Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
BAB 100.


“DIAM GRACIELLA!” bentak Adrean yang tak suka mendengar teriakan Graciella, itu semua membuatnya pusing. “Seharusnya kau bersyukur aku menyelamatkanmu! Kau tidak akan tahu apa yang bisa mereka lakukan padamu jika aku tidak menyelamatkanmu! Kau bisa saja mati dibuat mereka. Mereka tidak akan peduli dengan tangisan atau rintihanmu! Moira adalah keturunan mereka. Aku yakin mereka pasti punya sedikit belas kasihan padanya. Kau! Bagi mereka kau hanya parasit yang seharusnya dilenyapkan!” ujar Adrean dengan penuh emosinya. Matanya menatap Graciella dengan sangat marah. Napasnya bahkan terengah-engah menahan emosinya. Tak tahukah Graciella, Adrean pun mempertaruhkan dirinya hanya untuk menyelamatkan dirinya. Jika saja David Qing dan juga kakeknya tahu bahwa dia ikut campur tangan dalam rencana mereka ini. Maka kemungkinan dia juga akan mendapatkan hukuman.


Graciella terdiam dengan napasnya yang terengah-engah. Bagaimana bisa, dia tidak akan bisa berterima kasih pada Adrean. Walaupun tujuannya untuk menyelamatkan Graciella. Tapi Graciella tak akan bisa menerimanya. Sebagai ibu, dia rela dirinya yang disiksa dari pada anaknya. Dia rela berganti posisinya dengan Moira. Apa saja, dia akan berikan apa saja demi bisa melihat anaknya hidup dan tak merasakan kesakitan.


“Aku tidak bisa! sekarang aku tidak bisa hidup tanpa Moira! aku ingin ada di dekat anakku! aku ingin anakku!” ujar Graciella yang awalnya berbicara dengan tenang tapi kembali histeris sesudahnya. Dia bahkan menarik kemudi yang dipegang oleh Adrean dan menarik kemudi itu ke arahnya. Tentu itu membuat mobil berbelok tajam dan langsung keluar dari jalanan.


Adrean syok dengan apa yang dibuat oleh Graciella. Dia tak sempat menahan Graciella hingga mobil mereka keluar dari jalanan dan masuk ke dalam pinggiran jalan yang lebih landai. Mobil itu cepat menuruni jalanan itu membuatnya langsung berjalan lurus menerobos rerumputan dan seketika menghantam pepohonan yang ada di sisi jalan. Hantaman itu kuat sekali hingga langsung menggembungkan kantong udara di dalam mobil. Kantong udara yang mengembang langsung menghantam wajah Adrean dan Graciella. Membuat keduanya langsung lunglai.


Graciella mencoba menahan rasa sakit dan juga pusing yang diakibatkan oleh hantaman dari kantong udara juga benturan dengan pohon tadi. Matanya kabur dan berkunang-kunang. Suara berdesis dari mesin dan juga kaca-kaca mobil yang bertaburan di sekitarnya. Bau mesin tercium mengembang di sekitarnya. Graciella mencoba mengangkat kepalanya. Ada bau anyir darah yang menyeruak dan juga sesuatu yang hangat mengalir dari kepalanya. Graciella menyentuhnya, darah merah menempel di tangannya. Ada luka menganga.


Graciella lalu melihat ke arah sampingnya. Adrean tampak tak sadarkan diri di sampingnya. Graciella dengan cepat membuka sabuk pengamannya walaupun rasa sakit di kepalanya semakin nyata menjalar ke seluruh tubuhnya.  Graciella berusaha untuk membuka pintu mobilnya. Dia mencoba keluar tapi sedikit kesusahan karena tubuhnya terhimpit oleh bagian depan mobil Adrean. Graciella sebisa mungkin cepat keluar. Dia takut Adrean akan segera sadar dan nantinya akan menahannya kembali.


Graciella menjejakkan kakinya ke rumput-rumput yang terasa basah. Dia sedikit sempoyongan ketika mulai menegakkan badannya. Darah di kepalanya mulai mengalir melewati kelopak matanya dan tertahan oleh bulu matanya yang lentik. Dia segera menyekanya seraya berjalan dengan sedikit gamang. Dia langsung berjalan menjauhi mobil Adrean yang sudah mengepulkan asap putih yang tipis.


Graciella berusaha untuk naik ke atas jalanan yang sangat sepi itu. Saat dia memanjat naik, Graciella mendengar suara dari arah mobil itu. Graciella langsung panik ketika melihat Adrean keluar dari mobil itu dengan sempoyongan. Dia tampak kesakitan.


Graciella tentu tidak ingin mendengar itu, dia berusaha untuk kembali ke jalanan secepatnya walaupun harus mengais tanah berbatu yang tentunya membuat tangannya terasa begitu sakit. Graciella tidak peduli dan terus memanjat ke atas hingga akhirnya dia kembali ke jalanan itu.


Graciella segera berusaha berjalan dengan tegak. Tapi tiba-tiba saja paha kirinya terasa begitu nyeri sehingga dia harus berjalan dengan terpincang-pincang walaupun begitu dia mencoba tetap berjalan cepat karena takut Adrean akan mengejarnya. Untungnya, Adrean terlihat masih mencoba untuk bisa berdiri tegak. Keadaannya cukup parah akibat benturan tadi.


Graciella terus saja berjalan menuju ke arah mereka sebelumnya berkendara. Graciella berusaha secepat mungkin. Dia tidak tahu di mana dia, dia juga tidak tahu seberapa jauh sudah Adrean membawanya. Dia hanya berusaha sekuat tenaganya untuk kembali ke tempat Moira berada. Berharap sekali lagi agar mereka belum membawa Moira. Graciella menyeka air matanya yang keluar begitu saja, napasnya terengah-engah, tubuhnya nyeri dan remuk, kakinya sakit, tapi dia tetap menapak di aspal dingin yang mulai membuat telapak kakinya lecet.


Graciella melihat sebuah cahaya mobil dari belakangnya. Dia berhenti sejenak melihat cahaya itu dan ternyata sebuah mobil langsung berhenti di dekatnya. Pintu mobil itu segera terbuka.


“Kami menemukannya!” ujar pria dengan pakaian serba hitam dengan topeng hitam turun dari mobil jeep. Graciella menarik napasnya panjang dan menatap dengan tatapan teguh. Dia sengaja tidak melarikan diri. Dia yakin, mereka akan menangkap Graciella dan membawanya untuk bertemu dengan anaknya. Tanpa perlawanan Graciella langsung diangkut masuk ke dalam mobil itu.


...****************...


woh udah 100 bab! Perjalan masih panjang. Hari ini Sampai di sini dl ya kak