Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 279. Anda harus kuat!


"Kami sudah mendapat ping di mana sinyal Tuan Antony," lapor salah satu orang yang diperintahkan oleh Adelia untuk mengikuti semuanya itu.


Adelia menarik napasnya panjang. Dia sudah tidak bisa lagi menghubungi suaminya itu sejak dia pergi ke luar negeri. Tak sekalipun panggilan teleponnya di angkat oleh pria itu. Sepertinya Antony serius untuk tidak ingin lagi membiarkan Adelia menjadi istrinya.


"Di mana?" Tanya Adelia dengan napas panjangnya.


"Ada di daerah pegunungan di bagian tenggara negara kita."


Adelia mendengar itu terdiam. Tangannya mengepal dengan sangat erat. Sejujurnya dia tak ingin mendengar di mana pria itu sekarang karena dia tahu pasti akan membuat hatinya sakit. Tapi ras penasarannya begitu besar. Dan ternyata benar dugaannya. Pria itu tidak lagi berada di luar negeri. Pasti dia bersama dengan Laura.


Tiba-tiba napas Adelia terasa sangat sesak dan nyeri yang begitu menusuk di jantungnya. Matanya terasa pedas, tapi dia mencoba menahannya.


"Nyonya, apakah kita harus mendatangi Tuan di sana?" Tanya orang yang melaporkan semua ini tadi.


Adelia menarik napasnya dalam, rasanya walaupun begitu dalam tapi dia seolah tak bisa sampai ke paru-parunya.


"Tidak, jangan sekarang. Aku hanya ingin kau memastikan di mana dia berada. Aku juga ingin tahu dengan siapa dia di sana. Jangan sampai ada yang tahu tentang ini, kau sudah tahu konsekuensinya bukan?" ucap Adelia mencoba bersuara tenang walau rasa hatinya begitu getir.


"Baik Nyonya. Saya akan mengirim semua perkembangannya untuk Anda," ujar pelapor itu sambil memberikan salam.


Adelia mengangguk pelan, pelapor itu segera pergi meninggalkan Adelia. Mata Adelia tampak menerawang jauh, tangannya mengepal erat, entah kenapa otaknya memunculkan pemikiran-pemikiran yang membuat tubuhnya serasa terbakar. Pria itu dengan wanita itu! Adelia menggigit bibirnya dalam. Dia segera berdiri dan membuang semua barang-barang yang ada di atas meja di dekatnya.


Semua pajangan yang terbuat dari kaca dan juga keramik langsung jatuh ke lantai, membuat semuanya pecah berantakan di lantai beralaskan kayu mahoni itu. Adelia langsung berteriak keras sekali seraya tubuhnya melungsur jatuh.


Dia tak tahan lagi! Apalagi yang harus dia lakukan? Semua sudah dia lakukan hanya untuk mendapatkan cinta Antony, tapi pria itu tak sedikit pun bisa mencintainya. Kenapa dia harus mencintai wanita seperti Laura? Apa kurangnya Adelia hingga Antony bahkan tak bisa berpaling sebelah mata untuknya.


Adelia langsung menangis dengan sangat keras dan juga pilu. Dia sudah tak tahan lagi merasakan sakit dan panasnya terbakar api cemburu. Bagaimana bisa pernikahannya menjadi seperti ini. Ini semua karena wanita itu! Wanita perebut suaminya!


Tanpa sadarnya, Adelia menggenggam pelan pecahan kaca yang berserak di sekitarnya. Dia menggenggamnya kuat hingga darah segar keluar dari sela-sela jari jemarinya. Nyatanya, rasa sakit itu tak bisa dia rasakan karena dia merasakan nyeri yang lebih parah di dalam dadanya.


Tiba-tiba saja Adelia mendengar suara pintu yang terdobrak. Seorang pria dengan pakaian penjaga khusus menerobos masuk dan melihat ke arah Adelia. Melihat keadaan Adelia yang sangat berantakan. Penjaga itu segera menutup kembali pintu itu. Tentu dia tak ingin orang lain melihat keadaan Adelia.


"Nyonya, apa Anda tidak apa-apa?" Tanya pria itu melihat keadaan ruangan yang berantakan. Dia juga melihat ke arah tangan Adelia yang masih menggenggam pecahan kaca itu. "Nyonya, lepaskan. Mohon, Anda tak boleh melukai diri Anda sendiri," pujuk pria itu pada Adelia. Suaranya halus, benar-benar berusaha untuk membujuk Adelia.


Adelia melihat ke arah pria yang perlahan memegang tangannya. Adelia hanya menatapnya kosong. Pria itu hanya memegang tangan Adelia berusaha membuka jadi jemari lentik Adelia yang terasa kera.


"Nyonya, bukalah," pinta pria itu mencoba melepaskan tangan Adelia, sorot matanya begitu penuh perhatian. Adelia perlahan melemaskan tangannya, tapi karena itu dia malah menangis tersedu-sedu. Penjaga itu kaget dan bingung.


"Nyonya? Apakah ini sakit? Apakah Anda harus ke dokter?" Tanya Pria itu dengan wajahnya yang cemas. Apakah karena dirinya Adelia menjadi kesakitan?


Adelia menggeleng pelan dengan wajahnya yang masih menangis. Pria itu melihat ke arah telapak tangan Adelia. Lukanya dalam dan darahnya mulai menggumpal di telapak tangannya.


"Nyonya, luka Anda sangat dalam, kita harus mengobatinya. Anda adalah seorang ibu negara. Tak boleh ada yang melihat Anda dalam keadaan seperti ini. Nyonya, anda harus kuat." Penjaga itu perlahan mengatakannya pada Adelia. Adelia hanya menatap pria yang umurnya tak jauh darinya. Tubuhnya tegap khas Paspamres. Dia memang pernah melihat pria ini beberapa kali karena dia memang ditugaskan untuk menjaganya.


Pria itu kembali melihat tangan Adelia. Karena hal itu pula Adelia akhirnya sadar apa yang terjadi pada tangannya. Dia meringis ngilu melihat darah yang membasahi tangannya. Baru sadar rasa sakit dari luka itu.


Adelia hanya memegang tangannya yang terus mengalirkan darah. Nyerinya sudah sangat terasa hingga dia harus terus meringis, perih sekali.


Dua orang Paspamres wanita langsung melihat keadaan Adelia, mereka segera menggiring Adelia untuk keluar dari ruangan itu. Adelia melihat penjaga pria itu hanya berdiri di sisi pintunya. Sepertinya dia tak ikut mengantarkan Adelia.


Adelia sampai memutar kepalanya melihat pria yang berdiri tegak khas militer. "Kau! Bisa ikut denganku?" Adelia langsung memanggil pria itu.


Raftan langsung memalingkan wajahnya menatap Ibu Negara mereka.


"Baik Nyonya!" Jawab Raftan tegas. Berbeda sekali dengan suaranya yang tadi membujuk Adelia.


***


Adelia memandang pria yang berjaga di luar dari ruang khusus rumah sakit yang menanganinya. Dia sudah selesai mendapatkan perawatan dan tangannya sedang ditutup oleh kassa steril.


Adelia di minta untuk istirahat sejenak. Sebenarnya keadaannya baik-baik saja, tapi dokter hanya ingin memastikan keadaan Adelia saat dia pulang dari rumah sakit ini.


"Eh, siapa nama penjaga itu?" Tanya Adelia.


Penjaga wanita itu memalingkan wajahnya. "Namanya adalah Raftan Nyonya, dia dari kesatuan angkatan udara."


"Boleh panggilkan dia, aku ingin berterima kasih karena dia sudah menolongku tadi," ujar Adelia pada salah satu Paspamres wanita yang menjaganya di dalam ruangan itu.


"Baik Nyonya." Penjaga wanita itu segera melakukan tugasnya.


Raftan sedikit melirik ke arah Adelia tapi dia segera masuk dengan langkah tegapnya.


"Siap Nyonya!" Lapor Raftan memberikan salam pada Adelia.


Adelia sedikit tersenyum. Dia melihat ke arah Paspamres wanita yang masih ada di sana. Tak mungkin memintanya keluar. Akan menjadi sangat mencurigakan nantinya.


"Terima kasih," ujar Adelia menatap Raftan. Bagaimana pun pria ini sudah menutupi keadaan Adelia yang pastinya tadi sangat kacau. Dia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jeleknya wajahnya saat dia menangis tersedu-sedu tadi. Belum lagi keadaannya yang melukai dirinya sendiri. Pastilah sangat memalukan jika diketahui oleh orang lain.


"Siap! Sudah tugas saya Nyonya!" Jawab Raftan lagi. Adelia mengerutkan dahinya. Benar-benar berbeda dengan yang tadi. Tapi memang tak mungkin dia bernada seperti tadi di depan para rekanannya.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih," ujar Adelia.


"Siap! Saya permisi dulu Nyonya." Raftan segera undur diri. Adelia sekali lagi hanya menatap pria yang sudah berdiri tegap berjaga di depan pintunya sebelum pintu itu tertutup sempurna.


...****************...


Satu dulu ya kak, besok lagi .