
“Pakai saja polo shirt ini,” ujar Xavier mengambil sebuah setelan polo shirt berwarna putih polos ke depan wajah Graciella.
“Itu baju kerjaku,” kata Graciella.
“Ya tidak apa-apa, setidaknya warnanya senada,” ujar Xavier, sesimpel itu pemikirannya.
“Apa kau ingin membuatku terlihat lebih tua? Aku akan seperti ibu-ibu jika menggunakan ini,” ujar Graciella yang segera memasukkan kembali baju itu ke dalam lemari. Xavier hanya menaikkan sedikit ujung bibirnya melihat bagaimana Graciella tampak kesal. Dia selalu suka dengan wajah itu.
“Bukannya kau memang sudah menjadi ibu? Kita sudah punya Moira,” ujar Xavier yang langsung membuat Graciella memandangnya kesal.
“Bukan seperti itu juga. Ah! Kau malah membuatku bingung. Kau keluar saja. Aku akan mencari bajuku sendiri,” ujar Graciella menarik tangan Xavier. Tentu saja itu tidak berpengaruh sama sekali pada Xavier. Dia hanya tersenyum sedikit melihat Graciella yang terus menarik tangannya. Xavier mengalah dan akhirnya mengikuti keinginan dari Graciella untuk keluar dari kamar itu. Graciella langsung menutup dan mengunci pintunya. Xavier hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Graciella yang tampak kesal tapi juga panik.
****
“Baiklah,” ujar Graciella membuka pintunya. Xavier yang memutuskan untuk tetap menunggu Graciella di depan pintu itu langsung berdiri tegak dan melihat ke arah Graciella. Wanita itu akhirnya menyerah dan tetap menggunakan pakaian yang ditunjukkan oleh Xavier tadi. Sebuah polo shirt putih yang tampak mungil digunakan olehnya dipadupadankan dengan celana jeans yang fit dengan kaki Graciella yang kecil. Xavier yang melihat hal itu malah merasa Graciella tampak imut. Bahkan terlihat lebih muda dari pada dari pada umurnya, mungkin karena tubuhnya yang mungil.
“Kenapa?” tanya Graciella yang melihat tatapan dari Xavier yang terpaku padanya. Dia yang sudah kurang percaya diri, melihat pandangan Xavier semakin membuatnya kecil hati.
“Tidak, kau tampak lucu,” ujar Xavier dengan senyuman yang tersenyum manis.
“Lucu? Apa benar? Kalau begitu aku akan menggantinya,” ujar Graciella segera ingin masuk. Tapi langkahnya langsung terhenti ketika Xavier langsung menutup jalannya dengan tangannya. Graciella langsung melihat ke arah Xavier.
“Tidak perlu diganti. Lucu itu artinya kau cantik,” ujar Xavier yang langsung membuat Graciella merasakan panas di pipinya dan detak jantung yang tak beraturan. Tidak menyangka Xavier akan mangatakan hal seperti itu. Graciella langsung tampak tersipu dan tidak bisa menutupi senyum manisnya.
“Baiklah, ayo kita pergi,” ujar Xavier segera menggenggam tangan Graciella dan segera membawa wanita itu keluar. Mobil mereka sudah siap dari tadi menunggu mereka. Xavier langsung membukakan pintu dan membiarkan Graciella masuk sebelum dia masuk dan mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah itu.
“Kau ingin kencan yang bagaimana?” tanya Xavier melirik ke arah Graciella.
Graciella yang mendengar itu langsung melirik Xavier. Bukannya sudah mengajaknya kencan tapi tidak tahu ingin kencan bagaimana? Ah, sepertinya memang Xavier tidak mengerti cara untuk kencan sama sekali.
“Kau mengajakku kencan tapi tidak tahu kencan yang bagaimana?” ujar Graciella.
“Ehm, aku tidak tahu. Aku rasa aku akan suka dengan kencan yang sudah kau rencanakan,” ujar Graciella melihat ke arah Xavier.
Xavier menarik napasnya dan dia hanya mengangguk pelan. Dia segera mengirimkan sebuah pesan. Graciella hanya mengerutkan dahinya tapi dia tidak menanyakan lebih lanjut.
*****
“Xavier!! Kencannya bukan begini!! Aaa!!!!” teriak Graciella yang langsung berteriak keras ketika mereka meluncur turun dari tali flying fox itu. Xavier memang membawa Graciella untuk makan siang sejenak lalu Xavier segera membawanya ke sebuah tempat yang cukup jauh dari ibu kota.
Dari perjalanannya yang indah, mereka melewati jalanan di pesisir pantai putih dengan lautan berwarna biru. Graciella sempat memikirkan akan makan malam atau sesuatu yang romantis. Sebuah makan malam dengan lilin dan bunga-bunga, akan sangat indah untuk diingat.
Tapi sampai di tempat itu membuat Graciella kaget namun tidak bisa menolaknya. Xavier malah mengajaknya main flying fox. Xavier berdalih bukannya Graciella akan mengikuti apa yang direncakan oleh Xavier untuknya. Graciella kaget ketika dia harus meluncur turun dari tebing ke sebuah pulai kecil melewati lautan yang ada di bawahnya. Tentu hal ini jauh sekali dari apa yang dia bayangkan.
“Buka matanya,” bisik Xavier yang memang mengikuti Graciella. Mereka meluncur bersama. Mendengar itu Graciella langsung membuka matanya perlahan tapi akhirnya dia kaget dengan pemandangan yang dia lihat. Pemandangan matahari yang sudah menguning berkolaborasi dengan warna biru muda dan putih juga jingga yang berpadu begitu indahnya juga deburan ombak dan lautan yang mulai membiru tua menghempas tebing tempat tujuan mereka. Graciella yang tadinya merasakan bahwa jantungnya saja tertinggal di tempat mereka meluncur pertama kali akhirnya sadar akan keindahnya. Adrenalin yang terpacu oleh flying fox itu membuat suasana semakin semangat. Graciella jadi tertawa melihat keindahannya dan tanpa sadarnya, begitu cepat mereka mendarat di sebuah tebing tersendiri.
Graciella langsung melihat ke arah Xavier yang berhasil membawanya ke tebing itu. Dari sana pemandangan lepas pantai begitu indahnya. Graciella bisa melihat ujung dari lautan yang begitu tenangnya. Hempasan-hempasan ombak yang menghempas tebing dan deru angin yang tak terlalu kencang hari itu membuat suasana di sana begitu sendu.
Graciella melihat ke arah cakrawala yang menghipnotisnya ketika dia lepas dari ikatan pengaman. Rambutnya mencambuk pipinya yang putih. Dia berulang kali memperbaikinya tapi percuma rambut itu kembali menerpa wajahnya.
Graciella yang terlalu terpaku dengan semua itu akhirnya ingat dengan keberadaan Xavier setelah dia mendengar suara deheman Xavier. Graciella langsung melihat ke arah Xavier dan dia langsung membesarkan matanya, menutup mulutnya yang terbuka bahkan sampai mundur beberapa langkah. Tak menyangka apa yang dilakukan oleh Xavier sekarang.
Xavier sedang berlutut satu kaki menghadap ke arah Graciella yang tampak tidak bisa menutupi kekagetannya. Tak menyangka seorang Xavier akan melakukan hal ini padanya. Dia menyodorkan sebuah cincin platinum putih dengan sebutir berlian yang bersinar di bawah cahaya senja yang kemuning.
"Xavier? Apa yang kau lakukan?" Tanya Graciella. Dia tahu persis apa yang dilakukan oleh Xavier. Tapi dia hanya tak menyangka, pria angkuh yang selalu terlihat dingin dan galak itu berlutut di depannya. Graciella hanya berharap diajak kencan romantis oleh Xavier dan itu saja sudah membuatnya begitu senang. Tapi dia tak menyangka Xavier benar-benar mengabulkan permintaannya dan sekarang perasannya begitu berbunga-bunga. Rasanya bahagia begitu memenuhi rongga dadanya. Mendesak air mata untuk keluar begitu saja hingga tanpa sadarnya wajahnya sudah penuh dengan air matanya.
"Kau bilang aku tidak mengajakmu menikah, jadi sekarang, Graciella, aku benar-benar jatuh cinta padamu dan tergila-gila denganmu, jadi maukah kau menikah denganku?" ujar Xavier secara langsung.
Graciella yang mendengar hal itu tentu begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Dia masih tak percaya dan memandang penuh kebahagiaan yang terpancar. Graciella menurunkan tubuhnya setara dengan Xavier. Dia memegang tangan Xavier yang menyodorkan cincin itu dan menatap pria dengan wajahnya yang berharap atas jawaban Graciella.
Graciella segera mengangguk pelan dengan senyuman manisnya dan juga air mata bahagia. Tentu saja, bahkan tanpa harus melakukan ini, Graciella akan mau menikahi pria di depannya ini. “Tentu, aku mau,” ujar Graciella dengan terbata-bata, tertutupi oleh rasa bahagianya.