah seorang Jenderal. Tapi ini bukan negara Anda. Anda seharusnya punya sedikit rasa hormat dengan apa yang berlaku di sini.” Graciella menatap langsung ke mata pria itu. Mendapati bola mata yang begitu indahnya, tapi tak berpengaruh sama sekali. Pria ini sudah membuatnya kesal.
Xavier menyipitkan matanya memandang wanita yang sudah berani mengatakan hal itu padanya. Selama ini tidak ada yang berani mengatakan atau bahkan menatapnya seperti yang dilakukan wanita ini. Jenderal Xavier, siapa pun tahu pria ini terkesan dingin dan galak.
“Lalu apa maumu? Apa kau merasa yang terbaik?” tanya Xavier dengan nada yang sama dinginnya.
Graciella mendengus dengan sedikit kasar. “Aku tidak merasa menjadi yang terbaik.” Memangnya dia seperti pria ini? Arogan sekali? Kata hati Graciella bersamaan dengan apa yang diucapkannya. “Tapi kami selalu berusaha untuk menangani sebuah kasus dengan cara yang terbaik.”
“Berusaha saja tidak cukup.” Xavier kembali lagi. Bruce yang tak jauh dari mereka hanya garuk-garuk kepala. Tidak mengerti apa yang diucapkan mereka berdua.
Graciella menggerakkan rahangnya. Selain arogan, sombong, ternyata pria juga sangat menyebalkan. Ah! Mimpi apa Graceilla bertemu orang seperti ini? Pihak yang merasa punya kuasa memanglah selalu menyebalkan.
“Tiga hari!” ujar Graciella sambil menyodorkan ketiga jarinya ke arah wajah Xavier. Biarlah dikatakan tak sopan, tapi pria ini duluan yang tidak punya sopan santun. Xavier yang mendapatkan tiga jari di depan wajahnya mengerutkan dahinya. “Tiga hari kami akan mengungkapkan semua kasus ini!”
Xavier hanya diam memandang wanita dengan gayanya yang sangat berani dan sedikit menganggu menurut Xavier.
Graciella menggenggam tangannya erat. Pria ini! Ah! Dia tidak boleh kalah dengannya! Pria menyebalkan ini benar- benar harus diberikan sedikit pelajaran. Tidak boleh meremehkan siapa pun. Graciella punya firasat. Ini sepertinya ada sangkut pautnya bahwa dia adalah wanita.
“Dua hari!” ujar Graciella lagi terasa tertantang. Bukan dia sombong hanya saja. Dia tidak suka dengan cara pria ini memandangnya. Terlalu merendahkannya.
Xavier mengerutkan dahinya lebih dalam. Wanita yang punya nyali untuk menantang dirinya.
“Graciella, Profesor Callahan sudah ingin memulai investigasinya,” ujar Bruce yang merasa pembicaraan dari Graciella dan pria ini sudah tidak baik. Walau tidak mengerti bahasanya tapi Bruce tahu Graciella kesal dari nada bicaranya.
“Sebentar,” pinta Graciella. “Dua hari kami akan mengungkapkan kasus ini, jika kami berhasil, tolong jangan merendahkan seseorang, terutama jika dia wanita.”
Xavier mengangguk sekali, “Jika kau gagal?”
“Aku akan berhenti menjadi seorang penyidik!” kata Graciella yang cukup asal bicara. Mana mungkin dia melakukan hal itu. Bagaimana dengan Daren? Jika dia tahu, Graciella mempertaruhkan semua yang sudah dia berikan hanya demi taruhan bodoh dengan pria ini. Daren juga pasti akan marah. Tapi, bagaimana? Janji sudah terucap.
Xavier menaikan alisnya. “Pertaruhan yang cukup berani.”
Bruce yang ada di samping Graciella merasa ada yang tidak beres. “Graciella, apa yang kalian katakan?”
“Dia mengatakan padaku, kalian akan memecahkan kasus ini dalam dua hari, jika dia kalah, dia akan berhenti menjadi penyelidik,” ujar Xavier dengan nada yang cukup sarkas agar Bruce mengerti tindakan bodoh tapi juga cukup berani dari teman wanitanya yang tubuhnya bahkan bisa dengan mudah diremas oleh Xavier. Kurus, tidak tinggi dan juga tampak ringkih.
“What? Apa? Graciella, apa kau sudah gila?” tanya Bruce, dua hari bukanlah waktu yang lama, itu sangat singkat untuk bisa mengungkapkan sebuah kasus. Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelumnya.
“Aku yakin aku bisa,” ujar Graciella menatap ke arah Bruce. Bruce geleng-geleng kepala, merasa menyesal membawa Graciella. Dari dulu dia kenal Graciella adalah wanita yang penuh tekat. Tapi tak menyangka dia juga wanita yang begitu nekat.
“Baiklah, aku terima tantanganmu. Lagi pula tak ada ruginya bagiku, kau ingin menjadi penyidik atau tidak, itu bukan urusanku.”
“Baik! Ingat, jika kau kalah, berhentilah merendahkan orang lain sebelum tahu bagaimana kemampuannya.”
Xavier mendengar itu menaikkan satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang terkesan sangat licik. “Tapi dengan satu syarat!”
“Apa?”
“Aku harus terus melihat bagaimana kau melakuan penyelidikan. Aku akan langsung mengawasimu.” Xavier mengatakan hal itu dengan nada sarkasnya.
Eh? Graciella terdiam. Itu artinya dua hari ini dia akan terus melihat dan berdekatan dengan pria menyebalkan ini?
“Tak berani?”
“Baiklah! Siapa yang takut!”
Xavier memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Memandang dengan tatapan remeh ke arah Graciella dengan senyuman sarkasnya. Huh! pria menyebalkan!