
“Paman, Bibi,” sapa Stevan ketika dia tiba di rumah Xavier dan bertemu dengan kedua orang tuanya di ruang tengah rumah itu. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sini. Mungkin semenjak Xavier sudah tidak lagi tinggal di sini.
“Stevan, apa kabarmu?” tanya David Qing menyapa Stevan. Stevan sedikit mengerutkan dahinya. Kenapa sepertinya David Qing begitu santai untuk orang yang anaknya baru saja mengalami kecelakaan.
“Baik Paman. Aku segera ke sini ketika mendengar apa yang menimpa Xavier, eh, boleh aku melihatnya?” tanya Stevan sopan.
“Tentu, Xavier ada di kamarnya. Tak perlu khawatir, keadaannya baik-baik saja dan juga sudah ada dua dokter yang menjaganya.” David Qing sedikit tersenyum pada Stevan. Bagaimana pun ayahnya adalah sahabatnya juga.
“Baik, terima kasih. Paman, Bibi aku akan masuk. Permisi," ujar Stevan yang hanya mendapat balasan anggukan dari David dan Monica. Stevan merasa ada yang aneh. Tapi mungkin hanya perasaannya saja.
Stevan langsung memasuki kamar Xavier yang tak pernah berubah sejak dia kecil, hanya ranjangnya saja yang sudah berubah. Stevan langsung kaget melihat keadaan Xavier yang ternyata masih tidak sadarkan diri. Dia juga melihat beberapa bagian tubuh dari Xavier terbalut perban. Sebuah selang infus tertancap di punggung tangan kirinya.
Stevan memang sudah melihat bagaimana foto-foto tempat kejadian perkara. Dia tidak menyangka Xavier tidak mengalami hal yang serius mengingat begitu parahnya tempat kejadian perkara itu. Tapi mungkin Tuhan masih menyayangi sahabatnya ini. Stevan cukup bisa bernapas lega karena sudah melihat keadaan dari Xavier.
“Maaf Tuan, saya ingin memasukkan obat penghilang rasa nyeri," ujar seorang dokter yang masuk ke dalam kamar Xavier. Stevan mempersilakannya lewat gerakannya.
Stevan berdiri di sisi kanan dari Xavier, memperhatikan dengan sangat apa yang dilakukan oleh dokter ini. Stevan mengerutkan dahi melihat tangan dokter yang melakujan penyuntikan sedikit gemetar. Apalagi dari gerak geriknya dia tampak sedikit gugup. Kenapa harus gugup, bukannya seorang dokter biasanya sudah bisa melakukan penyuntikan, apalagi penyuntikannya hanya dimasukkan ke dalam selang infus. Lagipula tak mungkin dokter ini adalah seorang amatir. Dari umurnya dia terlihat sudah cukup tua, dan tidak mungkin keluarga Xavier memperkerjakan seorang dokter yang baru saja lulus.
“Tunggu," ujar Stevan yang merasa ada yang janggal. Instingnya sebagai polisi menggelitiknya.
“Ya-ya- ada apa Tuan?” tanya dokter itu tergagap. Stevan makin curiga.
“Jangan memeberikannya suntikan. Jelaskan padaku dahulu bagaimana keadaan dari Xavier.”
“Baik Tuan. Tuan Xavier mengalami retak dan pergerseran mata kaki. Sedikit luka di tubuhnya. Terutama di bagian tangan, tapi kami sudah menjahitnya.”
“Bagaimana keadaan organ dalamnya? Apakah ada kerusakan?” tanya Stevan dengan mata elangnya yang biasa dia gunakan untuk mengintrogasi seseorang.
“Tidak ada masalah berarti. Beberapa hari lagi Tuan Xavier akan dibawa untuk pemeriksaan thorax (dada) untuk memeriksa adanya memar paru atau tidak. Jika diperiksa sekarang keadaanya belum terlihat," ujar dokter itu profesional. Melihat pengetahuan dan cara dokter ini menjelaskan, tentu dia sudah terdengar punya jam terbang yang tidak sedikit.
“Lalu, kenapa dia tidak sadarkan diri?” tanya Stevan. Jika memang tidak ada yang bermasalah. Seharusnya Xavier sudah sadar. Walaupun Stevan tahu bisa saja Xavier memang belum sadar, tapi dia hanya ingin memancingnya.
Stevan langsung mengambil lencana kepolisian yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia lalu menunjukkan lencana itu ke pada dokter yang semakin membesarkan matanya. Dia benar-benar telihat takut.
“Inspektur Jendral Stevan," ujar Stevan memperkenalkan dirinya dengan masih mempertahakan tatapannya yang tajam. “Aku ingin kau panggilkan teman doktermu ke sini.” sebenarnya suara Stevan bernada biasa saja. Tapi Dokter itu merasa sangat ditekan, mungkin karena efek merasa dia memiliki kesalahan.
Dokter itu dengan gugup langsung menelepon teman dokternya dan kemudian saat dokter yang lain itu masuk. Stevan langsung menyuruhnya untuk duduk bertiga di sofa dekat ranjang Xavier.
Stevan memperhatikan keadaan kamar itu. Setahu dan seingatnya di kamar itu tidak ada CCTV. Tapi sudah lama sekali Xavier dan dia tidak ada di rumah ini. Jadi di tetap harus waspada. Jangan sampai kedua orang tua Xavier mencurigainya.
“Kau tahu, sebenarnya aku sudah tahu apa yang sudah kalian lakukan pada Xavier," ujar Stevan dengan nada mengintrogasi. Dia berusaha tampak menyakinkan. Padahal itu hanya sebuah pancingan, dia tidak tahu apa-apa. Jika pada penjahat kelas kakap, proses ini bisa sedikit lebih lama, tapi jika dengan pelaku kesalahan yang baru saja melakukan hal ini, tak perlu lama, mereka pasti bisa terjebak.
Kedua dokter itu langsung tampak kaget. Dokter pertama yang dari tadi ada di ruangan itu sudah basah bermandikan keringat. Jika ada yang tahu perbuatannya dan melaporkannya, tentu dia bisa masuk penjara dan izin praktek dokternya akan dicabut. Dia tidak boleh sampai di penjara. Keluarganya menunggu di rumah.
Dokter kedua pun sudah mulai tampak gugup. Dia hanya memandang dokter pertama yang sudah gemetar dari tadi.
“Kalian tidak ingin mengakuinya? pernah dengar pengakuan bisa mengurangi hukuman?” tanya Stevan lagi mencoba untuk tetap tenang.
“Kami terpaksa," ujar Dokter pertama yang sudah tidak tahan lagi dengan tekanan yang tercipta. Stevan menaikkan satu alisnya. Binggo!
“Terpaksa?” tanya Stevan lagi tak ingin langsung menggiring mereka ke intinya, mereka harus mengakuinya sendiri.
“Ya, benar, kami terpaksa," ujar dokter kedua dengan gugupnya. “Tuan David yang menyuruh kami untuk menyuntikkan obat penenang itu pada Tuan Xavier. Kami awalnya pasti tak ingin, tapi dia mengancam akan menghukum kami, kami tidak punya pilihan.”
Stevan menaikkan sudut bibirnya, itu yang dia butuhkan. “Untuk apa obat penenang itu kau berikan?” tanya Stevan lagi. “Aku sudah tahu jawabannya, tapi aku memberikan kalian kesempatan untuk mengakuinya dari bibir kalian sendiri. Ingat pengurangan hukuman!” ujar Stevan. Padahal tak semudah itu dia bisa menghukum seseorang, butuh bukti kuat, butuh proses pengadilan dan lainnya.
“Tuan David ingin agar Tuan Xavier tetap dalam keadaan tidak sadarkan diri," ujar dokter pertama. Stevan mengubah wajahnya menjadi wajah yang bertanya.
“Aku sempat mendengar bahwa Tuan David ingin Tuan Xavier tetap seperti itu karena dia takut Tuan Xavier akan menghalangi rencananya untuk menyingkirkan seorang wanita dan seorang anak. Aku mendengarnya karena waktu itu pintu ini tidak tertutup rapat,” ujar dokter kedua. Dia berharap sekali dengan keterangannya ini dia bisa dibebaskan.
Stevan membesarkan matanya! seorang wanita dan seorang anak! jangan-jangan ….