
“Eh, aku sering menginap di tempat Charlotte dan ya, dia sering mengundang pria ke rumahnya. Aku pernah melihat dia begini,” ujar Graciella malu-malu.
Xavier mendengar itu sedikit tertawa, tak habis pikir bagaimana keadaan Graciella waktu itu. “Kau mengintipnya?” tanya Xavier.
“Tidak sengaja. Mereka melakukannya di tempat aku mudah melihatnya,” ujar Graciella lagi yang menggigit bibirnya sambil tersenyum. Melihat itu Xavier langsung memegang belakang kepala Graciella dan menaikkan sedikit tubuhnya. Dia segera mencium bibir Graciella kembali. Tapi Graciella mendorong tubuh Xavier pelan agar kembali terlentang tanpa memutuskan pautan mereka.
Ciuman itu panas dan semakin panas saat Graciella mulai menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Xavier. Perlahan-lahan hingga membuat Xavier semakin membara. Dari bawah sini dia bisa melihat seluruh tubuh Graciella. Tubuh Graciella benar-benar terlihat sangat menggiurkan ditambah gerakan-gerakannya yang sangat menggoda.
Napas mereka saling berburu. Xavier ingin mengimbangi gerakan Graciella yang tak disangka semakin lama semakin liar. Tapi kali ini, Graciella benar-benar tidak membiarkan Xavier untuk mengambil alih. Posisinya sekarang bisa membuat Graciella mengatur semua keinginannya. Tentu melihat itu Xavier semakin bergelora tapi juga senang melihat Graciella semakin menikmatinya.
Napas Graciella semakin memburu. Dia memandang Xavier dengan matanya yang nanar. Xavier tahu bahwa Graciella sepertinya akan sampai pada puncaknya. Dia segera mendekap tubuh wanita itu dan menciumnya dengan tekanan yang kuat. Saat tubuh Graciella sudah tak lagi menegang. Xavier dengan cepat membalikkan posisinya. Dia juga sudah hampir menuju puncaknya. Tanpa memikirkan lagi lukanya. Xavier hanya ingin menuntaskan seluruh hasratnya. Apalagi Graciella menunjukkan wajahnya yang semakin membuat Xavier gila. Graciella mere’mas sprai begitu kencang saat akhirnya Xavier menekan tubuhnya kuat. Keduanya tertidur dalam kelelahannya.
*******
Graciella membuka matanya. Tubuhnya sudah terbalut selimut tebal. Dia lalu melihat ke arah sebelahnya. Kasur itu sudah kosong. Graciella mengerutkan dahinya. Apakah Xavier meninggalkan dia lagi.
“Sudah bangun?” suara itu mengagetkan Graciella yang langsung melihat ke arah datangnya suara.
Xavier datang bertelanj’ang dada lalu segera mencium dahi Graciella. Graciella langsung tersenyum.
“Sudah bangun dari lama?” tanya Graciella yang segera menaikkan tubuhnya untuk duduk.
“Tidak, makan dulu, makanannya sudah siap,” ujar Xavier. Graciella melirik ke arah meja yang ada di depan ranjang mereka. Sudah penuh dengan makanan.
“Baiklah, aku ingin mandi dulu,” kata Graciella segera keluar dari balutan selimut tebalnya. Berlari kecil dengan tubuhnya yang polos. Tentu melihat itu Xavier langsung tertawa kecil.
“Jangan terlalu lama, makanannya nanti dingin,” ujar Xavier lagi.
“Baiklah!” teriak Graciella dari dalam kamar mandinya.
Graciella keluar dengan lilitan handuk di tubuh dan rambutnya. Dia segera mengambil bajunya dan menggunakannya. Dia melirik Xavier yang duduk serius melihat ke arah laptopnya.
“Sudah selesai,” ujar Graciella.
“Ayo makan dulu,” ujar Xavier yang langsung menutup laptopnya dan segera mengambilkan makanan untuk Graciella.
“Terima kasih,” ujar Graciella mengambil nasi dan juga beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh Xavier. Xavier terus menambahkan sayuran dan makanan ke piring Graciella.
“Jangan tambah lagi, nanti aku bisa gendut,” ujar Graciella.
“Tidak apa-apa. Kau terlalu kurus,” ujar Xavier meletakkan sepotong daging ke piring Graciella.
“Eh? Jadi kau tidak suka badanku?” tanya Graciella memandang Xavier.
“Bukan begitu, hanya ingin kau lebih berisi. Jika Moira sudah kita temukan, kau pasti akan banyak mengurusi dia dan akan lupa akan dirimu sendiri. Jadi kau harus menjaga dirimu sekarang,” ujar Xavier lagi.
“Baiklah, aku akan mendengarkan kata-kata ayah,” ujar Graciella lagi. Xavier hanya menaikkan satu sudut bibirnya sambil memakan ikan yang baru saja dia ambil. Tapi baru selesai dia mengunyah dan menelan ikan itu. Ponsel Xavier langsung berbunyi. Xavier langsung mengambil ponselnya dan tanpa ragu menjawab ponselnya.
“Laporkan!” kata Xavier langsung.
Graciella yang melihat Xavier mendengarkan apa yang dilaporkan oleh orang yang meneleponnya hanya terdiam mengamati. Dia juga mengerutkan dahinya ketika Xavier mengerutkan dahinya. Sepertinya apa yang disampaikan oleh bawahan Xavier sangat penting.
“Baik, laporkan lagi jika ada perkembangan,” ujar Xavier serius lalu segera mematikan ponselnya. Graciella akhirnya tahu dari mana kebiasaan Xavier dalam mematikan ponsel sesuka hatinya.
“Ada apa?” tanya Graciella melihat Xavier mematikan ponselnya.
“Mereka sudah mendapatkan tempat Leonardo. Mereka sedang menuju ke sana untuk memastikan apakah tempat itu benar-benar tempat Leonardo atau bukan. Setelah mereka yakin. Aku akan ke sana. Mungkin malam ini aku akan pergi ke sana,” ujar Xavier dengan wajah seriusnya.
Graciella mengangguk pelan. “Bolehkah aku ikut ke sana. Bukannya Robert Kim sudah ditangkap, jadi tidak apa-apa aku ikut. Aku sudah sangat ingin melihat Moira, menunggu sendiri di kamar itu benar-benar tidak menyenangkan,” ujar Graciella mengutarakan keinginannya.
“Aku tidak bisa membawamu. Aku belum tahu bagaimana keadaan di sana. Aku tidak ingin mengambil resiko. Tunggulah sebentar lagi, esok pagi, aku berjanji akan membawanya,” ujar Xavier dengan tatapannya yang serius.
Graciella menggigit bibir bawahnya. Semalaman lagi dia harus menunggu. Graciella benar-benar benci menunggu dan menebak apa yang terjadi sedangkan dia hanya terkurung di rumahnya. Xavier hanya mengamati wajah enggan Graciella. Walaupun dia tidak menjawab, Xavier tahu bawah Graciella tak setuju dengan permintaannya.
“Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa membawamu. Terlalu riskan untuk melakukan hal itu. Aku tidak tahu Leonardo itu orang berbahaya atau tidak. Jika dia berbahaya, aku pasti tidak akan bisa memilih antara kau dan Moira. Biarkan aku fokus dengan Moira. Aku tidak ingin terjadi lagi seperti yang aku alami tadi pagi. Aku harap kau mengerti,” ujar Xavier sambil menggenggam tangan Graciella. Graciella hanya memaninkan bibirnya. Dengan pelan dia mengangguk. “Aku pasti pulang membawa Moira.”
“Baiklah, aku percaya,” ujar Graciella awalnya mengangguk pelan menjadi perlahan mengguat.
****
“Baiklah, hati-hati. Kabari aku setelah kau bertemu dengannya,” ujar Graciella dengan wajah sedikit enggan untuk melepaskan Xavier malam ini.
Udara di sekeliling mereka terasa lembab. Beberapa jam sebelum keberangkatan Xavier hujan kembali turun membasahi wajah dunia. Bau petrichor menyeruak menari-nari mengisi aroma di sekeliling mereka.
Xavier melihat ke arah Graciella dengan menaikkan sudut bibirnya, “Aku akan hati-hati dan mengabarimu nanti, masuklah ke mobilmu duluan,” ujar Xavier. Graceilla mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Xavier padanya.
Xavier melihat ke arah Stevan yang ada di sana. “Bagaimana keadaan Robert Kim?” tanya Xavier.
“Dia sedang di rawat di ruang perawatan. Esok mungkin akan dipindahkan ke selnya,” ujar Stevan.
“Baiklah, aku titip Graciella,” ujar Xavier lagi.
“Xavier, kau yakin pergi ke sana sendirian? Aku bisa meminta salah satu dari bawahanku untuk pergi bersamamu,” ujar Stevan lagi.
“Tidak perlu, aku hanya pergi ke sana, bawahanku sudah ada di sana. Lagi pula aku sudah terlalu banyak memanfaatkan kalian untuk kepentinganku sendiri,” ujar Xavier lagi.
“Baiklah. Hati-hati, beri kabar aku jika kau sudah sampai di sana,” ujar Stevan lagi.
Xavier hanya mengangguk lalu melihat ke arah mobil yang ditumpangi oleh Graciella. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana. Setelah itu Stevan kembali ke mobil yang sama dengan Graciella dan segera mengemudi meninggalkan pelataran hotel itu.
...****************...
Jam sudah menunjukkan jam 12 malam saat Mobil Xavier meluncur melewati jalanan basah yang remang. Jalanan itu adalah jalan yang sepi dan gelap. Xavier memang menunju ke arah daerah terpencil di negara mereka. Jarak tempuhnya sekitar tiga jam dari kota mereka.
Tapi tiba-tiba saja ada beberapa mobil yang mengejar mobil Xavier. Mereka memberikan beberapa kali lampu sorot ke arah mobil Xavier. Xavier mengerutkan dahinya ketika melihat satu mobil yang sudah menyalip mobilnya. Sebuah mobil polisi militer yang langsung memberikan tanda agar Xavier berhenti. Xavier yang melihat itu segera berhenti.
“Jenderal Xavier Qing. Mohon turun dari kendaraan Anda,” ujar seorang pria dengan pakaian polisi.
“Ada apa ini?” tanya Xavier pada mereka.
“Anda dilarang untuk pergi lebih jauh dari ini. Anda juga diminta untuk ikut dengan kami. Ini adalah surat pemanggilan Anda untuk ikut kami,” ujar polisi militer itu.
Xavier membaca surat yang diberikan oleh polisi militer. Dia mengerutkan dahinya, Bagaimana dia dituduh melakukan hal itu!
“Jenderal Xavier! Anda harus ikut kami sekarang!” ujar polisi militer itu. Tidak memaksa Xavier seperti biasanya mereka menahan seseorang mengingat pangkat orang yang mereka tangkap lebih tinggi. Xavier hanya diam, walau dia tidak melakukannya. Membantahnya di sini pun tak ada gunanya.
...****************...
Graciella tidak bisa tidur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Sudah tiga jam Xavier pergi meninggalkannya tapi sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Graciella hanya berguling-guling dan juga sesekali memeriksa ponselnya.
Graciella langsung terlonjak kaget ketika ponselnya berdering. Hal itu langsung membuatnya semangat. Mungkin itu adalah sebuah kabar dari Xavier. Tapi wajah Graciella seketika berubah kecewa ketika lagi-lagi menemukan telepon bukan dari Xavier. Nama Stevan terlihat di sana.
“Halo?” jawab Graciella pada panggilan itu.
“Gracie!” ujar Stevan tiba-tiba langsung dengan nada tinggi dan terdengar sedikit frustasi.
“Ada apa?” tanya Graciella yang langsung menangkap ada hal yang tidak baik dari nada Stevan.
“Robert Kim, dia tewas di bunuh malam ini dan ….” Kata Stevan terdiam sejenak.
“Dan? Bagaiman dia bisa terbunuh? Siapa yang melakukannya?” tanya Graciella.
“Dan dari CCTV mereka melihat bahwa Xavier adalah pembunuhnya,” ujar Stevan kembali dengan sangat frustasi.
“Ha? Xavier membunuh Robert Kim! Tidak mungkin, bukannya dia sedang menjemput Moira? Lalu bagaimana bisa mereka bisa menuduh Xavier melakukannya. Tidak mungkin, tidak mungkin dia melakukannya! Xavier tidak mungkin gegabah untuk melakukan hal itu!” ujar Graciella yang langsung memegang dahinya. Rasanya tiba-tiba saja berat.
“Aku juga tahu itu. Aku tahu Xavier tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi bukti CCTV menunjukkan hal itu. Xavier menembak Tuan Robert Kim di rumah sakit.”
“Tidak, tidak! Tidak mungkin. Jadi sekarang Xavier di mana?” tanya Graciella cemas dan panik.
“Dia sudah dijemput untuk melakukan penyelidikan.”
Graciella langsung terdiam. Bagaimana bisa seperti ini. Apa lagi ini? Bagaimana bisa di saat mereka sudah hampir sampai ke tujuan mereka. Ada saja yang menghalanginya!
“Graciella, mungkin Xavier akan segera ditahan,” ujar Stevan lagi yang langsung membuat Graciella terjatuh. Dia tidak bisa berdiri lagi. Tiba-tiba saja semuanya kembali berputar. Kepalanya langsung kosong. Dia tak tahu harus bagaimana, hanya air matanya yang mengalir deras. Tersedu sedan dengan semua hal ini. Bagaimana bisa begini?