Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 169. Mari membicarakannya setelah semua selesai.


“Sial! Bagiamana ini bisa terjadi!” umpat Robert Kim yang mendapati dia sudah dicekal untuk keluar dari negara ini.


“Kita sudah tidak bisa pergi ke mana pun Tuan, kita hanya bisa pergi ke dalam negeri,” ujar asisten Robert Kim melihat berita tentang kematian dari David Qing dan juga berita para polisi yang mencari mereka. “Aku rasa ini terlalu terorganisir, Tuan, aku rasa Anda dijebak.”


“Xavier! Sial! Dia tahu kelemahanku! Dia sengaja memainkan emosiku hingga aku begini!” ujar Robert Kim memukul sandaran kursi yang ada di depannya.


“Semua polisi sudah mencari kita. Ke mana kita harus pergi Tuan?” ujar asisten Robert yang tampak kebingungan. Bagaimana pun dia melarikan diri, rasanya semua orang sedang mencarinya.


Robert Kim terdiam sejenak. Matanya menyipit melihat jalanan gelap di depan mereka, tangannya mengepal begitu erat menunjukkan betapa emosinya naik sekarang.


“Dia menjebakku dan memainkan diriku. Maka, ayo kita memainkan dirinya.” Robert Kim tampak mulai menyungingkan senyuman yang perlahan menjadi senyuman licik.


“Apa maksud Anda Tuan?” tanya Asisten Robert tak mengerti.


“Kita masih punya satu hal yang akan membuat Xavier bertekuk lutut, dia akan memohon padaku. Bagaimana jika kita ajak dia bermain-main dengan kita sekarang? aku ingin tahu apakah Xavier masih bisa begitu angkuhnya padaku?” tanya Robert Kim lagi dengan senang.


“Tuan … apakah itu?” tanya Asisten Robert.


“Kita akan pergi ke perbatasan utara. Ada yang harus aku jumpai di sana.”


“Baik Tuan!” ujar Asisten Robert Kim dengan semangat.


Robert Kim tampak kembali menyunggingkan senyumannya. Kali ini Xavier salah sudah bermain-main dengannya. Dia akan membuat pemuda itu menjilat kakinya memohon dengan sangat. Dia kan memberikan sakit yang tak akan dilupakan oleh Xavier seumur hidupnya, sekali lagi.


...****************...


Graciella membuka matanya ketika mendengar suara ponselnya yang berdering. Dia segera mengerjapkan matanya sedikit karena masih terasa berat. Dia mengerutkan dahinya melihat jam yang masih menunjukkan pukul tiga pagi.


Akhirnya dia segera duduk dan melihat dengan baik nomor yang terpampang di ponselnya. Nomor itu tidak dikenal olehnya. Graciella sedikit mengerutkan kepala kembali, biasanya nomor seperti ini digunakan oleh Xavier. Tapi, aneh sekali Xavier tak pernah menghubunginya jam segini.


Graciella menjawab panggilan itu dan tapi dia tidak mengucapkan kata apa pun. Dia ingin tahu siapa yang berbicara di sana.


“Graciella?” suara berat itu terdengar. Graciella tahu benar siapa pemilik suara itu.


“Aku akan pergi menuju tempat Robert Kim. Aku mendapatkan informasi dia menjemput menemuju suatu tempat di sana.”


“Apakah itu Moira?” tanya Graciella yang langsung melonjak, menyibakkan selimutnya yang dari tadi membalut tubuhnya dengan hangat.


“Aku belum tahu. Aku akan mengawasinya secara langsung. Aku akan memastikan bahwa gadis itu adalah Moira atau bukan,” kata Xavier lagi, seperti biasa bagaikan melaporkan pada seorang atasnya.


Graciella menggigit bibirnya dengan sangat erat. Hatinya yang tadinya sudah cukup tenang tiba-tiba kembali bergejolak. Rasa cemas dan juga tak sabar membuatnya merasa tak tenang. Dia langsung gusar dan berjalan mondar-mandir mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Xavier.


“Xavier, bawa putriku pulang! Jangan biarkan mereka melakukan sesuatu padanya,” pinta Graciella dengan perasaan yang sakit. Dia ingin memeluk putrinya secepatnya. Tanpa sadarnya air matanya langsung turun begitu saja, hatinya memang terlalu lunak jika sudah berbicara tentang anaknya.


“Pasti aku akan membawanya pulang, jangan khawatir. Hanya turuti saja perintahku. Bagaimana pun, siapa pun, walaupun dia mengatakan akan membawamu bertemu dengan Moira. Aku mohon untuk tidak pergi. Aku akan membawa anak kita pulang. Aku berjanji padamu,” ujar Xavier dengan tegas. Matanya tajam melihat jalanan yang masih menggelap. Bagaimana pun dia akan menyatukan kembali keluarganya.


“Ya, aku berjanji padamu aku akan tetap di sini. Xavier, tolong beritahu aku bagaimana keadaannya, ya? Dan berjanjilah untuk berhati-hati,” ujar Graciella. Dia tahu bahwa Xavier pun akan menghadapi bahaya. Dia juga tidak ingin terjadi apa-apa pada pria ini.


“Aku akan berhati-hati. Apa keadaanmu sudah membaik?” suara Xavier sudah mulai terasa melunak. Dia ingat bahwa Graciella tadi sedang tidak enak badan. Dia berjanji akan menemaninya, tapi dia malah harus jauh darinya. Xavier harus mengejar Robert Kim ke perbatasan dari negara ini. Di sebuah kota kecil yang sangat terpencil. Saat bawahanya mengatakan bahwa Robert Kim menemui seorang gadis kecil di sana. Hatinya langsung terhentak. Apakah itu gadis kecilnya? Xavier langsung tak bisa lagi menunggu. Jasad ayahnya bahkan belum dikremasi. Tapi dia tidak bisa membiarkan Robert melakukan sesuatu pada putrinya. Jadi secepat mungkin dia pergi ke sana.


Dia tidak bisa menggunakan helikopter sekarang karena keadaan cuaca yang tidak mengizinkannya terbang. Hujan entah bagaimana bisa turun begitu deras seakan ingin menambah kelamnya malam ini. Xavier hanya berharap, semua akan berjalan dengan lancar. Dia menuju putrinya, tapi hatinya tertinggal sebagian pada Graciella.


“Graciella, setelah ini selesai. Menikahlah denganku,” ujar Xavier lagi melihat ke air hujan yang menghantam kaca mobilnya, meninggalkan bulir-bulir yang jatuh, mengalir dan hilang di sisi-sisinya. Kata-kata itu seharusnya dia katakan dari lama. Tapi Xavier merasa tidak bisa tenang sebelum ini semua selesai. Dia tak ingin anaknya nanti berpikir mereka tak menginginkannya. Jadi Xavier berjanji, dia harus menyelesaikan ini semuanya, berkumpul bersama dan akan menjadi keluarga yang seutuhnya.


Graciella mendengar hal itu tak langsung menjawab apa perkataan dari Xavier. Tentu perkataan dari Xavier itu langsung menyentuh hatinya yang paling dalam. Tapi bukannya merasa nyaman, Graciella malah menjadi lebih sedih mendengarnya. Kenapa malah begini?


“Setelah ini, mari hidup bersama dengan tenang. Kita berdua dan anak-anak kita,” ujar Xavier lagi. Graciella menggigit bibirnya. Kenapa malah semakin tidak tenang.


“Mari membicarakan hal ini setelah kau kembali pulang. Aku tidak suka dilamar dengan cara begini,” ujar Graciella lagi dengan nadanya yang sedikit kesal.


Xavier tersenyum tipis, “Baiklah, beristirahatlah. Aku akan memberimu kabar.” Xavier langsung mematikan panggilannya.


“Xavier? Xavier?” tanya Graciella yang tidak menyangka panggilan itu kembali diputus begitu saja oleh Xavier. Dia kesal sekaligus benar-benar cemas. Kenapa Xavier harus melakukan ini padanya? Ah! Bagaimana caranya Graciella tahu tentang kabar Xavier dan putrinya. Menunggu akan membunuhnya perlahan. Dua orang yang paling dalam hidupnya sekarang, mungkin saja sedang dalam bahaya.


Xavier menarik napasnya dalam. Dia mematikan ponselnya segera. Lebih lama lagi berbicara dengan Graciella dia akan terbawa perasaannya yang sendu merindu. Itu sama sekali tidak boleh. Di depannya ada misi paling penting yang harus dia lakukan. Dia harus bisa melakukannya dengan benar dan kembali pada Graciella secepatnya.