
“Apa syaratnya?” tanya pria itu sudah ingin mencium Graciella. Graciella dengan cepat menolak ciuman itu dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir tebal pria itu dan mendorongnya.
“Dari siang aku tidak mandi. Tubuhku rasanya tak nyaman dan kulitku lengket. Aku ingin membersihkan diriku dulu," ujar Graciella dengan senyuman mengembang, sebisa mungkin menggoda. Dia bahkan menyentuh tubuh pria itu dengan tangannya yang lentik. Mengusap dada pria itu yang membuat pria tambun itu mengelinjang kegelian akibat ulah Graciella. Graciella ingin muntah melihatnya.
“Tidak perlu! tidak perlu, begini saja aku sudah sangat ingin bersamamu," ujar pria itu tak sabar. Wanita seperti Graciella tentu susah di dapatkan. Kecantikannya itu berbeda. Tidak seperti wanita-wanita yang sering dia tiduri. Kecantikan yang tampak alami.
“Jangan!” ujar Graciella mendorong tubuh pria yang sudah hendak menerjangnya. “Aku ingin kau puas. Aku tidak ingin kau mencium bau tubuhku. Lagi pula bukannya kulit yang segar akan menambah nyaman permainan kita nanti. Tunggulah sebentar, jangan terburu-buru.”
Pria itu tampak tak bisa lagi menahan diri. Tapi dia mencoba untuk menghargai permintaan Graciella.
“Tapi jangan coba-coba kabur!” ancam pria itu.
“Kau boleh memanggil penjaga jaga-jaga aku melarikan diri.” Graciella kembali mengusap tubuh pria itu dengan tangannya. Pria itu tentu semakin tak sabar.
“Baiklah, cepat!” ujar pria itu.
“Ya,” kata Graciella yang berusaha menekan semangatnya. Padahal kalau bisa dia sudah melonjak senang. Minimal dia sudah bisa menjauh dari pria ini.
Graciella berjalan dengan pelan ke arah kamar mandi. Sebelum masuk dia melihat pria itu menyipitkan mata ke arahnya. “Duduklah di ranjang. Aku tak akan lama, setelah itu aku akan memuaskanmu.” Graciella memberikan senyuman manisnya. Pria itu tentu semakin tak sabar. Seperti seorang yang sudah terkena guna-guna, dia setuju saja mengikuti permintaan dari Graciella. Mungkin juga karena dia sudah terpengaruh alkohol, bisa tercium sangat menyengat dari napasnya tadi.
Graciella langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sikapnya yang tadi lembut dan menggoda langsung berubah panik. Dia langsung menutup pintu itu. Dengan cepat membuka keran air dan juga wastafel. Yang pertama kali dia lakukan adalah membasuh telinganya yang jijiknya sudah tak bisa lagi dia tahan. Bagaimana bisa pria itu menjilat telinganya.
Graciella langsung melihat ke sekeliling kamar mandi yang cukup besar itu. Dia melihat ventilasi kaca double yang sama seperti yang ada di tempat Xavier. Pecahkan dengan tutup kloset! Ya, untunglah dia ingat apa yang dikatakan oleh Xavier.
Graciella langsung naik ke atas closet duduk itu. Dia mengambil penutup penampungan air kloset dan dengan perhitungan langsung melemparkan tutupnya yang berat itu ke arah ventilasi kaca ganda dan langsung membuat kacanya pecah berkeping-keping.
Graciella diam sejenak. Mencoba mendengarkan kira-kira apakah pria itu mendengar suara kaca pecah atau tidak? selagi mendengar, dia juga mengamati keadaan di luar. Gelap dan hanya seperti lorong kosong yang sempit dan langsung berhadapan dengan gedung lainnya.
“Ya, sebentar lagi. Aku tiba-tiba ingin buang air," ujar Graciella, bingung harus mengatakan apa lagi.
“Ada ada saja! cepatlah! Aku sudah tidak tahan!” teriak pria itu lagi.
“Ya, sabarlah! Sebentar lagi aku akan keluar," ujar Graciella yang segera menaiki tempat penampungan air itu. Dia agak kesulitan mencari pijakan di sana karena tutupnya sudah tak ada. Nyeri di kakinya karena hanya menatap pada tipisnya dinding penampungan itu tidak dihiraukannya. Saat seperti ini Graciella bersyukur memiliki tubuh yang mungil. Dia bisa lewat dari tempat yang cukup sempit itu.
Graciella tidak memperdulikan lengan dan tangannya yang sedikit terbaret oleh pecahan kaca. Dia segera melintasi ventilasi, melihat ke arah bawah dan tanpa pikir panjang melompat.
Namun Graciella langsung meringis kesakitan. Dia membekap mulutnya sendiri dengan cepat agar suara raungan kesaktiannya tak terdengar hingga dalam. Graciella melihat ke arah kaki kanannya. Sebuah pecahan kaca menancap di kakinya. Cukup dalam terlihat. Graciella hanya bisa menggigit bibirnya menahan sakit yang sangat.
Graciella tidak mencabut kaca itu. Sebelum dia sampai ke rumah sakit atau ke tempat di mana dia bisa membendung pendarahan, dia harus membiarkan kaca itu tertancap atau kalau tidak, kemungkinan besar Graciella bisa kehilangan banyak darah.
“Hei!” suara pria itu terdengar lagi.
Graciella langsung panik. Dia harus segera pergi dari sini. Dengan berjinjit dan juga terseok-seok dia berjalan melewati lorong sempit. Dia tak lagi berpikir apa-apa. Apakah ada ular atau apakah ada besi, batu atau mungkin kaca yang lain yang akan melukai kakinya? bayangan dia harus melayani pria itu lebih menakutkan. Graciella sebisa mungkin menahan sakitnya. Dia juga berusaha untuk secepatnya pergi dari sana. Hapusan darah terlihat di jalan akibat seretan kaki Graciella. Berulang kali dia meringis karena merasakan nyeri yang sangat. Bahkan wajah dan dahinya dipenuhi keringat akibat menahan hal itu.
Graciella berhenti sejenak saat dia mencapai ujung lorong itu. Dia bingung ke mana dia harus berjalan. Dia mencoba untuk berbelok ke arah kiri tapi baru berapa langkah dia langsung terhenti kembali
Dari tempatnya berdiri, walaupun cukup jauh, dia bisa melihat Adrean sedang berdiri bersandar di mobilnya dan merokok dengan santai. Pria itu seolah sedang menunggu. Apakah dia menunggu Graciella yang dia serahkan pada pria hidung belang itu? Graciella menggenggam tangannya sendiri. Rasa sakit di kakinya nyatanya tak ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit yang dialami sekarang. Entah apa yang sudah dia perbuat hingga Tuhan mempertemukan dan menjadikan pria itu suaminya! benar-benar Iblis di dunia.
Graciella tak bisa lama-lama menuntaskan emosinya. Dia tak mau Adrean melihatnya dan kembali membawanya pada pria hidung belangnya Dia segera berbalik arah. Dengan kembali terseok-seok, Graciella berjalan, awalanya pelan tapi perlahan dia mempercepat jalannya. Dia ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Walaupun rasanya kaca yang ada di kakinya mengoyak kakinya semakin dalam. Tak apalah, lebih baik kehilangan satu kaki dari pada harus kehilangan harga dirinya. Lagi pula jika dia cacat, tak mungkin lagi ada yang mau tidur dengannya dan Adrean juga pasti melepaskannya.
Tiba-tiba saja dari arah belakangnya seseorang membekapnya. Tentu saja hal itu membuat Graciella langsung panik. Siapa ini? Adrean kah? Atau para penjaga yang mungkin saja sudah mencarinya. Graciella berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya. Tak perduli dengan keadaan tubuhnya yang nyeri secara keseluruhan.
Pria itu melepaskan bekapannya tapi dia langsung memposisikan dirinya untuk menggendong Graciella. Dia menggendong Graciella dengan begitu mudahnya. Graciella yang masih belum tahu siapa yang sudah menggendongnya terus saja berontak dan berteriak. Dia tak mau kembali ke dalam.